Kio datang ke kantor seperti biasa. Senyum sedikit terkembang ketika beberapa karyawan menyapa. Suasana hatinya membaik setelah semalam ia mendengar suara Meyra. Ya, itu bukanlah mimpi. Mereka sempat mengobrol meski di waktu yang singkat.
"Pagi, Pak." Sonia tersenyum ramah. Wanita itu menuruti ucapan Kio, kini pakaian kerjanya lebih tertutup meski roknya masih di atas lutut.
"Pagi. Ada agenda apa hari ini?"
"Kita ada meeting untuk produk baru dengan para manager. Nanti siang Anda juga mendapat undangan makan siang bersama Mr. Smith di Hotel CCC."
"Itu saja?"
"Ehm, sore nanti apa Bapak ada waktu?"
"Memangnya ada apa?"
"Jika Bapak berkenan, Bapak bisa menghadiri acara amal di panti asuhan Pelita Bunda."
"Apa ini idemu?"
"Bukan, Pak. Ini ajakan Bu Rachel. Kemarin dia datang dan mencari Bapak."
"Ohh. Aku belum bisa memastikan. Lihat nanti saja."
"Kalau begitu saya permisi Pak." Sonia undur diri dengan sopan.
Pintu tertutup kembali dan Kio kini harus fokus pada pekerjaannya. Ketika membuka sebuah map dokumen, selembar kertas terjatuh. Kio memungutnya dan menyadari jika itu adalah brosur tentang acara amal yang baru saja Sonia bicarakan.
Menariknya, ada sticknote yang sengaja ditempel di bagian belakang brosur, berisi tulisan tangan rapi.
- Dateng ya, aku tunggu. Rachel. -
Kio tersenyum kecil dan meletakkan brosur itu di atas meja. Mungkin ia akan datang kali ini. Ia bisa melakukan apa saja ketika moodnya sedang membaik.
Meeting selesai, dilanjutkan makan siang bersama Mr. Smith yang merupakan tamu sang ayah. Pria berkebangsaan Inggris itu menanamkan modal yang cukup fantastis pada perusahaannya.
Sore hari, seperti niatnya di awal hari. Ia akan menghadiri undangan Rachel. Wanita itu sudah tiba terlebih dahulu saat Kio memakirkan mobil. Melihat Kio mendekat, senyum di wajah manisnya merekah.
"Setelah sekian purnama, akhirnya kamu datang juga," ujar wanita itu.
"Kebetulan hari ini senggang aja. Cuma ini yang datang?" Kio memperhatikan ke sana kemari. Hanya terlihat tiga pria dan dua wanita lain yang membagikan baju dan makanan.
"Sebenarnya banyak, tapi beberapa ada yang berhalangan. Yuk, masuk. Kamu harus kenal ibu panti yang baiknya gak ketulungan." Rachel mengajak Kio ke dalam bangunan berlantai dua itu.
Kio berada di ruang tamu, mengamati satu per satu anak panti yang terpajang di dinding bercat merah jambu. Wajah-wajah polos pada foto itu tersenyum.
"Beberapa sudah diadopsi tapi ibu masih menyimpan foto mereka. Biar tetap bisa lihat kalau kangen. Mereka sudah seperti anak-anak kandung ibu sendiri." Ibu Panti yang masih berusia tiga puluhan itu mendekati foto yang Kio amati.
"Ini yang paling baru diadopsi. Baru tiga buan yang lalu. Ibu suka panggil dia Salsa. Tapi mungkin sekarang ibu angkatnya sudah memberi nama baru," lanjut wanita berwajah teduh itu.
Kio mengangguk dan tersenyum sopan. Ia juga mengamati foto gadis kecil yang cantik itu. Pipi tembam dan mata sedikit sipit.
Ia melanjutkan melihat-lihat karena Rachel sedang bertanya-tanya lebih lanjut pada si Ibu Panti tentang kunjungan berikutnya di esok hari. Satu jam kemudian, Kio pulang. Mobilnya berjalan di belakang mobil Rachel, namun ketika di persimpangan, mereka mengambil jalur yang berbeda.
**
Security sedikit membungkuk begitu mobil Kio memasuki halaman. Ia langsung menuju rumah selepas acara amal di panti asuhan.
Langkahnya terhenti ketika mendengar suara tawa dan obrolan dua wanita di teras samping. Awalnya Kio tak peduli, ia berpikir mungkin bundanya kedatangan teman arisan atau teman yoga. Tapi ketika lebih diperhatikan, ia mengenal suara itu.
"Meyra??" Kio terpana, melihat wanita yang ia cari-cari kini berada di depan matanya.
"Iya, namanya masih Meyra," sambar sang bunda.
"Kenapa di sini?" Kio mendekat.
"Sama tamu kok tanyanya gitu? Nanti kalo Meyra gak betah, kamu yang bunda suruh tanggungjawab."
Meyra tertawa mendengar gurauan Nyonya Anggun. Detik berikutnya, ia menyadari Kio tak henti menatapnya. Pria itu masih saja sama.
"Kio? Sana masuk. Bunda mau bicara serius sama Meyra," usir wanita itu.
"Tapi Kio juga mau ngobrol." Bukannya pergi, pria itu justru duduk bergabung.
"Nanti, nanti. Sana dulu." Nyonya Anggun tak memberi kesempatan pada putranya.
"Tapi, Bunda-"
"Sekarang kamu siap-siap, sebentar lagi antar bunda dan Meyra ke butik Tante Ratri."
"Iya ..." Sambil berjalan masuk, Kio masih menatap wajah cantik Meyra.
Mereka bertiga menuju sebuah pertokoan dua lantai tak jauh dari kawasan tempat tinggal Kio. Awalnya Meyra ikut masuk ke dalam butik namun tak lama kemudian ia keluar dan menemui Kio yang menunggu di mobil.
"Udah?" Kio yang sedang memilih lagu untuk disetel di mobilnya menoleh.
"Tante Anggun gak sengaja ketemu temennya di dalam. Aku diminta nunggu di sini dulu."
"Jangan bilang kalo tante-tante rambut pendek, tunik biru dan kacamata di bagian atas kepala?"
"Eh? Kok tau?"
"Barusan aku liat masuk ke dalam. Itu dulu tetangga kami, tapi sekarang udah pindah."
Bibir Meyra membentuk huruf O namun tidak ada suara yang keluar. Kio dibuat gemas sendiri. Ia ingin menyentuh pipinya, atau mengusap pucuk kepalanya. Tapi ia tahu itu hanya akan merusak suasana. Dan Kio tak ingin itu terjadi. Biarkan semua mengalir, setidaknya sekarang, Meyra tidak lagi terikat oleh siapapun.
"Mau es krim gak?"
"Di mana?" Meyra melihat sekeliling, tidak terlihat toko atau penjual es krim di sekitar mereka.
"Aku tau cafe es krim yang enak. Pake sabuk pengaman ya, kita meluncur ..."
"Tante Anggun gimana?" Meyra memandang butik, namun tidak ada tanda ibunda Kio itu akan keluar.
"Percaya sama aku, bunda masih butuh waktu yang cukup lama."
"Beneran? Kalo sebentar lagi dicari?"
"Bunda bawa ponsel kok, lagipula cafe es krimnya gak jauh dari sini."
Kio menjalankan mobil menuju arah timur selama beberapa menit. Mereka turun dan memesan tak lama kemudian. Kio tak henti menatap ekspresi yang Meyra tunjukkan. Ia lega wanita cantik itu baik-baik saja.
"Kamu masih tinggal di apartemen yang sama?" tanya Kio.
Meyra menggeleng tanpa melihat ke arah yang bertanya. Tangannya menyendok es krim rasa vanilla Choco chips bercampur coklat dan langsung melahapnya.
"Lalu?"
"Untuk sementara aku tinggal sama tanteku. Aku belum bisa bertemu Nathan."
Kio mengusap ujung bibir Meyra yang memutih karena terkena es krim dengan ibu jari hingga wanita itu terkejut. Namun detik berikutnya, Meyra hanya tersenyum.
"Nanti biar aku antar," pungkas Kio.
Meyra tak menjawab. Kio yang sedang menikmati es krim rasa strawberry, mendapat panggilan pada ponselnya. Ia mengangkat tanpa berpindah tempat atau pun menjauh. Usai memutus panggilan, pria itu menjelaskan meski Meyra tak bertanya siapa yang meneleponnya baru saja.
"Besok kamu ada acara?"
"Hm, belum ada."
"Setelah aku pulang dari kantor, mau ikut acara amal di panti asuhan?"
"Mau ..." Netra Meyra berbinar. Ia selalu suka datang pada acara amal dan semacamnya. Terlebih jika ada hubungannya dengan anak-anak.
"Baru aja Rachel memintaku untuk menyampaikan donasi. Kebetulan besok dia sibuk padahal udah terlanjur bilang akan datang pada Ibu Panti. Jadi besok sore aku jemput?"
Kali ini Meyra mengangguk lebih dari satu kali. Kio yang melihatnya tak kuasa untuk menahan diri. Wanita di depannya ini begitu imut. Pada akhirnya ia hanya menunduk, fokus pada es krim yang mulai meleleh tanpa membiarkan Meyra menyadari perasaannya.
***
Bersambung.