Roda-roda mobil milik Nathan berputar, melintasi kawasan tempat tinggal Prita sore itu. Nathan masuk setelah menghentikan mobil tepat di depan pagar. Ia harus menemui wanita itu sekarang. Harus.
Pria itu memencet bel. Menunggu selama beberapa detik lalu memencet sekali lagi. Tak lama kemudian, muncul gadis muda berseragam pink, khas babysitter.
"Pak Nathan? Cari ibu ya?" Enggar tampak terkejut melihat Nathan mendadak datang. Ini pertemuan kedua mereka setelah kemarin pria itu menjemput majikannya dan Tata.
"Iya. Prita ada di dalam?"
"Ibu belum pulang dari kantor."
"Di mana alamat kantornya?" kejar Nathan.
"Kalo itu, saya kurang tau, Pak." Enggar menggeleng.
Tak mendapat apa yang ia inginkan, Nathan mengusap wajahnya kasar. Ia memasuki mobil dan pergi dari tempat itu. Aktifitas menyetir ia sambil lalu dengan mencari nomer kontak milik Prita. Ia panik.
Kepanikannya dimulai dari empat puluh menit yang lalu. Ia yang baru menyelesaikan pekerjaannya di kantor langsung melesat menuju rumah sakit tempat ia dan Tata melakukan pemeriksaan darah kemarin.
Tapi saat menemui petugas guna mengambil hasil. Ia justru dibuat kaget.
"Hasil tesnya sudah di ambil tadi siang oleh wanita yang kemarin datang bersama Bapak," jelas petugas wanita itu.
Berulang kali ia mencoba menghubungi nomor Prita namun hasilnya nihil. Nomornya aktif namun tidak ada jawaban. Menjelang petang, ia memutuskan untuk pulang. Tak disangka, saat itu juga Nathan harus menerima tatapan menghakimi dari semua orang yang berada di rumah.
"Assalamu'alaikum," ucapnya pelan sambil merenggangkan dasi pada lehernya.
"Waalaikumssalam." Itu adalah suara berat sang ayah yang biasanya akan berada di ruang kerja hingga nanti tiba waktu makan malam.
Tak cukup sampai di sana, nyatanya semua anggota keluarga lain telah duduk di ruang tengah, seakan memang sengaja menunggu kedatangannya. Lengkap dengan eyangnya juga.
Nathan yang belum menyadari situasi, berjalan menuju anak tangga. Namun suara ayahnya lagi-lagi memmbuatnya tertegun.
"Nathan. Sini!"
"Ada apa, Pa?"
"Apa ini?" Pria gagah berusia lima puluh lima tahun itu meletakkan amplop dengan kasar di atas meja di depannya.
Nathan tak mengerti dan membukanya. Cap pada amplop membuat jantungnya berdetak tak karuan. Itu adalah hasil tes dari rumah sakit tempat ia dan Tata kemarin memeriksakan darah.
"Siapa yang mengirim ini?" tanyanya gugup.
"Cepat jelaskan apa maksud dari laporan itu!!" Suara Tuan Tyo menggelegar. Pria itu sangat jarang marah. Namun ketika terpancing maka akan tampak mengerikan.
"Nathan, itu gak benar 'kan?" Kini giliran sang ibu yang berbicara.
Nathan tak bisa menjawab karena ia sendiri belum mengetahui apa isinya. Ia membuka amplop dan perlahan membaca isi laporan. Dan, hasilnya adalah ...
Positif. Tata adalah anaknya.
"Pa, ini pasti salah. Anak itu, Nathan juga baru-"
"Kamu mau mengelak?"
"Bukan, Pa. Tapi Nathan juga baru tahu. Tapi dia itu mantan Nathan saat kuliah. Nathan gak tau kalo saat itu dia hamil."
Semua menatap senang pandangan kecewa. Nathan tak memiliki satu orang pun pendukung di rumah ini.
"Lalu apa yang mau kamu lakukan? Apa kamu lupa beberapa hari lagi kamu akan menikah dengan Meyra? Semua persiapan sudah selesai. Bahkan undangan juga sudah disebar. Kamu mau buat malu keluarga? Hah?!!" bentak Tuan Tyo.
"Pa, sabar, Pa ..." Nyonya Laras mencoba menenangkan sang suami. Namun kali ini cara itu takkan berhasil.
"Jawab Nathan!!!"
Yang ditanya kehilangan kata-kata. Keadaan ini diluar kendali. Ia berharap ini hanya mimpi. Ya, sebuah mimpi buruk dan ia akan terbangun sebentar lagi. Sayangnya ini semua adalah kenyataan yang harus ia hadapi.
"Nathan akan tetap menikahi Meyra dan bertanggungjawab terhadap anak itu," sahut Nathan. Ia tak takut sang ayah akan menghajarnya, tapi ia sangat takut jika ia harus kehilangan Meyra.
"Apa kamu bilang?!! Ohh, anak laki-laki papa ternyata egois?!"
"Pa, anak itu hasil dari kesalahan," jawab Nathan dengan berani.
"Kesalahan? Apa kamu tak berpikir seperti itu sebelum melakukannya?"
Nathan terdiam. Nasi sudah menjadi bubur. Tapi ia mau mengakui dan menafkahi anak itu, lalu salahnya di mana? Begitu isi batin Nathan sekarang.
"Papa tak mau tahu, besok kamu ajak Meyra dan juga wanita itu ke sini. Kita selesaikan masalah ini sampai tuntas. Apapun keputusan besok, kamu harus menerimanya. Paham?!"
Nathan menundukkan pandangan. Tak bernyali membalas tatapan sang ayah yang tajam. Menghujam. Mimpi terburuknya akan dimulai esok hari.
**
Nathan berkali memencet bel pada pintu unit apartemen Meyra. Sebelumnya ia sudah mencari wanita itu di cafe. Namun karyawan di sana mengatakan jika hingga waktu yang tak bisa ditentukan, Meyra tidak akan datang ke cafe.
Usahanya untuk menghubungi wanita itu juga gagal. Panggilannya justru tersambung pada mailbox. Kini ia berdiri di depan pintu berwarna putih itu, sudah lebih dari setengah jam.
Untuk ke sekian kalinya, ia memencet bel. Meski begitu percuma. Namun akhirnya sosok Meyra muncul bersama Wanda yang membawa dua cup boba thay tea di tangannya. Ternyata mereka sedari tadi berada di luar.
"Meyra, kita harus bicara ..." Pria itu langsung menghambur menuju si calon istri yang menatapnya tak mengerti.
"Ada apa?"
"Kamu harus ikut aku ke rumah. Papa minta kamu datang sekarang juga. Tolong ..."
Meyra melihat kesungguhan Nathan dan sejenak wanita itu berpikir. Ia menatap Wanda, meminta pendapat. Namun si sepupu hanya mengangkat bahu.
Entah mengapa Meyra merasa ada hal yang sangat penting yang ingin disampaikan. Wanita dengan dress hitam itu pun mengangguk.
"Kamu yakin? Perlu aku temani?" bisik Wanda.
"Gak usah. Apapun yang terjadi nanti, Insya Allah aku udah siap ..." ujar Meyra.
Wanda memandang dua sosok yang kini berjalan menuju lift. Batinnya terasa tidak nyaman. Ia pun segera masuk dan berniat menghubungi Lodi saat memegang ponselnya.
Meyra dan Nathan sama-sama bungkam selama perjalanan. Semua sibuk dengan kegundahan masing-masing. Meyra tahu rencana pernikahannya berada di ujung tanduk. Begitu juga yang dipikirkan oleh Nathan.
Mobil sampai di rumah besar Keluarga Dirga lebih lambat dari biasanya. Meyra melihat mobil lain yang juga telah terparkir rapi di depan.
"Ayo, kita masuk," ajak Nathan.
Meyra hanya mengangguk. Wanita itu memasuki ruang tamu, dan sudah duduk berjejer dua orang yang seharusnya menjadi mertuanya sebentar lagi. Tetapi ada satu hal yang membuatnya kaget, di ruangan itu juga terlihat Prita. Duduk manis, menikmati secangkir teh.
"Meyra, sini Sayang," panggil Nyonya Laras sembari menepuk sofa kosong di sampingnya. Meyra menurut dengan sopan.
"Karena semua sudh datang, mari kita mulai. Meyra, Om memanggilmu ke sini bukan tanpa alasan."
Tuan Tyo memberi kode pada istrinya agar ia yang menyampaikan pada wanita itu.
"Meyra, apa kamu sudah tahu siapa dia?" Nyonya Laras menunjuk pada Prita dengan tatapan.
"Sudah, Tante." Diam-diam, Meyra sedang berusaha menetralkan detak jantung yang tak karuan.
"Dia mantan kekasih Nathan," lanjut Meyra.
"Lalu apa kamu tau kalau mereka sudah menjalani tes darah dengan anak itu?"
"Apa hasilnya, Tante?" Meyra langsung bertanya, tak bisa menahannya lagi.
"Kamu harus sabar ya. Hasilnya positif."
Ketakutan Meyra terjadi. Ia menatap Nathan yang kini menunduk sedangkan garis bibir Prita sedikit terangkat. Tetapi Meyra sendiri tak menyangka saat menyadari ia begitu tenang menerima kabar itu.
"Jadi Tata anak Nathan, Tante?"
"Iya, Sayang." Nyonya Laras terlihat kecewa.
"Sekarang, Nathan, apa rencanamu?"
Nathan masih diam.
"Nathan?" ulangi ayahnya.
"Nathan mengakui anak itu tapi akan tetap menikahi Meyra, Pa."
Meyra memandang Nathan dan Prita secara bergantian. Wanita itu tampak tenang. Namun Meyra merasa Prita menyimpan sesuatu. Ada hal yang disembunyikan.
"Apa kamu mau meneruskan pernikahan ini, Meyra?" tanya Tuan Tyo.
Giliran Meyra yang diam dan berpikir. Setahun lebih kebersaannya bersama Nathan adalah masa yang indah. Namun ternyata ada sosok lain yang membutuhkan pria itu. Meyra juga mengingat jika hingga beberapa hari lalu, Nathan masih menyimpan pemberian Prita. Ia tak ingin terus dibayang-bayangi masa lalu Nathan. Hatinya tak selapang itu.
"Maaf, Om. Meyra memilih mundur ..." Kalimat itu yang keluar dari bibir tipis Meyra.
Nathan mendongak tak percaya. Ia memberi pandangan memohon namun Meyra menghindari kontak mata dengan pria itu.
"Kamu yakin?"
"Iya, Om. Saya yakin."
Meyra menunduk, setetes air mata jatuh dan mengenai dress hitamnya pada bagian paha. Ia ingin pulang dan menangis sepuasnya.
"Kamu sudah dengar keputusan Meyra, Nathan?"
"Tapi Meyra, persiapan pernikahan kita sudah selesai. Kamu gak bisa batalin pernikahan ini gitu aja." Nathan tak terima.
"Pernikahan ini tidak akan batal." Suara berat Tuan Tyo langsung membuat Nathan membeku.
"Apa maksud Papa?"
"Prita, kamu mau menikah dengan Nathan?"
Meyra tak tahan lagi, ia ingin berlari keluar. Atmosfer di sekitarnya membuatnya sesak. Ia harus kehilangan Nathan dan sekarang ia juga harus mendengar jika pria itu akan menikahi wanita lain.
"Saya mau, Om." Suara lembut Prita layaknya pisau tajam yang mengiris hati Meyra.
Nyonya Laras merangkul Meyra, tak rela jika harus kehilangan calon menantu sebaik itu. Tapi ia pun tak bisa berbuat apa-apa.
"Meyra, jangan benci sama Tante ya." Wanita berhijab itu menitikkan air mata.
"Tante jangan seperti ini. Meyra sudah menganggap Tante sebagai ibu Meyra sendiri. Mungkin ini sudah yang terbaik yang harus dijalani." Meyra yang butuh ditenangkan kini justru menenangkan.
"Pa, Nathan gak bisa menikahi Prita. Nathan cuma cinta sama Meyra, Pa ..." Pria itu memelas.
"Kita bukan bicara cinta, Nathan. Tapi ini tentang tanggungjawab. Kemarin, papa sudah mengingatkanmu. Kamu harus menerima apapun keputusan hari ini. Pernikahan akan tetap digelar, dengan Prita sebagai mempelai wanita."
Nathan melemas. Semua hancur dalam sekejap.
***
Bersambung.