Tiga hari berlalu sejak memberitahu kabar mengejutkan pada Nathan. Saat itu pulalah Nathan tak bisa berhenti berpikir. Makan menjadi tak teratur, juga tidak bisa tidur dengan nyenyak.
Hari ini ia mengambil cuti dan ingin berada di rumah. Meski begitu, keadaan mood dan pikirannya tak kunjung membaik. Nathan justru sering melamun di teras belakang.
"Kak!" Tasya yang baru pulang sekolah mengagetkan kakak laki-lakinya itu.
"'Apa sih Bocil?" geram Nathan.
"Aku bukan bocil!"
"Terserah." Nathan kembali memandang pada satu arah dengan tatapan kosong. Tidak ada semangat dan cahaya pada netranya yang sedikit sipit. Wajahnya juga pucat.
Kini Tasya setuju pada ucapan sang ibu. Kakaknya terlihat berbeda. Biasanya pria itu jahil dan ceria tapi tidak untuk beberapa hari ini.
"Kak Nathan kenapa?" Tasya duduk di sampingnya seraya memangku tas ransel warna purple.
"Kakak gak apa-apa, Dek. Udah ganti baju dulu terus makan siang."
Tasya tak bergeming. Ia masih diam di tempat dan justru memainkan ponselnya. Nathan tiba-tiba berdiri, menjauh dua meter sebelum menyalakan rokok dengan pemantik yang ia keluarkan dari celana santainya.
"Kak Nathan ngrokok lagi? Aku bilangin Kak Meyra baru tau rasa!" Tasya bangkit dan meletakkan tas pada kursi kayu.
Nathan meneruskan seolah tak mendengar celotehan adiknya. Tasya yang sudah berada di samping Nathan berseru kaget.
"Kok Kakak masih simpan ini? Ngapain sih?! Barang jelek juga ..." Tasya merebut pemantik biru tua yang tadinya akan Nathan nyalakan.
"Tasya, balikin." Nathan maju dengan lemas.
"Gak! Aku gak suka ya Kakak masih simpan barang dari dia." Tasya melangkah maju, hendak melempar pemantik yang bisa disini ulang itu.
Tapi, tiba-tiba ia mendengar suara dari arah belakangnya.
Brukk!
Gadis manis dengan bandana putih itu refleks menoleh. Netranya membulat seketika. Ia berlari menghampiri sang kakak yang sudah berada di rerumputan tak sadarkan diri. Ketika menyentuh dahinya, Tasya baru sadar jika Nathan sedang demam tinggi. Panik, ia berlari ke dalam sembari berteriak.
"Ma, Kak Nathan pingsan!!"
**
Meyra bergegas keluar dari cafe dan menghentikan taksi yang kebetulan lewat. Baru saja ia mendapat telepon dari Tasya jika Nathan dibawa ke rumah sakit.
Suasana jalan raya yang padat merayap membuat taksi berjalan lambat. Meyra menekan ujung kuku telunjuknya pada ujung kuku ibu jari. Kebiasaan ketika ia merasa cemas.
Dua puluh menit terasa berjam-jam. Namun untunglah akhirnya ia sampai juga di depan rumah sakit yang tadi sempat Tasya sebutkan. Ia langsung masuk dan menuju arah yang ditunjukkan salah satu perawat.
Langkah sepatu flat Meyra makin cepat saat melihat sosok Tasya di depan ruangan tempat Nathan di rawat. Gadis itu sendirian, duduk dan terisak.
"Tasya, Nathan kenapa?" Meyra duduk di samping gadis remaja yang masih memakai seragam putih abu-abu itu.
"Masih diperiksa sama dokter. Mama lagi ngurus administrasi ..." jawabnya lirih, masih terisak.
"Udah, jangan nangis," ucap Meyra lembut sambil mengusap punggungnya.
"Kak Nathan pingsan karena aku, Kak ..."
"Hm? Kenapa Tasya ngomong gitu?"
"Harusnya aku gak ngerebut pemantik itu dari tangannya. Tapi aku gak suka Kak Nathan masih nyimpen barang dari cewek itu." Tasya terlihat kesal.
"Barang apa?" Meyra yang biasanya bisa menahan diri, kini begitu penasaran setelah mendengar calon adik iparnya menyebut kata 'cewek'.
Tasya mengeluarkan pemantik yang ternyata ia simpan di saku seragam. Meyra menerimanya. Pemantik itu lagi. Inisial P?
Wanita itu sudah ingin bertanya namun derap langkah seseorang yang mendekat mengalihkan perhatian mereka. Wanita paruh baya dengan hijab lebar, Nyonya Laras.
"Tante," sapa Meyra yang langsung mencium punggung tangannya.
"Meyra? Udah lama?"
"Baru aja. Nathan gimana, Tante?"
"Udah, jangan panik, kata dokter tipusnya kambuh. Sekarang lagi ditangani, kalo keadaannya membaik, besok sudah boleh pulang. Tapi makanannya tetep harus dijaga." Wanita itu mengajak Meyra duduk.
"Meyra baru tau kalo Nathan punya tipus ..." ujarnya.
"Memang sudah lama gak kambuh. Tapi akhir-akhir ini dia suka nunda makan. Kadang malah gak mau makan sama sekali. Pulang kantor juga langsung kunci diri di kamar. Tante sampe gak tau harus gimana. Apa kalian ada masalah?"
"Gak ada. Kami tiap hari ketemu dan Nathan gak cerita apa-apa sama Meyra." Meyra tertegun. Apa yang membuat Nathan menjadi seperti ini? Sementara itu tangannya masih menggenggam pemantik milik Nathan.
**
"Aku balik ya?" pamit Meyra pada calon suami yang kini terbaring pucat di ranjang rumah sakit.
"Nanti dulu, aku masih pengen kamu di sini ..."
Meyra tersenyum melihat tingkah Nathan yang manja. Pria tampannya itu memang selalu seperti ini saat sakit. Tapi ini sudah hampir pukul tujuh malam dan ia tak membawa obatnya.
"Besok aku ke sini lagi, ya?"
"Besok pagi aku udah pulang. Kamu nginap aja," ujar pria itu lalu tertawa.
"Mana bisa gitu?"
"Aku gak akan ngapa-ngapain. Janji," bujuk Nathan.
"Aku percaya sama kamu tapi tetep gak boleh. Udah ah, aku pulang. Kata Tante Laras, Lodi sama Kio mau ke sini."
Nathan masih merayu, memintanya untuk tetap menemaninya hingga ibu dan adiknya kembali. Dua orang itu sedang ke kantin rumah sakit sejak setengah jam yang lalu.
Tak berapa lama yang ditunggu datang. Meyra langsung pamit pulang meski Nathan masih merengek tidak rela. Saat keluar dari pintu, ia berpapasan dengan dua sahabat Nathan yang sudah dikenalnya.
"Meyra? Mau pulang?" sapa Lodi.
"Iya, kalian masuk aja. Ada Tante Laras sama Tasya di dalam."
"Kamu pulang sama siapa?" tanya Kio.
"Ada banyak taksi kok di depan. Tenang aja."
Lodi berjalan lebih dulu menuju pintu disusul Kio. Namun Meyra tiba-tiba memanggil karena teringat sesuatu.
"Eh, tunggu sebentar ..."
Dua pria itu membalikkan badan. Kio dan Lodi saling tatap lalu memandang wanita di depan mereka.
"Aku mau tanya sesuatu. Ini, apa kalian tau Nathan dapat barang ini dari siapa?" Meyra mengeluarkan pemantik dari tasnya.
Mereka terkejut benda itu kini berada di tangan Meyra. Lagi, dua pria itu saling pandang, dibubuhi kode atas jawaban apa yang akan mereka katakan.
"Pemantik ini punya Nathan. Kenapa bisa ada di kamu?" tanya Lodi.
"Tadi Tasya nunjukin dan aku baru ingat kalo belum aku kembalikan. Apa kalian tau itu dari siapa? Tasya sempat bilang kalo itu cewek."
Lodi menatap Kio sebelum menjawab seakan meminta persetujuan. Kio mengangguk kecil. Ia berpikir jika lebih baik Meyra tahu.
"Pemantik ini dari mantannya Nathan," jelas Lodi.
"Mantan? Siapa namanya?"
"Prita."
"Prita?" Meyra mengulangi. Nama itu tidak asing. Tapi mungkinkah orang yang sama.
***
Bersambung.