Awkward moment. Nathan membeku di tempat begitu pula dengan Kio. Meyra mulai merasakan atmosfer di ruangan itu menjadi tegang hingga ia kesulitan menelan.
Tiga orang sama-sama terkejut dan Kio yang lebih dulu bergerak. Pria itu meletakkan baki di meja dan memberi Meyra tisu untuk mengelap bibirnya sendiri.
"Hei, lo di sini?" Nathan menyapa Kio seperti biasa, ceria. Seakan ia tak melihat apapun sebelumnya.
"Hm, iya. Kebetulan gue sama Lodi lewat sini jadi sekalian mampir." Kio berdiri karena ia paham kursi samping ranjang itu milik Nathan sekarang.
"Oh ya, mana tu bocah?" Nathan melihat sekitar dan menyadari mereka hanya bertiga di ruangan serba putih tersebut.
"Lagi cari makan sama Wanda. Lo baru dateng?" Kio menghempaskan diri di sofa yang berjarak hampir tiga meter dari ranjang.
"Iya. Dari bandara langsung ke sini."
Di menit selanjutnya, Kio hanya jadi penonton kedekatan dua sejoli yang sedang di mabuk asmara. Nathan mengambil alih tempatnya untuk menyuapi Meyra. Ia bisa melihat jelas wajah Meyra yang tersipu malu, sangat berbeda ketika tadi mereka hanya berdua saja.
Setelah Meyra menghabiskan makan malamnya, Nathan menunjukkan sesuatu pada tunangannya itu. Sebuah postingan seseorang di media sosial yang akan membuat Meyra terkejut sekaligus senang.
"Sayang, aku mau tunjukin seseuatu," kata Nathan seraya mendekat agar Meyra juga bisa melihat pada layar ponselnya.
"Apa itu?"
Kio juga penasaran dengan apa yang sedang mereka bicarakan. Terlebih ketika melihat raut wajah Meyra yang mendadak cerah. Namun ia enggan bertanya.
"Ini beneran Chef Malika?" tanya Meyra bersemangat.
"Iya, baru tadi pagi dia datang ke Cafe Choco Toast dan kasih review bagus. Liat ada berapa view dan love?"
"Ini bukan video editan 'kan?" tanya wanita itu lagi saat melihat betapa banyaknya komentar positif yang menanggapi video itu. Dari ribuan komentar, sembilan puluh persen setuju jika cafe itu tak pernah menyediakan roti basi sebelumnya.
"Bukan dong, Sayang. Aku juga udah telepon Fika, penjualan hari ini meningkat hampir tiga kali lipat dari biasanya. Aku rasa kamu butuh waitress tambahan."
Menanggapi hal itu, Meyra justru memajukan bibir bawahnya. Ia ingin menangis. Lega dan bahagia. Setelah seminggu lebih tidak ada pemasukan, kini mendadak cafe peninggalan ibunya menjadi lebih ramai pengunjung.
"Cantik, kok malah nangis? Senyum dong ..." Nathan menyeka bulir bening yang mengalir pada pipi putih Meyra.
Kio yang sedari tadi mendengar hanya bisa tergelak tanpa bersuara. Pria itu merogoh ponsel dan mengetik sebaris pesan pada seorang kawan yang ia kenal melalui mantan pacarnya dulu.
[Thanks untuk reviewnya. Kasih kabar kapan lo gak sibuk, gue traktir dimanapun lo mau.]
Tak sampai sepuluh menit kemudian, pesan balasan tiba.
[Dimana aja? Serius? Jangan nyesel ya. Gue lagi pengen stean dan wine di Santorini nih.]
[Main lo gak kejauhan?] Kio membalas lagi.
[Gak lah. Transfer deh tiket pulang pergi. Oh ya, jangan lupa sama uang untuk oleh-oleh.]
Pesan singkat itu diikuti emotion menjulurkan lidah. Kio tersenyum. Ingatannya terbang pada saat dua hari yang lalu. Sore itu ia sempatkan menikmati secangkir expresso di cafe milik Meyra. Suasana masih sama seperti beberapa hari terakhir sejak review buruk dari selebgram bernama Mona Jovinka.
Mendadak, terbesit sebuah ide untuk mengembalikan nama baik cafe lantai dua itu. Tanpa pikir panjang ia segera menghubungi teman yang kebetulan sudah berpengalaman di bidang kuliner, Malika Hutama.
