Esoknya, Meyra duduk menyendiri di ruangannya. Suasana cafe cukup ramai dan ia telah memberi tahu Fika, supervisor cafe jika ia sedang tak ingin menemui siapapun.
Peristiwa semalam mengusik pikirannya. Terlihat jelas jika Prita dan pria bernama Lucas lebih dari sekedar teman. Namun sayangnya saat itu ia tak bisa mendengar percakapan mereka.
Sesaat kemudian, ia mengingat secarik kertas yang ia dapatkan ketika mengunjungi panti asuhan Pelita Bunda beberapa hari yang lalu. Meyra mengingatnya namun ia lupa di mana meletakkan. Tangannya mencari di antara lembaran notes kecil dalam tas, celah antar buku, dan baru ia temukan di dalam dompetnya.
Lembaran kecil itu berisi dua belas digit nomor seseorang yang mungkin bisa memberinya titik terang. Meyra mengambil ponsel dan mulai menyalin nomor itul. Tak lama kemudian terdengar nada tunggu, menandakan panggilannya tersambung.
"Assalamu'alaikum, benar ini nomornya Enggar ya?" Meyra bertanya dengan ramah.
"Waalaikumsalam. Iya, ini siapa?"
"Meyra. Tempo hari kita gak sengaja ketemu di panti asuhan. Saya dapat nomormu dari Ibu Tuti." Wanita itu menyebut nama Ibu Panti.
"Ohh, Mbak yang kapan hari. Ada apa, Mbak?"
"Bisa kita bertemu? Ada sesuatu yang ingin saya tanyakan."
"Nanti sore saya ada waktu setelah jam setengah lima."
"Langsung ketemu di Cafe Lotus gimana?" tawar Meyra. Ia sengaja memilih lokasi yang tidak jauh dari kediaman Nathan agar babysitter itu tidak kesulitan.
"Iya, Mbak. Boleh."
Meyra meletakkan ponselnya kembali usai mematikan panggilan. Wanita itu duduk termangu. Mulai memikirkan apa tujuannya mencari tahu tentang Tata. Ia pun tak mengerti. Murni hanya ingin mengetahui kejujuran Prita, ataukah mencari celah agar ia dan Nathan bisa kembali?
Sore pun tiba tanpa diminta. Meyra masih duduk di kursinya, sambil memijit kening. Kepalanya terasa sakit sejak tadi. Meski ia telah meminum obatnya, tak ada perubahan sama sekali.
Jam sudah menunjukkan pukul empat. Meyra beranjak dari kursinya bertepatan dengan suara ponsel yang berdering. Ia membuka tas, melihat layar ponsel dan meletakkan kembali saat mengetahui si penelepon adalah Kio. Meyra tak ingin merepotkan pria itu lagi. Kali ini ia akan mencari tahu dengan caranya sendiri.
Namun baru beberapa langkah, Meyra berhenti. Tangannya menyentuh hidung, dan dalam sekejap telapak tangannya basah dengan darah. Ia berjalan menuju meja, berusaha menggapai tisu. Namun tak lama kemudian, pandangannya gelap.
Sementara itu di luar ruangan, Fika sedang gelisah di depan pintu. Ia harus menemui Meyra karena ingin meminta persetujuan untuk menu baru. Tetapi di saat yang sama, ia teringat pesan untuk sementara bosnya itu tidak ingin diganggu jika bukan tentang urusan yang mendesak.
"Mendesak. Oke, ini penting. Just knock and open the door." Wanita berkacamata itu menyemangati diri sendiri.
Fika mengetuk pintu. Sekali, dua kali, tidak ada jawaban. Ia mencoba lagi dan tetap hanya hening. Wanita itu pun berinisiatif untuk membuka pintu.
"Kak, saya masuk ya,"ujarnya sembari membuka pintu yang tidak terkunci dengan perlahan.
Tak perlu menunggu waktu lama, netranya segera menangkap Meyra yang jatuh tak sadarkan diri di lantai. Ia menghampiri dengan panik.
" Kak Meyra! Kak, bangun!!" Fika menepuk pipi Meyra tetapi percuma. Samar, terdengar dering ponsel Meyra yang berada di dalam tas tangan. Fika dengan cepat merogoh tas itu dan mengangkatnya.
"Meyra, kenapa-" Suara bariton Kio terdengar.
"Pak, tolong Kak Meyra pingsan." Fika memotong ucapan Kio.
"Kamu tenang. Jaga dia sebentar, saya ke sana sekarang juga." Kio menutup telepon dan langsung bangkit.
Pria itu berjalan cepat keluar dari ruangannya dan melewati Sonia, si sekretaris yang saat itu sedang menyiapkan file untuk rapat. Melihat Kio keluar dengan terburu-buru, ia berusaha mengingatkan tentang rapat dan pertemuan penting yang harus sang atasan hadiri saat ini.
"Pak, Anda mau ke mana? Sebentar lagi kita ada rapat dan-"
"Batalkan semua agenda hari ini." Kio melanjutkan langkahnya setelah berbalik dalam waktu singkat.
Sonia hanya menatap atasannya yang kini telah menghilang dengan bingung.
**
Enggar telah sampai di Cafe Lotus tempat ia dan Meyra akan bertemu. Ia langsung setuju dengan ajakan wanita itu karena sejak awal Meyra terlihat tak memiliki niat buruk.
Saat ia menyeruput teh tariknya, tiba-tiba seseorang datang dan duduk di kursi tepat di hadapannya. Enggar yang awalnya mengira itu adalah Meyra menjadi terkejut tatkala menyadari yang datang justru Prita.
"Bu Prita?"
"Saya kira kamu sudah pulang," ujar Prita.
"Saya ada janji bertemu dengan seseorang."
"Siapa? Meyra?" tebak wanita itu tanpa basa basi.
"Bu Prita mengenal Mbak Meyra?"
"Iya. Dan asal kamu tau dia itu mantan kekasih dari suami saya."
"Mantannya Pak Nathan?" Enggar tampak terkejut.
"Benar. Saya tahu kenapa dia ingin menemui kamu. Pasti dia ingin mencari cara untuk mendekati Nathan lagi. Padahal Tata baru saja mendapatkan keluarga yang utuh ..." Raut wajah Prita dibuat sedih.
"Tapi, Bu. Saya merasa dia tak memiliki niat buruk."
"Saya telah mengenalnya lebih dulu daripada kamu. Wajahnya memang tampak seperti malaikat, selalu tersenyum ramah dan manis. Tapi ..." Kali ini Prita terisak. Pura-pura tentunya. Tapi Enggar yang polos bisa dengan mudah percaya dengan akting si majikan.
"Bu, maaf, jangan seperti ini. Saya tidak akan menemui dia kalau memang Ibu tidak menyukainya." Enggar berkata dengan serius. Yang ia tahu majikannya ini adalah orang yang selalu memperlakukannya dengan baik. Tentu ia tak ingin mengecewakan Prita.
"Janji?" tanya Prita lirih, masih dengan raut wajah sedih.
"Iya, Bu. Saya janji."
Diam-diam Prita tersenyum miring. Satu kerikil teratasi. Dan ia akan segera menghilangkan kerikil-kerikil lain yang akan menghalangi jalannya.
**
Kio duduk di samping ranjang, menunggu Meyra agar segera sadar. Netranya tak ingin beralih dari wanita itu meski hanya semenit. Ia tak ingin kehilangan satu detik bersama Meyra yang baginya sangat berharga.
Penjelasan dokter satu jam lalu cukup membuat batinnya terguncang. Sel kanker makin berkembang dengan aktif. Jika dibiarkan, maka hanya tinggal menunggu waktu Meyra akan menghembuskan nafas terakhir.
"Meyra, lihat, aku di sini ..." bisik Kio dengan mata berkaca-kaca. Ia menggenggam tangan Meyra yang tak mungkin bisa ia sentuh ketika si pemilik sedang membuka mata.
"Bertahanlah. Ayo berjuang. Aku tau kamu wanita kuat."
Kio mengecup punggung tangan wanita cantik yang kini terlihat pucat itu. Tanpa disangka, kelopak mata Meyra bergerak dan tak lama kemudian ia terbangun.
"Meyra ..."
"Hm? Kenapa aku di sini?" Meyra melihat sekitar.
"Salah satu karyawan cafe menemukanmu pingsan. Ada yang sakit?"
Meyra hanya menggeleng dan mencoba duduk. Kio dengan sigap membantunya. Wanita itu mendadak teringat sesuatu. Seharusnya ia menemui seseorang.
"Sekarang jam berapa?" tanyanya pada Kio.
"Hampir jam enam. Kenapa?"
Meyra berusaha membuka infus pada pergelangan tangannya tanpa menjawab pertanyaan dari pria yang sejak tadi dduk di sampingnya. Sontak saja Kio bereaksi.
"Kamu mau apa? Tetap di sini. Dokter minta kamu untuk istirahat." Kio menahan tangannya.
"Tapi aku harus menemui seseorang." Meyra masih bersikeras meski tangannya kini masih terkunci oleh genggaman Kio.
"Terserah kamu mau ketemu siapa. Tapi nanti, setelah kondisimu membaik. Tolong ingat kesehatanmu," ucap Kio. Tatapannya begitu sendu. Meyra tak tahu yang sedang pria itu rasakan. Kekhawatiran yang bahkan bisa membuat jantung Kio meledak.
"Tapi ini penting, Kio."
"Apa kamu masih mencari tahu tentang Prita?"
Meyra tak menjawab. Kio menghela nafas kasar. Diamnya Meyra bermakna jawaban iya.
"Kenapa kamu begitu terus menyelidiki tentang Prita? Apa kamu masih belum bisa menerima pernikahan mereka?"
"Bukan gitu ..."
"Lalu? Apa alasannya?" Kio menatapnya lurus. Ada kekesalan yang tersirat dari sorot matanya.
"Gimana kalo ternyata Tata bukan anak kandung Nathan?"
"Cukup, Meyra. Mereka udah menikah. Gak ada yang bisa dilakukan."
Pegangan Kio pada tangan Meyra merenggang. Kini ia mengelus punggung tangan wanita itu. Meyra yang sempat terdiam menarik tangannya dan memintanya keluar.
"Aku mau sendiri dulu."
"Apa aku salah bicara?" Kio tak beranjak.
"Tolong, Kio ..." Meyra meminta dengan mengalihkan pandangan pada jendela.
Kio bangkit dengan lesu. Ia tak ingin membuat Meyra makin marah. Walau sebenarnya ingin hati adalah selalu berada di samping wanita yang membuatnya berdebar.
Sementara itu, Meyra bingung dengan kondisi hatinya. Entah kenapa kecurigaannya pada Prita semakin besar. Tapi benarkah tidak ada yang bisa dilakukan? Apa yang hatinya inginkan?
***
Bersambung.