Menjadi Seorang Ayah

1039 Words
Nathan berdiri di atas jembatan, bersandar pada pembatas seukuran pinggang. Frustasi dan marah, bercampur jadi satu. Ingin rasanya berteriak, namun akalnya masih bisa menyadarkan jika ia berada di area umum. Menjelang hari pernikahan justru muncul masalah pelik. Tentu hal ini akan mengancam hari bahagianya bersama Meyra. Pria itu mengeluarkan pemantik dari saku jaket hitamnya. Benda kecil yang sebenarnya tak berarti apapun untuknya. Tangannya terangkat, bersiap melempar pemantik ke arah sungai sejauh-jauhnya. Namun sebuah suara membuatnya terhenyak. "Kamu udah menyimpannya bertahun-tahun, kenapa baru sekarang mau dibuang?" Prita mendadak sudah berada di sampingnya. "Kamu lagi. Kenapa kamu selalu muncul?!" bentak pria itu. "Tersiksa? Itu juga yang aku rasain waktu hamil Tata dan harus melahirkan sendirian," kisah Prita sambil memandang riak air di permukaan sungai. "Apa tujuanmu?" "Apa?" Prita menatapnya tak mengerti. "Apa tujuanmu sebenarnya? Waktu itu kamu jalan dengan laki-laki lain. Saat aku tanya, kamu selalu menghindar. Andai kamu tau, saat itu aku udah mau serius. Tapi mendadak kamu menghilang. Dan sekarang ... Ck!" Nathan meninju pagar pembatas jembatan yang terbuat dari besi. "Kalo tau begini, aku gak akan mau muncul di hidupmu lagi. Maaf." Prita menunduk dengan wajah sedih. Nathan menggeleng lemah. Ia bahkan tak tahu siapa yang bersalah. Yang jelas masalah ini tidak bisa didiamkan begitu saja. "Aku butuh bukti kalo Tata benar-benar anakku," ujar Nathan setelah hening selama beberapa saat. "Tes DNA?" tawar Prita yang juga sudah lebih tenang. "Tes DNA akan memakan waktu lama. Aku butuh bukti sebelum hari pernikahanku. Tidak sampai seminggu lagi." Pria itu mengepal hingga buku-buku jemarinya memutih. "Kalo memang itu maumu, aku setuju. Besok aku akan bawa Tata ke rumah sakit." "Di mana alamatmu? Aku jemput kalian. Kita harus ke rumah sakit sama-sama." Prita menyebut sebuah alamat di kompleks perumahan menengah ke atas. Nathan merekam alamat itu dalam pikirannya. ** Nathan sampai di rumah selepas maghrib. Di depan terparkir mobil yang tampak tidak asing. Ya, itu adalah mobil pamannya. Ketika ia masuk, ternyata juga sudah ada eyang dan tantenya dari pihak ibu. "Nathan, dari mana?" tanya Nyonya Laras. "Dari luar." Pria itu menjawab pendek. "Mulai besok jangan keluar kemana-mana lho. Kalau perlu urusan kantor biar papamu yang urus. Jangan ketemu Meyra juga sampai hari pernikahan. Ngerti ndak, Le?" tanya eyangnya. "Tapi besok Nathan ada urusan penting. Nathan mau ke kamar dulu, permisi Eyang." Pria dua puluh enam tahun itu langsung naik ke lantai dua. "Ealah, anak jaman sekarang kok ya susah dibilangin." Si eyang mengeluh sambil mencicipi sample cake untuk suguhan di hari H nanti. Raut wajahnya sedikit lebih cerah saat menyadari cake itu cocok di lidahnya. "Udah biarin, Bu. Udah bukan jamannya main pingit-pingitan." "Itu sudah tradisi. Harus diikuti. Untuk keselamatan calon pengantin juga lho ini ..." Nyonya Laras tak menjawab lagi. Ia tahu betul, jika ditanggapi, maka perdebatan itu akan panjang. Di sisi lain kota, berkilo-kilo meter jauhnya dari rumah Keluarga Dirga, Meyra mematikan ponselnya. Untuk sementara, ia tak ingin menerima panggilan dan pesan dari siapapun. Ia bahkan menyerahkan tanggungjawab cafe sementara pada Fika, orang yang paling ia percaya di sana. Tok. Tok. "Meyra, makan dulu yuk," ajak Wanda dari luar kamar. "Nanti. Kamu makan aja dulu." "Aku boleh masuk?" tanya Wanda masih dari balik pintu. "Masuk aja, gak dikunci kok." Wanda pun masuk, dengan rambut setengah basah. Sepertinya ia baru mandi dan belum sempat menggunakan hair dryer. "Masih sedih?" Meyra menggeleng. Bohong. Wanda tahu sepupunya berbohong. Ia hanya sedang enggan membahas permasalahannya dengan Nathan. Tapi yang ingin Wanda bicarakan adalah hal lain. "Meyra, gimana dengan rencana operasi?" "Aku belum mikirin itu." "Meyra, please ..." Untuk ke sekian kalinya Wanda memohon. Ia paham jika perlahan Meyra telah kehilangan harapan. Tapi ia juga tidak bisa membiarkan saudarinya itu menyerah. "Kamu akan ngerti kalo ada di posisiku." Meyra tampak tenang, seakan yang mereka bahas adalah hal sepele. "Aku tahu resikonya cukup besar, tapi kalo sekarang kemungkinan berhasil bisa dibilang masih ada. Kalo kamu terus menunda, aku takut kalo ..." Wanda selalu tak mampu meneruskan kata-kata setiap kali membahas penyakit Meyra. "Tuh, suasana jadi gak enak 'kan? Udah yuk, makan. Tiba-tiba aku laper. Kamu masak apa?" "Kamu tau aku gak bisa masak. Jadi cuma bikin sup sama ayam goreng. Mau makan sekarang?" "Mau pake banget, yuk ..." Meyra bangkit dan menarik tangan Wanda. ** Nathan menatap anak kecil yang berada di pangkuan Prita. Gadis kecil cantik dengan mata agak sipit. Mirip dengannya. Tetapi jika diperhatikan lebih lanjut, Tata juga memiliki lekuk blasteran. Di saat yang sama, Tata juga tengah menatapnya. Sangat menggemaskan. "Selama ini kamu di mana?" tanya Nathan. Saat itu mereka menikmati makan siang bersama usai dari rumah sakit untuk tes darah. "Aku sempat menetap di Makassar. Tapi setelah melahirkan aku balik ke Surabaya. Syukurlah setelah melamar di sana sini aku dapat tawaran kerja yang bagus." "Kalo kamu kerja, dia sama siapa?" "Aku ada pengasuh di rumah. Tata juga anaknya pinter, gak rewel." Prita tersenyum. Nathan hanya manggut-manggut. Meski kini di depannya ada orang lain, pikirannya justru tertuju pada Meyra. Calon istrinya itu tak memberinya kabar sejak kemarin. Nomornya pun tidak aktif. "Nathan?" "Kenapa?" Pria itu masih terlihat kesal. "Apa rencanamu selanjutnya? Maksudku setelah kamu tau kalo Tata itu ..." "Kamu ingin aku gimana?" Nathan balik bertanya sambil memberi tatapan lurus yang mampu membuat Prita kesulitan berpikir. "Aku gak nuntut apa-apa. Kamu mau akui Tata, aku udah seneng." "Cuma itu?" Nathan tampak jelas tidak percaya. "Iya. Kamu pikir apa lagi? Minta kamu nikahin aku? Aku sadar diri kok, lagian udah ada Meyra juga." Prita berbicara sambil sesekali menghibur anaknya. "Jadi kamu gak perlu khawatir rencana pernikahanmu akan rusak. Aku ikut bahagia untuk kalian ..." tambah wanita dengan outfit tosca soft itu. Nathan menghabiskan minumannya. Ia mengamati raut wajah wanita yang pernah menjadi primadona di hatinya. Dulu, Prita adalah wanita yang suka membantah, seenaknya sendiri tapi sangat perhatian padanya. Kini wanita itu telah menjelma menjadi seorang ibu muda. "Kalo kamu sibuk, biar aku yang ambil hasil tesnya besok," ujar Prita menawarkan diri. "Aku gak sibuk. Besok aku akan ambil sepulang dari kantor." "Ya udah kalo gitu." Prita memberi anggukan setuju. "Apa boleh aku gendong Tata?" "Pasti boleh. Ayo, Tata Sayang, gendong papa ya ..." ucap Prita senang. "Pa ... Pa ..." Tata bersuara dan membuka kedua tangannya. Untuk pertama kalinya, Nathan merasakan desiran aneh dalam hatinya. Apa ini rasanya menjadi seorang ayah? *** Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD