"Lo masuk deh, panggil tu anak. Siap-siap lama banget dah." Nathan yang berada di dalam mobil bersama Kio mulai menggerutu.
"Gue lagi mager. Tunggu aja sebentar lagi, paling juga masih cari sepatunya yang dipake Ronald," sahut Kio yang sedang duduk santai. Ia sudah hafal jika Lodi dan adiknya masih suka berebut barang. Apalagi mengingat kebiasaan Ronald yang sering meminjam barang tanpa ijin.
Mereka bertiga akan menghadiri acara reuni yang diadakan di salah satu ballroom hotel ternama di kota. Ya, hanya tiga pria itu. Karena kondisinya yang harus banyak istirahat, Nathan meminta Meyra untuk tetap di apartemen. Sementara Wanda, malam ini ia mendapatkan jadwal lembur.
"Kelamaan nunggu, gue jadi pingin ke toilet. Gue mau masuk. Lo ikut apa nunggu di sini?" tanya Nathan.
"Di sini ajalah. Jangan kelamaan, gue bawa juga ini mobil."
"Ke mana?"
"Ya pulang. Kalo mau, nanti lo ambil di rumah gue."
"Ngasal aja lo. Udah ah, gue ke dalem dulu."
Kio mengangguk. Sepuluh menit berlalu, Nathan maupun Lodi belum kelihatan juga. Kio yang bosan ingin mendengarkan musik. Ia ingat, Nathan selalu membawa headset yang diletakkan di dasbor mobilnya.
Begitu ia melihat isi dasbor, terdapat satu barang yang menarik perhatian. Pemantik berwarna biru tua. Pada bagian bawah benda kecil itu, terdapat inisial P yang menggunakan style gothic. Kening Kio berkerut, tak menyangka Nathan masih menyimpan pemantik itu.
Tap. Tap.
Kio segera meletakkan pemantik di tempat semula saat mendengar langkah dua orang mendekat. Lodi tampak mengomel di sepanjang jalan dari teras menuju mobil. Benar dugaannya, Ronald telah meminjam sepatu kesayangan Lodi tanpa ijin sejak tadi sore.
"Ya udahlah, sepatu lo banyak. Pilih satu selesai," timpal Nathan cuek.
"Lo gak tau aja kalo itu sepatu keberuntungan gue. Eh, Kio, lo dateng?" Usai menggerutu, Lodi terlihat senang melihat Kio kini berada di depannya.
"Terpaksa. Temen lo tuh, ngerayu nyokap gue pake acara bilang bisa jadi gue bakal ketemu jodoh di sana." Kio mendengus mengingat kejadian satu jam lalu saat Nathan menjemputnya. Sedangkan Nathan yang sudah berada di belakang kemudi, hanya terkekeh.
"Eh, tapi gue bawa mobil sendiri. Nanti mau sekalian jemput Ronald di tempat temannya," ujar Lodi sebelum beringsut menuju mobilnya yang telah siap di depan pintu garasi.
"Oke," balas Nathan.
**
Suasana di ballroom cukup ramai. Tampaknya hampir semua alumni satu angkatan itu datang. Nathan berjalan menuju meja khusus minuman saat tiba-tiba ada wanita yang menabraknya. Suit semi formal milik pria itu mendadak basah setelah terkena minuman milik si wanita.
"Eh, sorry, sorry. Aku buru-buru ..."
"Prita?" Nathan mengenali wanita rambut pendek dengan blazer pink soft itu.
"Nathan? Nathantio Dirga?" Wanita itu terlihat kaget.
"Ekspresi terkejutmu masih sama." Nathan tergelak.
"Ini beneran kamu? Aku kira kamu masih di Bali."
"Sekarang menetap di Surabaya," ujarnya sembari menepuk-nepuk bagian dadanya yang basah.
"Aduh, maaf banget ya. Bajumu jadi basah gara-gara aku tabrak barusan."
"Udah, biarin aja. Kamu dateng sendirian?" Nathan melihat sekitar, berharap menemukan sosok yang menjadi pasangan wanita itu.
"Sebenernya kalo boleh aku mau ngajak Tata." Prita memberi senyum misterius.
"Siapa Tata?"
"Anakku. Aku single mom." Wanita itu tertawa renyah, seakan menikmati statusnya.
Nathan terperangah. Ia tak menyangka seorang Prita telah memiliki anak. Mereka hanyut dalam obrolan hingga tak menyadari ada sepasang mata yang sedang memperhatikan.
"Kamu gimana? Udah nikah, atau?" Prita memberi tatapan penuh tanya yang khas.
"Kebetulan aku mau nikah sebentar lagi." Nathan memberitakan hal itu dengan bahagia.
"Ohh, really?"
"Ya. Dia wanita mandiri yang cantik dan baik, aku yakin menikahinya bahkan di pertemuan ke tiga," lanjut Nathan.
"Waw, sepertinya wanita yang sempurna," komentar Prita.
"Kamu benar." Nathan segera memberi anggukan.
Tak berapa lama, Lodi muncul dan bergabung. Bukan tanpa alasan, tadi Nathan menawarkannya minum lalu menghilang setelahnya.
"Hei, di sini lo? Pantesan minuman gue gak nyampe. Prita, apa kabar?" Sapa Lodi.
"Baik," jawab Prita sambil tersenyum ramah.
Lodi meninggalkan mereka setelah memberi tatapan aneh pada Nathan. Di saat yang sama, dari arah lain muncul tiga wanita yang merupakan teman-teman Prita.
"Aku ke sana dulu," pamit Nathan.
"Nanti kita bicara lagi," bisik Prita sebelum pria itu berlalu.
Di dekat meja minuman, Lodi masih berdiri seakan menunggu Nathan. Pria itu memilih softdrink dan bersandar pada dinding.
"Mana Kio?" Lodi meneguk minumannya.
"Gak tau, pasti lagi ngobrol sama yang lain."
"Lo masih akrab sama cewek itu?" Lodi menunjuk Prita dengan gerakan kepalanya.
"Cuma masa lalu. Gak ada salahnya tanya kabar," Nathan hanya menjawab santai.
"Inget gimana dia tiga tahun lalu? Gue dan Kio liat sendiri waktu-"
"Gue paham. Lo udah salim sama Pak Dayat?" Nathan yang sedang enggan membahas masa lalu mengalihkan pembicaraan.
"Udah. Lo dicari Bu Agnes tuh." Lodi menggoda sahabatnya dengan menyebut nama dosen muda yang tiga tahun lalu masih magang di kampus mereka.
"Ngarang bebas lo? Mentang-mentang cewek lo editor? Hm?"
Tiga pria itu memutuskan pulang lebih awal meski acara reuni belum usai. Lodi harus menjemput adiknya pada pukul sembilan. Sedangkan Nathan dan Kio memang sepakat untuk tidak pulang larut.
Ketika mereka berpamitan pada teman-teman mereka yang lain, seorang wanita memanggil Nathan dari kejauhan. Ketiganya menoleh dan melihat Prita sedang berjalan mendekat.
"Kenapa?" tanya Nathan. Sementara Kio dan Lodi saling tatap sekilas.
"Bisa kita bicara sebentar?"
Nathan memandang dua kawannya, seakan meminta pendapat. Kio hanya mengangkat bahu dan Lodi justru tampak tak peduli.
"Gue balik duluan deh. Ronald udah telepon," ujar Pria dengan atasan maroon itu. Dia masih sempat tersenyum pada Prita namun diam-diam memberi peringatan berupa pijatan di pundak Nathan.
"Mau bicara apa?" Nathan kembali fokus pada wanita yang merupakan mantan kekasihnya.
"Ehm, tapi aku harap cuma berdua aja." Pria menatap Kio dengan sungkan.
"Gue tunggu di mobil," ujar Kio yang paham akan situasi. Meski sebenarnya ia penasaran apa yang ingin mereka bicarakan.
"Maaf ya, Kio." Prita tersenyum, menunjukkan gigi gingsul yang membuatnya tampak manis.
"Gak apa-apa."
Kio berjalan menjauh, menuju pintu keluar ballroom dan berpapasan dengan salah satu temannya. Usai bercakap sebentar, si teman kembali masuk namun Kio yang makin penasaran memutuskan untuk diam di tempat yang aman guna mencari tahu.
Ia bersembunyi di balik salah satu pilar hotel bergaya klasik saat melihat Nathan dan Prita juga mendekati pintu keluar. Jarak tempat Kio dan dua orang itu cukup dekat. Namun beruntungnya, Kio berada di sisi yang tak terkena lampu. Posisinya aman dan ia bisa leluasa mendengar percakapan dua orang itu.
"Kenapa harus di sini? Kita bisa bicara di dalam," protes Nathan.
"Aku gak enak sama yang lain. Tadi sebenarnya juga udah pamit mau pulang."
"Apa ada hal penting?"
"Hmm, gak ada sih. Aku seneng aja kamu dateng. Apalagi sekarang kamu udah balik ke Surabaya."
"Cuma itu?" Nathan merasa ada hal lain yang ingin wanita itu katakan.
"Gini, sejujurnya aku mau minta maaf tentang kejadian tiga tahun lalu. Aku sadar banget kalo aku salah, tapi ada alasan yang harus kamu tau."
"Kita udah jalan masing-masing sekarang. Lupain soal masa lalu. Lagipula waktu itu juga aku yang salah."
"Kita masih bisa berteman?" tanya Prita ragu.
"Tentu bisa." Nathan mengangguk tanpa ragu.
"Syukurlah." Wanita itu tampak lega.
"Oh iya, nomormu ganti? Kemarin aku nyoba telepon untuk mastiin tentang reuni, tapi gak terdaftar."
"Iya. Udah ganti sejak setahun lalu." Nathan mengiyakan namun juga tak berniat memberikan nomornya.
"Kamu masih save nomorku 'kan? Nanti jangan lupa telepon supaya aku juga bisa save nomormu ..."
Nathan diam. Tak hanya Prita yang menunggu jawaban dari pria yang memiliki senyum kotak itu, namun Kio juga. Ia ingin lihat, apakah Nathan akan membuka jalan pada sang mantan untuk bisa memasuki hidupnya kembali?
***
Bersambung.