"Dia orang baik ..."
Pembelaan itu Meyra lontarkan setelah Wanda memintanya untuk menjauhi Bianca. Wanita itu jengah. Ia telah hafal jika Meyra keras kepala. Tapi kali ini ia harus lebih keras, demi keselamatan Meyra tentunya.
"Untuk kali ini kamu salah, Mey. Dia bukan orang baik."
"Jangan menuduh tanpa bukti. Itu gak baik." Meyra tak lagi menatapnya. Ini sebagai tanda jika sepupunya itu tidak ingin berdebat.
"Kamu bisa tanya Nathan atau Kio. Ehm, Lodi juga tau." Wanda merendahkan suara di kalimat terakhir.
"Apa hubungannya dengan mereka?" Lagi-lagi Meyra menoleh.
Setelah berpikir sebentar, Wanda mulai menceritakan tentang pertemuannya dengan tiga pria itu tadi siang. Meyra hanya mendengar, tanpa memotong. Namun wajahnya menunjukkan ekspresi tidak yakin.
"Tapi kenapa tadi Nathan gak bilang apa-apa sama aku?" tanya Meyra seusai Wanda menyelesaikan ceritanya.
"Aku gak tau. Padahal tadi waktu di bistro dia dan Kio yang paling panik," sungut Wanda. Ia menggamit remote AC yang teronggok di meja. Perbincangan mereka malam itu membuat suhu di sekitar terasa panas.
"Aku gak akan percaya sebelum ada bukti. Kamu pasti tau itu."
"Aku tau. Tapi seenggaknya gak usah ketemu sama dia dulu."
"Jangan terlalu khawatir. Aku bisa jaga diri." Meski tak setuju, Meyra tidak ingin Wanda terus risau. Ia masih yakin Bianca bukanlah si peneror itu.
"Yang jelas aku udah ingetin kamu ya. Kalo sampe nanti ada apa-apa, aku gak mau disalahin sama Nathan," ungkap Wanda seraya berdiri. Ia gemas pada Meyra dan itu membuatnya lapar. Padahal mereka baru menghabiskan nasi karaage sebagai makan malam tidak sampai satu jam yang lalu.
"Mau ke mana?" Tatapan Meyra mengikuti arah gerakan Wanda yang menuju dapur.
"Nyemil trus tidur. Capek banget hari ini."
Wanda menghilang setelah menjawab. Meyra melihat jam dinding bergaya retro di dinding yang menunjuk pada pukul sembilan lewat sepuluh menit. Ia yakin Wanda takkan tidur di jam ini. Hampir setiap malam ia memergoki sepupunya itu menonton netflix atau drama Korea hingga melewati tengah malam.
Meyra meraih ponsel. Ia ingin menelepon Nathan untuk sekedar mengobrol. Tapi keinginan itu perlahan menghilang saat menyadari pesan terakhirnya setengah jam lalu belum juga Nathan baca.
**
Kio bangkit dan berjalan menuju ke arah wanita bernama Shannon meski Frans telah memberinya peringatan. Tak peduli apa kata temannya itu, karena rasa penasarannya jauh lebih besar.
Di sudut club malam, Shannon duduk bersama pria berpenampilan nyentrik. Tangannya yang kekar merengkuh bahu Shannon tanpa ada penghalang sehelai benang pun.
Selaras dengan makin dekat jarak mereka, Kio semakin yakin jika wanita itu sama persis dengan Bianca. Bak pinang dibelah dua. Dan sepertinya bukan hanya ia seorang yang merasa familiar.
Begitu menyadari Kio sudah berdiri di dekatnya, Shannon beranjak dari kursi empuk, melepas rengkuhan si pria nyentrik dengan gerakan sedikit kasar.
"My Prince, kau di sini?" Shannon mengunci kedua tangannya pada leher belakang Kio. Tatapan mereka bertemu. Dan Kio sepenuhnya menyadari jika itulah yang membedakan Bianca dan Shannon. Bianca tak pernah menatapnya dengan cara seperti itu.
"Bianca, lepas! Ngapain kamu di sini?" Kio melepas kedua tangan Shannon.
"Jangan sebut nama itu!!" Tatapan penuh gelora yang sempat wanita itu tunjukkan mendadak berubah menjadi kemarahan.
"Shannon? Namamu Shannon?" Kio meralat namun wanita itu sudah terlanjur kesal.
"Ya, ingat namaku, Babe. Hanya namaku." Shannon menyeringai sembari menepuk-nepuk pipi Kio perlahan.
Tak menunggu Kio merespon, Shannon menghilang di antara pengunjung di lantai dansa. Kio berusaha mengejar, ada banyak hal yang ingin ia tanyakan namun wanita itu sudah tidak terlihat.
Ketika ia mengalihkan pandangan ke belakang, ternyata pria nyentrik yang tadi bermesraan dengan Shannon telah asyik dengan wanita berbusana minim lainnya. Bahkan posisi mereka lebih berani. Kio bisa menyimpulkan jika pria itu hanya salah satu penikmat 'one night stand' yang kebetulan bertemu Shannon.
Tapi, siapa Shannon sebenarnya? Kenapa dia juga mempunyai tanda lahir pada leher yang sama persis dengan yang Bianca miliki?
Puzzle ini semakin rumit, namun Kio bertekad untuk mencari tahu. Jika perlu, ia akan membongkar lalu mengaturnya ulang semua kepingan. Semua, demi Meyra.
**
Hari minggu, Kio yang libur keluar dari kamar lebih siang dari biasanya. Offday kali ini ia sedang ingin bermalas-malasan. Pria itu menuju balkon dan tak sengaja melihat bundanya sedang berbicara dengan tetangga sebelah yang tak lain adalah mamanya Bianca.
Pembicaraan mereka tampaknya serius. Kio mengamati dengan lebih seksama, Nyonya Hendarto terlihat sedang menangis. Tetapi sayangnya tak bisa mendengar percakapan mereka.
Nyonya Anggun pulang ke rumah beberapa menit kemudian. Saat itu Kio sudah sibuk dengan laptopnya di meja makan, sembari menyantap sarapan yang dirapel dengan makan siang.
"Bunda dari mana?" tanya Kio meski sebenarnya ia sudah tahu jawabannya.
"Dari rumah Tante Vindy. Kasihan dia lagi panik. Bianca gak pulang dari semalam."
Sesaat kemudian wanita itu memanggil pelayan agar membuatkan minuman dingin untuknya. Kio mendadak teringat tentang sosok Shannon yang tanpa sengaja ia temui di club tadi malam.
"Gak pulang? Bukannya kemarin Bianca sakit?" Kio menutup laptop lalu menggesernya ke samping.
"Iya. Bunda juga baru tau kalo ternyata selama ini Bianca sakit."
"Demam 'kan?" Kio mengulang informasi yang Nyonya Vindy berikan.
"Kalo cuma demam, Tante Vindy gak akan sepanik ini."
Kio melanjutkan makannya dan mendengarkan dengan penuh perhatian. Hingga ibundanya menceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi pada teman masa kecilnya itu.
Sejak dulu, Bianca selalu mudah mendapatkan teman. Pribadinya yang hangat membuat semua orang menyukainya. Hingga salah seorang teman pria di kampusnya mengungkapkan rasa cinta. Bianca yang masih ingin fokus pada pendidikan menolak. Namun tidak ada yang menyangka jika penolakan itu akan berujung fatal. Beberapa hari setelahnya, Bianca diserang, dilecehkan juga dianiaya hingga koma selama hampir dua minggu.
Mendengar cerita ibunya, Kio hampir saja tersedak. Untunglah segelas air putih sudah tersedia di depannya.
"Bianca mengalami trauma setelah mengalami kejadian itu?"
"Iya. Dan walaupun kejadiannya telah berlalu tiga tahun, bukan berarti kondisi psikis Bianca membaik. Ada saat di mana Bianca akan memunculkan karakternya yang lain. Jauh berbeda dengan Bianca yang ceria dan manis."
"Shannon ..." Suara Kio sangat lirih namun cukup membuat ibunya menoleh dengan heran.
"Namanya memang Shannon. Dari mana kamu tau?" tanya Nyonya Anggun.
"Nanti Kio cerita. Sekarang Kio harus pergi cari Bianca, Nda." Kio meneguk air putih hingga gelasnya kosong sebelum beranjak cepat menuju kamarnya.
Bisa jadi benar jika yang mengirim pesan teror padanya dan Meyra adalah kepribadian Bianca yang lain. Tapi apa motifnya?
Kio yang baru saja mandi satu jam lalu memutuskan untuk langsung mengganti baju. Secepatnya ia harus menemukan Bianca. Entah mengapa firasatnya buruk.
Usai menyambar kunci mobil, Kio hendak mengambil ponsel di atas nakas. Namun benda pipih berdering, ada nama Meyra di layarnya.
"Halo?" Kio langsung mengangkat.
"Kio, tolong ... Meyra ..." Itu suara Wanda, diiringi isakan.
***
Bersambung.