Pertemuan Pertama

1166 Words
Malam kian larut. Jam pada dinding di kamar bernuansa pink dan putih itu telah menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas menit. Prita baru saja sampai di rumah dan harus menghadapi rengekan si manis Tata, putri kesayangannya yang baru berusia dua setengah tahun. "Tata, ayo tidur Sayang ..." ucap wanita yang belum mengganti pakaiannya. Si balita tak juga mau menutup mata. Ia justru keasyikan tertawa dan menarik tali pita pada blazer ibunya. Prita menatap wajah malaikat kecil yang kini berada dalam dekapannya. Begitu polos dan menggemaskan. Di saat yang sama, ia juga teringat kata-kata Nathan satu jam yang lalu sebelum mereka di depan pintu ballroom hotel. "Maaf, aku sudah mau menikah. Kamu pasti mengerti maksudku. Aku cuma ingin menjaga hati seseorang. Kita masih bisa berteman tapi hanya sebatas itu." Prita tersenyum getir. Ia mengecup lembut pipi si anak yang mulai tertidur sambil menggenggam botol susunya. Tok. Tok. Usai terdengar suara ketukan, masuklah wanita muda berusia awal dua puluhan yang Prita pekerjakan sebagai babysitter selama hampir empat bulan terakhir. "Maaf, Bu," ujarnya lirih saat menyadari Tata telah tertidur. "Ada apa, Nggar?" "Besok pagi-pagi sekali saya ijin untuk pulang ke rumah. Ada acara keluarga yang harus saya datangi. Tapi saya tidak menginap kok, Bu. Sebelum maghrib, saya usahakan sudah kembali ke sini." "Iya, boleh. Kebetulan besok saya juga libur," sambut Prita sambil meletakkan Tata perlahan dan menyelimuti dengan hangat. "Terima kasih, Bu." Babysitter bernama Enggar itu pun keluar kamar dengan riang. Enggar menutup pintu, menyisakan Prita yang masih duduk termangu di tepi ranjang dengan sprei bergambar Hello Kitty. Ia beralih pada laci untuk mengambil sebuah bingkai berisikan fotonya dan Nathan "Nathan, ini saatnya kamu mengenal Tata." Prita menyentuh wajah pria yang tersenyum kotak dalam foto. ** Setelah seminggu lebih hanya berada di apartemen, Meyra memutuskan untuk datang ke cafe. Semua karyawan menyambutnya dengan penuh semangat. Kabar jika Meyra masuk rumah sakit menyebar dengan cepat. Mereka senang si pemilik cafe yang cantik dan baik hati itu sudah terlihat baik-baik saja. Meyra menyempatkan mengobrol sejenak dengan dua waitress sebelum masuk dalam ruangannya diikuti Fika. "Kak, ini laporan keuangan kita selama sepuluh hari terakhir." Wanita dengan blouse putih itu menyerahkan sebuah buku besar. Meyra langsung menerimanya dan meminta Fika untuk duduk. Netra Meyra berbinar saat membaca laporan itu. Pemasukan cafe semakin naik dari hari ke hari meski ia tidak datang selama hampir dua minggu. Jika di kalkulasikan, penghasilan selama sebulan empat kali lebih banyak dari bulan-bulan sebelumnya. "Kerja bagus. Akan ada bonus untuk kalian. Tapi jangan katakan pada yang lain dulu. Saya ingin beri surprise untuk mereka." "Terima kasih banyak, Kak," seru Fika. "Sama-sama." Meyra kembali mengamati buku di hadapannya. "Kak, kemarin butik di sebelah grand opening dan kasih Kakak voucher diskon tujuh puluh persen untuk pembelian pertama." "Tujuh puluh persen?" Tak dipungkiri itu adalah tawaran yang menggiurkan. "Iya Kak, sebentar saya ambilkan vouchernya." Fika keluar dan masuk kembali tak sampai lima menit kemudian. Meyra membaca voucher sebuah butik bernama Ladies Sweet itu. Setelah menimbang, ia pikir tak ada salahnya jika ia melihat-lihat ke sana. "Tapi hari ini terakhir ya?" Meyra baru menemukan tulisan jika voucher itu hanya berlaku dua hari. Kemarin dan hari ini. "Ohh, iya. Tadi saya lupa mau bilang tentang itu." "Gak apa-apa." Meura meletakkan voucher di atas jurnal milik ibunya yang selalu tertata rapi di mejanya. "Saya permisi Kak." Meyra mengiyakan dan sekarang ia sendirian di ruangannya. Ia baru saja akan membuka laptop ketika ponselnya yang masih berada di dalam handbag berbunyi. "Assalamu'alaikum," ucap Meyra setelah menerima panggilan yang ternyata dari Nathan. "Waalaikumsalam. Udah di cafe?" "Udah. Belum ada tiga puluh menit." "Bandel banget, disuruh istirahat malah berangkat. Calon istri siapa sih?" Nathan membalas. Setengah mengomel setenganya lagi menggoda. "Entah ya calon istri siapa ..." Meyra tergelak. "Kok gak tau? Lupa namaku? Oke, aku ingetin kalo gitu. Kamu itu sebentar lagi akan jadi istri Nathantio Dirga. Pria paling manis yang pernah ada." "Ih, kenapa ada embel-embelnya?" "Memangnya salah?" "Gak salah sih. Cuma, hm, udahlah. Kamu bukannya ada meeting pagi ini?" "Gak jadi," ucap Nathan dengan nada merajuk. "Lah, kenapa gak jadi?" "Males," jawabnya enteng. "Males? Aku teleponin Om Tyo nih." "Seneng ya kalo aku dimarahin papa?" Mereka tertawa bersama meski jarak keduanya lebih dari dua puluh kilometer. Sejak mengetahui tentang penyakit Meyra, ia jadi lebih sering menelepon dan datang untuk memastikan keadaan calon istrinya itu. "Ya udah, aku meeting dulu ya Sayang. Nanti siang jangan lupa diminum obatnya." "Siap, Pak," seloroh wanita dengan dress bahan denim itu sebelum mematikan panggilan. Meyra tak beranjak dari ruangan hingga jam makan siang. Ia memakan bekal buatan Wanda dan meminum obatnya. Tatapannya tertuju pada voucher yang tadi pagi Fika sampaikan. Tak berselang lama ia sudah berjalan keluar Cafe Choco Toast yang cukup ramai. Butik yang akan Meyra tuju sangat dekat. Ia hanya perlu melintasi sebuah outlet minuman thay tea yang memisahkan cafenya dan butik itu. Meyra suka dekorasi butik yang manis namun simple ketika baru masuk. Dua karyawati berjaga di tambah seorang lagi berada di belakang meja kasir. Para karyawati dengan seragam berwarna hitam dan putih itu tersenyum ramah ketika melihat Meyra. Wanita itu mendekati sudut khusus outer dan sudah ada pengunjung lain yang juga melihat-lihat sembari memegang troli anak. Anak perempuan tampak memainkan boneka Barney kecil. Mereka bertemu tatap dan saling melempar senyum. Ketika Meyra akan mengambil satu outer yang menurutnya menarik, wanita itu juga melakukan yang sama. Meyra pun memilih mengalah. "Silahkan, Mbak ..." ujar Meyra. "Lho, sepertinya Mbak duluan tadi yang ketemu." "Gak kok, saya baru ingat sudah punya yang warna itu." Si wanita mengangguk dan mengambil outer dengan warna peach yang dibandrol dengan harga tiga ratus ribu setelah diskon. Meyra melangkah ke arah lain namun ia merasa ada sesuatu yang menahannya. Ternyata gadis kecil yang tadinya bermain boneka sudah menarik dress Meyra. "Hai Cantik, namanya siapa?" Meyra bersimpuh dan menyapa balita itu. "Namanya Tata, Tante..." Si ibu yang masih memegang outer menjawab. "Tata, manisnya ..." Meyra membelai pipi tembam gadis kecil dengan gemas. Tata membuka mulutnya, seakan ingin mengatakan sesuatu namun yang keluar hanya bahasa khas dan hanya ibunya yang tahu. "Sepertinya Tata suka sama Mbak," tambah wanita itu lagi. "Oh iya? Wahh, tante juga suka sama kamu." Meyra makin gemas saat anak itu menggenggam erat jari telunjuknya. "Saya sering lihat Mbak waktu beli roti panggang di cafe sebelah. Benar ya Mbak yang ini?" "Iya Mbak, saya hampir setiap hari datang ke sana," ucap Meyra ramah. "Tunggu, ini jangan-jangan Mbak Meyra? Owner cafe itu?" "Cafe itu milik mendiang ibu. Saya cuma meneruskan." "Kalo gitu kita wajib ngobrol lebih lama. Saya ada niatan mau pesen dalam jumlah besar untuk acara kantor. Bisa 'kan?" "Bisa Mbak. Nanti kita bicarakan di cafe gimana? Kita belum kenalan. Saya Meyra ..." ujarnya sambil mengulurkan tangan. "Ehh, keasyikan ngobrol sampai lupa gak kenalan dulu. Prita Kirani. Mbak bisa panggil saya Prita." Wanita itu menyambut uluran tangan Meyra. Pertemuan di siang hari itu adalah awal dari terciptanya bom waktu yang siap meledak kapan saja. Meyra belum menyadari jika wanita yang kini ramah padanya adalah mantan terindah dari sang calon suami. Apa ini kebetulan? *** Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD