Rela Mati

1084 Words
Nathan baru usai mengadakan meeting dan kini sudah duduk di dalam ruangannya. Pria itu membaca berkas yang diatur khusus di dalam map berwarna biru. Berkas yang menunggu untuk ditandatangani sejak kemarin. Tok. Tok. Tok. "Masuk," ujar pria itu tanpa tahu siapa yang berada di balik pintu. Tak perlu menunggu diperintah dua kali, wanita manis dengan blouse putih salju masuk. Wajahnya sumringah, tangannya membawa dua kotak masing-masing berisi nasi bento dan coklat truffle. "Permisi, Pak. Saya ..." Wanita itu tampak bingung akan mengatakan apa. "Oliv? Ada apa?" tanya Nathan pada sekertaris barunya itu. "Saya lihat Bapak tidak keluar untuk makan siang, jadi saya berinisiatif menyiapkan ini. Kesehatan Bapak sangat penting. Silahkan diterima, Pak." Oliv meletakkan dua kotak itu di meja pria yang berstatus sebagai owner baru DirgaSeven Group itu. "Saya berniat makan siang diluar sebentar lagi, tapi terima kasih." Nathan mengangguk. "Oh iya, saya tidak tahu apa Bapak menyukainya tapi saya juga membeli khusus coklat truffle di toko coklat langganan saya." "Coklat? Jujur, saya kurang suka dengan makanan manis. Apa kamu keberatan kalau coklat itu saya berikan pada calon istri saya?" Nathan memberi tatapan penuh makna pada wanita dua puluh lima tahun itu. Oliv memasang raut wajah terkejut saat Nathan menyebut kata calon istri. Ia baru bekerja dua bulan di kantor besar itu. Kasak kusuk di kalangan karyawan ternyata memang benar. Bos muda tampan yang low profile ini sudah akan menikah. Jujur saja ada rasa kecewa. Namun sebagai karyawati yang baik, ia tentu harus selalu menampilkan senyum terbaik. "Iya, Pak. Tentu saja saya tidak keberatan. Kalau begitu saya permisi," ujarnya sopan sebelum undur diri. Nathan meletakkan berkas dan mengambil box berisi coklat itu. Ia juga tak yakin Meyra akan menyukainya. Dulu ketika awal mengenal, wanita itu memang sering menikmati makanan manis ini. Tapi beberapa bulan terakhir, Meyra lebih menjaga menu dan pola makan. Ia bahkan harus merayu cukup lama agar calon istrinya itu mau makan daging dan makanan berlemak lainnya. Memikirkan Meyra membuatnya rindu. Satu hal yang sering terjadi. Tapi ia masih harus menyelesaikan pekerjaan hingga pukul dua nanti. Nathan meninggalkan kantor pukul tiga lewat lima belas menit. Sebelum menuju ke Cafe Choco Toast, ia menyempatkan diri mampir ke toko bunga untuk membeli sebuket lily putih. Teman yang cocok jika disandingkan dengan sekotak coklat. Senyum pria itu terukir begitu mobil hitamnya memasuki halaman parkir cafe. Namun senyum Nathan perlahan memudar ketika melihat Meyra sedang duduk bersama Kio di salah satu meja konsumen. Mereka terlihat mengobrol santai. Sesekali keduanya tertawa, entah apa yang mereka bicarakan. "Sore, Sayang," ucap Nathan yang tanpa basa basi langsung bergabung. "Sore, tumben jam segini udah pulang dari kantor? Ini buat aku? Makasih." Meyra menerima buket lily dan sekotak coklat. "Sama-sama. Kio, udah lama?" Nathan memberi pertanyaan pada teman dekatnya dengan nada bicara sewajar mungkin. "Baru. Ini kopi gue masih panas. Gimana jabatan baru?" "Biasalah. Lumayan menguras pikiran. But, it's okay." Kio manggut-manggut sementara Nathan menatap sang calon istri yang hanya diam menatap coklat pemberiannya. Seakan ada sesuatu yang sedang dipikirkan. "Sini, aku bukain ..." Nathan mengambil kotak coklat dari tangan Meyra Wanita itu tak mencegah namun Kio bisa melihat raut wajahnya berubah menjadi khawatir. Kio mengerutkan kening. Apa Meyra tak suka coklat? Atau mungkin ... "Udah, silahkan Princess," ucap pria dengan jas semi formal itu. Namun bukan Meyra yang mengulurkan tangan untuk mengambil coklat melainkan Kio. Tanpa ragu ia mencomot enam bungkus coklat, yang berarti setengahnya. Nathan terkejut dan Meyra tertawa melihat tingkah Kio. "Kio, lo ..." "Kebetulan banget. Lo masih inget aja coklat favorit gue," ujar Kio tanpa rasa bersalah. "Mau ngajak ribut lo?" Wajah Nathan masam. Ia tak pernah ingat sahabatnya itu menyukai coklat. Baginya tingkah Kio makin aneh akhir-akhir ini. "By, gak apa-apa." Meyra mencoba menengahi. Ia memandang Kio yang sebenarnya telah menjadi penyelamatnya sore ini. Coklat memang makanan kesukaannya, namun itu dulu sebelum sel kanker ganas menyerang otaknya. ** Satu jam kemudian, Nathan dan Kio pulang di waktu yang sama. Mobil Nathan keluar dari area terlebih dahulu di susul mobil Kio. Jika dari cafe, rumah mereka satu arah. Namun di perempatan terakhir, mereka mengambil jalan masing-masing. Sebelum mencapai lampu merah terakhir, Kio tahu ada mobil van mencurigakan yang mengikuti Nathan. Pria itu memutuskan untuk lurus, mengikuti dua mobil di depannya. Benar saja, firasat yang Kio rasakan. Mobil van biru tua yang tampak lusuh mendahului mobil Nathan dan mengerem mendadak saat sampai di jalanan yang sepi. Dua orang pria berpakaian serba hitam tiba-tiba turun dan menggedor kaca mobil Nathan yang tertutup. Nathan keluar dengan wajah sebal. Kio juga menghentikan mobil di tikungan yang berjarak beberapa meter di belakang mereka. Ia turun dan masih mengawasi. Tiga orang itu bercakap serius meski Kio tak bisa mendengarnya. "Siapa orang-orang itu?" tanya Kio yang tentu takkan mendapat jawaban. Rasa ingin tahu menuntun Kio untuk mendekat. Hingga ia bisa mendengar jika dua orang itu mempunyai niat tidak baik. "Katakan pada bosmu, aku takkan sudi menandatangani perjanjian itu." Nathan terlihat berani meski kini diapit dua orang berwajah sangar. "Bos Besar benar, ternyata kau sombong juga." Salah satu dari pria itu tergelak. "Lebih baik sombong, dari pada jadi pengecut seperti bos kalian itu." Nathan tersenyum mengejek. Rupanya perkataan Nathan cukup menyulut emosi mereka. Pria dengan badan lebih besar dan berisi mengayunkan tangan, bersiap mengarahkan tinjunya pada wajah Nathan. "Berhenti!!" Kio yang tak bisa lagi hanya diam dan melihat, berucap dengan lantang. "Siapa kau?" tanya si pria bersuara serak. "Terserah kau mau memanggilku apa. Tapi kalau kau memberiku nama yang jelek, aku akan menghajarmu hingga tak berbentuk. Ingat itu!" Kata-kata bernada ancaman itu dibarengi seringai dari wajah innocent Kio. Sebagai responnya, si pria berbaju hitam mengumpat. Kio memberi kedipan dan Nathan segera mengangguk kecil. Kini lawan mereka seimbang. Baku hantam terjadi satu lawan satu. Hingga mendadak Nathan kehilangan fokus dan berhasil terpojok. Lawannya tersenyum puas, dan mengeluarkan pistol berkaliber dua puluh dua. Kio yang melihatnya langsung memukul telak lawannya sendiri hingga roboh dan mengerang. Ia tahu keselamatan Nathan terancam. Pistol itu kini mengarah tepat pada kepala Nathan. Sebelum pelatuk sempat ditarik, Kio berdiri menjadi penghalang di antara mereka. "Kio!! Lo apa-apaan?!" Nathan yang tadinya pasrah kini menjadi panik. "Lo kira gue bakal diem aja liat lo mati?" Kio memberi senyum pada pria bertampang preman itu. Tidak terlihat takut sama sekali. "Oke. Oke. Kalian semua bakal mati. Tinggal nunggu giliran." Kini si pria yang memberi seringai aneh. Meski tampak tegar, Kio sebenarnya tak siap untuk mati. Pria tampan itu menutup mata. Terlintas wajah Tuan dan Nyonya Adhyaksa yang selama ini selalu menjadi orang tua terhebat baginya. Lalu, bayangan Meyra saat tersenyum juga hadir. Dan .... *** Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD