Melepaskan

1279 Words
Pagi itu, di kediaman Dirga. "Mau kemana kau?" Tuan Tyo memandang sekilas putranya yang sudah rapi dengan setelan biru tua, warna favoritnya. "Kantor." Nathan menjawab pendek sembari ikut bergabung di meja makan. "Bukannya kamu dan Prita mau menghadiri pernikahan anak kedua Pak Tirta? Papa belum bilang sama Nathan?" Nyonya Laras menyela, tangannya meletakkan roti dengan selain nanas di piring suaminya. "Kamu sendiri tahu kemarin dia pulang dalam keadaan mabuk," respon Tuan Tyo. "Papa dan Mama yang diundang 'kan?" Nathan meneguk air putih, terlihat tak peduli. Sementara itu Prita baru keluar sudah dengan dress navy. Senada dengan suit yang suaminya kenakan. "Papa dan mama sibuk, Nathan. Tuan Tirta sudah dekat dengan papamu sejak lama, gak enak kalo gak datang. Lihat itu, istrimu juga sudah siap." Nathan tak menjawab perkataan Nyonya Laras. Di saat yang sama, Prita telah duduk di sampingnya. Menerima uluran piring berisi sandwich lezat dari sang ibu mertua. "Makasih, Ma ..." ujarnya senang. Roti isi coklat di depan Nathan masih utuh, namun selera makannya menghilang begitu saja setelah melihat Prita. Potongan kejadian semalam yang sedikit muncul di ingatan, membuat pria itu men-skip sarapan. "Nathan gak lapar. Aku tunggu di mobil." Nathan menatap Prita sekilas lalu beringsut meninggalkan ruang makan. "Baby," panggil Prita saat mereka berada dalam perjalanan. Karena sedang malas menyetir, pagi itu Nathan memilih untuk menggunakan sopir. Hal yang sangat jarang ia lakukan. Tak mendapat respon, wanita itu justru menggelayut manja pada lengan Nathan yang kekar. Nathan mengalihkan pandangan, ia sangat ingin mendorong wanita ini. Namun sejak tadi supir mereka memperhatikan. "Lepaskan tanganmu! Apapun yang terjadi semalam, takkan mengubah perasaanku. Pernikahan kita hanya keterpaksaan. Mengerti?" bisik Nathan dengan nada sinis. Bukannya memperbaiki posisi duduk, Prita memeluk makin erat dan menempelkan kepalanya. Rambut pendeknya yang dicat coklat, menguarkan aroma bunga yang lembut. Merasa risih, Nathan menggerakkan tangannya. Namun yang ada, Prita semakin bertingkah. Masa bodoh, pikirnya. Lima menit dalam posisi itu, Prita melepaskan lengan si suami dan mendekatkan diri. "Aku punya kabar bagus untuk kamu. Mau tau?" ujar wanita itu. Tidak ada respon, bahkan Nathan tak menoleh sama sekali. Ia menatap pemandangan jalan di luar. Mobil mereka mulai memasuki kawasan perkantoran di pusat kota. "Serius gak mau tau? Kemarin aku ketemu mantanmu, lho. Ternyata dia lebih cepat move on ya dari pada kamu. Tau gak dia lagi deket sama siapa? Coba tebak ..." Wanita itu memberi jeda yang menyebalkan. "Kio." Senyum Prita melebar, saat menyadari tatapan Nathan kini terfokus padanya. Aura kemarahan terpancar jelas. Pria itu bahkan mengepalkan tangan. "Udah, jangan badmood gitu. Bukannya itu kabar baik?" Semanis apapun bujuk rayu Prita, Nathan justru makin merasa hatinya sakit. Meyra bersama Kio? Benarkah? Mereka sampai di hotel tempat acara pernikahan bertema merah dan gold itu diselenggarakan. Beberapa kawan bisnis Nathan juga ikut hadir yang tentu hampir semua menanyakan tentang ayahnya. Prita tak henti mengikuti langkah kemanapun pria itu pergi. Senyum yang manis disertai pembawaan yang tenang selalu ia tampilkan. "Nathantio Dirga!" Pria paruh baya yang merupakan pemilik acara menyambut mereka dengan hangat. "Om, apa kabar? Maaf papa gak bisa hadir." Nathan menerima ajakan jabat tangan dari Tuan Tirta. "Mungkin papamu balas dendam karena aku tak datang ke pernikahanmu. Aku bercanda ..." Tuan Tirta mengeluarkan tawa khas bapak-bapak yang terlihat senang. "Bukan masalah, Om." "Ini istrimu?" Senyum Nathan memudar. Tentu ia harus mengiyakan jika Prita adalah istrinya. Namun entah kenapa lidahnya seakan kaku dan tak bisa diajak berkompromi. Setelah beberapa detik keheningan, Prita bersuara. "Iya, saya Prita. Istri dari Nathan sekaligus menantu Pak Tyo." Lagi, Prita menunjukkan senyumnya. "Baiklah, silahkan kalian nikmati acaranya. Pastikan kalian temui dua mempelai di sana." Tuan Tirta menunjuk panggung yang didekorasi gaya oriental tempat anak dan menantunya duduk bak ratu dan raja. Pria itu menepuk bahu Nathan sebelum pergi untuk menyapa tamunya yang lain. Nathan melepaskan lengan dari cengkeraman Prita untuk ke sekian kalinya. Awalnya Prita terlihat kesal namun perhatiannya teralihkan saat ponsel tipisnya berdering. Alis Prita bertaut, ia menjauhi Nathan sebelum mengangkat. "Kenapa kamu selalu menggangguku?" Prita memperjelas nada tingginya namun mengontrol suara agar tetap lirih. "Prita, Prita. Sikap lemah lembutmu hilang setelah menikah dengan laki-laki itu. Dia membuatku cemburu." Pria itu tertawa di seberang. "Kamu mau apa lagi?!" "Nanti siang, aku ingin kita bertemu di tempat biasa. Ingat, kali ini kau harus mengajak Tata." "Kalo aku menolak?" "Silahkan. Tapi setelah itu jangan menyesal, Sayang." Panggilan diputus sepihak. Prita mulai muak. Tapi ia tak bisa mengacuhkan pria itu begitu saja. Ia menatap Nathan yang kini mengobrol bersama tamu lain. Prita takkan membiarkan Nathan lepas. Tidak akan. ** Setelah kepulangannya dari rumah sakit, Meyra memutuskan untuk tinggal bersama Wanda kembali. Sejak saat itu pula ia jadi sering melamun. Seperti siang ini, ia hanya diam di balkon. Tak menyentuh makan siang yang telah sepupunya itu siapkan. "Meyra?" panggil Wanda. Ia ikut duduk di kursi balkon. "Iya?" Wanita itu menoleh. "Kenapa gak makan? Aku emang baru belajar masak tapi apa iya separah itu rasanya?" Meyra tak menjawab. Wanda yang tadinya ingin mengajak bergurau jadi tak tahu harus bicara apa. Kondisi Meyra yang selalu pura-pura baik membuatnya makin khawatir. "Apa aku salah?" "Salah? Gimana maksudnya?" Wanda mengerutkan kening. "Aku gak tau apa yang udah aku lakuin. Sekarang aku justru mengikuti Prita kemanapun dia pergi. Ini salah 'kan? Harusnya aku gak peduli 'kan? Tapi ..." Meyra berhenti bicara saat menyadari air matanya telah membasahi pipi. "Kamu boleh nangis kok. Nangis aja, luapin apa yang kamu rasain." Wanda langsung memeluk saudaranya yang rapuh itu. Tangis Meyra pecah. Tak dapat ia pungkiri, pernikahan Nathan dan Prita membuatnya hancur. Sekeras apapun ia meyakinkan diri untuk kuat, tetap saja hatinya tidak baik-baik saja. "Semuanya udah ada yang ngatur. Kita cuma bisa menjalani dengan sebaik-baiknya. Kamu sering bilang gitu 'kan?" Tangan Wanda mengusap punggung Meyra dengan sabar. Isakan Meyra masih terdengar. Kehilangan Nathan baginya sama dengan kehilangan sosok sahabat, pelindung dan juga penyelamat. "Aku tau gak gampang untuk mengikhlaskan. Pelan-pelan aja," tambah Wanda. Meyra mengangguk pelan. Meski tak ingin, nyatanya hanya itu yang bisa ia lakukan. Mengikhlaskan. "Nanti belanja yuk? Udah lama kita gak main ke mall ..." ajak Wanda tak lama kemudian. "Hmm." Meyra mengusap netranya yang basah. Tawaran itu takkan ia tolak. Ia juga sedang ingin berjalan-jalan untuk menyegarkan pikiran. Beberapa jam kemudian, dua wanita itu sudah duduk di salah satu coffeeshop yang terletak di lantai dasar sebuah mall berlantai lima. Meyra hanya memesan air mineral sedangkan Wanda baru meminum vanilla latte favoritnya. "Kita ke mana sebentar lagi?" Meyra bertanya pada sepupu yang sibuk pada layar ponsel di tangan. "Kamu pengen ke mana?" "Ke toko buku ya. Ada novel yang pengen aku beli." "Okay. Tapi tunggu Lodi, dia lagi on the way. Sepuluh menit lagi sampai." Wanda terlihat ceria saat menyebut nama pria yang kini mengisi hari-harinya itu. "Lodi?" "He, em. Sama Kio juga," jawab Wanda tanpa mengalihkan pandangan pada ponselnya. Sekilas ia melirik Meyra. Sepertinya wanita itu terlalu kesal untuk memprotes. Wanda hanya tersenyum tipis. Ini memang rencananya. Bagaimana pun Meyra harus move on. Harus. Dua pria charming hadir di hadapan mereka lebih cepat dari perkiraan. Wanda segera menyambut sang pangeran hati dengan sumringah. Sangat berbeda dengan raut wajah Meyra yang datar. "Kita ke mana dulu nih?" Wanda menyikut Meyra yang hanya diam sejak Lodi dan Kio muncul. "Terserah. Aku ikut aja," sahut Meyra pasrah. "Kalo gitu kita nonton. Yeeyy." Meyra segera menyesali kepasrahannya. Ia sama sekali tak memiliki keinginan untuk menonton. Namun sudah terlambat untuk meralat. Wanda dan Lodi sudah berjalan lebih dulu, meninggalkannya hanya berdua saja bersama Kio. "Aku lagi males nonton, gimana kalo kita ke toko buku?" tawar pria dengan mata menawan itu. 'Apa ini? Telepati?' Meyra menatap Kio heran sebelum mengangguk. Wanda menoleh, rencananya berhasil membuat Meyra dan Kio jalan bersama. Ia juga yang memberitahu Kio melalui chat jika Meyra sedang ingin ke toko buku. *** Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD