bc

LA COSA NOSTA (Love and Revenge)

book_age18+
2
FOLLOW
1K
READ
badboy
goodgirl
badgirl
gangster
drama
city
crime
like
intro-logo
Blurb

Kematian seorang mafia bernama Kang Gobang telah membuka gerbang awal kemerdekaan Gangster Elang Merah merebut wilayah yang telah lama dia kuasai. Semua anak buahnya satu persatu di bunuh dan kini tersisa Alex dan Rivaldo yang sebelumnya telah di angkat menjadi Ketua kelompok mereka.

Berdasarkan saran Alex, Rivaldo pun bersedia membunuh ketua Elang Merah sebelum akhirnya mereka pensiun menjadi seorang mafia. Tetapi Rivaldo tidak menduga, bahwa wanita yang berhasil membuatnya jatuh cinta adalah putri dari ketua Elang Merah yang telah mengincarnya untuk membalaskan kematian ayahnya.

Dan pada akhirnya cinta Rivaldo tak bisa di tafsirkan hingga dendam berubah menjadi tangisan maut.

chap-preview
Free preview
Hujan Malam
Hujan deras ibarat ratusan peluru yang menakutkan. Kilat yang tajam dan guntur menggelegar menghasilkan mimpi buruk pada penderita demam.  Bagi sebagian orang hujan turun malam ini menjadi berkah dan sangat menguntungkan bagi pekerjaan mereka, namun bagi pria pengamen seperti Aldo hujan membawa kepanikan, sebab selain adiknya menjerit keademan karena sakit demam, atap rumah yang bocor pun seakan mengubah rumahnya menjadi kolam yang terisi air pelan-pelan.  Ibunya sendiri tengah sibuk menyiapkan air hangat dari sebilah kayu yang susah untuk di hidup kan, sebab untuk membeli gas uang mereka tidak cukup hanya cukup di belikan beberapa potong tahu tanpa nasi untuk mengganjal perut.  Semenjak ayah kandungnya pergi dengan wanita lain ketika dia berumur sebelas tahun, Aldo pun mencoba melawan hidup dengan cara mengamen di jalan-jalan, pasar dan terminal dan bertekad menjadi anak berbakti sebagai tulang keluarga mereka.  Tidak terlalu menyenangkan ketika dia mengingat peristiwa malam itu, saat ayahnya yang sebelumnya berjanji akan menjadi pemimpin yang baik bagi keluarga saat menikah dengan ibunya menjadi pria kejam tanpa perasaan meninggalkan seorang istri dan kedua anaknya tanpa meninggalkan apa-apa selain derita.  Aldo menangis sambil mengucapkan sumpah serapah di hatinya bahwa sebelum mati dia akan membalas perlakuan buruk ayahnya sampai kapan pun dan tanpa ampun.  Esok harinya, pagi-pagi sekali tanpa sarapan dia pun berpamitan pergi sambil menenteng gitar kecil bersenar enam di temani ke empat sahabat sedari kecilnya.  Di gang-gang sempit Cipedek, Jagakarsa, Jakarta Selatan, rumah mereka berdiri sudah lama hingga cat temboknya telah mengelupas. Aldo lahir dari rahim kampung di tepi kota itu dua puluh tahun yang lalu, tumbuh besar dengan urat dan tulang yang suka bertualang. Karena biaya dia putus sekolah dan hanya sekitar lima bulan merasakan bangku SMA.  Kini dia dan keempat temannya berangkat ke pasar sekitar jam enam pagi menggunakan bis kota yang bisa mereka naiki dengan gratis, membawa perlengkapan mengamen dari gitar hingga gendang sebagai bekal alat tempur mereka nanti.  Sampai di pasar yang becek karena hujan semalam, di antara ratusan pedagang yang berjejer dan pembeli yang mondar-mandir mencari kebutuhannya, mereka mainkan lagu dengan musik yang sekiranya dapat menyenangkan para pendengar terutama para pedagang yang mereka tuju, tak segan pula para pedagang ikut menggoyang kepala dan ikut bernyanyi. Setelah satu lagu selesai, uang perakmu pun mengisi kantong plastik permen yang mereka siapkan, ada pula yang mengisi kantong plastik mereka dengan sebatang rokok, dan ada juga yang mengusir sebelum mereka memainkan musik.  Paling pulang nanti mereka bisa membawa setidaknya sepuluh ribu per hari. Itu sudah lebih dari cukup hingga Aldo dan keempat temannya bahagia sepanjang jalan. Mereka tidak tahu bahwa setiap lokasi yang ramai seperti pasar, terminal di Jakarta di jaga oleh preman-preman yang menjaga ketertiban yang menarik pajak setiap harinya kepada para pelaku usaha di tempat itu, hingga akhirnya mereka di tangkap oleh para preman pasar ketika ada pembeli yang melapor dompetnya di colong seseorang yang tidak dia ketahui tetapi menuduh mereka sebagai pelakunya.  