Triple Date

1059 Words
Kio sampai di restoran yakiniku favoritnya pukul tujuh malam. Sedikit terlambat namun bukan masalah mengingat ini adalah acara santai. Pria dengan cardigan putih itu melangkah tanpa tahu jika yang menunggunya di dalam tak hanya Lodi dan Nathan. Di meja persegi panjang telah duduk lima orang saling berhadapan. Hanya tersisa satu kursi kosong yang khusus disiapkan untuk Kio. "Kio!" Lodi melambaikan tangan pada teman dekatnya yang baru memasuki restoran. Nathan dan Wanda menoleh sedangkan Meyra dan wanita satu lagi yang sepertinya ia kenal sedang membalik daging di atas panggangan. Kio maju, makin dekat ia mulai tahu jika setelah bebas dari rencana ibunya, kini ia harus menghadapi rencana sahabatnya. Triple date yang sama sekali tak ia sangka. "Sorry, gue telat." Kio duduk tepat di hadapan cantik berlesung pipi dengan rambut sebahu. "Lo inget dia 'kan?" Lodi bertanya pada kawannya yang baru datang itu. "Rachel?" tebak Kio dengan tidak yakin. Sebersit kenangan muncul dalam ingatan tentang wanita ini. Wanita yang pernah ia sukai, namun saat itu ia telah memiliki hubungan dengan orang lain. Wanita dengan make up natural itu mengangguk singkat dan tersenyum. Tebakannya benar. Namun kini perasannya tak lagi sama. "Ingatan lo bagus. Gak kayak Nathan nih. Masa' lupa sama teman lama. Ck, ck ..." Lodi mencomot daging yang telah matang lalu memberikannya pada mangkuk Wanda. "Gue cuma ketemu dia sekali. Iya 'kan Chel?" Nathan membela diri. "Iya, itu pun aku baru tau kalo namamu Nathan." Rachel tertawa kecil. Kio, Lodi dan Rachel dipertemukan di acara amal untuk panti asuhan beberapa tahun lalu. Nathan yang saat itu fokus di Bali dan jarang pulang ke Surabaya hanya sempat mengikuti acara itu satu kali. "Sambil ngobrol, yuk lanjut makan. Gue mau ngajak kalian ke galeri seni om gue yang kebetulan baru buka dari kemarin," ujar Lodi yang diam-diam memberi isyarat berupa kedipan pada Wanda. Satu anggota datang, maka satu menu pun ditambah. Lodi memanggil pelayan dan memesan beef sukiyaki set, dua porsi chicken kaarage dan juga dua mangkuk kimchi. Semua tampak menikmati menu daging beserta pelengkapnya di restoran mahal itu. Sesekali Kio mengamati gerak gerik Meyra yang sudah terlihat lebih sehat. Bahkan wanita itu sudah bisa menggunakan sumpit dengan tangan kanannya yang beberapa hari lalu terluka. Sambil makan, Kio sesekali menatap wanita di depannya dan menyadari tidak ada yang berubah. Termasuk style berpakaian dan gaya rambut. Begitu pandangan mereka bertemu, keduanya akan berbalas senyum. Hanya mereka yang makan dengan gaya idealisme. Sendiri-sendiri. Sedangkan dua pasangan lainnya saling memberi dan menerima. Nathan bahkan tak jemu memberi potongan daging matang pada mangkuk Meyra. "Sayang, kemarin aku ketemu Elma. Dia titip pesan, kalo kalian mau pesan dress sebaiknya dalam minggu ini." "Kenapa gitu?" tanya Wanda sambil mengunyah. "Makin banyak yang suka dengan desain di butiknya. Satu dress butuh waktu dua minggu." "Besok kita ke sana?" tanya Meyra pada sepupunya. "Iya dong. Takut gak keburu di hari H." Wanda memberi anggukan tanda setuju. "Acara apa?" tanya Rachel pada Kio yang sedari tadi hanya diam. "Pernikahan Nathan sama Meyra." Kio menjawab singkat dan tanpa ekspresi. "Kamu juga harus datang," sambung Meyra tiba-tiba. "Pasti. Kita tukar nomor kontak ya supaya bisa ketemu lagi." Meyra setuju. Dua wanita bersebelahan itu saling mengeluarkan ponsel. Tak lama berselang, ponsel milik Nathan berbunyi makin nyaring. Nada khas merk ponsel ternama. Pria itu meletakkan sumpit dan melihat siapa yang menelepon. "Sebentar, papa telepon," ujarnya pada Meyra. Wanita itu mengangguk. Ia memegang sumpitnya kembali saat Nathan bangkit dan berdiri dua meter dari meja mereka. Namun Meyra merasa ada yang aneh, tangan kanannya mendadak tak bisa digerakkan. Sekeras apapun mencoba, yang ada ia justru menjatuhkan sumpit. Mendengar suara benda terjatuh, Wanda menoleh dan langsung mengulurkan sumpit kayu lainnya yang tersedia di setiap meja. Meyra diam, selaras dengan tangannya yang masih tak bisa ia kendalikan. "Tanganmu masih sakit?" tanya Kio yang ternyata memperhatikan sedari tadi. Ia tahu ada yang tidak beres, bukan tentang luka. Pasti ada hubungannya dengan penyakit Meyra. Kio mengangkat sumpit, tampak ingin memberi daging pada Meyra tanpa menyadari ada tiga pasang mata sedang menatapnya. Meyra melihat sekitar, ia tak ingin Kio bersikap seperti ini. Wanita itu berdiri. "Aku mau ke toilet," ucapnya sebelum berlalu. Kio menurunkan tangan yang sempat berada di udara. Suasana menjadi canggung sejenak. Rachel menatap Kio namun pria itu tak peduli. Lodi dan Wanda saling pandang. Mereka memiliki kekhawatiran yang sama. "Aku kenyang ..." tukas Wanda untuk mencairkan suasana. "Ini dagingnya masih banyak. Sayang kalo gak habis," timpal Lodi. "Chel, Kio, ayo makan. Gue lihat dari tadi kalian baru makan sedikit. Tenang, malam ini gue yang traktir," lanjut pria itu. Bukannya mengiyakan, Kio justru meletakkan sumpit dan bangkit. Lodi hendak bertanya namun Kio langsung pamit ke toilet. Wanda menggigit bibir dan memberi kode pada Lodi. Pria itu menggeleng tanpa ketara, tak tahu harus berbuat apa. Di jalan menuju toilet pria dan wanita yang berdampingan, Kio dan Meyra berpapasan. Meyra sedikit terkejut namun segera mengendalikan diri. Ia tak ingin bertemu tatap dengan Kio dan mempercepat langkahnya. "Meyra, tunggu," Kio menahan lengan wanita itu. Meyra berhenti namun tak bersuara. Ia hanya menatap Kio datar, menunggu apa yang ingin Kio katakan selanjutnya. "Tanganmu gak apa-apa?" tanya Kio akhirnya. "Kio, tolong berhenti bersikap seperti ini. Aku baik-baik aja. Lihat, aku masih bisa berdiri dengan kakiku sendiri." "Bukan begitu, aku cuma-" "Aku memang sakit, tapi aku gak mau nyusahin siapapun. Jujur, sikapmu buat aku gak nyaman. Aku juga gak mau orang lain salah paham, terutama Nathan. Tolong, bersikap biasa. Anggap aja kamu gak tau sama sekali tentang penyakitku. Maaf, aku duluan." Kio membiarkan Meyra pergi begitu saja. Ia berjalan lurus menuju toilet pria dan mendekati westafel. Menatap pantulannya sendiri yang tampak menyedihkan. 'Bersikap biasa? Meyra, coba katakan apa yang harus kulakukan agar bayanganmu berhenti menari dalam otakku ...' Kio kembali beberapa saat kemudian. Hanya Meyra yang menyibukkan diri, men-scroll layar ponsel dengan tangan kirinya. Yang lain masih melanjutkan makan. Wanda dan Rachel yang baru pertama kali bertemu sudah tampak akrab. "Ayo, abisin. Perut gue udah penuh rasanya." Lodi bersandar setelah menghabiskan satu porsi chicken kaarage. Tanpa bicara, Kio mengambil sumpitnya lagi. Ia masih menyantap daging di depannya meski nafsu makannya telah menghilang. Pria itu tidak sadar, ada seseorang yang tengah memberinya lirikan tajam. Seseorang yang merasa posisinya terancam. Nathan melihat kejadian beberapa menit lalu melalui ekor matanya. Ia mulai menghubungkan dengan sikap Kio yang juga menyuapi Meyra ketika di rumah sakit. Perlahan, rasa curiga muncul, dan ia akan lebih mengawasi Kio mulai detik ini. *** Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD