Luka Tersembunyi

1045 Words
Kio mengangguk ketika Meyra menawarkan akan mengobati lukanya. Dan di sinilah ia sekarang, duduk di sofa ruang tamu. Meyra menghilang untuk mencari kotak P3K sementara Wanda duduk di depannya setelah membuatkan teh. "Wanda? Mana Flo?" tanya Kio random. Wanda yang tak kalah random bergegas menggendong kucing peranakan anggora kesayangannya. Kucing itu menatap Kio dengan malas ketika Wanda meletakkannya dalam pangkuan. "Flo, say 'Hai' sama Om Kio ..." ujar Wanda sembari mengangkat satu kaki depan bola bulu yang menggemaskan. Si kucing hanya menghela nafas berat lalu memposisikan untuk tidur. Kio membelai bulunya yang berwarna oren sejenak dengan tangan yang lain. "Darahnya masih keluar tuh, gak ke rumah sakit aja?" tanya Wanda yang memperharian luka pada lengan Kio. "Gak perlu. Mana Meyra?" Kio mulai cemas karena sudah sepuluh menit berlalu namun Meyra tak kunjung muncul. "Aku liat dulu," pungkas Wanda. Namun sebelum Wanda sempat berdiri, Meyra muncul dengan kotak obat di tangan. Wajahnya sedikit pucat. "Sorry, aku lupa kalo kotak ini ada di laci dekat dapur." Meyra tertawa kecil lalu duduk di dekat Kio. Kio melepas kaosnya tanpa Meyra minta. Atmosfer kembali canggung di antara keduanya ditambah komentar santai Wanda yang asyik menatap layar ponsel sambil mengelus bulu kucingnya, Flo. "Liat kalian berasa nonton kdrama tau gak sih. Eh, Nathan marah gak ya kalo denger ini?" Ucapan itu diikuti tawa tanpa dosa. Baik Meyra maupun Kio tidak ada yang menanggapi. Keduanya sempat saling pandang sebelum Meyra meneruskan gerakan tangannya memberikan obat dengan kapas. Di waktu yang sama, terdengar bel pada pintu depan. Wanda bangkit masih dengan menggendong Flo. Ia membuka pintu setelah memastikan yang datang adalah Nathan melalui layar interkom. "Meyra udah pulang?" tanya Nathan tanpa basa basi. "Udah barusan. Masuk aja," undang Wanda lalu membalikkan badan. Nathan melangkah masuk dan seketika berhenti saat melihat Meyra duduk membelakanginya. Ia tak tahu apa yang sedang calon istrinya itu lakukan namun jaraknya dengan Kio terlalu dekat jika diamati dari sudut pandangnya. "Meyra!" Panggilan tegas dari Nathan cukup membuat Meyra terkesiap. Kio juga tak kalah terkejut. Nathan terlihat tidak senang, pria itu mendekat. Meyra segera berdiri dan praktis Nathan bisa melihat luka goresan sepanjang lima sentimeter di lengan sahabatnya. "Lo kenapa?" Ekspresi Nathan seketika berubah. "Biasa, ketemu orang gila tadi," jawab Kio asal dan hendak memakai kaosnya kembali meski sebenarnya lukanya belum terobati sepenuhnya. "Gimana?" Nathan duduk di samping Kio dengan tatapan meminta jawaban. Meyra angkat bicara. Ia menjelaskan bagaimana dua preman memalak dan tiba-tiba Kio muncul menyelamatkannya. Nathan terpana, sempat kehilangan kata-kata selama beberapa saat. "Thanks, Bro. Lo emang saudara gue. Gue gak tau gimana Meyra sekarang kalo lo gak ada. Dan sorry, barusan gue sempet salah paham. Gue kira ..." Nathan memandang teman dekatnya yang kini tersenyum. "Santai aja, gue ngerti. Gue cuma lakuin apa yang gue bisa." "Besok lo gak usah antar jemput Meyra ya. Trouble di pabrik udah bisa ditangani jadi besok gue lebih free ..." terang Nathan tentang pabrik roti dengan ratusan karyawan yang resmi dikelolanya sejak setahun lalu. "Oke." Kio langsung mengangguk meski jauh di lubuk hatinya tiba-tiba muncul rasa kecewa yang tak bisa dijelaskan. "Gue balik sekarang kalo gitu." Kio bangkit dan menepuk pundak Nathan. "Tangan lo bisa buat nyetir? Gue anter?" tawar Nathan yang ikut berdiri. "Cuma luka kecil ini. Dah ya," ucap Kio yang masih menyempatkan memberi senyum pada Wanda dan Meyra sebelum meninggalkan unit apartemen dengan wajah datar. ** Esok sorenya, Meyra kembali berkunjung ke kediaman Keluarga Adhyaksa. Hanya ada Nyonya Anggun yang sudah menunggunya di teras samping. "Sama siapa, Meyra?" tanya si nyonya besar berbasa-basi. "Diantar Nathan tapi langsung kembali ke pabrik, Tante." "Nanti suruh masuk dulu ya. Udah lama lho Nathan gak main-main ke sini." "Iya, Tante." Setelah menjawab, Meyra melihat sekeliling. Sesekali pandangannya juga terarah pada bagian dalam rumah bergaya minimalis itu. Hal itu mengundang rasa heran pada Nyonya Anggun. "Cari Kio ya? Tadi sepulang kerja langsung diajak Bianca belanja di toserba dekat sini. Besok 'kan ulang tahun Bianca. Tadi dia juga nanyain kamu. Ini undangannya dititipin di tante ...." Wanita yang sore ini memakai dress salmon itu mennggeser undangan berwarna biru laut dan putih. "Untuk Meyra?" Meyra menerimanya dengan ragu. Bagaimana pun ia dan Bianca baru saling mengenal sehari sebelumnya tapi wanita itu sudah memberinya undangan. "Iya. Bianca kelihatannga cocok ngobrol sama kamu kemarin. Ini acara privat, hanya teman-teman dekatnya yang diundang," jelas ibunda Kio itu. Nyonya Anggun mengajaknya ke dapur lebih awal karena pada jam lima nanti akan ada agenda yang tak bisa ditunda. Jika kemarin Nyonya Anggun yang membuat roti sekaligus mengajari, kini Meyra yang langsung membuat dengan tangannya sendiri. Bukan hal yang sulit karena Meyra sendiri tidaklah asing dengan cara pembuatan roti. Dalam waktu satu jam, Roti Kenangan akhirnya jadi. Nyonya Anggun takjub karena untuk hasil pertama, bisa dikatakan sempurna. "Ini tante yang pintar ngajarin atau kamunya yang berbakat ya? Tante aja butuh berkali-kali mencoba baru berhasil. Selamat, Sayang ..." puji wanita itu. "Terima kasih, Tante. Tapi ini jelas karena tante udah sabar ngajarin Meyra dari kemarin." "Kio cerita kalo kamu punya cafe di dekat Mall X? Tante rasa resep ini bisa dicoba untuk menu baru, gimana menurut kamu?" Nyonya Anggun memindahkan roti dari loyang ke piring besar. "Boleh Tante?" Netra Meyra berbinar. "Tentu boleh. Tante yakin mendiang ibumu pasti juga setuju. Dia ingin semua orang bisa merasakan roti ini." Karena terlalu bersemangat, Meyra mengangguk lebih dari satu kali. Nyonya Anggun menggeleng dan tersenyum. Anak dari sahabatnya itu sangatlah manis. Ia sedikit kecewa karena tak memiliki kesempatan untuk menjadikannnya menantu. "Meskipun kamu udah bisa membuatnya, besok main ke sini ya? Temenin Tante ngobrol ..." ungkapnya. "Pasti Tante, besok Meyra ke sini sebelum datang ke ulang tahun Bianca." Dua wanita itu melanjutkan obrolan di ruang tengah, ditemani roti buatan Meyra dan minuman hangat. Tak lama kemudian Kio muncul hendak ke lantai dua. Pria itu tersenyum simpul pada Meyra. Tatapan Meyra justru fokus pada lengan kanan Kio yang hari ini tertutup kemeja lengan panjang berwarna biru dongker dengan motif garis putih di bagian tangannya. Meyra bersuara, hendak bertanya bagaimana keadaan luka Kio. "Kio, lenganmu-" "Maaf Meyra, aku masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan." Kio memotong sembari memberinya senyum sopan. Setelahnya, pria itu naik tanpa menoleh sedikit pun. Meyra terdiam. Sikap Kio seakan memintanya untuk tidak membahas peristiwa kemarin. Wanita itu melirik pada ibunda Kio yang masih duduk santai. Apa Kio menyembunyikan luka itu dari ibunya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD