Hati yang Patah

1016 Words
Nathan membuang muka dengan marah saat melihat layar lift yang menunjukkan panah ke atas. Ia tahu ia tak lagi memiliki hak untuk melarang Meyra melakukan apapun namun ketika harus melihat dengan mata kepalanya sendiri, ia tak bisa menahan emosi. Pria itu melihat jam pada pergelangan tangan. Sudah hampir pukul delapan malam. Ia ingin mengalihkan pikirannya. Sungguh ia takkan rela jika ada pria lain yang menyentuh Meyra. Termasuk sahabat yang telah ia anggap sebagai saudaranya sendiri. "Pak?" Suara lembut Oliv membuatnya menoleh. Ia baru ingat jika si sekretaris masih ada bersamanya. "Tugasmu sudah selesai hari ini. Besok serahkan hasil kerja sama tadi via email kepada Pak Tyo," ujarnya. Kesepakatan hari ini sukses. Ia berhasil membuat Tuan Radian menyetujui kontrak kerja sama yang ia tawarkan. Tapi wajahnya sama sekali tak menunjukkan raut kebahagiaan. "Baik, Pak." Oliv menunduk namun tidak berpindah tempat. "Di mana alamatmu?" "Maaf, Pak?" Wanita dengan rambut terikat itu mendongak. "Di mana alamatmu? Saya antar," ulang Nathan. "Tidak perlu, Pak. Saya masih ada urusan di dekat sini. Kalau begitu, saya permisi," tolak Oliv sebelum beranjak dari hadapan sang atasan. Nathan menatap punggung wanita itu hingga menghilang. Ia mengusap wajah kasar. Ia menuju mobil dan mengambil ponsel guna menghubungi seseorang. "Lo di mana?" Jeda selama beberapa saat. "Gue tunggu di club biasanya. Oke." Nathan memutus telepon dan menyalakan mesin mobil. Malam ini ia enggan pulang. Pria itu tak lagi peduli jika orang rumah mencarinya. Bahkan tidak ada seorang pun yang bisa memahami rasa sakit yang ia rasakan. Nathan sampai di halaman parkir club malam yang letaknya hanya beberapa kilometer dari Hotel CC. Pikirannya kalut. Wajahnya kusut, seakan ada mendung yang menggelayut. Sudah lama sejak ia terakhir minum setelah Meyra melarangnya. Pria itu memesan whiskey dan menghabiskan sekali teguk langsung dari gelas sloki. Tangannya mengangkat sedikit gelas yang kini kosong. Senyum dan tawa khas Meyra bermain-main dalam pikirannya. Meski terasa sangat menyakitkan, ia tak ingin menghapus bayangan wanita itu. Bartender menggeleng prihatin saat menyadari Nathan mulai mabuk namun masih memintanya untuk mengisi ulang minuman. Tak lama kemudian, muncul wanita dengan make-up bold dan bodycon dress yang membentuk lekuk tubuh. Ia melangkah lurus menuju Nathan yang saat itu sedang duduk sendirian. Tanpa ragu ia merebut gelas dari tangan pria itu dengan tatapan menggoda. Nathan yang sedikit limbung berusaha mengambil gelas namun si wanita mendekatkan wajahnya pada pria itu. "Hai, Ganteng. Mau bersenang-senang?" Si wanita tersenyum senang melihat Nathan mabuk. Ia makin berani dan mendekat. Kini jarak bibir mereka hanya tanggal beberapa inci. Wanita itu memejamkan mata, merasa yakin sang tuan muda telah berada dalam genggaman. Nathan mengerutkan kening dengan bingung. Ia bahkan tak tahu situasi yang sedang menimpanya. Tiba-tiba sebuah tangan mendekap mulut wanita tak punya sopan santun itu hingga ia mundur beberapa langkah. Ia membuka mata dan siap memaki. "What the-" "Jangan asal nyosor ya. Dia udah punya istri!" Sosok yang ternyata adalah Oliv itu meradang. Si wanita asing kesal namun berusaha tenang, ia memandang penampilan Oliv dari ujung kepala hingga kaki. Outfit yang Oliv kenakan berupa blouse putih dengan renda cantik pada bagian d**a, rok mocca tiga sentimeter di atas lutut, sepatu fantofel, tak lupa tas berbahan kulit imitasi berwarna coklat. Jika ditotal, harga yang pakaiannya tak lebih dari satu juta rupiah. Sungguh tidak pantas jika disandingkan dengan Tuan Muda yang jam tangannya saja seharga mobil. "Lo siapa? Istrinya?" Pertanyaan yang keluar dari bibir dengan lipstik merah itu bernada merendahkan. Oliv sejenak terdiam. Pertanyaan wanita itu seolah memaksanya untuk sadar. Siapa dia? Apa hubungannya dengan Nathan hingga ia berani mencampuri urusan pria itu? "Aku-" "Sayang, jangan tinggalin aku ..." Tanpa aba-aba, kedua tangan Nathan merengkuh erat pinggang Oliv masih dengan posisi duduk. Bahkan ia menempelkan pipinya pada punggung sang sekretaris. "Ck." Wanita berpakaian seksi melengos. Tingkah Nathan membuatnya mengira Oliv benar-benar istrinya. Usai wanita itu menghilang. Nathan masih tetap berada di posisi, enggan melepas pinggang si sekretaris yang ramping. Situasi ini membuat Oliv tidak nyaman. Ia berusaha melepaskan tangan Nathan namun pria itu terlalu mabuk untuk menyadari apa yang sedang dilakukan. "Pak, ehm ..." Oliv menepuk pelan punggung Nathan. "Kenapa kamu batalin pernikahan kita? Kenapa, Meyra?" Nathan mengeratkan pelukannya. Samar-samar terdengar jika pria yang selalu tampil berkharisma di kantor itu terisak. Perlahan, muncul rasa iba di hati Oliv. Ia yakin jika sekarang Nathan mengira ia adalah Meyra, wanita yang mereka temui secara tidak sengaja di hotel tadi. Oliv akui wanita itu sangat cantik dan terlihat anggun, terlihat serasi dengan Nathan. "Pak Nathan, saya Oliv," ucapnya, berharap Nathan sadar dan melepaskannya. Pria itu menggeleng lemah. Oliv menatap sekitar dan sejenak netranya bertemu pandang dengan bartender berwajah manis yang kini tersenyum. "Nathan!" Seorang pria datang dan langsung melepas cengkeraman tangannya pada Oliv. "Hmm, Meyra ayo kita pulang ..." Nathan masih meracau. "Dia bukan Meyra, Nathan. Lepaskan dia!" Lodi menarik sahabatnya lebih kuat hingga Oliv bisa terlepas. "Lodi?" Sepertinya kesadarannya masih tersisa meski hanya sedikit. Nathan mengenali orang yang ia telepon beberapa saat lalu untuk menemaninya minum. "Lo tau siapa gue? Sekarang liat, siapa cewek itu?" tunjuk Lodi pada wanita yang berdiri satu meter di depan mereka. "Meyra ..." lirih Nathan dengan raut wajah sedih. Lodi menepuk jidat. Cinta dan sakit yang Nathan rasakan ditambah pengaruh alkohol tampaknya membuatnya tidak bisa membedakan mana Meyra dan mana wanita lain. "Kita pulang sekarang, oke?" Lodi memapah temannya yang hampir roboh saat akan berdiri. "Kau mengenal Nathan?" Kini pria dengan kemeja flanel biru tua itu bertanya pada Oliv. "Saya sekretaris Pak Nathan," jawabnya. "Ohh. Mau pulang? Biar kuantar sekalian." "Tidak perlu. Saya akan pulang naik taksi. Permisi ..." Sebelum berlalu, Oliv sempat memandang sang atasan yang berdiri sempoyongan. Netranya basah dan kosong. Lodi hanya mengangguk dan mulai membimbing temannya yang masih ingin bertahan di sana. Oliv keluar dari club malam dan langsung menaiki taksi menuju kontrakannya. Sekarang ia bisa pulang dengan tenang setelah memastikan Nathan tak lagi sendirian. Pertemuan mereka di bar baru saja bukanlah suatu kebetulan. Oliv memang sengaja mengikuti Nathan hingga masuk ke dalam tempat itu. Ia sendiri tak mengerti apa alasannya. Namun rasa khawatir yang kian besar membuatnya nekat. 'Semoga Pak Nathan baik-baik aja,' ujarnya dalam hati saat taksi melaju menjauhi club di kawasan hotel dan restoran itu. *** Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD