Masa Lalu yang Menganggu

1207 Words
Nathan menutup map berisi dokumen dan membuka map yang lain. Sudah pukul tiga sore. Sesaat lagi ia akan menjemput Meyra dan dilanjutkan mengunjungi pabrik sebelum pulang. Pintunya yang semula tertutup tiba-tiba terbuka. Terdengar suara Oliv, sekretarisnya yang sedang menghalangi seseorang untuk masuk. "Mbak jangan memaksa atau saya panggil security. Pak Nathan memang ada di dalam tapi sedang tidak bisa menerima tamu." "Tapi ada hal yang harus kami bicarakan. Penting," tekan suara seorang wanita yang terdengar tidak asing bagi Nathan. Pria itu bangkit dari kursi dan berjalan ke arah pintu. Benar saja, itu adalah mantannya yang kini memaksa masuk dan tampak senang ketika melihat Nathan. "Oliv, biarkan dia masuk," titah pria itu. "Baik, Pak." Oliv memberi tatapan tidak ramah pada Prita sebelum kembali ke kursinya. Prita tersenyum penuh kemenangan dan langsung masuk dengan langkah ringan. "Kenapa kamu ke sini?" Nathan yang tak ingin berbasa-basi langsung bertanya. "Aku mau mengobrol." Wanita itu menghempaskan diri di kursi tepat di depan meja Nathan. "Ngobrol? Perlukah kamu memaksa seperti ini? Prita, aku sibuk. Sebentar lagu aku harus menjemput-" "Meyra?" sela Prita dengan tatapan yang tak bisa Nathan artikan. "Darimana kamu tau?" Nathan melihat jam tangannya sebentar lalu kembali menatap wanita tak diundang itu. "Kemarin aku baru ketemu sama dia." "Kalian saling kenal?" Nathan kini terlihat serius. "Baru kenal tepatnya. Dia ramah banget ya. Cantik lagi." Nathan duduk dihadapan Prita, menunggu apa yang sebenarnya ingin wanita itu katakan. Ada firasat tidak enak yang menyelinap dan membuatnya tak tenang. "Kamu mau apa?" tanya Nathan akhirnya. "Untuk saat ini gak ada." "Apa maksudmu?" "Nanti kamu akan tau. Tenang, aku gak akan melakukan sesuatu yang buruk." Meski bibir Prita berkata begitu, senyum wanita itu tampak aneh. Nathan memutuskan menghentikan pertemuan yang baginya tak menyenangkan. Ia bangkit. "Aku harus jemput Meyra sekarang." "Oh. Oke." Prita masih bertahan pada posisinya. "Kamu mau tetap di sini?" "Huufft. Kamu bukan lagi Nathan yang dulu," ujarnya jengah seraya beranjak. "Satu lagi, jangan asal datang ke sini. Apalagi dengan cara memaksa seperti tadi. Aku gak ingin orang lain berpikiran macam-macam." "Gimana lagi, ini terjadi karena aku gak punya nomormu. Kalo aja waktu itu kamu kasih tau." Prita memajukan bibir bawahnya. Nathan masih ingat jika itu tandanya ia sedang merajuk. "Sini nomormu, supaya aku tau ada waktu-waktu tertentu kamu gak bisa diganggu," pinta wanita itu dengan sedikit memaksa. Nathan berpikir sejenak. Ia pun menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan dua belas digit nomornya. Prita tampak puas. Nathan masih tak memahami kenapa Prita sangat ingin mereka bertemu lagi. "Daripada diusir lagi, lebih baik aku pulang sekarang," tukas Prita. "Silahkan ..." Nathan nyaris mendesah lega saat Prita tiba-tiba menoleh. "Nathan, nanti aku akan mengenalkanmu pada seseorang." Prita meninggalkan ruangan itu setelah berkata demikian. Nathan mengerutkan kening, Sejak pertemuan mereka di acara reuni, Prita memang sudah bersikap aneh. Ia mulai yakin ada yang wanita itu rencanakan. ** Setengah jam kemudian, Nathan sudah berada di teras Cafe Choco Toast. Meyra masih berada di dalam dan memintanya menunggu beberapa menit lagi. Ia merogoh saku pada bagian dalam jas mahal untuk mengambil sesuatu. Pemantik biru tua yang selalu ia bawa kemanapun. Bertahun-tahun sudah ia menyimpan benda itu. Ia sendiri tak menemukan alasan mengapa selalu ingin menyimpannya. "Maaf ya udah minta kamu nunggu. Mau minum dulu?" Tiba-tiba Meyra sudah duduk di sampingnya. "Gratis?" ledek Nathan. "Huum, gratis." Meyra mengangguk lebih dari satu kali. "Kopi s**u ada?" "Ada, wait a minute ..." Meyra akan berdiri namun Nathan menahan. "Mau kemana? Aku 'kan cuma tanya. Kalo masih ada ya udah. Aku lagi gak haus, Sayang. Duduk aja." "Pemantik ini, kenapa selalu kamu bawa? Kamu ngerokok lagi?" Meyra ingin menyentuh benda kecil itu tapi Nathan justru menggenggam tangannya. "Aku udah berhenti ngerokok dari kita tunangan. Ini pemberian dari seseorang. Bentuknya juga unik." Meyra mengambilnya dari tangan Nathan. Memperhatikan tiap detail dan menemukan inisial P. "P ini apa?" tanyanya. "Gak tau. Udah yuk, aku antar kamu pulang. Aku masih harus ke pabrik sebentar lagi." Nathan mengambil dan menyimpan kembali pemantik itu dalam sakunya. Meyra menurut tanpa bersuara. Di tengah perjalanan, ponsel Nathan berbunyi. Seperti biasa pria itu akan meminta Meyra mengecek siapa yang menelepon saat ia dalam kondisi tak bisa melihat ponsel. "Siapa Sayang?" tanya Nathan ketika Meyra hanya diam menatap layar. "Cuma nomor. Boleh aku angkat?" "Boleh," sahut Nathan. Ia lupa jika beberapa saat yang lalu Prita telah meminta nomornya. Meyra ingin berbicara namun urung ketika mendengar suara wanita di seberang sana. Ia menatap Nathan dengan bingung. "Siapa?" tanya Nathan lagi. "Cewek ..." Dalam hitungan detik, Nathan mengingat tentang mantannya yang bernama Prita. Ia panik karena tak tahu apa yang telah Prita katakan pada Meyra baru saja. "Sini, ponselnya ..." Meyra mengulurkan ponsel tanpa bertanya. Nathan langsung meletakkan pada telinga denagan tangan kirinya. "Halo?" "Finally. Kenapa Meyra yang pegang ponselmu?" "Ada apa?" tanya Nathan dengan nada dingin. "Jangan jutek gitu dong. Aku gak bermaksud ganggu kalian." "To the point aja," sambar Nathan lagi. "Nanti malam sibuk gak?" "Sibuk." "Ohh, ya udah biar aku ke kantormu lagi besok." "Jangan membuat masalah!" Nathan mendengus. "Kalo gitu kamu gak punya pilihan. Temui aku nanti malam di restoran langganan kita dulu. Salam untuk Meyra. Bye." Klik. Prita memutuskan panggilan. Nathan menghela nafas kasar. Ia kesal Prita mulai bertingkah seenaknya. Meyra menyadari perubahan pada raut wajah Nathan. "Siapa yang telepon?" "Cuma orang iseng." "Hmm." Meyra mengangguk. Ia melihat pemandangan langit sore hari yang keemasan. Hatinya mendadak gundah karena ia tahu Nathan sedang menyembunyikan sesuatu. Tak sulit membaca tentang pria itu bagi Meyra. Nathan tak pandai berbohong. ** Prita meremas clutch hitamnya untuk meredakan rasa cemas yang melanda. Ia sudah membulatkan tekad untuk mengatakan hal yang pasti akan membuat Nathan terkejut. Niatnya membawa Tata ikut serta ia urungkan. Ia harus melihat bagaimana sikap yang akan Nathan ambil. Ia masih menunggu sambil sesekali melihat ke arah jam tangannya. Nathan terlambat lima belas menit. Atau mungkin pria itu tak akan datang? Kekhawatirannya tak terjadi. Nathan memasuki restoran fastfood beberapa menit kemudian. Prita menelan saliva dan bersiap mengutarakan apa maksud mengajak Nathan bertemu. "Aku kira kamu gak datang." "Lebih baik aku datang daripada kamu mengacau di kantorku lagi." Nada sarkasme Nathan muncul ketika emosinya mulai naik. "Marah? Dengar, aku cuma mau menyampaikan satu hal. Setelah itu terserah kamu mau kita tetap berteman atau mau benci sama aku." "Tentang apa?" Nathan menatapnya datar. "Seharusnya aku datang bersama seseorang tapi setelah aku pikir lagi, itu bukan hal yang baik. Jadi aku cuma bawa ini ..." Prita menyodorkan selembar foto Tata. Nathan mengangkat foto itu agak bisa melihat lebih jelas. Anak perempuan berusia dua setengah tahun dengan sweater pink yang tersenyum lebar ke arah kamera. Pria itu meletakkan foto di meja lalu meminta penjelasan dengan tatapan matanya. "Itu Tata." "Anak kamu? Lalu?" "Bukan cuma anak aku. Tapi ..." Prita tampak ragu untuk meneruskan. "Jangan berbelit-belit." "Dia anak kita." Bagai mendengar petir di siang bolong. Ucapan bernada datar yang keluar dari bibir Prita sukses membuat Nathan tak tahu cara bernafas selama beberapa detik. Pria itu mematung. Berikutnya, ia menggeleng dan bangkit untuk meninggalkan tempat itu. "Cukup Prita! Kamu harus menemui psikiater." "Kamu lupa yang udah kita lakuin di kamar kostku di malam tahun baru?" Nathan membeku. Tentu ia ingat, sangat ingat. Malam itu mereka melakukan hal yang tak seharusnya mereka lakukan. Tapi benarkah anak kecil itu adalah putrinya? Jika benar, apa yang akan Nathan lakukan? *** Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD