Semula, Kio menolak permainan yang Nathan tawarkan. Namun tiga teman pria yang lain setuju, termasuk Lodi. Sedangkan empat wanita yaitu Meyra, Wanda, Rachel dan satu lagi bernama Abel hanya duduk dan menonton.
"Come on, cuma untuk have fun aja," bujuk Devan, teman kerja Lodi yang baru Kio kenal tak sampai dua jam yang lalu.
"Tapi kenapa harus pake poligraf?" Kio memberi tatapan tak mengerti pada Nathan yang memegang alat tes kebohongan itu dengan yakin.
"Biar ketauan bohong atau gaknya. Lo takut sama alat beginian?" Nathan tersenyum tanpa memperlihatkan kegundahan dalam hatinya.
"Boleh tanya apa aja?" sela Lodi.
"Ya. Apa aja," jawab Nathan mantap.
"Setuju?" Kini Nathan kembali fokus pada Kio.
Kio mengangguk tanda setuju. Empat pria itu duduk saling melingkar di teras dengan alas berupa bantal berwarna warni. Para wanita yang menonton juga berada tak jauh dari tempat itu.
"Gue yang mulai duluan," ujar Nathan yang mendapat anggukan dari ketiga kawannya.
Botol kosong itu Nathan putar dengan sekali putaran. Semua mata tertuju pada satu arah. Meski ini hanyalah sebuah permainan, namun Nathan tetap merasa was-was.
"Oke, Devan. Truth or dare?" Lodi bertanya dengan penuh semangat saat ujung botol itu mengarah tepat pada pria di sampingnya.
"Hm, dare, maybe," ucap Devan ragu. Ia memiliki firasat tak bagus jika melihat ekspresi usil di wajah Lodi.
Nathan dan Kio diam, secara tak langsung mempersilahkan Lodi yang memberi tantangan. Tentu Lodi kegirangan, ini adalah kesempatan langka, mengingat Devan adalah teman yang paling sering mengerjainya selama ini.
"Pertama, keluarin ponsel lo."
"Terus?" Devan langsung patuh dengan wajah polos.
"Telepon urutan ke lima dari atas, terus bilang 'I love you'," lanjut Lodi.
Kedua alis Devan terangkat. Nomor yang harus ia hubungi adalah atasannya yang dikenal sebagai bos paling killer yang pernah ada.
"Ganti deh. Nyesel gue pilih dare. Kerjaan gue dipertaruhkan kalo gini caranya," cicit pria itu.
Abel tertawa mendengar hal itu.
"Jadi truth?" Lodi memastikan. Evil smile masih bertahan di wajah pria manis itu.
"Ya gimana lagi. Tapi jangan yang aneh-aneh," sungut Devan. Ia meletakkan tangan di atas poligraf dan mengeratka sabuk kecil.
"Oke. Apa ya? Ohh, siapa nama kontak Abel di ponsel lo?" Lodi memainkan alis pada wanita dengan rambut dikuncir kuda.
"Gue gak bisa bilang."
"Lo mau dihukum?" tanya Nathan sembari terkekeh.
"My Queen ..." lirih Devan. Suaranya begitu pelan hingga hanya dirinya sendiri yang bisa mendengar.
"Kalian denger?" tanya Lodi pada Nathan dan Kio. Kedua pria itu serempak menggelengkan kepala.
"Kami gak bisa denger. Yang keraslah, Abel juga pengen tahu. Ya 'kan Bel?" Sekarang Lodi mengerling pada wanita yang bersangkutan.
Abel menunduk. Wanda menyikut wanita itu, dan sukses makin membuatnya tersipu.
"My Queen!" tukas Devan akhirnya. Alat itu berbunyi, menandakan Devan bicara jujur. Lodi juga langsung memeriksa kebenarannya sendiri.
Lodi menahan tawa. Ia sudah tahu jika Devan menyimpan rasa pada Abel sejak lama. Teman satu divisi mereka itu sebenarnya juga telah menunjukkan sinyal yang sama namun Devan tak kunjung mau mengungkapkan perasaannya.
"New couple ..." Kio menggeleng dan tersenyum.
Devan dan Abel saling tatap. Mereka saling melempar senyum. Wanda asyik menggoda Abel sedangkan Meyra dan Wanda hanya tertawa kecil.
"Udah, nanti aja peresmiannya sekalian kasih bunga yang lo tinggalin di mobil. Jangan lupa, besok traktir gue. Awas aja lo." Lodi menarik Devan yang hendak berdiri agar duduk kembali. Pria itu merasa kesal sekaligus ingin berterima kasih pada Lodi.
"Ck. Sekarang giliran gue," ucap pria itu.
"Silahkan." Nathan mengangguk.
Botol berputar, makin lama semakin lambat. Lagi-lagi keinginan Nathan belum bisa terwujud. Ujung botol itu mengarah lurus pada Lodi.
"Nah, kena 'kan lo!" Devan kegirangan.
"Gue mah sans. Truth."
"Lo, Kio dan Nathan sahabatan udah lama. Kalo misalnya mereka sama-sama jatuh ke laut, siapa yang bakal lo selametin duluan?" Devan yang masih kesal memberi pertanyaan.
Trap. Ini adalah pertanyaan jebakan. Namun tampaknya semua menunggu jawaban yang akan keluar dari bibir Lodi. Termasuk Nathan dan Kio.
"Gak ada. Karena gue bakal terjun juga dan gak kami akan mati bersama."
Jawaban itu sekilas terdengar mengharukan namun detik berikutnya, Lodi memekik. Alat itu memberinya sensasi kejut yang menyakitkan. Semua refleks tertawa.
"Sok-sokan mau lompat juga. Bohong 'kan lo?"
"Lo gak mau nyelametin kami?" tanya Nathan dengan mimik serius.
"Kalian juga tahu kalo kalian lebih jago renang dibanding gue. Yang ada gue malah tenggelam ..." Lodi mengomel. Tangannya berusaha melepaskan alat yang telah membuatnya terkejut itu.
Lodi berkata jujur. Di antara mereka bertiga, hanya ia yang kurang pandai berenang. Tetapi ia lebih jago di bidang futsal dan basket.
"Lanjut." Nathan kembali mengambil alih permainan. Pria itu memutar botol sambil dalam hati berharap ujung botol akan menunjuk pada Kio.
Ujung bibir Nathan hampir saja terangkat ketika harapannya terwujud. Kini giliran Nathan yang bertanya atau memberi sahabatnya itu tantangan.
"Truth or dare?"
"Truth," ujar Kio sadar sembari meletakkan tangan di atas poligraf.
"Ada yang lo suka di sini?"
Suasana mendadak hening. Lodi dan Wanda bertemu tatap seakan berkomunikasi dengan bahasa yang hanya mereka berdua yang tahu. Kio menatap Nathan yang masih menunggu jawabannya. Pria itu merasa Nathan mengetahui sesuatu. Tapi mungkinkah?
"Ada."
Alat itu menunjukkan Kio tidak berbohong. Mata Kio dan Nathan berada dalam satu garis lurus. Saling menatap tajam.
Di sudut wanita, Abel menyikut Rachel. Ia mengira wanita itu yang Kio sukai. Wanda yang selalu ramai dan ceria mendadak diam. Ia khawatir jika Kio akan jujur saat ini juga. Di tengah rasa was-wasnya, tiba-tiba Meyra berbisik padanya.
"Siapa yang Kio suka?"
"A-aku gak tau," jawab Wanda gelagapan.
"Jangan-jangan ..." Meyra terlihat ingin menyebut satu nama.
"Siapa?" tanya Wanda cepat.
"Kamu. Tapi Kio udah tau kalo kamu lagi deket sama Lodi 'kan. Masa' iya, Kio begitu?" Meyra berpikir.
Wanda menghela napas lega. Meyra tetaplah Meyra. Sepupunya itu adalah wanita polos yang menggemaskan. Ia tak sadar jika sedang membicarakan dirinya sendiri.
"Terus, siapa yang-" Nathan hendak bertanya lagi untuk memuaskan keinginan hati namun Lodi dengan segera memotong.
"Eits, just one question." Lodi menepuk bahu Nathan dan memberi kode agar Kio melepaskan alat itu. Ia yang sudah tahu bagaimana tabiat Nathan, tak ingin mereka baku hantam di teras rumahnya.
Nathan kecewa. Padahal sedikit lagi ia akan mengetahui apa yang Kio rasakan pada calon istrinya. Ia masih menatap Kio tajam, sedangkan pria itu mengangkat alis sebagai ganti untuk bertanya 'ada apa?'. Nathan menggeleng lalu berjalan menuju Meyra berada.
"Mau ke mana lo?" tanya Lodi.
"Balik, gue baru inget masih ada urusan."
Mendengar itu, Meyra bangkit. Namun Lodi menahan Wanda agar tetap tinggal dengan janji ia yang akan mengantar nanti.
"Lo belum dapet giliran main pulang aja. Gak seru lo!"
Nathan tak merespon ucapan Lodi. Pria itu terus berjalan lurus, menggenggam tangan Meyra yang mengekor di belakangnya.
"Tu orang kenapa sih? Dari awal dateng udah gak mood kayaknya." Devan juga mempertanyakan tentang pria itu.
"Gak tau. Biarin aja, ntar juga mood-nya baik sendiri." Lodi mengatakan hal yang ia sendiri tak yakin.
Kio tak bersuara. Ketika Nathan menatapnya tadi, ia merasa jika sahabatnya itu sedang marah. Tapi ia tak ingin berprasangka apapun. Ia hanya khawatir, jika Nathan bertanya tentang Meyra, jawaban apa yang harus ia katakan?
***
Bersambung.