Sesuai janji sehari sebelumnya, Meyra menyempatkan diri mampir ke rumah Kio. Namun nyatanya orang yang ia cari tiba-tiba harus keluar rumah untuk acara yang sangat mendadak.
Yang ia temui justru Kio dengan sebuah kotak berukuran sedang berwarna hitam dan pita pink di atasnya. Rahangnya mengeras, tatapannya mencerminkan ia sedang marah. Bahkan ia tak menyadari jika Meyra sedang berdiri di teras.
"Kio?" panggil Meyra.
"Hm? Cari mama? Mama mendadak ada acara, nanti malam baru balik. Tunggu di sini, kita ke rumah Bianca sama-sama." Pria itu berusaha tersenyum dan mendekat.
"Itu apa? Kado buat Bianca?" tanya Meyra. Rasa ingin tahunya semakin bertambah tatkala ia mencium aroma busuk ketika Kio melewatinya begitu saja.
"Bukan." Kio melangkah keluar dari rumah dan memanggil salah satu security yang berbadan tegap.
"Pak, tolong buang ini di tempat sampah umum. Jangan dibuka."
Security empat puluh tahunan itu mengangguk patuh. Meyra masih menatap Kio yang kini berjalan ke arahnya. Ingin hati untuk bertanya namun ia merasa itu tak perlu. Mungkin hanya barang basi. Tapi di dalam kotak hadiah yang dihias cantik? Entahlah.
Seperti biasa, Kio berpenampilan rapi dengan kemeja mahal berwarna abu muda. Sementara Meyra memilih dress navy lengan panjang dan clutch berwarna silver.
"Nathan gak ikut?"
"Dia sibuk, seperti biasa," ucap Meyra diiringi tawa yang tampak dipaksakan. Akhir-akhir ini Nathan memang jarang memiliki waktu untuknya. Setelah menjemput atau mengantar, pria itu akan langsung kembali pada pekerjaan.
"Mungkin supaya nanti honeymoon kalian gak terganggu dengan pekerjaan ...."
"Hmm." Meyra hanya memberi gumaman sebagai respon.
Karena jarak rumah Kio dan Bianca hanya berdampingan, mereka pun berjalan kaki. Acara itu diadakan di halaman belakang yang telah dipenuhi mawar merah. Kio segera membaur karena ternyata beberapa teman SMP-nya turut datang.
Meyra menepi, mencari sosok Bianca, si tuan rumah dan satu-satunya orang yang ia kenal selain Kio. Tak lama berkeliling, ia menemukan Bianca sedang mengobrol seru dengan dua wanita lain. Begitu melihat Meyra, wanita manis dengan dress putih tulang itu melambaikan tangan.
Tak perlu menunggu waktu lama, Bianca sudah menghampirinya. Senyum terukir di wajah bermake-up dewy itu. Meyra mengulurkan box kecil berisi jam tangan merk ternama yang langsung Bianca terima dengan senang hati.
"Ya Ampun, Meyra ... Gak perlu repot-repot begini. Kamu dateng aja aku udah seneng loh," celotehnya riang.
"'Kan ini acara ulang tahun. Harus ada kado dong, beda lagi kalo arisan," timpal Meyra yang langsung disambut oleh tawa keduanya.
"Sini, aku kenalin ke temen-temenku." Bianca menggandeng tangan Meyra dan mengajaknya bergabung dengan dua wanita masing-masing bernama Bella dan Fabia.
**
Satu jam berlalu. Meyra kini duduk menyendiri di dekat kolam renang. Hanya satu dua orang sedang mengbrol tak jauh dari tempatnya. Bianca tadi pamit untuk menemui keluarganya yang baru datang. Kio juga tak terlihat.
Wanita itu menikmati sepotong cake dengan hiasan irisan kiwi segar di atasnya. Cake dan minuman dingin, cukup membuat Meyra mendapat panggilan dari kamar mandi. Namun karena tidak tahu di mana letaknya, akhirnya ia bertanya pada salah satu pelayan wanita berseragam putih dan hitam.
"Toiletnya di mana?"
"Toilet untuk tamu ada di dalam. Pintu pertama jika masuk dari teras samping," jawab pelayan pemilik lesung pipi itu ramah.
Meyra mengikuti intruksi dan melewati beberapa tamu yang rata-rata seumuran dengannya. Beruntung kamar mandi bernuansa laut itu tidak penuh ada satu bilik kosong. Di bagian westafel ada tiga wanita sedang membenahi make-up mereka seraya berbincang kehidupan seputar pekerjaan yang membosankan.
Meyra keluar dari kamar mandi dan hendak kembali ke tempat pesta namun gerakan seseorang menarik perhatiannya. Bianca tampak terburu-buru memasuki ruangan seakan ada hal gawat yang sedang terjadi.
Wanita itu bimbang. Mungkinkah ada sesuatu yang terjadi? Apa Bianca membutuhkan bantuan?
Beberapa menit berlalu. Dengan ragu, Meyra berjalan menuju pintu hitam yang terbuat dari kayu jenis jati. Beberapa pelayan mengangguk sopan ketika berpapasan dengannya.
Baru saja Meyra sampai di depan kamar yang tertutup itu, pintu tiba-tiba terbuka. Wanita itu terkejut, apalagi kini ia berhadapan langsung dengan seseorang yang tidak asing. Di depannya ini adalah Bianca, namun dressnya telah berganti menjadi berwarna hitam dan lebih terbuka. Dandanannya juga lebih bold dengan riasan mata smokey.
"Bianca, maaf aku lihat tadi kamu buru-buru masuk ke dalam. Kamu baik-baik aja 'kan?"
"Iya," sahutnya pendek. Tak nampak lagi tatapan ramah dan senyum menyenangkan seperti satu jam yang lalu. Fisiknya memang sama, namun seperti bukan Bianca.
Meyra menatapnya heran. Namun Bianca pergi setelah menutup pintu kamar. Meyra berbalik, keluar melalui teras samping hingga melihat Kio mendekat.
"Aku mencarimu. Dari mana?" tanya pria itu.
"Toilet. Kio, apa Bianca punya saudara kembar?"
"Kembar? Gak ada. Setauku dia memang punya kakak perempuan tapi setelah menikah ikut bersama suaminya ke Singapore. Kenapa?"
"Ehm, bukan apa-apa." Meyra masih memikirkan kejadian beberapa saat lalu. Kalau begitu sudah pasti itu adalah Bianca.
Mereka terus berjalan hingga memasuki area kolam renang. Meyra berada di sisi dekat kolam, hanya berjarak beberapa inci. Ia tak menyadari jika pijakannya cukup licin. Sepatu heels lima sentimeter-nya memiliki bentuk alas yang juga rata, hingga tiba-tiba Meyra kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh.
Refleks Kio segera menangkapnya. Posisi mereka kini tampak berperlukan, jantung Meyra berdetak lebih cepat karena terkejut bercampur panik. Namun saat sadar, ia langsung melepas dekapan Kio.
"Gak apa-apa?" Kio memastikan dan menariknya untuk menjauhi kolam renang.
"Iya, makasih."
Sekitar terlihat sepi, sesekali tamu lain hanya lewat. Namun baik Meyra maupun Kio tak menyadari jika segala tindak tanduk mereka sedang diperhatikan oleh seseorang dari tempat tersembunyi. Seseorang yang tak rela melihat bagaimana cara Kio melindungi Meyra. Seseorang yang langsung membuat rencana licik dalam isi kepalanya.
**
Hari berganti, pagi sebelum pukul sembilan Meyra sudah berada di Cafe Choco Toast. Para karyawannya sudah sibuk pada tugasnya masing-masing. Setelah meletakkan hand bag dalam ruangannya, Meyra beralih ke dapur.
Tiga karyawan bagian dapur sudah sibuk menyiapkan cake dan persiapan untuk roti panggang yang dalam sehari bisa terjual puluhan potong.
"Pagi Kak," sapa mereka nyaris bersamaan.
"Pagi semua. Hari ini kalian mulai membuat menu baru ya. Silahkan dicoba dulu, hasilnya saya tunggu sebelum waktu makan siang." Meyra memberikan catatan berisi resep dan cara pembuatan Roti Kenangan.
"Baik, Kak." Lagi, tiga karyawan yang terdiri dari dua pria dan satu wanita itu menjawab hampir serempak.
Meyra mengangguk dan keluar dari dapur. Ia berencana untuk bertemu seseorang yang ingin memesan roti panggangnya untuk sebuah event kuliner. Wanita itu melihat jam pada pergelangan tangannya.
'Masih ada tiga jam hingga waktu makan siang ...' batinnya.
Ia sudah akan memasuki ruangannya ketika salah satu karyawan memanggilnya sembari membawa kotak berukuran cukup besar. Kotak itu berwarna pink soft dengan hiasan bunga putih yang dibentuk dengan pita.
"Ada paket di depan pintu, Kak." ujarnya
"Dari siapa?" Meyra menerimanya. Meski ukurannya besar, namun tidaklah berat.
"Kurang tahu, tidak ada nama pengirim. Hanya tertulis nama Kak Meyra di atas box."
Walau merasa sedikit aneh, Meyra menerima dan membawa box itu masuk ke dalam ruangannya. Sejenak ia mengguncang benda berbentuk persegi panjang itu.
Srekk. Srekk.
Tak ingin larut dalam penasaran, Meyra pun membuka kotak yang telah di selotip transparan di setiap sisinya itu. Aroma tidak sedap segera merasuk dalam indra penciuman. Meyra merasa perutnya mulai bergejolak namun ia tetap memaksakan diri untuk melihat isinya.
Keputusan itu tampaknya salah. Hal yang ia lihat dalam kotak bukanlah kejutan menyenangkan. Yang ia terima ternyata adalah sepasang jasad burung dara malang. Meyra meletakkan box itu di meja.
"Apa-apaan ini ..."
Wanita itu hendak menutup kembali kotak dan langsung membuangnya. Namun terdapat secarik kertas berisi tulisan singkat di antara dua jasad burung itu.
(Jangan dekati milikku, atau yang akan kau dapatkan lebih mengerikan dari ini!)