Sang Penolong

1097 Words
Nyonya Anggun sedang berada di dapur ketika Kio, Meyra dan Bianca memasuki rumah. Kio langsung naik ke lantai dua sementara dua wanita menuju dapur. "Tante ..." Bianca menyapa wanita paruh baya itu dengan nada yang sangat akrab. "Bianca mau bantu tante membuat roti?" tanya Nyonya Anggun tanpa melihatnya. "Gak deh Tante, Bianca mau bantu makan nanti," jawabnya dengan tawa kecil. Langkahnya lalu tertuju pada meja dan mulai membuka tutup toples berisi cookies coklat. Mendengar itu Nyonya Anggun hanya tersenyum. Meyra menghampiri setelah meletakkan tas tangannya di kursi tak jauh dari tempat Bianca duduk. Ia sudah tak sabar untuk ikut andil dalam membuat Roti Kenangan. "Pakai apron dulu, Sayang," ucap wanita itu. Meyra menerima uluran apron dari salah satu ART yang tersenyum sopan padanya. Dua wanita itu mulai berjibaku. Bianca yang awalnya hanya duduk dan bersantai, pada akhirnya ikut bergabung. "Meyra ini calonnya Kio ya, Tante?" celetuk wanita rambut panjang itu tiba-tiba. "Eh? Bukan, kami cuma berteman." Meyra yang saat itu akan mengayak tepung buru-buru meluruskan. "Lebih dari dari temen juga gak apa-apa," balas Bianca sembari tergelak. "Kamu masih gak banyak berubah ya Bi. Suka bercanda ..." timpal Nyonya Anggun dengan gelengan kecil. "Serius lho Tan, aku kira Meyra calonnya Kio. Liatnya serasi banget." Bianca mengimbuhkan tanpa tahu Kio sudah berada di belakangnya. "Bi, kalo kamu bukan mau bikin kue, mending duduk deh. Mau main VR?" Kio berjalan menuju lemari pendingin untuk mengambil jus sirsak favoritnya. "Gak mau. Sekali-kali aku pengen jadi cewek." Kio berlalu tanpa mengajak untuk kedua kalinya. Tiga wanita kembali pada obrolan ringan mereka. Hingga tanpa terasa langit menjadi gelap. Waktu makan malam tiba. Bianca sudah pulang sejak matahari terbenam sedangkan Meyra masih menemani Nyonya Anggun yang seakan tak ada bosannya mengobrol. "Tante, Meyra mau pamit ...," ucap Meyra. Ini sudah yang ketiga kalinya dalam dua jam terakhir. "Tunggu sebentar. Sekalian makan malam di sini ya. Tante selama ini gak ada temen ngobrol. Kio setelah pulang kerja selalu asyik dengan aktifitasnya sendiri. Ayahnya juga hari ini ke luar kota. Mau ya?" bujuk wanita paruh baya itu. Meyra hanya tersenyum. Sejak awal bertemu, Nyonya Anggun sudah sangat lengket dengannya. Bagai menemukan putrinya yang hilang. Mau tak mau, ia mengiyakan. Meski sebenarnya alasan utama Meyra ingin segera pulang adalah ia lupa membawa obatnya. Menu makan malam hari ini cukup berlemak. Daging yang dimasak dua macam, rendang dan steak, tumis brokoli udang, juga ayam katsu. Tak lupa pancake mangga sebagai pencuci mulut. Sebagian besar makanan itu adalah pantangan untuk Meyra. Namun ia terlanjur menerima ajakan si Nyonya besar. "Meyra, ayo dimakan. Tante gak tau apa makanan kesukaan kamu. Tapi cobain rendangnya ya. Tante baru kali ini lho masak rendang." Wanita dengan atasan batik khas kalimantan itu tertawa renyah. Tangannya menyendokkan sepotong daging ke piring kosong Meyra. "Iya, Tante. Terima kasih," ucap Meyra pelan. Kio memperhatikan sikap wanita yang duduk tepat di depannya itu. Ia tak tahu apapun tentang penyakit yang sedang Meyra derita. Namun entah mengapa ia bisa melihat jika Meyra ragu untuk menyantap makanan. "Kio?" Panggilan ibundanya membuat Kio terkejut. "Hm?" gumamnya. "Kenapa dari tadi ngeliat ke arah Meyra terus?" "Bukan. Kio cuma penasaran di mana Meyra beli jam tangan itu," kilah Kio sembari menyantap suapan pertama. "Ini hadiah. Gak tau kalo mau beli di mana," sahut wanita itu dengan polosnya. Kio mengangguk lalu melirik Meyra sekilas. Mereka bertiga makan dalam hening. Nyonya Anggun memandang putranya dan Meyra secara bergantian. Ada senyum penuh makna yang tersembul di bibirnya. Pukul delapan malam, mobil Kio sudah berada di aspal. Untuk mengisi hening dan canggung, Kio menyetel lagu barat era sembilan puluhan. Meyra bersandar dan perlahan menutup mata. Kantuk mulai menyerangnya. Tiga puluh menit berlalu, setelah melewati macet yang tidak seberapa, mereka hampir sampai di kawasan apartemen. Meyra yang sudah membuka mata tiba-tiba meminta berhenti saat mobil melintasi area pertokoan yang diapit gang dengan penerangan minim. "Berhenti di sini aja," pintanya. "Apartemenmu yang itu 'kan?" tunjuk Kio pada bangunan kembar yang menjulang. Hanya berjarak tiga bangunan lagi. "Gak apa-apa. Aku mau mampir ke pet shop itu. Sereal Flo abis, aku khawatir Wanda lupa lagi untuk beli." "Siapa Flo? Wanda?" "Flo, kucingnya Wanda. Kalo kamu pengen kenal Wanda, nanti aku kenalkan ya waktu dia gak sibuk. Makasih ya udah diantar." Meyra membuka pintu mobil sebelum Kio sempat menjawab. Pria itu masih diam meski Meyra sudah memasuki pet shop dengan banner bergambar anjing dan kucing. Tak lama kemudian Meyra keluar sudah dengan kantong plastik berukuran sedang di tangannya. Wanita itu memasuki gang yang merupakan jalan pintas. Kio akhiranya menjalankan mobil namun ketika melihat ke kursi belakang, ia baru menyadari jika buket lily putih milik Meyra tertinggal. Kio memakirkan mobil kesayangannya dan turun. Ia memasuki gang dengan keyakinan Meyra belum terlalu jauh berjalan. Nyatanya gang itu sepi. Tidak terlihat banyangan satu orang pun. Kio terus berjalan, hingga sayup-sayup mendengar suara pria yang dengan nada mengancam. "Manis, jangan melawan. Ponselmu kelihatannya berharga. Sini, berikan maka kau akan kami biarkan pergi." "Jangan, Pak." Kio melihat sekitar dengan awas, ia sangat yakin jika pemilik suara itu adalah Meyra. Tapi di mana mereka? Rasa ingin tahu Kio mengantarnya di sebuah celah besar antar bangunan depan dan bangunan di belakangnya. Meyra sedang diapit dua pria bertampang sangar. Tatto naga tampak tak berbentuk di lengan salah satu dari mereka. "Lepaskan dia!" Kio mendekat tanpa ragu. Serempak dua preman itu menoleh. Si pria bertatto memberi kode pada temannya untuk mengatasi Kio sementara ia tetap berdiri di samping Meyra yang ketakutan. "Ikut campur aja lo. Mau jadi jagoan? Hah?" hardik si preman bertubuh cungkring. "Kalian gak malu minta uang sama perempuan?" "Halah, kebanyakan ngomong! Sini lo!!" Preman itu mengeluarkan jurus kuda-kuda yang justru membuat Kio ingin tertawa. "Kenapa diem?! Takut 'kan lo?!" Jengah mendengar ucapan si preman, Kio mengeluarkan kemampuan muay thay-nya. Dalam sekejap, lawannya jatuh tersungkur. Pria bertatto yang semula terlihat santai, mendadak geram. Ia membuang putung rokok yang tinggal setengah lalu berdiri dengan angkuh di depan Kio. Dengan licik, ia mengeluarkan pisau dari saku celananya secara diam-diam. Seringai terbentuk, membuat Kio menatapnya curiga. Namun pria bertatto itu berlari dengan cepat seraya menghunus pisau. Kio segera menghindar namun naas lengannya justru tergores, cukup dalam. "Kio!" Meyra memekik saat melihat darah mengalir membasahi kaos lengan panjang berwarna putih milik Kio yang kini bernoda merah. "Diam di sana, Meyra ..." ujar Kio sembari menahan lengannya. "Aku akan telepon polisi!" Meyra nyaris berteriak berharap dua preman itu ketakutan. Caranya berhasil. Mereka lari terbirit-b***t. "Kio, lenganmu ..." Meyra yang sudah berada di samping pria itu melihat darah yang mengucur hingga membasahi telapak tangannya. "Cuma luka kecil. Yang penting kamu aman. Kamu baik-baik aja?" Kio justru menampilkan ekspresi khawatir yang membuat Meyra makin tidak nyaman.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD