Dua hari sebelumnya di apartemen.
Meyra bangun dengan hati terasa kosong. Ucapan Nathan semalam masih sangat membekas di pikirannya. Pria itu tak yakin padanya.
Saat keluar kamar, tercium aroma bubur ayam yang menggugah selera. Meyra duduk di sofa tengah, tak berniat melakukan apapun. Entah ini karena tamu bulanannya sedang datang atau masih sedih karena Nathan, mood-nya menjadi buruk. Rasanya ingin menangis.
"Pagi, Nyonya Nathan. Sarapan yuk ..." ajak Wanda yang telah memakai blouse mustard dan rok hitam. Meyra baru menyadari jika ini sudah pukul setengah tujuh pagi.
"Aku belum laper, kamu duluan aja." Meyra meraih remote dan menyalakan televisi empat belas inci. Ia menatap datar pada siaran berita.
"Padahal aku baru nyoba bikin bubur ayam. Eh, kamu tau gak sih, ternyata Lodi suka banget bubur ayam. Terus ..." Wanda mulai asyik bercerita sembari mengaduk bubur dalam mangkuk putihnya.
Meyra berusaha merespon dengan baik meski yang keluar pada akhirnya hanya 'iya', atau 'hm, gitu'. Lama kelamaan, Wanda menyadari ada yang tidak beres dengan sepupunya itu.
"Kamu kenapa? Kok pagi-pagi udah gak semangat?"
"Gak apa-apa," jawab Meyra singkat.
"Beneran gak apa-apa? Coba sini cerita ..."
Melihat senyum Wanda yang tulus, air mata Meyra tumpah. Ia pun menceritakan apa yang terjadi, termasuk keraguan Nathan untuk meneruskan pernikahan mereka.
"Serius Nathan bilang begitu?" tanya Wanda. Wanita itu jelas terkejut.
Meyra mengangguk sambil mengusap air matanya. Matanya yang masih bengkak karena bangun tidur, kini semakin bengkak dan memerah.
"Aku tau aku yang salah. Seharusnya aku jujur dari awal. Tapi Nathan udah gak mau ketemu."
Wanda mengusap lembut lengan Meyra. Ia memang sudah sering kali mengingatkan agar sepupunya itu mau jujur. Tapi sekarang melihat kondisi Meyra yang terpuruk, ia takkan bisa marah.
"Jadi dia nuduh kamu ada apa-apa sama Kio? Cuma karena foto? Isshh, kenapa sih Nathan itu!" Wanda yang masih mendengar Meyra bercerita menjadi gemas.
"Terus aku harus gimana?" Meyra kembali menangis.
"Nathan kemarin lagi emosi, jadi dia gak pikir panjang waktu ngomong gitu. Aku yakin hari ini dia bakal telepon kamu duluan. Percaya deh."
"Aku gak yakin ..." isak Meyra.
"Kita liat aja nanti, oke? Sekarang berhenti nangis, makan bubur terus jangan lupa minum obat." Wanda meletakkan mangkuk bubur di pangkuan Meyra.
"Wanda," panggil wanita itu dengan suara parau.
"Kenapa? Mau disuapin?"
"Panas ..." cicit Meyra yang langsung membuat Wanda memindahkan mangkuk itu.
"Eh! Maaf, maaf, jadi terlalu bersemangat akunya." Wanita itu cengengesan melihat wajah Meyra merengut.
Meyra hanya makan sedikit sementara Wanda berusaha sekuat tenaga untuk menghabiskan bubur ayam buatannya sendiri. Ia yang awalnya tak pernah menyukai bubur, berubah setelah mengobrol dengan Lodi semalam.
"Oh iya, nanti aku pulang pulang ke rumah ya. Tapi tenang, besok sepulang kantor, aku langsung balik ke sini."
"Iya," respon Meyra. Ia men-scroll sosial medianya walau tidak ada hal menarik di sana.
"Kamu mau ke cafe?"
"Gak tau. Mungkin nanti agak sorean."
"It's okay. Take your time, Sista ..." Wanda bangkit dan beralih ke dapur. Tak lama kemudian ia kembali ke ruang tengah dan meletakkan empat macam obat yang harus Meyra minum setiap hari.
Usai Wanda berangkat, Meyra masih berada di sofa. Posisi yang tadinya duduk, kini menjadi tiduran. Entah apa yang ia rasakan sekarang. Marah pada diri sendiri atau mungkin patah hati? Bisa jadi dua-duanya.
Diam dalam posisi itu membuat rasa kantuk kembali datang. Netranya nyaris tertutup. Namun sebuah panggilan sukses mengembalikan kesadarannya. Meyra meraih ponsel dengan bersemangat karena mengira yang menelepon adalah Nathan. Hingga tanpa sengaja tangannya menyenggol alas kecil tempat obat.
Tempat obat itu terjatuh, tablet dan kapsul-kapsul pun berserakan. Meyra lebih mengutamakan mengangkat panggilan yang ternyata dari nomor tak dikenal.
"Ha-"
"Halo Pipi Bakpao!" seru suara wanita di seberang.
Meyra terdiam sejenak. Pipi Bakpao? Hanya satu orang yang memanggil seperti itu.
"Tante Rany?"
"Tumben kamu langsung mengingatku." Suara itu tertawa.
Tante Rany adalah adik perempuan ayahnya. Setelah orang tuanya bercerai, Tante Rany ini masih sangat menjaga hubungan dengan mendiang ibunya. Namun mereka jarang bertemu karena setelah menikah, Tante Rany diboyong suaminya ke luar pulau.
"Meyra selalu inget sama Tante kok," kilah Meyra sambil ikut tertawa.
"Masa'? Kamu lagi sibuk sekarang?"
"Gak sih, Tante. Kenapa?"
"Jemput tante di bandara ya. Tante tadi telepon ayahmu tapi yang angkat kok malah si galak," ujarnya diringi decihan.
Meyra tahu siapa yang tantenya maksud. Tante Utami. Hubungan mereka tak pernah akur meski telah mengenal lebih dari lima belas tahun.
"Meyra jemput pake taksi ya? Gak apa-apa 'kan?"
"Gak apa-apa. Berangkat sekarang lho, terus temenin tante jalan-jalan."
"Siap. Tapi Meyra mandi dulu."
"Iya deh, tante tunggu ya Pipi Bakpao ..."
Klik. Telepon dimatikan. Meyra bergegas ke kamar mandi. Ia tak suka membuat orang lain menunggu terlalu lama. Apalagi jarak apartemen dan bandara hampir satu jam. Ia bahkan lupa pada bubur yang hanya dimakan sedikit dan obatnya yang telah terjatuh.
Pukul sepuluh, perut Meyra yang bisa dikatakan kosong memberi kode berupa suara. Tante Rani yang mendengar menahan tawa.
"Kamu belum sarapan?"
"Belum Tante," ucap Meyra. Ia juga baru mengingat jika belum meminum obatnya.
"Yuk makan dulu, tante lagi kangen soto ayam di dekat kampus A."
Meyra hanya menuruti wanita yang beda sebelas tahun dengannya itu. Mereka kembali menaiki taksi setelah meng-explore mall baru dan hanya membeli sepotong dress seharga dua juta rupiah.
"Kamu tinggal sendirian?"
"Gak Tante, sama Wanda. Keponakan Mama."
"Ohh, tante ingat. Anak kecil yang cantik tapi bandel?" Tante Rany berkata dengan tidak yakin.
"Sekarang udah bukan anak kecil, masih cantik tapi udah gak bandel," celetuk Meyra diiringi tawa kecil.
"Tante kira kamu tinggal sendiri. Rencananya tante mau nginap di sana." Wanita dengan hijab pashmina itu menyeruput kuah soto yang masih mengepul dengan nikmat.
"Boleh kalo Tante mau menginap. Kamarnya ada dua. Nanti bisa tidur sama Meyra," tawar Meyra.
"Gak deh, tante nginap di hotel aja. Kebetulan besok Om Ghandi nyusul ke sini, ada janji ketemu klien." Tante Rany menyebut nama suaminya yang Meyra ingat mirip dengan aktor lawas Rano Karno.
Meyra tak bisa memaksa. Setelah makan, dua wanita itu melanjutkan rencana mereka untuk menghabiskan waktu bersama. Maklum saja, terakhir mereka bertemu adalah di pemakaman mendiang ibunya, dua tahun lalu.
"Tante dengar kamu mau nikah. Bener?" Tiba-tiba Tante Rany menanyakan hal yang sempat Meyra lupakan.
"Iya, Tante. Insya Allah bulan Mei besok." Meyra mematung di depan toko aksesoris yang tampak sangat girly.
"Gak terasa ya kamu udah mau nikah. Dulu padahal masih sering main sama tante."
Meyra hanya tersenyum, berusaha menyembunyikan kegundahan yang mendadak muncul. Setelah pertengkarannya dengan Nathan semalam, ia tak tahu akan ke mana hubungan mereka.
Menjelang senja, Tante Rany mendapat telepon dari Pak Cahyo yang merupakan ayah Meyra. Ia ingin si adik setidaknya mampir agar bisa bertemu meski hanya sebentar.
"Beneran gak mau ikut? Jangan takut sama si galak itu, ada tante kok. Tante bisa lebih galak dari dia," seloroh Tante Rany saat mereka akan berpisah di depan mall terbesar di Surabaya.
"Tapi Meyra masih ada urusan. Maaf Tante."
"Ya udah, Hati-hati di jalan ya. Makasih lho udah ditemani."
"Sama-sama, Tante."
Meyra melambaikan tangan pada wanita anggun itu. Mereka menaiki taksi yang berbeda karena tujuan mereka berlawanan. Langit mulai gelap. Meyra berniat untuk datang ke cafe, tetapi tubuhnya meminta untuk beristirahat. Rasa sakit kepalanya mendadak kambuh.
**
Wanda sampai di apartemen pukul dua siang. Karena ini jumat, jam kerjanya hanya setengah hari namun satu jam lebih lambat dari jumat biasanya. Ketika ia masuk, suasana kediaman mereka sepi senyap.
Ia yang mengira Meyra masih berada di cafe memutuskan untuk beristirahat di kamar. Flo, kucing gendut berwarna oren yang suka bermalas-malasan tiba-tiba mengeong saat melihatnya datang.
"Hai, Flo. Kangen ya. Cini, cini ..." Wanda menggendong kucing itu dengan sayang.
"Tante Meyra di mana? Hm?" Wanita itu masih betah mengobrol dengan bola bulu itu.
Flo hanya menggosokkan kepalanya pada blouse pemiliknya. Wanda duduk di sofa dan bersandar. Tak berselang lama, Flo turun dari pangkuan dan terlihat ingin memainkan sesuatu di lantai.
Wanda yang lelah sama sekali tak menyadari jika kucingnya sedang memainkan kapsul-kapsul yang seharusnya Meyra minum kemarin pagi. Ia beringsut ke kamar untuk membersihkan diri dan beristirahat.
Sorenya, ia merasa lapar. Ia keluar ke kamar dan berjalan ke dapur. Namun berapa terkejutnya Wanda, di lantai dapur, tampak Meyra terkapar tak sadarkan diri. Entah sejak kapan. Dan yang membuat Wanda semakin khawatir, terdapat pecahan serta serpihan gelas bening di sekitarnya.
"Meyra!!" Wanda mengangkat kepala Meyra dan meletakkannya hati-hati dalam pangkuan.
"Meyra bangun, please ..." Wanda menepuk-nepuk pipi sepupunya itu namun Meyra tak juga bergeming.
Tanpa pikir panjang, Wanda meraih ponsel Meyra yang tergeletak tak jauh darinya. Ia menekan tanda call saat melihat nomor Nathan. Tersambung namun tidak di angkat.
"Kenapa gak diangkat sih?!" Kemudian ia mengingat cerita Meyra kemarin jika mereka sempat bertengkar. Apa karena itu Nathan tak menjawab telepon?
Tak ingin ambil pusing, Wanda menggunakan ponselnya sendiri yang untungnya ia bawa dari kamar. Tetap saja, tersambung namun tak di angkat.
Wanda mulai putus asa, ia menggigit bibir dan menyadari wajah Meyra yang kian pucat. Tiba-tiba kelopak mata wanita itu bergerak. Perlahan, Meyra mulai membuka mata. Mengernyit karena rasa sakit di kepalanya masih terasa ketika ia berusaha duduk.
"Meyra, kamu buat aku takut!!" Wanda lega, sontak ia langsung memeluk saudaranya yang kini dalam posisi duduk.
"Maaf. Kamu udah pulang? Bukannya tadi bilang mau ke rumah tante sama om?" Meyra memejamkan mata, memijit jarak di antara alis.
"Aku udah nginap di sana. Berapa lama kamu pingsan?"
Meyra hanya menggeleng. Ia hanya mengingat usai bertemu Tante Rany, langsung pulang dan ingin minum. Setelah itu gelap.
"Ayo, aku bantu pindah. Tapi hati-hati, banyak pecahan gelas," ujar Wanda sembari membantu Meyra berdiri. Saat itu, ia baru menyadari jika lengan Meyra terluka karena terkena salah satu pecahan.
Wanita itu mendudukkan Meyra di sofa. Hal yang pertama yang ingin lakukan adalah mengobati luka Meyra dan membersihkan lantai dapur dari pecahan kaca.
Saat Wanda berpindah menuju dapur, Meyra merasakan sesuatu yang dingin mengalir keluar dari hidungnya. Darah segar. Kali ini lebih banyak dari biasanya. Tangannya menarik tiga lembar tisu sekaligus, namun dengan cepat tisu putih itu menjadi merah.
Kepalanya terasa berat, namun Meyra berusaha bangun. Ia ingin segera sampai di kamarnya, agar Wanda tak perlu melihatnya dalam keadaan seperti ini.
Baru beberapa langkah, tubuhnya limbung. Percuma saja tangannya berpegangan pada tepi meja, ia pun roboh tak lama kemudian.
"Aku lupa di mana terakhir taruh ..." Wanda tak sempat menyelesaikan kalimatnya setelah melihat keadaan Meyra. Wanita itu tercekat.
Ia berlari, menepuk pipi Meyra dan memeriksa denyut nadi pada pergelangan tangan. Tangisnya pecah seketika. Ia mengambil ponsel dan menghubungi nomor Nathan.
"Halo?" sapa Nathan yang kali ini langsung mengangkat.
"Nathan, Meyra barusan pingsan. Dan aku gak bisa nemuin denyut nadinya ..." Suara Wanda bergetar.
"Kalian di mana sekarang?" tanya Nathan cepat.
***
Bersambung.