Kenyataan Pahit

1206 Words
Meyra pulang setelah mengembalikan pemantik itu melalui Lodi. Di sepanjang perjalanan, ia tak bisa menghapus prasangka yang tiba-tiba muncul. Nama Prita juga terus membayang. Pertanyaan-pertanyaan tak henti mengisi kepalanya. Kenapa Nathan masih menyimpan pemberian dari sang mantan? Begitu berhargakah? Lalu siapa Prita? Mungkinkah wanita yang ia temui tanpa sengaja tempo hari? Ia bukan tipikal wanita yang suka asal menuduh. Namun sekarang ada sepercik ragu mulai merasuk. Ia akan mencari tahu dengan caranya sendiri. "Assalamu'alaikum," ucap Meyra ketika memasuki apartemen. Hanya suara khas Flo yang menyambutnya. Entah ke mana perginya Wanda yang seharusnya berada di apartemen sekarang. Tapi pertanyaannya segera terjawab tak lama kemudian. "Duh, kamu dari mana? Bikin panik aja." Wanda muncul di pintu. "Aku tadi jenguk Nathan di rumah sakit. Kamu dari mana?" "Beli makan di bawah. Nathan kenapa?" "Tipusnya kambuh." Meyra duduk di sofa dan membelai bulu halus milik Flo. "Ohh. Ada Lodi gak di sana?" "Ada, datang sama Kio tadi. Kenapa?" "Ya udah kalo gitu. Pesanku belum di-read ..." Wanda memanyunkan bibirnya. "Mungkin lagi gak buka ponsel. Sabar aja," ujar Meyra. Belum sempat Wanda menanggapi ketika ponsel di tangannya berbunyi. Dari ekspresi di wajah Wanda, Meyra sudah bisa menebak siapa yang menelepon. "Lodi telepon, sebentar ya," ucap Wanda ceria sambil berjalan ke arah kamarnya. Bungkusan makan malam ia letakkan begitu saja di meja ruang tamu. Meyra memindahkan bungkusan itu ke dapur sebelum ia juga masuk ke kamarnya. Ia ingin beristirahat, berharap esok pikirannya yang penuh dengan pertanyaan menjadi lebih baik. ** Lima orang duduk di sofa, tepat di depan layar televisi dua puluh dua inci. Seminggu sudah berlalu dan hari pernikahan semakin dekat. Namun Nathan dan Meyra masih menyanggupi ajakan Lodi untuk nonton film bersama di rumahnya. Kebetulan hari itu adalah minggu, mereka semua libur. "Mau nonton apa?' tanya Lodi sembari memilih menu pada layar menggunakan remote. " Apa gitu yang romantis," ujar Wanda. "Jangan yang romantis, kasihan Kio nanti," ledek Lodi pada pria yang sedari tadi memilih tempat di pojok. "Gue dari tadi diem ya. Kok kena mulu?" protes Kio. Netranya melirik Nathan dan Meyra yang duduk di sofa yang sama dengannya. Mereka sedang mengobrol dengan suara pelan. "Hei, calon pengantin. Ada rekomendasi film gak?" Lodi bertanya pada Nathan dan Meyra. "Ada. Tapi takut kalian gak suka," jawab Meyra. "Apa? Selama yang main masih manusia kita suka kok." Lodi berkelakar dan langsung mendapat cubitan dari Wanda. "Judulnya Time Renegades, genre fantasi. Paradoks gitu." "Paradoks? Pasti seru. Tapi aku gak punya film itu." "Di ponselmu masih ada?" Meyra bertanya pada Nathan. "Ada, nih ..." Nathan memberikan ponselnya pada Meyra. Wanita itu langsung mengatur mode screen mirrorin. Tak butuh waktu lama apa yang ditampilkan di layar ponsel Nathan, terlihat jelas pada layar televisi. "Sip, saatnya nonton." Merek duduk berjejer, ditemani cemilan dan juga minuman. Meyra sudah dua kali menonton dan masih suka mengikuti jalan ceritanya, sama seperti Nathan. Sedangkan tiga orang lain menatap layar dengan fokus. Di pertengahan film, tiba-tiba panggilan masuk ke ponsel Nathan. Hanya sebuah nomor tanpa nama. Meyra ingat nomor itu, ia ingat tiga digit paling belakang. "Ck. Ganggu aja. Siapa sih?" keluh Lodi sambil meneguk softdrink. "Sorry, sebentar gue angkat dulu." Nathan bangkit dan membawa ponsel itu ke ruangan lain. Pria itu tak sadar jika ponselnya masih tersambung dengan layar televisi. Nomor itu nyatanya hanya missed call, dilanjutkan dengan pesan berisi ajakan untuk bertemu. [Nathan. Lagi sibuk?] [Iya. Kenapa?] [Yahh, padahal aku mau ngajak ketemu.] [Aku gak ada waktu. Jangan telepon lagi, ngerti?!] [Sok sibuk apa gimana? Aku bisa nemuin calon istrimu kapanpun aku mau. Tapi, apa kamu siap kalo dia tau semuanya?] Balasan kali ini, Prita iringi dengan emoticon senyum. [Prita, jangan mengancamku!!] [Terserah sih tapi ini bukan ancaman.] Prita memberi emoticon senyum lagi. Emoticon yang Nathan benci mulai saat itu. [Mau ketemu di mana?] Nathan mengetik dan mengirim balasan. [Taman ZZZ. Aku tunggu sekarang.] Percakapan melalui aplikasi chat berlogo biru itu disaksikan oleh semuanya, termasuk Meyra. Wanda sudah merangkul sepupunya yang menunduk. Sementara para pria tampak kesal. Kio menatap tajam pada layar televisi, sedangkan Lodi bersandar dan menggeleng. Nathan muncul tak lama kemudian seolah tidak terjadi apapun. Yang lain juga bersikap biasa, Meyra bahkan memberi pria itu senyuman. "Gue mendadak pengen teh tarik. Ada yang mau juga?" Hening. Semua hanya saling lirik selama beberapa saat. Hingga Meyra memberanikan diri untuk mencegah Nathan pergi. "Makanan dan minuman kita udah banyak. Kamu gak usah kemana-mana ya ..." "Tapi aku lagi pengen itu, Sayang," sanggahnya. "Kalo gitu aku ikut. Boleh?" Meyra masih berusaha. "Jangan. Aku gak mau kamu kecapekan. Tunggu di sini ya sebentar aja. Gak lama kok." Nathan langsung keluar dan menutup pintu tanpa menunggu respon Meyra yang sudah berdiri. Wanita itu tampak kalut. Wanda memintanya duduk namun Meyra menolak. Kio dan Lodi bangkit hampir bersamaan. Mereka telah sepakat untuk membuntuti Nathan. Setidaknya mereka harus tahu apa yang ingin Nathan dan Prita bicarakan. "Kalian tunggu di sini. Kami mau ngikutin Nathan," ucap Lodi. "Aku ikut," sambar Meyra tanpa ragu. "Meyra, kamu di sini aja sama aku. Nanti mereka pasti kasih kamu info," bujuk Wanda. Namun seperti keputusan Meyra tak terbantahkan. "Aku mau ikut. Kalo kalian gak ngijinin, aku bisa pake taksi untuk buntuti Nathan." Meyra berjalan menuju pintu setelah meraih clutch biru lautnya. "Meyra, Meyra, tunggu. Oke, kamu boleh ikut. Kita berangkat sama-sama." Kio menyusul Meyra dan membukakan pintu disusul Lodi dan Wanda di belakangnya. Mereka menggunakan satu mobil, milik Kio dan mulai mengikuti mobil Nathan. Menyusuri jalan raya selama beberapa menit dan berjalan tanpa ketara di taman yang tadi Nathan dan Prita sepakati. Kio, Lodi, Meyra dan juga Wanda mencari tempat bersembunyi yang aman. Namun juga di jarak bisa mendengar percakapan mereka. Meyra terperanjat ketika menyadari Prita yang ini adalah Prita yang juga merupakan teman barunya. Rambut pendek dengan setelan motif bunga dibalut outer berwarna putih. "Mau kamu apa sih?" tanya Nathan saat berada di hadapan Prita. "Aku cuma mau memastikan. Kamu bisa nerima Tata apa gak? Dia butuh figur ayah. Cuma itu." "Cuma itu kamu bilang? Aku udah mau nikah, Prita. Apa kata Meyra nanti? Apa kata orang tuaku? Lagipula aku gak percaya kalo dia darah dagingku." Meyra mengigit bibir. Air matanya sudah siap menetes namun ia menahannya. Ia bisa mendengar dengan jelas pembicaraan dua orang itu. 'Darah daging?' Mendadak kepalanya berdenyut. Ia terhuyung namun Kio berhasil menangkapnya. Wanda dan Lodi juga membantu namun berusaha untuk tidak membuat suara. "Aku cuma berusaha jujur." Prita berusaha membela diri. "Tapi kenapa kamu baru muncul sekarang?" tanya Nathan yang menahan emosi. "Kamu kira ini gampang buat aku? Saat aku sadar kalo hamil, kamu justru berangkat ke Bali. Orang tuaku marah besar dan aku diusir." Prita terduduk dan menangis. Lodi menatap Kio yang kini mendekap Meyra. Dua pria itu sama-sama tak yakin dengan cerita Prita. Wanda terlihat bingung, di sisi lain ia juga khawatir dengan kondisi Meyra. "Aku butuh bukti kalo itu anak aku," lanjut Nathan. "Kamu gila ya. Kita lakuin itu lebih dari satu kali. Dan aku cuma lakuin itu sama kamu." Prita nyaris berteriak. Untung saja suasana taman siang itu cukup sepi. Kio tergelak lemah. Ia tahu pasti jika Prita berbohong. Pria itu menatap Meyra yang kini terpejam. Bulir bening melesak keluar dari ujung netra cantiknya. Hati Kio sakit, ia mengusap air mata itu perlahan. Andai bisa, ia ingin menjadi obat untuk luka hati yang Meyra kini rasakan. *** Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD