Harus Mengalah

1461 Words
Dua hari setelah dirawat, dokter mengizinkan Meyra pulang. Setelah Nathan mengantarnya hingga depat apartemen, Meyra melambaikan tangan pada calon suaminya itu. Wanda menggandengnya menuju lift. Mereka mulai merencanakan untuk pergi ke butik milik Elma jika keadaan Meyra semakin membaik. "Aku mau dress yang panjang tapi gak keliatan kayak tante-tante. Elegan dan manis." Wanda mulai menggambarkan dress yang ingin ia kenakan di acara pernikahan Meyra dan Nathan nanti. "Nanti kamu bisa konsul sama Elma. Dia orangnya asyik kok diajak ngobrol." Wanda mengangguk girang. Dua wanita itu menaiki lift hingga lantai lima. Mereka belum sadar jika ada seseorang yang telah menunggu di depan pintu unit apartemen. Meyra yang pertama kali melihatnya gadis yang lebih muda tujuh tahun darinya itu. Ia menghela nafas, mengingat kenangan buruk ketika terakhir kali mereka bertemu. "Zoey? Kapan datang?" Meyra menyapanya dengan senyum hangat meski ia tahu yang akan di dapat adalah kata-kata pedas. "Tadi. Dari mana sih Kak? Aku capek dari tadi nunggu. Ck," decih gadis berwajah judes itu. "Eh, kamu-" Wanda yang tak bisa tinggal diam atas ketidaksopanan itu terpancing. Namun Meyra menyentuh tangannya sebagai ia isyarat untuk tidak menanggapi. "Apa ini juga tante-tante ngikut aja. Udah deh, buka pintunya cepet!" Wanda menggeleng dengan gemas sebelum menuruti permintaan Zoey. Tanpa menunggu dipersilahkan, ia masuk mendahului si pemilik apartemen lalu duduk seenaknya di sofa ruang tamu. Tangannya juga langsung mencomot remote AC yang tergeletak tak jauh dari tempatnya. "Gak ada jus jeruk atau softdrink dingin kek ..." "Kamu bisa ambil sendiri di kulkas ya. Lurus aja terus belok kiri," sambar Wanda kesal. "Santai dong. Aku tamu loh ini, harus diperlakukan seperti ratu." Posisi Zoey makin merosot hingga hampir rebah. "Lebih baik gak punya tamu deh dari pada tamunya gak sopan macam begini ..." timpal Wanda. Zoey ingin menjawab lagi tetapi Meyra segera memotongnya. Ia tahu adik tirinya itu takkan mau datang menemuinya jika bukan karena ada hal penting. "Kamu apa kabar? Papa gimana?" "Papa sehat. Aku ke sini juga mau bahas soal papa. Kak Meyra jadi nikah bulan Mei tanggal 15?" tanya Zoey. "Iya, kamu bisa datang?" "Gak bisa. Aku ada pertandingan renang di Medan hari itu dan papa bakal datang ikut aku ke sana juga sekitar seminggu." "Tapi papa harus jadi wali nikah kakak, Zoey ..." ucap Meyra masih dengan suara rendah. "Ya udah, Kak Meyra nikahnya tinggal ganti tanggal aja 'kan? Ribet banget sih." Gadis itu mengeluarkan selembar permen karet dari dalam kantong kemeja santainya lalu mengunyah dengan raut tanpa dosa. "Acara ini bukan main-main ya. Sejak pertunangan juga udah dibahas kalo kakakmu mau nikah tanggal lima belas Mei. Harusnya kamu dong yang ngerti!" Wanda menjawab tak sabar. "Ihh, apaan sih! Pertandingan itu antar provinsi ya, jadi gak bisa seenaknya aja diganti waktunya!" balas Zoey tak kalah sengit. "Udah, gak apa-apa, biar nanti kakak yang ngomong sama papa sendiri," ujar Meyra. Ia ingin menengahi namun hal itu justru membuat Zoey bertingkah. "Mau ngapain? Kakak mau ngrayu papa gitu biar gak dateng ke acaraku. Silahkan, aku yakin papa bakal tetep milih untuk ikut aku ke Medan," cibirnya. "Dibiarin lama-lama makin songong ya. Pulang deh sana! Meyra lagi sakit jadi mau istirahat." Wanda makin gemas. Meyra kini benar-benar diam, menjadi pendengar atas perdebatan antara adik tiri dan saudara sepupunya. Wanda masih memberi tatapan tajam pada Zoey hingga gadis itu pergi tanpa pamit. Setelahnya, Wanda segera mengunci pintu dan mengambil segelas air untuk Meyra. "Lama gak keliatan, adekmu itu makin nyebelin ya. Persis mamanya." Wanda tergelak namun tidak ada tanggapan dari Meyra. "Jangan terlalu dipikirin. Dia selalu asal kalo ngomong. Aku yakin Om Cahyo lebih milih dateng ke acara pernikahanmu," hibur Wanda. Meyra menatap pada sepupunya yang kini merangkul lengannya sembari tersenyum. "Aku harus ketemu papa ..." liriknya kalut. ** Meyra membuktikan ucapannya sehari kemudian. Siang itu ia berada di depan pagar besar sebuah rumah bergaya klasik dengan total luas halaman tiga hektar. Di depan teras, berjejer dua mobil mewah masing-masing berwarna merah dan hitam. Pintu pagar yang tidak terkunci memudahkannya untuk masuk. Namun sebelum ia sampai di teras, salah seorang security yang bertugas memintanya berhenti. "Mbak, cari siapa?" tanya pria dengan nama d**a Sapto. 'Security baru?' batin Meyra. "Saya mau ketemu Pak Cahyo. Beliau ada di dalam?" "Nama Mbak siapa? Sudah buat janji sebelumnya?" tanya pria itu lagi. " Meyra. Belum buat janji tapi saya harus bertemu sekarang, Pak. Ada hal penting yang ingin saya bicarakan." "Wah, Pak Cahyo lagi gak bisa ditemui Mbak. Coba Mbak bikin janji dulu lewat nomor ini," ujarnya sambil menunjukkan dua belas digit yang sebenarnya sudah tersimpan rapi dalam kontak ponsel Meyra. Nomor yang hanya mau menghubunginya dua bulan sekali dan tak pernah mau mengangkat teleponnya. "Saya udah ada nomornya. Kira-kira jam berapa Pak Cahyo ada waktu?" "Waduh, kurang tau saya kalo itu." "Saya boleh nunggu di sini?" tanya Meyra lagi. "Boleh Mbak, silahkan duduk dulu di gazebo." Si security menunjuk gazebo cantik yang dikelilingi pohon rindang. Meyra mengangguk. Ia duduk dan menggenggam ponsel. Pesan yang ia kirim pada ayahnya satu jam yang lalu tak mendapat jawaban. Wanita dengan setelan coklat muda itu memandangi kolam kecil yang terletak di samping gazebo. Beberapa tanaman hias dibuat mengitari. Meskipun mungil namun ditata cantik dan rapi. Tak sampai lima belas menit kemudian, sebuah mobil silver mengkilat memasuki pagar. Meyra mendesah lega karena mengira ayahnya telah tiba. Tetapi perkiraannya salah. Yang keluar dari mobil adalah wanita awal empat puluhan yang masih terlihat cantik. Meyra ragu, haruskah menyapa wanita itu? "Bu, ada yang cari bapak." Security bernama Sapto memberi laporan. "Siapa?" tanya wanita yang ternyata adalah nyonya besar di rumah itu. "Namanya Meyra, Bu." Si nyonya menatap ke arah Meyra yang kini sudah bangkit dari duduknya. Sorot matanya yang dingin membuat Meyra ingin cepat pergi dari tempat itu. "Suruh di menemui saya di dalam." Wanita itu membalikkan badan setelah membetulkan letak tas tangan mahalnya. "Siap, Bu." ** Dua patung berbentuk flaminggo berdiri mengapit pintu masuk. Meyra mulai menyadari jika datang ke tempat ini tanpa jawaban iya dari sang ayah adalah keputusan yang salah. "Masuk." Terdengar suara dari dalam. Meyra menghela nafas. Pada akhirnya ia harus berhadapan dengan wanita yang telah merenggut sang ayah dari hidup ibunya. Satu hal yang membuatnya tak habis pikir, wanita bernama Zara itu sangatlah mirip dengan mendiang ibunya namun versi dominan dan ber-make up. "Siang, Tante. Saya ke sini mau ketemu papa," ujar Meyra tanpa basa basi. "Papamu sibuk. Ada perlu apa?" "Saya cuma mau memastikan papa bisa hadir di pernikahan saya." "Karena suasana hatiku sedang senang, mari kita ngobrol sejenak. Duduklah." Meyra memilih sofa single yang berjarak kurang lebih dua meter dari wanita itu. Tidak ada senyum di wajah keduanya. Senyum ramah Meyra yang biasanya tak segan ia berikan pada orang lain seakan menghilang saat bertemu Zara. "Papa di mana, Tante?" "Dengar, kurasa Zoey sudah memberitahu tentang tournamennya. Jadi sebagai kakak seharusnya kamu bisa mengalah." "Tapi Tante seharusnya tahu kalau selama papa masih hidup, papa yang harus jadi wali nikah Meyra." Wanita cantik itu masih berusaha sabar. "Meyra, Meyra ..." Nyonya Zara menggeleng sambil menunjukkan wajah bersimpati yang dibuat-buat. "Papamu sudah memiliki keluarga sendiri. Sampai kapan kamu mau mengganggu kami?" lanjutnya. "Papa cukup datang tepat di hari saya akad. Setelah itu saya gak akan mengganggu papa dan Tante lagi." "Sekarang kamu jadi sombong? Ohh, memang buah jatuh gak jauh dari pohonnya," ucap si nyonya besar dengan senyum mengejek. "Jangan pernah Tante bicara hal buruk tentang mama saya," lirih Meyra. Tatapannya lurus pada mata wanita congkak yang kini sedikit melotot. "Apa? Kamu bicara apa?" ketusnya. "Saya akan datang lain kali untuk bertemu papa. Permisi." Meyra bangkit dan langsung membalikkan badan. "Gak sopan. Begitu cara bicara sama orang tua?!" Meyra terpaku namun malas untuk melihat wajah wanita itu. Ia melanjutkan langkah, karena baginya percuma menanggapi ucapan ibu tirinya. Belum sampai Meyra di pintu, ia berpapasan dengan orang yang ditunggunya sejak tadi. Pria lima puluh dua tahun berpenampilan rapi itu tampak terkejut dengan kehadiran Meyra di rumahnya. "Meyra? Kenapa di sini?" "Meyra mau ketemu Papa," jawab wanita itu singkat. "Mas, inget ya obrolan kita waktu itu! Tournamen Zoey sangat penting." Nyonya Zara melenggang pergi setelah memberi ultimatum pada suaminya. "Papa benar gak bisa datang ke pernikahan Meyra?" "Kamu pasti tahu bagaimana Zoey. Sebagai kakak kamu harus mengalah." Lagi, Meyra mendengar kalimat itu. Namun bedanya sekarang yang berbicara adalah orang yang ia sangka akan menganggapnya penting. Wanita itu tergelak lemah. "Gitu? Belum cukup Meyra mengalah selama ini? Dari kecil sampai umur Meyra dua puluh empat tahun, Papa gak pernah perhatiin Meyra. Papa masih minta Meyra mengalah? Andai bisa digantikan, Meyra gak akan minta Papa untuk jadi wali nikah ..." Meyra berlalu tanpa menunggu respon dari ayahnya. Hatinya sakit, orang yang seharusnya menjadi figur yang sangat ia hormati justru sering membuatnya kecewa. Langit mulai mendung. Meyra memesan taksi online dan berencana pergi ke Cafe Choco Toas. Ia butuh menenangkan diri. Entah bagaimana nasib hari pernikahannya nanti. *** Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD