Mendengar ucapan Kio, Nathan sadar jika pria itu masihlah sahabat terbaiknya. Ada rasa bersalah menyelinap saat mengingat jika ia sempat berprasangka buruk pada Kio.
Selaras dengan seringai preman yang makin mengembang, Nathan merinding. Ia tak bisa membayangkan apa yang terjadi sesaat lagi. Namun ternyata, keadaan berubah menjadi seratus delapan puluh derajat dalam sekejap.
Cklik. Cklik. Cklik.
Tiga kali menarik pelatuk, tiga kali pula pistol itu tak mengeluarkan apapun. Tidak ada peluru di dalamnya. Si pria tampak kebingungan dan memeriksa senjata di tangannya. Kio menggunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya.
Ia memberi pukulan pada bawah bahu hingga pria itu tersungkur. Lantas ia membantu Nathan bangun.
Merasa keadaan tidak terkendali, dua pria berpakaian hitam bergegas bangkit dan memasuki mobil van lusuh mereka. Kio dan Nathan berdiri berdampingan melihat mobil itu melaju dengan kecepatan penuh.
"Lo gak apa-apa?" tanya Kio pada sahabatnya.
"Iya. Barusan kenapa lo ..."
"Spontan aja. Lebih baik gue yang mati dari pada liat lo mati."
Nathan terdiam, sekarang ia bisa merasakan rasa solidaritas yang tinggi dari Kio. Melihatnya terpaku, Kio menepuk pundaknya.
"Yuk, balik. Perut gue sakit, apa mungkin gara-gara coklat yang tadi? Gak ikhlas lo ya?" Kio mengusap perutnya dan sedikit mengernyit.
"Gak ada yang nyuruh lo abisin coklat itu sendiri. Meyra aja belum makan sama sekali. Parah lo." Nathan akhirnya bersuara mengingat tingkah Kio di cafe tadi.
Kio hanya tergelak dan merenggangkan otot sebelum masuk ke dalam mobilnya. Tiba-tiba Nathan teringat sesuatu, ia memanggil teman dekatnya itu hingga menoleh.
"Kio!"
"Kenapa?" Kio menaikkan kedua alis.
"Jangan lupa acara di rumah Lodi besok malem."
"Ohh. Iya, gue inget kok." Pria itu melambaikan tangan dan Nathan melakukan hal yang sama. Mereka pulang ke rumah masing-masing sore itu.
**
Esoknya. Kantor pusat DirgaSeven Group, pukul delapan pagi.
Nathan datang seperti biasa, berjalan lurus menuju lift yang akan membawanya ke lantai empat. Karyawan dan karyawati yang berpapasan menyapanya penuh hormat.
"Selamat pagi, Pak." Oliv berdiri dan memberi salam ketika melihat Nathan datang.
"Pagi." Nathan mengangguk singkat lalu masuk ke dalam ruangan bernuansa biru dan abu-abu.
Di mejanya sudah tersedia secangkir kopi yang masih mengepul, seperti pagi-pagi sebelumnya. Juga dua map berisi data yang harus ia periksa. Namun pertama-tama, pria dengan suit navy itu membuka email.
Pintu diketuk, dan sekretaris menyembul setelah Nathan memintanya masuk.
"Pak, ada kiriman untuk Bapak."
"Dari siapa?" Nathan menerima amplop coklat berukuran A4 yang Oliv letakkan di meja.
"Tidak ada nama yang tertera, Pak."
Nathan membolak-balikan amplop itu guna memastikan. Memang benar tidak ada nama pengirim. Hanya ada namanya sebagai penerima, lengkap dengan alamat kantornya.
"Baiklah. Kamu boleh pergi," titah Nathan.
Oliv mengangguk patuh dan keluar tak lupa menutup pintu kembali. Nathan pun membuka amplop dan melihat apa isinya. Mood-nya yang seketika baik, seketika berubah tak karuan.
Ia mengamati total lima lembar foto. Tentang Meyra dan Kio. Tempat di mana foto itu diambil, Nathan yakin adalah Cafe Choco Toast. Jika dilihat dari dress Meyra dan setelan Kio, sama persis dengan yang kemarin sore mereka kenakan.
Nathan meletakkan foto-foto itu sedikit kasar hingga salah satu terjatuh di lantai keramik. Ingin rasanya ia tidak curiga, namun bukti-bukti ini terlalu nyata untuk diabaikan.
"Kio, apa yang lo rencanain sebenarnya ..." Pandangannya tertuju pada bingkai foto kecil yang terpajang di meja. Fotonya dan Kio ketika masih berseragam putih abu-abu.
Prasangka yang sempat padam kini muncul kembali dan semakin kuat. Mereka telah berteman hampir sepuluh tahun lamanya dan tak pernah bertikai karena perihal wanita. Akankah persahabatan mereka akan rusak karena foto-foto itu?
**
Ketika Nathan datang menjemputnya dan Wanda di apartemen, Meyra tahu jika mood pria itu sedang tidak baik. Hanya Wanda yang asyik berbicara sepanjang perjalanan menuju kediaman Lodi.
Malam ini Lodi mengadakan barbeque party untuk merayakan ulang tahunnya yang ke dua puluh enam. Acara kecil, hanya teman-teman terdekat yang akan hadir.
[Nathan kenapa?] Wanda mengetik melalui aplikasi chat berlogo hijau ketika mereka hampir sampai. Akhirnya wanita itu juga menyadari ada yang tidak beres dengan Nathan.
[Gak tau. Lagi capek mungkin.] Meyra membalas.
Meyra menjawab jujur. Karena memang ia tidak tahu. Tadi ditelepon Nathan hanya menyatakan sepatah dua patah kata. Tak seperti biasanya. Namun ia menahan untuk tidak bertanya. Ia yakin nanti tunangannya itu akan terbuka padanya di saat yang tepat.
"Kita sampai, ayo turun." Nathan berusaha tersenyum.
Meyra langsung keluar begitu pria itu membukakan pintu untuknya. Wanda juga keluar dari pintu kursi belakang. Sudah ada tiga mobil yang terparkir, salah satunya adalah milik Kio.
Nathan menggenggam tangan Meyra lebih erat dari biasanya hingga wanita itu heran. Melihat hal tersebut, Wanda memilih berjalan terlebih dahulu meski ini pertama kali ia berkunjung ke rumah Lodi.
"Hei, akhirnya kalian datang juga." Lodi yang malam itu mengenakan polo shirt berwarna putih tampak ceria.
Tatapan Nathan terarah pada Kio yang sedang berada di depan barbeque grill bersama Ronald, adik Lodi dan dua teman mereka yang lain. Menyadari Nathan sedang menatapnya, Kio melambaikan tangan, Nathan hanya memberi anggukan sebagai respon.
"Orang tua kamu gak dateng?"
"Baru bisa datang besok. Mau kenalan?" Lodi menjawab pertanyaan Wanda seraya menggoda.
"Aku 'kan cuma tanya, soalnya dari tadi gak keliatan." Tangan Wanda memindahkan nampan berisi beberapa tusuk barbeque yang siap dipanggang.
"Kenapa tanya soal orang tuaku?"
"Namanya aku lagi bertamu, wajar kali aku tanya ..." Wanda membela diri.
Sejak awal, Lodi sudah terbuka padanya tentang orang tua yang tinggal di luar kota. Sementara ia tinggal di rumah itu hanya berdua dengan adiknya yang masih berstatus mahasiswa di salah satu kampus ternama di Surabaya.
"Kalo aku nanyain orang tuamu, wajar gak?" goda Lodi lagi.
Kali ini Wanda tak bisa menjawab. Mereka memang makin dekat meski belum satu bulan mengenal. Tapi ia tak ingin menggantungkan harapan pada sesuatu yang belum pasti. Walau tak dipungkiri Lodi selalu berhasil membuatnya tersipu.
Meyra hanya makan satu tusuk menu barbeque berisi paprika dan sepotong daging sapi. Ia mencari keberadaan Nathan yang tiba-tiba menghilang.
"Liat Nathan gak?" tanyanya pada Wanda yang sedang duduk bersama Lodi di dekat gazebo sembari menikmati sepiring daging panggang.
"Lho, bukannya tadi sama kamu?" Wanda balik bertanya.
"Itu dia," tunjuk Lodi dengan gerakan kepalanya.
Meyra membalikkan badan, dan melihat Nathan berjalan mendekat. Tangannya membawa botol kosong dan sebuah alat berbentuk setengah lingkaran berwarna putih.
"Dari mana lo? Terus itu untuk apaan?" tanya Lodi sembari melihat barang-barang yang Nathan bawa.
"Gue mulai ngantuk karena kekenyangan. Mending bikin game biar seru." Nathan duduk di gazebo dan meminta Meyra duduk di sampingnya.
"Game apaan dah?" Lodi mencomot sepotong daging dan langsung melahap.
"Truth or dare."
Mereka sama sekali tak menyadari apa yang sedang Nathan rencanakan. Targetnya hanyalah Kio. Bagaimana pun, ia harus mengetahui apa yang sahabatnya itu rasakan terhadap Meyra.
***
Bersambung.