Nathan terus menarik tangan Meyra hingga memasuki lift. Mereka naik menuju lantai lima. Ada yang berbeda dari ekspresi Nathan, Meyra bisa merasakannya.
"Kamu dari mana? Nomor juga gak bisa dihubungi. Siapa yang tadi mengantarmu?" Pria itu menatap tajam.
"Aku 'kan tadi udah ijin mau ketemu sama kenalannya mama. Ponselku low batrai, jadinya mati. Maaf ..." Meyra berusaha menahan amarah tunangannya.
"Terus siapa yang baru saja mengantarmu?" Kekesalan pada wajah Nathan berkurang meskipun hanya sedikit.
"Kio," jawab Meyra singkat namun mampu membuat alis Nathan bertaut.
"Kio?"
Tak ingin Nathan salah paham, Meyra segera menjelaskan jika pertemuan mereka adalah ketidaksengajaan. Sama seperti Meyra, Nathan juga terkejut dengan kenyataan jika Kio adalah anak dari sahabat ibunya.
Pria itu masih terdiam. Masalah pabrik yang dikelolanya cukup membuat mood-nya berantakan. Dan ketika Meyra menghilang tidak ada kabar selama beberapa jam saja, ia sudah kelabakan.
"Maaf, Sayang ..." Nathan membelai pucuk kepala Meyra.
"Apa ada masalah di pabrik?" Meyra menatap mata Nathan dengan mata cantiknya.
"Sedikit. Aku cuma khawatir kalo saat kamu gak ada kabar."
Meyra mengangguk mengerti. Di saat yang sama, pintu lift terbuka. Mereka berjalan bersama menuju unit apartemen.
"Mulai besok sampai tujuh hari ke depan aku akan ke rumah Tante Anggun," ucap Meyra.
"Ke rumah Kio? Setiap hari?"
"Tapi bukan untuk bertemu Kio. Kamu tau itu 'kan ..." Meyra sedikit cemas, ia tak ingin merusak mood Nathan yang baru saja membaik.
"Sayang, chill. Aku tau, lagipula aku juga udah kenal bagaimana Kio. Nanti biar aku minta dia antar jemput kamu saat aku sibuk."
"Eh? Gak usah. Aku bisa pulang sendiri." Tentu Meyra menolak. Ia tak nyaman berada satu mobil dengan pria lain, hanya berdua saja.
"Kamu akan pulang malam begini sendirian?"
"Bisa pesan taksi ..." kilah Meyra.
"Nurut ya Sayang." Nathan menutup perdebatan, dan di saat seperti ini, Meyra tak bisa menolak.
**
Kio sampai di rumah lebih cepat. Ia memarkir mobil dan langsung masuk. Tujuannya adalah lurus ke kamar. Pria itu tak bisa menghapus bayangan yang beberapa saat lalu dilihatnya. Ia telah mengenal Nathan cukup lama. Kio yakin Nathan takkan berbuat kasar pada wanitanya. Namun tetap, saat mengingat Meyra hatinya gelisah.
Langkah kakinya hampir tangga tatkala sang bunda memanggil dengan nada ceria.
"Kio? Kok langsung pulang? Bunda kira sekalian makan malam sama Meyra ..."
Firasatnya benar, ibundanya mulai berharap lebih tentangnya dan Meyra. Tapi apa yang bisa ia katakan selain mengungkapkan fakta.
"Bunda jangan mulai jodoh-jodohin Kio sama Meyra. Itu gak akan terjadi."
"Kenapa? Bunda suka sama Meyra. Kamu mau bohong lagi kalau kamu sudah punya calon?" tanya Nyonya Anggun dengan tatapan menyelidik.
"Bukan, Bunda. Tapi Meyra itu tunangannya Nathan. Gak lama lagi mereka akan menikah." Kio merasa hatinya tercubit ketika menjelaskan hal itu.
"Nathan, teman dekatmu dari SMA? Hm ...." Wanita itu manggut-manggut walau Kio belum mengiyakan.
"Kio ke kamar dulu, Nda. Mau istirahat."
"Makan malam dulu. Ayahmu dari tadi sudah nunggu."
"Nanti aja," tolak Kio.
Nyonya Anggun tak lagi menyahut. Kio hanya mengangkat bahu sebelum melanjutkan langkah menuju kamarnya yang sempat terjeda.
**
Pagi cerah di hari yang baru. Meyra menikmati detik demi detik waktu yang masih bisa ia jalani. Sejak bertemu bunda Kio kemarin, ia lebih lega. Setidaknya ia merasa lebih mengenal mendiang ibunya.
Sejak perceraian itu, ia memang tinggal bersama sang ibu. Tinggal di satu atap bukan berarti hubungan mereka dekat. Ibunya yang memutuskan tidak menikah lagi menjadi orang tunggal dalam hal apapun termasuk mencari nafkah.
Mereka hanya bertemu setelah matahari terbenam setelah ibunya usai bekerja di dua tempat. Cafe yang ia kelola sekarang bahkan sempat menjadi milik orang lain karena hutang yang menumpuk.
Setelah perekonomian membaik dan hubungan mereka semakin dekat, ibunya justru harus pergi karena penyakit jantung yang telah lama diderita.
Meyra memandang foto sang ibu yang selalu terpajang rapi pada bingkai kecil di atas meja. Ia bertekad akan meneruskan resep Roti Kenangan agar semua orang bisa merasakan seperti keinginan ibunya.
Sore tiba tanpa terasa, Meyra mencari ponsel yang berdering makin nyaring. Benda pipih itu terselip di antara tumpukan buku di mejanya.
"Halo?"
"Aku udah ada di depan. Mau aku masuk?" jawab Kio dengan suara baritonnya.
"Gak usah, aku keluar sekarang."
Meyra meraih clutch dan memasukkan ponsel di dalamnya. Hari ini Nathan benar-benar meminta Kio untuk menjemputnya. Sambil melangkah, ia membayangkan bagaimana ia selalu canggung ketika berhadapan dengan pria itu.
Meyra langsung masuk setelah memastikan itu adalah mobil Kio. Pria itu tersenyum dan memberinya sebuket lily putih.
"Dari Nathan?" tebak Meyra dengan senyum terkembang.
"Iya. Aku baru tau kamu suka lily putih. Tapi kenapa ada satu artifisial di bagian tengah?" tanya Kio sambil menyalakan mesin mobil.
"Hanya Nathan yang tau apa alasannya ..." ujar Meyra, tangannya memeluk buket dengan alas tile berwarna coklat itu. Ingatannya kembali pada saat pertama kali Nathan memberinya bunga.
"Kamu tau apa makna satu bunga artifisial ini?" tunjuk Nathan kalau itu.
"Gak tau ..."
"Satu bunga ini gak akan layu. Sama seperti perasaanku. Sampai kapanpun dan apapun yang terjadi, kita akan sama-sama. Suatu saat aku yang akan menikah denganmu."
Meyra tersenyum mengingat kejadian itu. Nathan telah memiliki niatan untuk menikah meski saat itu mereka baru mengenal selama dua bulan.
Kio mengalihkan pembicaraan hingga akhirnya mereka sampai di rumah besar Keluarga Adhyaksa. Dua orang itu berjalan beriringan menuju pintu masuk utama yang kebetulan setengah terbuka.
Baru saja Kio akan mengucapkan salam, tiba-tiba seseorang dari dalam melesat dengan cepat dan memeluk Kio. Meyra hanya melihat dan menyadari jika sosok itu adalah wanita seusia mereka. Tubuhnya tinggi semampai dan ramping. Rambutnya yang panjang membingkai wajahnya yang sedikit tembam.
"Bianca?" Kio mengenali wanita itu sebagai tetangga yang telah pindah ke luar negeri sejak mereka duduk di bangku SMP.
"Yey, kamu ingat padaku?" serunya girang seraya melepas pelukan.
"Siapa yang bisa lupa dengan orang yang suka bertingkah seenaknya? Gak ada yang berubah darimu."
"Ck. Mulutmu juga masih sama, nyebelin. Oh, hai siapa ini?" Setelah protes pada Kio, kini wanita dengan atasan biru itu beralih pada Meyra.
"Meyra," balas Meyra ramah.
"Aku Bianca, tetangga Kio ..."
Dua wanita itu berjabat tangan seraya tersenyum. Lirikan mata Bianca kembali pada Kio. Ia memainkan alis dan senyumnya berubah tengil. Kio menggeleng sebelum masuk ke dalam. Mereka takkan menyangka jika pertemuan di sore itu akan menjadi masalah yang rumit di kemudian hari.