Pintu lift terbuka di lantai tujuh. Meyra keluar dengan tergesa-gesa sedangkan Kio masih setia mengikutinya dari belakang.
"Kamu yakin yang tadi naik itu Prita?" tanya Kio yang kini mengimbangi langkah Meyra sehingga mereka sejajar.
"Aku yakin. Dia naik sama laki-laki dengan setelan rapi."
Ternyata dua orang mereka ikuti berjalan tak jauh di depan mereka. Prita dan pria tak dikenal itu berbelok dan hendak memasuki ruangan yang tampak seperti ruang pertemuan. Terdapat dua pria berseragam sama, menjaga di depan pintu.
Si pria tak dikenal menyerahkan sesuatu dan tak lama kemudian mereka diijinkan masuk. Kio menahan Meyra agar berhenti sejenak. Bagaimana pun mereka takkan bisa masuk ke dalam dengan mudah.
"Tadi itu keliatannya undangan. Acara apa ya?"
"Gak tau. Kamu benar-benar ingin masuk?"
"Iya. Tapi
"Aku liat situasi dulu, kamu tunggu di sini." Kio pun berjalan dengan wajar, mendekati pintu dua daun namun hanya satu yang terbuka.
Baru saja dia ingin menghampiri dua penjaga pintu, seseorang menepuk bahu Kio dari belakang. Refleks pria itu menoleh.
"Kio? Lo di sini?"
"Bobby? Ini beneran lo?" Kio menyambut ajakan pria dengan setelan jas untuk berjabat tangan.
"Wah, asli gue gak tau kalo lo masih di Surabaya. Tau gitu 'kan gue bakal ngundang. Masuk, yuk." Bobby mengajak kawan lamanya untuk mengikuti acara.
"Jadi lo yang punya acara di dalem?"
"Ulang tahun istri gue. Gak rame kok, cuma beberapa temen istri juga temen deket gue. Ayo udah masuk aja ..." Bobby merangkul bahu Kio yang masih menatap pada satu arah.
"Sebentar, gue ke sini gak sendirian."
"Sama siapa?"
Kio berjalan ke arah Meyra dan memintanya untuk ikut. Bobby yang awalnya bingung, langsung tersenyum.
"Istri lo?" tanyanya.
"Bukan-"
"Ngobrolnya di dalem aja. Istri gue bisa ngomel nanti."
Baik Kio maupun Meyra tak menduga jika mereka berdua bisa masuk ke dalam acara ini dengan mudah. Tak banyak tamu yang hadir hanya sekitar tiga puluh atau tiga puluh lima orang berpakaian formal.
Meyra melihat sekitar, dengan mudah ia menangkap siluet Prita yang sedang mengobrol dengan pria asing itu. Ia memberi kode pada Kio untuk bertanya pada Bobby.
"Gue gak nyangka lo yang hobi party cuma ngundang tamu sedikit." Kio mulai berbasa basi.
"Hobi gue masih sama, cuma ya gitu. Si Nyonya gak suka keramaian. Ini tumben-tumbenan minta ulang tahunnya di rayain ya langsung gue iyain. Meskipun gak seperti yang gue mau."
"Hmm." Kio manggut-manggut lalu memandang ke arah Prita. "Yang di sana itu temen lo?"
"Yang mana?" Bobby mengikuti arah pandang jawab lamanya.
"Cewek rambut pendek pake dress biru."
"Oh, itu Prita, temen istri gue."
"Yang di sampingnya?"
"Gue gak yakin tapi ada yang bilang itu mantan suaminya. Sebulan yang lalu sempat kena kasus penggelapan uang tapi cuma ditahan beberapa hari. Lo mau minum?"
"Nanti, gue ambil sendiri." Kio tersenyum.
"Oke. Gue tinggal dulu. Have fun."
Bobby menghampiri istrinya yang sedang mengobrol dengan teman-teman dan kerabat mereka yang lain.
"Itu mantan suami Prita?" Meyra tak bisa mengalihkan pandangan dari istri Nathan itu.
"Bisa jadi. Kamu mau minum apa?"
Meyra menggeleng. Tujuannya datang ke tempat ini bukanlah untuk menikmati pesta. Ia ingin segera mencari kepastian tentang Prita.
"Hati-hati. Kalaupun Prita melihat kita di sini, jangan sampai dia curiga," ucap Kio lirih.
"Aku tau."
Usai menanggapi ucapan Kio, wanita itu maju beberapa langkah agar jaraknya dan Prita semakin dekat. Kio hanya menggeleng, tak mengerti kenapa Meyra sekeukeuh itu.
Namun sepertinya Meyra kurang perhitungan. Jarak mereka terlalu dekat. Prita dengan mudah bisa mengenalinya. Ia yang saat itu berada di dekat Bobby dan istri Bobby, langsung bertanya.
"Kamu kenal sama perempuan itu?" tunjuknya pada Meyra.
"Calon istri siapa tadi, Beb?" tanya Runia pada Bobby.
"Calon istri Kio." Bobby yang sok tahu mengambil kesimpulan sendiri.
'Kio dan Meyra? Sejak kapan mereka ...' Ekspresi Prita berubah yang awalnya heran menjadi seringai.
Prita membawa gelasnya yang berisi wine menuju Meyra. Ia tersenyum manis. Senyum yang tampak aneh jika dilihat dari sudut pandang Meyra.
"Hai, Meyra?" sapanya.
Sapaan itu tak ayal membuat Meyra memberikan senyum. Senyum yang dipaksakan.
"Hai, kamu juga datang? Sama siapa?" Meyra melirik pria yang tadinya terlihat akrab dengan wanita itu.
"Bukan siapa-siapa. Kamu?"
"Dia datang sama aku." Tiba-tiba Kio sudah berada di samping Meyra sembari merangkul pundak.
"Kalian, dating?" pancing Prita lagi.
"Hmm, ya. Bisa dibilang begitu. Iya 'kan, Sunshine?" Kio mengedipkan mata saat menghadapi lirikan maut dari wanita di sebelahnya.
"Waaww, congrats. Aku ikut seneng dengernya." Prita tersenyum lagi, kali ini senyum kepuasan.
Meyra membuang napas dan segera melepaskan diri dari Kio setelah Prita menghilang dari pandangan. Ia hanya diam, namun sorot matanya meminta penjelasan.
"Kamu marah? Aku cuma gak mau Prita curiga." Kio tertawa kecil namun Meyra hanya memutar bola mata seraya membalikkan badan.
Pengintaian malam ini Meyra anggap selesai meski bisa dibilang tak mendapat hasil apapun. Kini ia justru membuat Prita salah paham. Entah apa reaksi Nathan jika mendengar kabar itu. Tapi kenapa ia masih peduli pada Nathan?
"Meyra? Mau ke mana?" panggil Kio sambil mengekor.
"Pulang," jawab Meyra pendek. Ia melewati tamu-tamu lain dengan langkah cepat.
"Tunggu. Aku akan mengantarmu."
"Gak usah."
"Mana bisa begitu? Kita datang bersama jadi juga harus pulang bersama ..." Kio tahu Meyra marah. Tapi ia juga tak bisa menahan perasaan senang ketika mengakui jika mereka sedang memiliki hubungan.
**
Prita baru selesai membersihkan make up dan bersiap untuk tidur ketika pintu kamarnya terbuka. Nathan muncul dengan sempoyongan dan langsung menghempaskan diri pada ranjang king size mereka.
"Nathan? Kamu mabuk?" Prita bertanya setelah mencium aroma alkohol dari mulut suaminya.
"Berisik." Nathan mengubah posisi kini menjadi miring.
Wanita dengan pakaian tidur berenda itu duduk dan mengamati wajah tampan Nathan. Pria itu masih memiliki hatinya. Namun sayang, hati Nathan telah berpaut pada wanita lain.
Prita membuka jas dan kancing kemeja putih milik Nathan. Tidak ada perlawanan, suaminya itu justru menurut saat ia menyuruh untuk mengangkat tangan. Senyum Prita terkembang, malam ini ia yakin mereka akan tidur di ranjang yang sama. Sejak malam pernikahan, Nathan tak pernah menyentuhnya. Bahkan pria itu memilih tidur di sofa.
"Sayang ..." panggil Prita dengan nada mesra.
Nathan tersenyum. Ia mengira yang didengarnya adalah suara wanita yang sangat ia cintai. Imajinasinya bermain. Tanpa ragu ia memeluk Prita dengan erat. Prita membalas dengan liar. Dua insan itu akhirnya melakukannya. Malam pengantin mereka yang sempat tertunda.
**
Nathan bangun dari tidurnya dengan kepala terasa pening. Ia duduk dan menyadari tempatnya berada adalah ranjang kamar. Seseorang masih tertidur dengan posisi memeluknya erat. Nathan terhenyak saat mengetahui orang itu adalah Prita dan mereka sama-sama polos, tanpa busana.
Nathan memindah tangan Prita dan langsung bangkit untuk memakai celananya. Ia siap mengumpat jika saja tak mendengar suara serak wanita itu yang ikut terbangun.
"Pagi, Baby ..." ucapnya dengan nada manja.
"Apa yang terjadi semalam?" tanya Nathan dengan tatapan tajam.
"Kamu lupa? Hm, apa perlu aku ingatkan?" Prita duduk sambil memakai selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Gila!" umpat Nathan akhirnya.
"Hei, apa-apa?! Siapa yang gila?"
Nathan masuk ke kamar mandi tanpa menjawab. Ia tak mengingat apa yang terjadi hingga ia berakhir di ranjang, padahal itu adalah spot yang paling ia hindari semenjak ia dan Prita berada dalam satu kamar.
Pria itu menatap pantulannya di cermin kamar mandi. Terlihat kusut dan menyedihkan. Pernikahan ini bagaikan neraka untuknya.
***
Bersambung.