Beberapa saat sebelumnya, di apartemen Meyra.
"Kamu mau ke cafe sekarang? Aku mau ikut mumpung libur," ujar Wanda yang masih memakai piyama dan duduk di sofa bersama kucing kesayangannya.
"Ya udah, ayo mandi. Ini udah hampir jam sebelas." Meyra meletakkan dua mug masing-masing berisi s**u dan coklat panas di meja. Mereka sama-sama kesiangan, hal yang sering terjadi di kala weekend. Wanda akan merayu Meyra agar menemaninya menonton drama Korea favoritnya hingga dini hari.
"Gak ada option lain?" tanya Wanda sembari merenggangkan otot. Flo menatap si pemilik lalu mengeong sebelum berpaling pada bantal empuk di sudut ruang tengah.
"Ada kok. Semprot parfum deh yang banyak. Kebetulan kamu baru beli parfum 'kan?" Kini Meyra langsung beralih pada dapur guna mengambil roti panggang untuk sarapan mereka.
"Gak mau ..." Garis bibir Wanda menurun. Ia sangat sayang pada parfum yang khusus dipesannya import.
"Kalo gitu mandi, Cantik." Wanita dengan setelan maroon itu mengerling.
"Ya udah iya. Tapi jangan ditinggal lho. Nathan mau jemput?"
"Kita pake taksi. Nathan lagi survei lokasi untuk pabrik cabang di luar kota. Nanti malam baru bisa balik."
"Weekend bukannya ngajak nge-date tapi masih sibuk kerja. Hm ..."
Meyra tak merespon komentar sepupunya yang kini melenggang menuju kamarnya. Ia tahu jika Nathan workaholic. Meski begitu, Nathan selalu berusaha menyempatkan waktu agar mereka bisa bertemu setiap hari.
Kesibukan Nathan bukan masalah bagi Meyra. Selama pria itu setia, maka ia akan selalu sabar menunggu waktu yang senggang untuk berbagi cerita.
Tiga puluh menit. Meyra masih duduk manis di sofa, menunggu Wanda bersiap-siap. Ia bangkit tatkala mendengar seseorang memencet bel apartemen. Ketika melihatnya di layar intercom, wajah Bianca terlihat jelas. Tapi ada sesuatu yang tak biasa di wajah wanita itu.
"Bianca, kok gak bilang kalo mau ke sini? Ayo masuk ..." ajak Meyra senang setelah membuka pintu.
Bianca masih mematung di depan pintu. Netranya menatap nyalang pada Meyra. Senyum hangat yang biasanya wanita itu tampilkan hari ini berganti menjadi seringai mengerikan.
"Kenapa cuma berdiri di situ?" Meyra maju, berniat menarik tangan temannya itu.
Plakk!
Namun tak di sangka, Bianca langsung memberinya tamparan keras pada pipi hingga Meyra jatuh terduduk.
Rasa panas pada pipi yang memerah tak sebanding dengan kaget yang Meyra rasakan. Ia masih duduk, mengawasi Bianca yang berdiri dengan angkuh.
"Aku bukan Bianca." Wanita itu maju dengan tatapan mengerikan. Satu tangannya menutup pintu sementara tangan yang lain mengelap bibir bawahnya.
Merasa tidak aman, Meyra mundur. Dengan segera punggungnya menabrak sofa. Tidak ada pilihan, ia harus bangkit dan menghindar. Wanita itu berhasil bangun dan ingin membalikkan badan namun sayangnya Bianca menjambaknya hingga Meyra memekik.
"Bianca, lepas! Ini aku, Meyra ..."
Permintaan Meyra tak lantas membuat wanita itu melepaskannya. Yang ada ia justru dihempaskan hingga lagi-lagi berada di lantai.
"Lihat, sekarang kau ada dibawah kakiku. Aku jauh di atasmu. Kau cantik, aku lebih cantik. Kau baik, aku pun jauh lebih baik. Tapi kenapa Kio selalu ingin dekat denganmu?!!" Bianca kembali menarik rambut panjang Meyra.
"Kamu menyakitiku ..." rintih Meyra. Kepalanya mulai berdenyut.
"Oh ya? Tapi aku belum puas hingga aku berhasil merusak wajahmu," ucapnya dengan tatapan penuh kebencian.
Pintu kamar Wanda mendadak terbuka. Wanita itu berjalan keluar sambil membenahi pita pada bagian pundaknya. Awalnya ia tak menyadari akan kehadiran orang lain di ruang tamu. Namun tak perlu menunggu waktu lama hingga ia menemukan Meyra dalam posisi terjebak di bawah tamu tak diundang.
"Mey, aku boleh-" Kalimatnya terhenti.
"Wanda lari!!" ucap Meyra nyaris berteriak.
Bukannya menuruti apa yang Meyra katakan, namun ia justru membeku di tempat. Perhatian Bianca teralihkan, ia melepas cengkeraman pada rambut Meyra lalu berdiri.
"Siapa kamu?!" hardik Wanda setelah rasa terkejutnya sirna.
Bianca tersenyum miring. Ekspresinya tampak bengis sepenuhnya. Tangannya merogoh sesuatu dari dalam kantong jeans bagian kanan. Pisau lipat. Ia menghunuskan benda tajam dan mengkilat itu pada Wanda.
Dengan satu gerakan cepat, Wanda menyambar ponsel Meyra yang tergeletak di meja. Tangannya gemetar. Ia ingin menghubungi seseorang namun karena terlalu panik, ponsel itu justru jatuh.
Bianca terus mendekat, ia bersiap untuk menyerang Wanda tanpa ada keraguan sedikit pun. Wanda mengambil ponsel di lantai dan mundur teratur.
"Kau, membuatku kesal. Aku benci pada orang yang mengganggu ketika aku sedang bersenang-senang," ujar Bianca dengan wajah datar.
Wanita itu terus mundur hingga tak sadar jika kakinya harus bertemu karpet. Ia pun tersandung. Kesempatan ini digunakan oleh Bianca untuk melancarkan aksinya. Wanda pasrah dan memejamkan mata.
Jleb. Bianca berhasil menusukkan pisau itu. Tetapi Wanda tak merasa sakit atau perih sama sekali
Ketika Wanda membuka mata, ia baru menyadari jika Meyra menahan pisau itu dengan tangannya sendiri. Darah mengucur dari luka yang cukup dalam.
"Meyra, tanganmu ..."
"Bianca, please stop! Kita berteman. Jangan seperti ini," pinta Meyra sembari menahan pisau yang tak juga Bianca turunkan.
"Cantik, berhati malaikat, huh? Kau membuatku muak!!" Bianca mendorong Meyra dengan keras hingga kepalanya terbentur ujung meja.
"Meyra!!" Wanda ingin maju untuk menolong sepupunya namun Bianca dengan cepat mengarahkan pisau tepat pada lehernya.
"Urusan kita belum selesai."
"Apa salah Meyra? Apa dia pernah jahat sama kamu?!!" bentak Wanda. Melihat kondisi Meyra, ketakutan wanita itu menghilang. Ia tak lagi peduli dengan keselamatannnya.
Wanda menatap awas pada wanita psyco yang kini menatapnya nanar. Perlahan ekspresi Bianca berubah. Ia terlihat kebingungan dan menjatuhkan pisau penuh darah begitu saja. Bahkan ia terkejut saat mendapati Meyra berusaha duduk dengan tangan terluka.
"Meyra, kamu kenapa?" Bianca menghampirinya dengan sorot mata penuh kecemasan.
Wanda mendekati mereka dan langsung merangkul sepupunya yang terlihat pucat. Ia menepis kasar tangan Bianca yang ingin memeriksa keadaan Meyra.
"Kamu masih bisa tanya kenapa?! Apa kamu gak waras? Pergi!!" hardik Wanda dengan keras.
"Tapi aku-"
"Pergi atau aku panggil polisi!!"
Mata Bianca basah. Ia tak tahu apa yang terjadi hingga mendadak ia berakhir di apartemen ini. Ia masih menatap Meyra dengan pandangan tak rela.
Ini bukan pertama kalinya. Bianca sudah sering mengalami hal seperti ini. Seakan tertidur dan saat terbangun ia akan berada di tempat yang tak pernah ia ingat.
Tak lama kemudian Bianca benar-benar keluar dari apartemen, meninggalkan pisau berdarah di sudut ruang tamu. Meyra mengernyit, denyutan di kepalanya terasa sangat kuat hingga perutnya bergejolak.
"Ayo, aku bantu," ujar Wanda.
Mereka berhasil mencapai sofa meski tubuh Meyra hampir rebah. Wanda menatap sepupunya yang pucat itu khawatir. Darah juga belum berhenti keluar dari telapak tangannya.
"K-kita harus ke rumah sakit."
Meyra tersenyum tipis sebelum akhirnya kehilangan kesadaran. Tak ayal Wanda semakin panik. Tanpa sadar air matanya menetes, dengan tangan gemetar ia men-scroll kontak di ponsel Meyra yang ia genggam.
"Nathan ... Mana nomor Nathan? Gak, Kio ..." Wanda segera men-dial kontak pria tampan itu dan ia sedikit lega karena Kio langsung menjawabnya.
"Halo?"
"Kio, tolong ... Meyra ..."
"Wanda? Ada apa? Kenapa dengan Meyra?"
"Aku gak punya waktu untuk cerita. Cepet kamu ke sini!" panik wanita dengan dress soft green itu.
***
Bersambung.