Wanita cantik yang selalu memotong pendek rambutnya itu adalah chef selebriti dan juga food vlogger dengan lebih dari lima juta followers di akun media sosialnya. Untunglah Malika mau meluangkan waktu untuk bertemu meski sebenarnya ia sangatlah sibuk.
"Tumben lo ngajak ketemu. Ada apa nih?" Malika memulai pembicaraan ketika mereka bertemu di restoran tak jauh dari tempat Malika syuting iklan pudding.
"Lo ada waktu gak?"
"Ada. Tapi buat apa dulu. Bukan ngajakin gue nge-date 'kan? Lo jomblo udah setahun ini, padahal Vania udah mau nikah." Malika tertawa. Kio telah mengenal wanita ini lebih dari setahun. Karena Malika tipikal teman yang netral, jadi mereka masih berhubungan baik meski ia dan Vania sudah lama putus.
"Bukan, gue mau lo review cafe temen gue."
"Cafe temen lo?" Malika tampak ragu.
"Gue bayar berapa pun lo mau. Gimana?"
"Bukan soal duit sih. Tapi lo pasti tau kalo gue bakal review jujur. Jadi misalnya makanannya gak enak, gue bakal bilang gak enak."
Kio terdiam sejenak. Tentu ia paham jika Malika ingin mempertahankan kredibilitasnya sebagai chef. Kini semua hanya tergantung bagaimana karyawan Meyra memberikan pelayanan pada Malika.
"Oke. Gue tau lo sibuk banget. Tapi gue harap minggu ini lo dateng ke cafe itu. Gue share lokasinya."
"Deal."
Kio masih menatap wajah Meyra yang tampak lebih ceria. Tak lama kemudian, pria itu bangkit. Ketika Nathan telah hadir, ia tahu Meyra takkan membutuhkannya.
"Mau ke mana lo?" Pertanyaan Nathan membuat Kio berhenti sejenak.
"Balik. Gue masih ada urusan."
"Ohh. Oke. Thanks Bro."
Kio melambai singkat tanpa melihat dua orang itu. Ia berjalan lurus keluar tak lupa menutup kembali pintu di belakangnya. Melewati lobi, berpapasan dengan Lodi dan Wanda yang bercakap akrab.
Seperti beberapa saat lalu, Wanda masih memberinya tatapan tak biasa.
"Lo mau balik sekarang? Meyra sama siapa?" tanya Lodi.
"Udah ada Nathan. Gue balik sendiri aja, mau mampir ke suatu tempat."
"Oke, Buddy." Lodi menepuk pundaknya sekilas sebelum berlalu mengikuti Wanda yang telah berjalan terlebih dahulu.
**
Mona Jovanka melihat ke arah cermin kecil di tangan untuk sekedar memastikan make up-nya tidak luntur. Malam ini ia ada janji untuk bertemu dengan klien yang akan menggunakan jasanya untuk endorse parfum import.
"Belom dateng juga?" tanya wanita itu pada teman sekaligus editor videonya.
"Di chat gimana?"
"Setengah jam yang lalu katanya otw. Ck, lama banget sih. Untung aja cafe ini adem. Kalo gak udah keringetan dari tadi," omel wanita yang malam ini memakai softlens berwarna hazel itu.
"Sabar, ini orang berani bayar mahal lho."
"Iya, gue tau." Bibir wanita itu masih tampak manyun.
Dua wanita muda itu asyik berbincang hingga tak menyadari sesosok pria tampan dengan garis wajah tegas dan mata menawan sudah berdiri di dekat mereka.
"Malem. Mona ya?" Kio tersenyum.
"Oh, eh, iya ..." Mona gelagapan menghadapi Kio.
Ia memang telah sering bertemu pria tampan sebelumnya. Namun entah kenapa pria di depannya ini jauh lebih tampan dari mereka semua. Shanti, si teman juga menatap Kio tanpa berkedip.
"Boleh aku duduk?" tanya Kio masih dengan senyum yang sukses membuat hati dua wanita itu meleleh.
"Boleh, boleh banget. Duduk di sini aja." Mona menepuk kursi di sampingnya tetapi Kio justru memilih kursi yang bersebrangan.
"Aku Kio, orang yang menelepon kemarin siang."
"Kita langsung bahas kerjaan nih? Gak mau makan atau minum dulu?" Mona memberi tatapan menggoda.
"Aku sedikit buru-buru. Jadi tarif per posting berapa?"
"Biasanya 150 juta. Tapi kalo untuk kamu bisa kok nego tipis," ucap Mona dengan kerlingan yang hanya dibalas Kio dengan senyum sopan.
"Aku akan bayar tiga kali lipat asal kamu mau jawab satu pertanyaanku."
"Satu pertanyaan doang? Siapa takut, tanya aja," tantang Mona dengan percaya diri. Tentu ia kegirangan membayangkan dengan mudahnya mendapat uang seharga mobil malam ini juga.
Kio mendekatkan wajah. Mona yang mengira Kio tertarik padanya juga ikut memelakukan hal yang sama. Wanita itu memberikan senyum terbaiknya tanpa mengetahui Kio telah menyalakan alat perekam secara diam-diam.
"Siapa yang memintamu memberi review palsu pada Cafe Choco Toast?"
Alis Mona terangkat. Ia segera kembali ke posisi semula dan mengatur kata-kata untuk menyanggah. Shanti tak kalah panik, wanita itu pura-pura sibuk pada ponsel meski tidak ada notifikasi baru.
"Si-siapa bilang itu review palsu? Udah jelas-jelas rotinya jamuran. Untung aja aku gak sampe masuk rumah sakit. Bisa-bisa yang punya bakal aku tuntut."
"Ohh, jamuran? Gimana kalo aku bilang ada saksi yang lihat kamu keluarin roti lain dari dalam tas dan roti itu yang jamuran?"
"Jangan mengada-ngada ya. Bukan aku kok, tapi Shanti yang-"
Seketika Mona terdiam. Panik justru membuatnya mengatakan yang sebenarnya. Kini Shanti hanya menunduk. Mona juga mendadak kehilangan rasa percaya diri yang sempat memuncak.
"Aku ulangi pertanyaan awal. Siapa yang memintamu memberi review palsu?"
"Untuk apa aku jawab pertanyaanmu?" ketus Mona sembari membuang muka.
Dengan tenang, Kio mengangkat tangan yang menggenggam alat perekam. Nyali dua wanita itu makin ciut, namun si selebgram sekaligus influencer itu masih bungkam.
"Image-mu di sosial media bagus. Apa menurutmu para fans dan pengikut gak akan kecewa setelah tahu tentang ini?"
"Kamu ngancem?!" Mona mulai gusar.
"Bukan. Tapi ingin membuat kesepakatan. Kamu jawab jujur dan namamu aman." Kio masih terlihat tenang. Ia cukup senang bisa dengan mudah memancing wanita itu.
"Ya udah, aku bakal jujur. Ada cewek yang bayar dua ratus juta dengan syarat aku bisa jatuhin nama cafe itu."
"Cewek? Siapa namanya?"
"Shannon ..."
Kio menyandarkan punggung pada kepala kursi. Bingung harus merasa miris atau lega. Jadi memang benar sosok Shannon yang sungguh ingin menghancurkan Meyra. Ia masih sulit mempercayai Bianca bisa melakukan hal ini.
Tadi pagi, Bianca berpamitan karena orang tuanya akan membawanya ke Singapura untuk pengobatan. Teman masa kecilnya itu membutuhkan terapi untuk mengatasi gangguan identitas disosiatif yang sedang ia alami.
"Aku udah jujur, sekarang hapus rekaman itu!" Hardikan Mona membuat pria itu kembali dari lamunan.
"Nanti, setelah aku memastikan kamu gak akan melakukan hal yang sama pada orang lain. Cari uang gak perlu menjatuhkan orang lain."
Kio beranjak dari kursinya lalu berjalan keluar dari cafe fancy bertema warna pastel itu. Mona geram, ia tak terima diperlakukan seperti ini. Wanita itu menoleh pada Shanti yang masih menatap layar ponselnya.
"Shan ..."
"Iya, gue udah tau apa yang mau lo bilang. Namanya Kionanta Adhyaksa. Ayahnya pengusaha sukses dan dia jadi direktur utama di perusahaan. Cuma itu info yang gue dapet. Seriously, dia low profil." Shanti mengangkat bahu lalu memberikan ponselnya pada Mona.
"Cari tau lebih banyak! Gue harus bisa bikin perhitungan sama cowok sombong itu." Mona menatap foto Kio dengan raut wajah tak menyenangkan.
***
Bersambung.