Nathan melajukan mobil dengan sangat cepat. Menyalip sana sini. Meski telah menggunakan sabuk pengaman, Meyra tetap merasa ketakutan. Entah sudah berapa kali ia mengingatkan agar pria itu menyetir sewajarnya. Namun Nathan tak juga mau mengindahkan.
"Nathan pelan-pelan, aku takut," ujarnya memelas.
Hingga mobil sampai di daerah yang lebih lengang, Nathan mengerem secara mendadak. Meyra terkejut dan menoleh, tak tahu apa yang terjadi pada calon suaminya itu hari ini.
"Sekarang, jawab pertanyaanku. Kamu ada hubungan apa sama Kio?" Daripada pertanyaan, kalimat Nathan lebih cocok di sebut tuduhan. Pria itu juga tak melihat ke arahnya sama sekali.
"Apa maksudmu? Kio sahabatmu, gimana bisa dia ada hubungan sama aku?" Meyra makin tak mengerti dengan sikap aneh pria itu.
"Sekali lagi aku tanya, kamu dan Kio ada hubungan apa?"
"Aku gak ada apa-apa. Aku kenal dia juga karena kamu yang ngenalin."
Nathan beralih ke kursi belakang untuk mengambil sesuatu. Kini di tangannya sudah tergenggam sebuah amplop coklat yang tadi pagi ia terima.
"Buka. Coba bilang kalo itu editan." Nada bicara Nathan semakin dingin.
Meyra pun membuka amplop itu dan melihat semua foto-fotonya bersama Kio. Dari satu angle terlihat seakan Kio sedang mencium keningnya dengan posisi berdiri.
"Ini, dari mana kamu dapat foto-foto ini?" Meyra melihat foto di tangannya dan Nathan secara bergantian.
"Gak penting aku dapat dari mana. Jadi bener kalo yang ada di foto itu kamu sama Kio.
" Iya, tapi kamu salah paham. Kemarin Kio cuma pesan roti dan-"
"Cukup, Meyra! Bisa-bisanya ya. Kita udah fitting baju, pesen catering. Aku bahkan udah nyiapin apartemen yang selalu kamu pengen supaya kita bisa mandiri setelah nikah. Semua itu gak ada artinya buat kamu?!!" Nathan meradang. Rasa cemburu mendadak menguasai setelah Meyra mengaku jika ia adalah sosok di dalam foto.
"Tenang dulu, kamu salah paham ..." Meyra masih berusaha menenangkan meski rasanya percuma.
"Ada lagi yang kamu sembunyikan dari aku?" tanya Nathan setelah mengusap wajahnya dengan frustasi.
Bibir Meyra terkatup. Tentu saja ada. Tapi ketika emosi sedang meluap-luap seperti sekarang apa mungkin Nathan bisa menerimanya?
"Kamu diem lagi. Selalu diem. Ditanya itu jawab!" Nathan menaikkan nada bicaranya hingga Meyra terkesiap.
Tanpa sadar, air mata mulai menggenang di pelupuk mata. Total kedekatan mereka setahun lebih dua bulan, dan baru sekarang Nathan membentaknya.
Nathan menghela nafas kasar. Ia menatap Meyra yang kini mengusap air matanya tanpa bersuara. Ada rasa tak tega namun amarah dan cemburu masih mendominasi.
"Ternyata kita belum benar-benar saling mengenal. Mungkin sebaiknya pernikahan ini kita tunda." Nathan menatap jalanan sepi di depannya.
"Aku, aku bakal jujur. Jangan seperti ini, Nathan. Sebenarnya aku-" Meyra makin panik. Ia sama sekali tak menyangka Nathan akan semarah ini.
"Kamu baru mau jelasin setelah aku marah? Bahkan sekarang aku udah gak mau dengar apapun. Aku antar kamu pulang," potong Nathan. Ia menyalakan mesin mobil, menuju lokasi apartemen Meyra yang hanya berjarak satu kilometer lagi.
"Untuk sementara, kita gak perlu ketemu."
Itu ucapan terakhir Nathan sebelum Meyra turun. Pertahanan Meyra roboh sudah, air matanya mengalir deras. Ia hanya bisa berjalan dengan gontai menuju lift dan naik ke lantai lima.
**
Hari yang datar yang menjemukan. Sudah dua hari Nathan dan Meyra tak berkabar. Pria dengan pesona bak pangeran itu menatap layar komputer tanpa ekspresi.
Sesekali netranya terarah pada ponsel yang dibiarkan tergeletak di meja. Ia baru mau fokus pada pekerjaan ketika ponsel itu berdering. Terpampang jelas nama 'Lovely Wifey' di layar. Nathan bimbang. Ia sangat rindu dengan suara Meyra. Tapi batinnya belum cukup tenang, ia khawatir ucapannya akan menyakiti wanita itu nanti.
Tangan kanannya sudah terulur menuju ponsel hitam namun tangan kirinya dengan cepat menghentikan. Setelah panggilan itu tak ia hiraukan, kini giliran nomor Wanda yang menelepon.
"Kamu sampai menggunakan nomor Wanda untuk menelepon?" Pria itu lagi-lagi hanya melihat layar.
Nathan menghela napas berat. Ia akan menahan diri lebih lama lagi. Sehari mungkin.
Tetapi dalam waktu satu jam saja, Nathan justru menyesal. Ia tak bisa terus menerus cuek pada calon istrinya itu. Ia sadar jika mereka seharusnya bicara, bukan malah mendiamkan masalah.
Pukul tiga sore, ia keluar dari ruangan. Oliv yang semula duduk dan baru meletakkan gagang telepon bergegas bangkit dari kursinya.
"Batalkan meeting sore ini. Saya ada urusan mendadak." Nathan lebih dulu bicara.
"Baik, Pak."
Tak berselang lama mobilnya telah melintasi aspal. Ia yakin di jam ini Meyra berada di cafe. Ditemani cahaya langit yang keemasan, ia berharap jika ini memang kesalahpahaman. Bagaimana pun keinginannya untuk menikahi Meyra tidak berkurang sama sekali. Lantas, masihkah hubungannya dengan Kio akan baik-baik sajasaja setelah ini?
**
Kio melangkahkan kaki keluar dari kantor sore itu. Rencananya untuk langsung pulang terhambat karena ia harus menemui Meyra. Kali ini bukan atas keinginannya sendiri melainkan ibunya.
Beberapa menit yang lalu.
Ponselnya berbunyi ketika Kio baru menyelesaikan meeting. Begitu mengetahui itu adalah panggilan dari ibundanya, ia langsung mengangkat.
"Assalamu'alaikum, Nda?"
"Waalaikumsalam. Kamu udah pulang?"
"Baru mau pulang. Bunda mau Kio beli sesuatu?"
"Gak usah, keperluan untuk arisan udah semua. Coba kamu mampir ke Meyra ya. Kapan hari sempat bunda telepon supaya datang hari ini. Tapi dari tadi bunda telepon gak diangkat."
"Iya, Bunda. Kio ke sana sekarang."
Pria itu meletakkan ponsel setelah sang ibu mematikan panggilan. Ia memutar haluan. Ada rasa senang yang tak bisa dikatakan. Meski sebenarnya ia hanya mencuri kesempatan.
Sesampainya di Cafe Choco Toast, suasana cukup ramai. Kio memasuki cafe dan bertanya tentang Meyra pada salah satu waitress dengan rambut terikat.
"Ada yang bisa dibantu, Kak? Kami sudah mengirim roti pesanan tadi siang." Waitress bernama Tari tersenyum manis, ia sudah tak asing dengan pria tampan di depannya ini.
"Bukan tentang roti. Meyra ada di dalam?"
"Maaf tapi sejak kemarin Kak Meyra tidak datang ke cafe. Ada pesan yang ingin disampaikan mungkin?"
"Gak ada. Makasih." Kio tersenyum simpul.
Pria keluar dan duduk di kursi kosong di teras depan cafe. Ia mengeluarkan ponsel dan berniat menelepon Meyra untuk menanyakan di mana ke beradaannya. Tapi sebuah suara membuatnya mendongak.
"Lo sering banget ke sini? Dari Kio yang gue kenal gak suka nongkrong, mendadak jadi suka dateng ke cafe." Itu suara Nathan, sahabatnya yang sore ini bermuka masam.
"Selama tempat ini masih buka, siapapun bebas datang 'kan?" Kio kembali pada layar ponselnya.
"Terus sekarang lo ngapain di sini?" Kini Nathan bertanya setelah melihat meja di depan Kio kosong tidak ada segelas minuman ataupun makanan.
"Gue mau ketemu Meyra," jawab Kio santai, tak menyadari jika kalimat sederhana itu akan membuat emosi Nathan memuncak.
"Ketemu Meyra lo bilang? Enteng banget lo ya. Sejak kapan lo suka nemuin Meyra tanpa sepengetahuan gue?!"
"Lo kenapa sih? Dari tiga hari yang lalu uring-uringan terus." Kio berdiri dan menatap sahabatnya yang sedang tak sabar itu. Kini tinggi mereka sejajar.
"Gak usah sok polos! Gue tahu cewek yang lo suka itu Meyra. Ya 'kan?! Gue juga tahu kalo Meyra mau-mau aja deket sama lo!!"
"Hati-hati kalo ngomong. Meyra itu setia sama lo." Kio berusaha tenang meski perlahan ia mulai dikuasai amarah. Beberapa pasang mata mulai memperhatikan mereka.
"Awalnya Meyra emang setia. Sebelum lo deketin dia. Gue tau semuanya!!" gusar Nathan geram.
"Emang apa yang lo tau? Huh? Lo tau soal kondisi Meyra selama ini? Lo tau kalo dia harus berjuang sendirian? Sekarang, jawab!! Apa yang lo tau?!" Kio juga ikut meradang. Jujur saja ia kesal.
"Lo!!" Nathan menarik kerah Kio, bersiap untuk memukul.
"Kenapa? Lo mau pukul? Ayo, pukul!" tantang Kio.
Para waitress sudah berkasak kusuk di dalam. Mereka mendengar sebagian pembicaraan dua pria itu. Tapi tidak ada satu pun yang berani melerai.
"Duh, gimana ini? Apa perlu telepon Kak Meyra?" tanya salah satu waitress.
"Udah aku telepon barusan tapi gak diangkat. Mereka kenapa sih?" balas temannya.
Sementara itu di luar, Nathan urung memukul. Ia melepaskan Kio dengan gerakan kasar.
"Gak ada gunanya ngomong sama lo." Nathan melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam cafe namun sebelum ia sampai di pintu, Kio menjawab.
"Meyra gak dateng ke cafe dari kemaren."
Nathan berhenti dan merogoh ponselnya. Ia merasa aneh karena Meyra selalu menyempatkan waktu untuk datang ke cafe meski hanya satu jam dalam sehari.
Satu panggilan kembali masuk sebelum pria itu mendapatkan log panggilan keluar. Wanda.
"Halo?"
"Than, Meyra ...."
Detik berikutnya, Nathan harus mendengar kabar buruk yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
***
Bersambung.