Kegelisahan Nathan

1012 Words
Nathan memutuskan untuk meninggalkan Prita saat itu juga. Perasaannya campur aduk. Marah, takut, khawatir dan segala hal yang cukup untuk membuatnya tak bisa berpikir jernih. Dua kali ia mendengar Prita memanggil namanya, namun Nathan acuh. Untuk sekarang, ia butuh waktu untuk mencerna apa yang sedang terjadi. Pernikahannya dengan Meyra tak sampai sebulan lagi. Namun justru muncul masalah pelik. Ia mulai berpikir, apa ini akibat dari dosanya di masa lalu? Pria itu pulang ke rumah dan langsung mengunci diri di kamar. Tak ia hiraukan panggilan ibunya yang mengajak untuk makan malam bersama. "Kakakmu kenapa?" tanya Nyonya Laras pada Tasya ketika kembali ke meja makan. "Memang Kak Nathan kenapa, Ma?" Tasya justru bertanya balik dengan mulut penuh. "Kalo mama tau gak akan tanya sama kamu. Tadi pamit mau ketemu teman tapi pulangnya kok langsung masuk kamar. Dikunci juga." Wanita paruh baya itu memindah piring sayur agar lebih mudah dijangkau oleh suaminya. "Mungkin cuma ingin istirahat. Nanti juga turun waktu lapar," timpal Tuan Tyo. "Stress kali, Ma," celetuk Tasya asal. "Husshh. Kamu itu kenapa nyumpahin kakakmu stress. Gak boleh bicara seperti itu!" "Bukan stress yang itu, Ma. Kak Nathan kayaknya lagi banyak pikiran. Apa karena acara nikahnya makin dekat ya? Orang mau nikah harusnya seneng, yang ini malah stress." "Papa juga sih terlalu banyak ngasih dia tugas. Meeting, cek pabrik dua kali seminggu, belum juga pabrik cabang di luar kota. Kasihan Nathan, Pa ..." Kini Nyonya Laras mengomel pada suaminya. "Itu semua atas inisiatif Nathan sendiri. Dia mau menyelesaikan pekerjaan sebisa mungkin sebelum pernikahan. "Biar bisa honeymoon dengan tenang kali ya," Tasya cekikikan. "Apa ini anak kecil kok ngomong tentang honeymoon segala? Cepat makan, terus belajar. Kalo ulangan tengah semestermu ada yang merah, ponsel mama sita satu bulan," ancam Nyonya Laras. "Iya ..." Bibir gadis SMA itu mengerucut. Ia baru menyadari jika matematika adalah musuh terbesarnya. Ia bahkan tak bisa jauh dari ponsel barang satu menit. Sementara itu Nathan masih belum bisa tenang. Ia butuh nasihat, tapi dari siapa? Lodi dan Kio? Tidak. Nathan yakin meski dua orang itu sahabatnya, mereka justru akan menonjoknya kali ini. Dulu, sejak pertama ia memperkenalkan Prita, mereka langsung menyatakan tidak setuju. Prita yang di matanya begitu baik adalah wanita yang memiliki image buruk di kampus. "Lo gak bisa cari cewek lain? Kenapa harus Prita?" Lodi terlihat tidak senang. "Ada yang salah sama dia?" "Dia bukan cewek baik-baik. Lo juga pasti udah denger soal itu." Kio menambahkan. "Itu cuma rumor, gosip! Lo berdua cowok tapi bisa gampang percaya sama gosip murahan. Heran gue." Nathan membanting tubuhnya pada gazebo taman belakang rumahnya ketika mereka belajar bersama. "Udah ada banyak saksinya kalo Prita itu simpanan om-om." Lodi berusaha meyakinkan meski ia tahu akan percuma mengingatkan orang yang sedang dibutakan cinta. "Gue baru bisa percaya kalo gue lihat pake mata kepala gue sendiri." "Gue sama Lodi udah liat dia masuk ke hotel sama laki-laki yang jauh lebih tua. Buat lo itu belum cukup?" Kio menggeleng kesal pada temannya yang keras kepala. Nasihat Kio dan Lodi bagai angin lalu. Lewat dan menghilang begitu saja. Ia masih menjalani hubungan dengan Prita meski sering putus sambung. Ia dan Prita sama-sama mempunyai watak yang keras. Tapi selalu ada cara agar mereka saling kembali. Hingga perlahan, tindakan mereka makin berani. Prita mulai sering mengundangnya ke kost yang terkenal bebas. Berawal dari belajar bersama hingga godaan menenggelamkan mereka dalam dosa. Nathan meninju dinding kamarnya. Dalam sekejap, Prita mampu memporak-porandakan mimpinya, angannya, bahkan hidupnya. Satu-satunya cara untuk memastikan tentang kebenaran adalah tes DNA. Tapi ia terlalu takut. Ia takut kehilangan Meyra jika memang benar Tata adalah anaknya. Nathan takkan sanggup jika harus kehilangan Meyra. ** Kio dan Lodi saling memberi kode. Mereka bertanya-tanya kenapa sedari tadi Nathan hanya diam. Padahal sore ini mereka sudah sepakat untuk bersepeda bersama di area taman kota. Namun yang ada mereka justru duduk di salah satu kursi taman. "Than? Kesambet lo?" Lodi menepuk bahu Nathan. "Bisa diem, gak?" respon Nathan, terlihat kesal. "Kenapa lo?" Kio ikut bertanya. Ia tahu ada yang tidak beres jika melihat gelagat teman dekatnya itu. Pria itu tak langsung menjawab. Ia bingung untuk bercerita atau tidak. Namun jelas ia membutuhkan solusi. "Gua ada sedikit masalah," ujarnya, sedikit berhati-hati agar tidak salah bicara. "Apa? Lo gak kontakan lagi sama Prita 'kan? Gue sama Kio gak ada capeknya ingetin lo. Dia itu ular." Lodi berkata dengan serius. Mendengar itu, Nathan tak mampu membuka suara. Sudah bisa ditebak bagaimana reaksi mereka jika ia bicara jujur. Terlebih, Lodi dan Kio sama-sama peduli pada Meyra. "Gue, gue mau pulang. Kalian lanjut aja." Pria itu mengendarai sepeda tanpa memberi penjelasan lebih lanjut. Dua temannya dibuat makin penasaran. "Gue yakin ada yang gak beres," ujar Lodi begitu Nathan sudah tidak tampak. "Iya, gue juga. Ada info yang udah lo dapet?" Kio yang saat itu memakai outfit serba hitam menoleh. "Udah, tapi gak banyak. Gak ada yang tau pasti apa yang terjadi sama cewek itu setelah lulus kuliah. Ada kabar kalo dia ikut omnya ke Makassar. Tapi ada juga yang bilang dia pergi setelah diusir orang tuanya," terang Lodi. "Diusir? Kesalahan apa yang udah dia lakuin?" "Gue masih cari tau. Dua hari lalu gue sempet liat dia jalan-jalan di dekat cafenya Meyra sama anak kecil. Dan gue ngerasa ada yang aneh." "Aneh gimana?" "Gerak geriknya mencurigakan. Kayak lagi nunggu seseorang tapi malah masuk ke butik deket cafe." Kio makin penasaran dengan Prita setelah mendengar penjelasan Lodi. Meski sekarang ia berusaha menjaga jarak dari Meyra, masih ada keinginan untuk menjaga wanita itu. "Terus, kita mau ke mana?" tanya Lodi. "Lanjut aja. Udah kepalang tanggung, sekalian cari keringat." Kio memakai helmnya lalu berdiri. "Cari kok keringat, cari cewek sana!" seru Lodi yang mulai iseng. "Rese lo! Cepet, kalo gak gue tinggal." Kio sudah menaiki sepeda gowes-nya. "Ditanyain nyokap lo tuh. Gak pengen bangun rumah tangga apa?" Lodi menaiki sepeda dengan terburu-buru dan mengayuh cepat sebelum Kio menjitaknya. 'Bangun rumah tangga? Siapa yang gak pengen. Mungkin nanti, setelah gue bisa mengikhlaskan Meyra menikah dengan Nathan,' batin Kio. Ia mengikuti rute yang Lodi ambil, menuju kompleks perkantoran tempat Wanda bekerja. Pria itu menghela napas, pasrah jika lagi-lagi akan menjadi obat nyamuk. *** Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD