Pertemuan di Hotel

1088 Words
Nathan melewati meja Oliv tanpa menoleh sedikitpun. Pribadinya yang berubah menjadi dingin setelah menikah kali ditambah kondisi mood yang tidak baik. "Pak, saya sudah-" Oliv yang langsung berdiri tak sempat menyelesaikan kata-katanya. Ia bagaikan patung, yang hanya bisa melihat si bos tampan melesat begitu saja. Wanita itu duduk kembali, ia berencana akan menemui Nathan sebentar lagi, setelah menyelesaikan laporan yang pria itu pinta. Beberapa menit kemudian, telepon pada mejanya berbunyi. Dengan cepat ia segera mengangkat dan menjawab ramah. "Halo, saya Oliv dari-" "Oliv, minta Pak Hendra ke ruangan saya sekarang juga!" Klik. Nathan mematikan panggilan sebelum Oliv sempat mengatakan 'iya'. Dari suaranya, pria itu sepertinya sedang marah. Ia meletakkan gagang telepon dan berjalan menuju Hendra yang merupakan manager pemasaran. "Pak, dipanggil Pak Nathan ke ruangannya." Wajah si pria yang awalnya fokus menatap layar komputer mendadak tegang. "Sekarang?" "Iya, Pak. Sekarang," ulang Oliv. "Siap-siap aja. Pak Nathan suka sensi akhir-akhir ini. Paling juga SP." Yoga, kawan si Hendra berseloroh sambil tertawa. "Nanti giliran lo. Liat aja," ujar Hendra sembari beranjak dari kursi kerjanya. Tak lupa tangannya meraih beberapa lembar kertas berisi laporan yang ia yakini akan Nathan tanyakan nanti. Oliv berjalan di belakang Hendra. Wanita itu kembali duduk sementara Hendra tampak diam beberapa saat di depan pintu ruangan Nathan yang tertutup. Wajahnya terlihat was-was. "Liv, do'ain ya. Kalo Pak Nathan gak marah, saya traktir kamu kopi nanti siang," ucap pria dua puluh delapan tahun itu. "Tapi saya tidak suka kopi, Pak." Oliv nyaris tertawa. Sosok Hendra sekarang terlihat seperti anak kecil yang akan melapor pada orang tuanya jika ia mendapat nilai merah pada pelajaran matematika. "Kalau saya tidak suka dimarahi Pak Nathan." Oliv tak bisa lagi menahan tawanya ketika pria itu masuk. Ada-ada saja, pikirnya. Sepuluh menit kemudian, Hendra keluar dengan wajah terlihat lesu. Ia tak berkata sepatah kata pun namun Oliv bisa menebak jika mungkin Nathan telah menegurnya dengan keras. Wanita itu menatap pintu yang kembali tertutup. Dalam hati ia merindukan sosok Nathan yang baru pertama ia temui. Atasan yang murah senyum dan rendah hati. Oliv tidak benar-benar tahu yang terjadi pada pria itu sekarang, sorot matanya sering terlihat sedih. Tap. Tap. Tap. Kedatangan pria paruh baya berpenampilan rapi dan sejumput janggut yang dipangkas rapi membuat Oliv berdiri tanpa diminta. Ia mengangguk sopan diiringi senyum yang harus ia pertahankan bagaimana pun kondisi hatinya. "Selamat pagi, Pak Tyo." "Pagi. Nathan ada di dalam." "Ada, Pak. Silahkan." Tuan Tyo mengangguk kecil dan masuk. Di dalam, putranya sedang berdiri di balik jendela besar yang sebagian tertutup tirai. Nathan tahun ada seseorang yang kini berada di ruangannya namun pria itu tak bergeming. "Apa kau sudah puas memarahi Hendra? Aku yang memintanya mengalihkan lokasi distribusi. Kenapa kau begitu tempramen akhir-akhir ini?" Tuan Tyo duduk di sofa dan meraih majalah bisnis edisi terbaru yang tersedia di meja. "Dia mengadu dan sekarang Papa ingin menegurku? Begitu?" Nathan membalikkan badan, menatap sang ayah yang masih duduk santai. "Jika kau masih marah tentang pernikahan itu, sama saja kau ingin membuang waktu. Sekarang kau telah menikah dengan Prita, jadi lebih baik kau fokus pada pekerjaan." "Papa yang memaksaku menikah dengan dia." "Ini konsekuensi yang harus kau ambil. Karirmu baru saja naik, dan sekarang DirgaSeven sedang berada di puncak. Apa kau tau apa imbasnya jika semua orang tau kau adalah pria yang tak punya tanggungjawab?" Tuan Tyo menatap lurus putranya. "Jadi ini semua demi nama baik Papa dan perusahaan?" Nathan tergelak lemah. Ia baru menyadari jika nama baik dan kestabilan perusahaan jauh lebih penting bagi sang ayah. "Cukup. Kita hentikan percakapan mengenai hal itu. Aku datang kemari ingin memberimu tugas." Tuan Tyo menutup majalah dan berdiri. Nathan tak menjawab, ia kembali menatap jajaran bangunan tinggi beserta lalu lintas jalan raya melalui jendela. "Petang nanti, temui Tuan Radian di Hotel CC. Kesepakan tentang investasi yang kemarin sudah kita bicarakan harus kau dapatkan. Ajak salah satu karyawanmu." Nathan masih diam seribu bahasa. Meski begitu, Tuan Tyo yakin jika anaknya takkan pernah mengecewakan dalam hal pekerjaan. Sejak dulu Nathan adalah anak yang bisa dibanggakan. Pria itu meninggalkan kantor setelah melihat situasi di berbagai divisi. ** Meyra mengendap di depan Hotel CC. Kali ini ia tidak sendirian, melainkan bersama Kio. Berulang kali Meyra meminta pria itu untuk pulang namun Kio bersikeras ingin menemaninya. "Kita lagi nguntit ya?" tanya Kio sembari mengikuti arah pandang Meyra. "Menguntit. Kok kayaknya kurang sopan ya, tapi mungkin itu emang kata yang tepat," jawab Meyra. Ekspresinya terlihat serius. Tadi ia sengaja menunggu jika Prita keluar dari rumah Keluarga Dirga. Dan firasatnya tidak meleset. Setengah jam menunggu, istri dari mantan kekasihnya itu keluar dengan mobil dan menuju ke hotel bintang lima ini. "Kenapa kamu penasaran sama Prita?" tanya Kio lagi. "Kalo aku jelasin, nanti kamu gak akan percaya." Meyra masih memandang pada satu arah. Wajah seriusnya justru membuat Kio gemas. "Apapun yang kamu katakan, aku bakal percaya," ucap Kio sambil menatap Meyra tanpa berkedip. "Kenapa?" Meyra menoleh karena tak benar-benar mendengar. "Bukan apa-apa." Mendadak Kio merasa gugup. Ia memalingkan pandangan, berharap tidak ada rona merah pada wajahnya. "Aku mau turun, akun harus tau siapa yang Prita temui di sana." Meyra membuka pintu mobil dan langsung berjalan menuju pintu masuk hotel. Kio yang terkejut dengan gerakan Meyra yang tiba-tiba juga ikut keluar dan mengejar. Kini mereka berjalan bersama. Ia hanya mengikuti Meyra yang yakin jika Prita telah melangkah memasuki lift bersama seorang pria. Karena terburu-buru, Meyra hampir menabrak room boy yang sedang mendorong troli berisi dua koper. Beruntung Kio langsung menariknya hingga wanita itu aman. "Hati-hati. Tetap di sampingku, hm?" Meyra mengangguk namun setelah itu ia kembali berjalan mendahului. Kio hanya menggeleng kecil. Wanita cantik itu selalu berhasil membuat hatinya khawatir dan salto secara bersamaan. Mereka berdiri di depan pintu lift yang kini turun ke lantai satu. Meyra sudah bersiap akan memasuki lift saat pintunya terbuka. Namun siapa yang ia temui kemudian membuatnya membeku di tempat. "Meyra?" panggil sebuah suara yang sangat dikenalnya. Kio mendekatkan posisinya pada wanita itu ketika menyadari Nathan maju. Meyra hanya diam bagai terhipnotis sementara Oliv melihat tiga orang itu bergantian dengan bingung. "Untuk apa kamu ke sini? Bersama Kio?" Nathan memberi tatapan sinis pada sahabatnya. "Bukan urusan lo," balas Kio tak kalah sinis. "Gue gak tanya sama lo. Meyra, jawab pertanyaanku." Nathan memegang lengan Meyra yang tertutup outer berwarna hijau telur asin. "Kio benar, ini bukan urusanmu. Permisi." Meyra menepis tangan dan langsung memasuki lift diikuti Kio. Tatapan dua pria itu bertemu hingga pintu lift tertutup. Tangan Nathan mengepal. Pikirannya mulai diisi hal-hal di luar logikanya selama ini. Meyra yang ia kenal takkan berbuat hal di luar batas. Tapi kenapa mereka berdua ke hotel? *** Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD