Sore ini untuk pertama kalinya Lodi mengajak Wanda keluar. Tujuan mereka sebenarnya hanya mencari kado untuk ibu Lodi yang akan berulang tahun beberapa hari lagi.
Sepulang dari kantornya, Lodi langsung menjemput Wanda di apartemen. Meski tidak ada kesepakatan sebelumnya, namun mereka mengenakan pakaian berwarna senada.
"Lho, kok sama?" Pandangan Wanda tertuju pada kemeja lipat siku berwarna navy yang Lodi kenakan.
"Udah siap?" Lodi justru tertawa tengil.
"Udah, yuk ..."
Jika biasanya Lodi suka menggunakan motor sport, kini ia sengaja menggunakan mobilnya. Ia tahu Wanda tak keberatan jika mereka mengendarai kendaraan roda dua itu. Tetapi cuaca sore ini sedang mendung. Langit tampak kelabu.
"Hujan," ucap Wanda pelan, lebih terdengar seakan dia berbicara dengan dirinya sendiri.
"Dari siang memang mendung. Kita mau ke mana dulu? Kamu sudah makan?" tanya pria itu tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan yang mulai basah.
"Belum sih tapi belum laper juga."
"Gimana kalo kita nonton?" Lodi melihat Wanda sekilas.
"Hmm, boleh." Wanda tersenyum. Pikirannya sedang tak berada di tempat.
"Suka film apa? Romantis, komedi atau ..."
Hening. Wanda tampak merenung. Panggilan Lodi bahkan tak ia gubris. Baru setelah pria itu menepuk pundaknya, Wanda menoleh.
"Eh? Kenapa? Sorry, lagi kurang fokus."
"Ada yang sedang kamu pikirkan?"
"Kio ..." Nama itu meluncur dari bibir dengan lipstik pink nude milik Wanda.
"Kio?" Lodi mengulang dengan ekspresi heran.
"Tapi ini gak seperti yang kamu kira."
Lodi tertawa melihat Wanda yang terlihat bingung dan ingin menjelaskan. Jujur ia mulai menyukai wanita ini, tapi kenapa Wanda justru memikirkan sahabatnya?
"Kamu suka sama Kio?" tembak Lodi masih dengan tawa kecil.
"Hah?? Gaklah. Malah menurutku dia aneh. Aku gak tau apa yang ada dipikirannya." Alis Wanda tertaut, tampak kesal.
"Memangnya dia kenapa?"
"Aku rasa dia suka sama Meyra."
"Tunggu, tunggu, apa?" Lodi ingin memastikan jika ia tak salah dengar.
Wanda mengulang kalimatnya. Juga menceritakan apa yang ia lihat di rumah sakit. Lodi awalnya hanya mendengarkan, namun tidak ada ekspresi terkejut di wajah pria itu.
"Sebenarnya aku juga pernah melihat cara Kio menatap Meyra. Ada yang berbeda. Tapi aku kira ini cuma perasaanku."
"Serius? Tuh 'kan, emang dasar ya Kio itu. Udah tau Meyra sama Nathan mau nikah. Kalo Nathan tau bisa ribut ini ..." gerutu Wanda.
"Tapi belum pasti juga 'kan?"
"Belum pasti gimana?"
"Mungkin Kio udah anggap Meyra sebagai adiknya. Aku juga begitu."
"Aku jelas-jelas liat dia cium kening Meyra. Padahal sama Nathan aja Meyra cuma mau gandengan tangan. Emang kamu mau asal cium kening Meyra meskipun udah anggap dia adek?"
"Ya nggak. Bisa baku hantam nanti. Nathan sebenarnya tempramen, tapi selama sama Meyra dia jadi lebih kalem."
"Nah, terus kenapa Kio cari masalah?"
Lodi hanya mengangkat bahu dan menggeleng. Wanda tak bertanya lagi. Ia menatap rintik hujan yang menetes pada kaca mobil. Tangannya tergerak menuju kaca yang berembun, menulis inisial namanya di sana. Tiba-tiba sebuah ide terbesit di kepala wanita itu.
"Aku punya ide!" serunya bersemangat.
"Ide apa?"
"Kamu kenalin aja Kio sama seseorang. Kalo aku jujur gak ada temen dekat cewek," lanjut wanita yang sore ini membiarkan rambutnya terurai.
"Ada sih. Banyak sebenarnya yang suka sama dia. Tapi tiap aku atur supaya Kio dan cewek itu bertemu, Kio selalu punya cara untuk gak datang. Apa kamu tau kalau bundanya aja sampai minta tolong sama aku?" respon Lodi. Ia membelokkan mobil setelah melewati lampu merah.
"Tipenya Kio yang gimana?"
"Sopan, pendiem, gak banyak tingkah. Semacam itu ..."
"Meyra dong? Duh," sungut Wanda.
"Hmm, ada. Temen lama kami. Mudah-mudahan belum taken. Nanti biar aku atur. Tapi kalo Kio nolak lagi?"
"Aku yakin kali ini dia gak akan nolak." Wanda tersenyum dengan mata menerawang.
"Caranya?"
"Begini ...." Wanda mulai menjelaskan rencananya.
**
Penat dan lelah. Kio berencana untuk berendam dengan air hangat begitu sampai di rumah. Tapi situasi tampaknya sedikit tak mendukung. Setelah mengucapkan salam, tak hanya bundanya yang menjawab namun juga wanita paruh baya lainnya.
"Walaikumsalam. Eh, Kio. Sudah besar? Tambah ganteng ya." Wanita bernama Utami itu adalah kakak dari sang bunda. Terakhir Kio bertemu dengannya saat ia masih duduk di bangku SMA.
"Budhe apa kabar?" Kio menyalami wanita itu. Satu hal yang paling Kio ingat tentangnya. Suka berkomentar.
"Sehat. Udah punya calon ini pasti?"
Pertanyaan klasik tiap bertemu keluarga yang jarang ditemui. Kio hanya tersenyum sopan. Ia tahu bundanya yang akan menjadi wakil untuk menjawab.
"Belum, Mbak. Gak tau kapan mau ngenalin. Tiap ditanya katanya belum ada."
"Mau budhe kenalkan sama anak temen budhe? Sekarang masih lanjut S2, tapi udah jelas ini bibit, bebet dan bobotnya. Asli Jogja, dan masih ada hubungan keluarga sama keraton."
"Langsung ketemu aja, Mbak. Biar mereka ngobrol. Besok sore kamu gak ada acara 'kan?" Nyonya Anggun beralih pada putra tunggalnya dengan tatapan yang sudah Kio hafal.
Kio tak bisa berkutik. Tadi pagi ketika sarapan, orang tuanya sempat bertanya tentang agendanya hingga tujuh hari ke depan. Dan dengan polosnya dia menjawab akan langsung pulang ke rumah begitu pekerjaan di kantor selesai.
"Gimana Kio? Tinggal budhe telepon kok. Kebetulan dia lagi ada di Surabaya juga sebulan ini."
Pria itu menelan saliva. Dalam hati ia berjanji jika ada siapapun yang mengajaknya keluar besok, dia akan langsung menerimanya. Apapun, agar ia tak perlu bertemu wanita itu.
Sedikit terkejut, Kio merogoh ponsel yang bergetar di kantongnya. Lodi. Kening Kio berkerut. Untuk apa Lodi meneleponnya? Padahal kemarin sahabatnya itu mengatakan akan mengajak Wanda dating.
"Maaf Nda, Budhe, Kio angkat telepon dulu," ujarnya sembari berjalan menjauh.
"Halo?"
"Tumben langsung diangkat. Gak sibuk lo?" tanya Lodi. Terdengar background musik di sela-sela suaranya.
"Baru pulang ngantor. Kenapa?"
"Besok free?"
"Ehm, ya. Besok gue free."
"Bagus. Hang out yok. Di tempat biasa. Udah lama kita gak makan di sana."
"Oh, oke. Bertiga sama Nathan 'kan?" tanya Kio memastikan. Rasanya ada yang kurang saat salah satu dari mereka tidak ikut.
"Udah, besok lo bakal tau. Yang penting lo bisa gak ni?"
"Bisa, gue bisa." Kio buru-buru menjawab. Ia tak ingin kehilangan kesempatan untuk kabur dari rencana bunda dan budhenya.
"Oke sip. Gue tunggu besok setelah maghrib."
Lodi menutup panggilan tak lama kemudian. Kio ingin tersenyum tapi tentu ia harus bersikap biasa. Langkahnya lebih ringan ketika kembali menghadap dua wanita yang kini berbincang sambil menikmati brownies.
"Siapa yang telepon?" tanya Nyonya Anggun.
"Lodi. Besok dia ngadain acara dan Kio diundang. Gak enak kalo gak datang," ucap pria itu.
"Ohh. Ndak apa-apa, masih ada banyak waktu. Nanti biar budhe buat janji sama Ajeng." Budhe Utami tampaknya masih tidak menyerah.
"Kio naik ke atas ya, mau mandi."
"Iya, Cah Bagus. Mandi dulu sana."
Kio memberi anggukan sopan sebelum menapaki tangga menuju lantai dua. Lega. Satu kata itu bisa menggambarkan isi hatinya sekarang.
Sementara itu di tempat lain, Lodi dan Wanda juga sedang mengobrol kegirangan setelah Kio menutup telepon. Wanda yang tak sabar, ingin segera bertanya.
"Gimana? Gimana?"
"Ternyata lebih mudah dari yang kita kira. Dia langsung aja bilang bisa."
"Yeeeyy!"
"Kamu senang karena Kio setuju datang atau karena kita nge-date lagi besok? Hm?"
Rona wajah Wanda berubah. Wanita itu tersenyum tersipu dan berusaha menyembunyikan wajahnya. Lodi yang melihat tingkahnya itu menjadi gemas.
'Manis ...' ucap pria itu dalam hati. Bibirnya mengulas senyum.
***
Bersambung.