Mereka di gebukin satu persatu hingga bonyok meskipun telah menjawab mereka bukan pelakunya. Alat-alat musik mereka di rampas dan di jadikan alat untuk menggebuk mereka, akhirnya hancur tanpa sisa.  Tetapi pembeli yang mengaku dompetnya hilang itu belum iba juga ketika darah di pelipis dan ujung bibir mereka mengucur, ibu itu belum puas melihatnya, baginya hukuman yang pantas bagi mereka adalah hukum penjara. Dia meminta kepada para preman itu untuk membawa mereka ke kantor polisi agar di proses lebih lanjut meskipun buktinya tidak ada.  Satu dari preman itu pun menghubungi polisi, dan menjelaskan kronologinya dari awal hingga akhir, namun seketika handphone yang preman itu gunakan untuk menelepon polisi di rampas oleh pria berbadan besar tinggi yang memiliki perawakan tak kurang lebih seperti pemain gulat di Eropa sana.  Mukanya pun seram, banyak bekas jahitan di kedua belah pelipisnya. Dan tiba-tiba para preman itu menunduk kepada pria seram itu, dan panggilan kepada polisi tadi ia matikan.  Siapa sebenarnya dia? Aldo dan keempat temannya bertanya-tanya dalam hati dengan ketakutan. Ibu yang melapor itu pun langsung pergi tanpa meninggalkan satu patah kata apa pun.  Para preman itu memanggilnya “Kang, Kang Goban” lengkapnya.  “Ada apa ini?” tanya Kang Goban bersuara berat. Semuanya diam menunduk tidak ada yang berani memandang mukanya, hanya satu preman yang menjawab dia adalah ketua dari preman pasar itu.  “Merekan mencuri di pasar, Kang!”  “Serahkan buktinya kepadaku sebelum ke polisi!” Pinta Kang Goban sambil duduk di sofa butut tempat basecamp mereka. “Ti-tidak ada Kang…” jawabannya terbata-bata.  Gelas kopi sisa separuh di lempar ke arah mereka yang berdiri berjejer, muka Kang Goban tambah seram layaknya gladiator Roma, mengepal telapak tangannya yang gedenya seperti palu Brahmana. Setelah sekian lama anak buah bodohnya ini bertindak salah, kali ini dia akan memberi mereka pelajaran yang sesuai dengan apa yang telah mereka perbuat.  “Kalian… Hajar mereka hingga bonyok!” pintanya pada Aldo dan keempat temannya.  Di antara mereka, hanya Aldo yang berdiri dengan penuh amarah. Dia tidak bertanya dua kali lagi tentang benar tidaknya perintah pria yang di sebut Kang Goban itu, seketika saja dia sikat ketiga preman bertubuh dua kali lebih besar darinya itu sampai mengucur darah di bibir mereka. Lalu dia katakan puas kepada Kang Goban setelah pegal menghajar mereka. “Sekarang apa lagi yang kamu inginkan?” tanya Kang Goban. “Ganti rugi alat musik kami yang telah hancur ini…” jawab Aldo tidak takut.  “Lima ratus cukup?” tanya Kang Goban. “Cukup,” jawab Aldo.  Untuk ketiga anak buahnya itu, Kang Goban minta agar mereka bertanggung jawab jika tidak ingin di pecat secara tidak terhormat. Dengan cepat-cepat mereka mencabut beberapa lembar uang dari saku mereka dan menyarahkannya pada Aldo ketika telah genap lima ratus ribu.  Lalu Kang Goban berdiri memarahi mereka, suaranya bagai gelegar guntur hujan semalam, bahkan lebih menakutkan dari pada itu.  Bahwa para preman itu tidak tahu diri dan telah mengubur pesan yang sering Kang Goban katakan. Padahal sebelum mereka di pungut menjadi preman di bisnis Kang Goban ini, mereka dulunya pencopet dan penjual asongan jalan.  “Jadi jangan berlagak kejam terhadap orang lemah. Ingat, bahwa aku tidak suka…” Sambung Kang Goban. Ketika selesai mengomeli, dan memberikan petuah-petuah singkat kepada anak buah bodohnya, Aldo dan temannya pun pulang selesai Kang Goban mengucapkan minta maaf untuk mewakili kesalahan anak buahnya. Tidak lupa Kang Goban titipkan pesan agar mereka tidak jera untuk datang kembali mengamen di pasar wilayah kekuasaannya tersebut.  Selepas itu, Kang Goban pun pulang. 

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
40.9K
bc

Beautiful Pain

read
13.6K
bc

Revenge

read
35.5K
bc

MY LITTLE BRIDE (Rahasia Istri Pengganti)

read
19.3K
bc

Oh, My Boss

read
387.0K
bc

Penghangat Ranjang Tuan CEO

read
33.8K
bc

Hati Yang Tersakiti

read
6.8K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook