Sepuluh Box Pizza

1006 Words
Meyra tak mengerti maksud dari kiriman tanpa nama itu. Bahkan tidak ada inisial si pengirim. Dari pada ambil pusing, Meyra lebih menganggap itu adalah perbuatan dari orang iseng. Namun prasangka itu segera berubah beberapa hari berikutnya. Hari ini adalah hari ke tujuh Meyra mengunjungi kediaman Nyonya Anggun Adhyaksa. Tidak ada yang berbeda dari hari sebelumnya kecuali Kio yang lebih ingin berlama-lama ikut mengobrol dengan ibundanya dan juga Meyra. Tak lama kemudian ponsel Meyra yang tersembunyi dalam hand bag tiba-tiba berbunyi. Wanita itu segera mengangkat begitu nama yang terpampang di layar adalah 'My Nathan'. "Assalamu'alaikum?" sapa Meyra terlebih dahulu. "Waalaikumsalam. Sayang, maaf ya. Maaf banget hari ini aku gak bisa jemput. Mendadak Natasya minta diantar ke Malang hari ini juga." "Hm, iya gak apa-apa." Kio melirik sembari mengira-ngira siapa yang menelepon dan apa yang dibicarakan. Tampak dari wajahnya jika wanita itu sedikit kecewa. Begitu telepon ditutup, Meyra langsung meletakkan ponsel tipisnya kembali. "Dari siapa, Meyra?" tanya Nyonya Anggun. "Dari Nathan, Tante." "Dia gak bisa jemput?" tebaknya. "Iya, Tante. Mendadak harus ke luar kota sore ini juga," jawab Meyra diikuti tawa kecil. "Ohh, ya udah, anak tante aja yang antar. Bisa 'kan Kio?" Wanita paruh baya itu menoleh pada Kio yang pura-pura sibuk pada ponsel. "Bisa!" Mendapat tawaran itu, tanpa sadar Kio menjawab penuh semangat. Sang bunda langsung tertawa sementara Meyra menatapnya heran. "Girang banget anak bunda ya?" ledek wanita itu yang justru membuat Kio salah tingkah. "Kio ke atas dulu, baru ingat ada email yang harus dicek. Kalo mau pulang, panggil aja aku di atas." Kio melesat ke lantai dua dengan langkah cepat setelah melihat sang ibu dan Meyra bergantian. Percakapan dua wanita berlanjut tanpa membahas sikap Kio yang aneh. Meyra juga tak banyak bicara ketika berada di mobil bersama Kio. Hanya tanya jawab ringan hingga tiga puluh menit kemudian Meyra harus turun di depan bangunan apartemen. "Makasih. Maaf sering ngerepotin kamu seminggu ini ..." ujarnya dengan senyum yang selalu membuat jantung Kio berdebar tak biasa. "Kebetulan aku lagi free. Bukan masalah." Kio bertingkah sok cool, meski sebenarnya ia sedang mati-matian menetralkan detak jantungnya. Meyra mengangguk kecil lalu turun. Kio tak segera pergi dari tempat itu. Ia berharap Meyra akan menoleh padanya walau hanya sebentar saja. Namun keinginannya tak terwujud. Wanita itu berjalan lurus memasuki lobi hingga punggungnya tak lagi terlihat. Kio menghela nafas lalu memajukan kendaraan roda empat yang masih tergolong tipe baru itu. Sesuatu seakan mencubit hatinya saat mengingat besok Meyra tak akan lagi berkunjung ke rumahnya. Pukul delapan, Meyra memasuki apartemen. Wanda yang saat itu sedang menikmati waktu dengan bermasker ria sambil tiduran di sofa, perlahan duduk. "Kamu udah makan?" tanya Wanda dengan bibir sedikit tebuka. Ia tak ingin maskernya yang hampir mengering menjadi pecah. "Udah tadi di rumah Kio. Kamu belum makan?" Meyra melepas sepatu dan duduk di samping Wanda. "Belum. Pengen makan sama kamu," ujar Wanda dengan garis bibir menurun. "Yahh, aku kira udah. Mau makan apa? Aku pesenin deh ..." Meyra sudah siap dengan ponsel di tangan ketika terdengar bel pintu berbunyi. "Siapa yang datang malam-malam begini?" Meyra menatap Wanda dengan kening berkerut. "Nathan?" tebak Wanda yang langsung mendapat gelengan Meyra. "Nathan lagi ke luar kota. Aku liat dulu." Meyra berjalan menuju layar interkom dan melihat seorang pria berjaket hijau khas kurir makanan sedang berdiri di depan unit apartemen mereka. "Kurir makanan, bawa pizza." "Horeee, makan!" seru Wanda tanpa melihat ekspresi keheranan di wajah sepupunya. Jelas saja Meyra heran, karena ia belum memesan apapun. Meyra membuka pintu setelah pengantar pizza itu memencet bel untuk kedua kalinya. Pria bertopi itu tersenyum dan menghela nafas lega saat melihat Meyra muncul. "Atas nama Mbak Meyra?" tanyanya memastikan. "Iya, saya sendiri." Meyra baru menyadari jika ada dua kurir dan masing-masing membawa lima box pizza berukuran jumbo. "Ini pesanannya, Mbak. Mau kami bantu bawa ke dalam?" Meyra mundur karena bingung, namun dua orang itu mengira itu adalah tanda Meyra meminta mereka untuk meletakkan semua box di dalam unit apartemennya. Wanda hanya melongo ketika dalam sekejap sepuluh box pizza sudah tertumpuk rapi di depannya. "Maaf, tapi saya gak pesen pizza," ujar Meyra masih dengan raut kebingungan. "Tapi ini atas nama Mbak. Alamatnya juga benar di sini," sanggah kurir satu lagi yang sedari tadi hanya diam. "Mey, serius gak pesen?" bisik Wanda saat berada di samping Meyra. "Serius. Kalaupun aku pesen, cukup satu aja 'kan?" "Yang sembilan bisa dicancel aja gak, Mas? Kita bayar yang satu." Wanda berucap masih dengan wajah tertutup masker hijau varian avocado. "Wah, mana bisa gitu Mbak? Nanti malah kami yang rugi." Meyra tahu betul tentang hal itu. Tapi apa yang akan ia lakukan dengan pizza sebanyak ini. Melihat wajah-wajah lelah para kurir itu, menimbulkan rasa iba di hati Meyra. Ia pun meraih dompet pink soft dari dalam hand bag-nya. "Jadi totalnya berapa, Mas?" Salah satu kurir menyebutkan angka yang cukup fantastis untuk ukuran makan malam dua orang. Wanda ingin mencegah namun Meyra langsung mengeluarkan uang tunai lebih dari dua puluh lembar merah. "Makasih, Mbak." "Mas, tunggu. Masing-masing bawa satu box ya," ucap Meyra saat dua pria itu hendak berlalu. "Beneran, Mbak?" "Beneran, terserah mau varian yang mana." Meyra mengangguk mantap. Kedua kurir itu memilih varian meatlover dan supreme dengan wajah sumringah yang tak bisa disembunyikan. Wanda membuang nafas kesal. Meyra selalu seperti ini, rela berkorban meski jelas ia yang rugi. "Terus sisanya mau diapain, Mey?" tanya Wanda sambil merebahkan diri di sofa. "Kamu makan dulu, terus ganti baju, kita bagiin di dekat sini. Pasti ada yang mau nerima ..." Meyra menyambar hand bag lalu masuk ke kamarnya. "Oh, My ..." Kali ini Wanda hanya bisa tepuk jidat. Meyra tahu ada yang berbuat iseng padanya. Tapi siapa? Asyik merenung, tiba-tiba ponselnya bergetar. Ada dua pesan masuk dari nomor yang tidak tersimpan di kontaknya. [I told you, LEAVE HIM!!] [Selamat berpesta pizza malam ini.] Terdapat tiga emoticon smile di akhir pesan. Alis Meyra terangkat. Ia yakin jika si pemesan pizza dan pengirim kotak berisi jasad burung dara tempo hari adalah orang yang sama. Sekarang orang misterius itu telah mengetahui nomor ponsel dan alamat rumahnya. Tapi siapa laki-laki yang dimaksud? Nathan? Atau mungkin .... *** Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD