Erick merasa lelah menemani Sasa membeli baju-baju bermerk yang harganya cukup fantastis bagi kalangan menengah ke atas. Rasa sayang Erick pada Sasa membuatnya rela tidak masuk ke kantor demi menemani wanita itu belanja. Karena rasa sayangnya pula, dia mengabaikan kekurangan Sasa yang selalu tampil ngejreng dan cenderung norak.
“Capek ya?” tanya Sasa seraya menggandeng lengan Erick.
Erick menggeleng. “Tidak kok.” ujar Erick, mencium kening Sasa.
“Rick,” Sasa membelai lembut lengan Erick.
“Ya,” sahutnya lembut.
Mata mereka saling bersitatap. Kemudian Sasa tersenyum. “Minggu depan aku mau mengenalkan kamu ke keluargaku.”
Erick menelan ludah.
Sasa kembali tersenyum. “Kita sudah cukup lama berhubungan. Keluargaku perlu tahu siapa kekasihku dan keluarga kamu juga harus tahu kalau aku kekasih kamu, Rick.”
Erick tersenyum kaku. “Ya, harusnya memang begitu. Tapi, aku belum bisa bertemu keluargamu, Sa.”
Seketika wajah Sasa memerah. “Kenapa?” tanyanya dengan nada kecewa. Perkataan Erick melenyapkan angan-angannya untuk menjadi istri Erick. Nyonya Erick Wira Gunawan. Itu mungkin semacam sebuah obsesi atau ambisi bagi Sasa.
“Belum saatnya.” Erick tidak tahu apa yang harus dikatakannya lagi. Dan dia tahu kalau Sasa terluka karena perkataannya. Tapi, mau bagaimana lagi, dia tidak mungkin mengenalkan Sasa sebagai kekasihnya pada Amarta. Itu sama saja dengan membunuh Amarta dengan carter.
“Kapan saat yang tepat untuk aku mengenalkanmu pada keluargaku? Atau kamu mau aku ke rumah orang tuamu dulu.”
Erick menggeleng. “Jangan—” ada nada kegugupan dalam suara Erick. Jangan sampai Sasa datang ke rumahnya dan mengaku sebagai kekasihnya pada ibunya. Amarta akan marah besar dan dia semakin menyalahkan Erick. Dan bisa jadi posisi Ilona berada di atas angin kalau sampai Amarta tahu Erick memiliki kekasih.
“Maksudku, tidak bisa secepat itu, Sayang. Butuh waktu. Aku harus menceritakan tentang dirimu dulu sebelum ibuku tahu tentangmu.”
“Oh, oke.” Sasa berusaha menyembunyikan kekecewaannya. Jawaban Erick sama sekali tidak mengurangi perasaan kecewanya.
“Dengarkan aku,” Erick menarik tubuh Sasa mendekat. “Aku tidak bermaksud apa-apa, Sasa. Aku mencintaimu dan hanya kamu yang ada di hatiku. Tapi ibuku itu sangat otoriter. Aku tidak bisa tiba-tiba membawamu ke rumah.”
“Iya, aku paham kok.” Sasa memeluk Erick.
“Makan yuk! Aku lapar.” Erick membelai rambut curly Sasa.
Sasa mengangguk.
***
Kamila menatap atap rumah sakit dengan tatapan kosong. Dulu, tubuhnya berisi dan cantik, namun sekarang tubuh itu hanya kulit kering. Sakit yang dideritanya merenggut semua kecantikannya. Wajahnya kini tirus dan kering. Dan Arun adalah satu-satunya orang yang mau merawat Kamila. Orang tua Karmila berada di luar pulau Jawa dan Karmila tidak ingin membuat orang tuanya khawatir.
“Yang jawab telepon suami Ilona.” kata Arun seraya membelai lembut kepala Kamila.
Dahi Kamila mengerut. “Suami?”
Arun mengangguk.
“Ilona sudah menikah?” Kamila tampak tak percaya kalau mantan sahabatnya itu sudah menikah.
“Aku tidak tahu. Pria itu mengaku sebagai suami Ilona dan memintaku untuk tidak menghubungi Ilona lagi.” Arun mengangkat sendok yang berisi bubur dan menyuapkannya pada Kamila.
“Ilona tidak mungkin menikah secepat itu.” Kamila menggeleng tak percaya.
“Mungkin itu temannya atau saudaranya untuk berpura-pura menjadi suaminya.” Arun menimpali dengan harapan pemikirannya adalah yang memang benar terjadi.
Jauh dikedalaman lubuk hatinya, Arun merasa bersalah pada Ilona. Tapi dia tidak bisa menolak pesona Kamila waktu itu. Karmila memiliki kaki jenjang yang indah, wajah cantik rupawan ditambah rambut panjang bergelombang berwarna cokelat tua menambah kecantikan Kamila. Tapi, ya, begitulah cara Tuhan untuk mengambil kembali kecantikan makhluknya. Sekarang Ilona bahkan jauh lebih cantik dari Kamila. Terkadang Arun menyesali kenapa dia bisa sebodoh itu menusuk Ilona dari belakang. Kenapa dia bisa melepaskan Ilona dan memilih Kamila. Dan penyesalan selalu datang di akhir.
“Aku kangen Ilona, Run. Aku ingin minta ma’af sama dia.” mata Karmila berkaca-kaca.
Aku pun begitu, gumam Arun.
“Kamu jangan banyak berpikir, Mil. Aku akan berusaha bertemu Ilona. Aku akan ke rumah Ilona. Aku akan berusaha buat bawa dia ke sini.” Arun tersenyum mencoba meyakinkan Kamila.
Kamila menatap Arun dengan mata berkaca-kaca.
“Ayo makan!” seru Arun kembali menyuapi Kamila.
“Kamu pasti menyesal kan setelah melepaskan Ilona? Aku sakit dan tidak secantik dulu. Sekarang Ilona pasti jauh lebih cantik dari—“
“Usttt...” Arun menggeleng. “Tidak boleh ngomong begitu. Rasa sayang aku ke kamu tidak akan berubah, Mila. Aku sayang sama kamu apa adanya.”
“Aku minta ma’af.” air mata jatuh di pipi kanan Karmila.
“Untuk apa? Kamu tidak perlu minta ma’af. Aku bahagia denganmu, Mila. Apa pun keadaanmu.” Arun mengusap air mata di pipi kanan Karmila.
“I love you.” Kamila menggenggam sebelah tangan Arun.
“I love you too.” balas Arun memeluk Kamila.
Terkadang apa yang dikatakan mulutnya tak sama dengan hatinya. Arun sadar bahwa dia masih menginginkan Ilona. Dia sadar bahwa dia merindukan mantan kekasihnya itu. Andai waktu dapat diputar. Tapi demi sebuah gengsi, Arun akan tetap bersama Karmila. Kemarin dia berpikir bahwa apa yang menimpa Kamila adalah sebuah karma. Karma karena telah menyakiti Ilona. Orang bilang, do’a orang yang tersakiti akan dikabulkan Tuhan. Mungkinkah Ilona meminta Tuhan membalaskan rasa sakitnya dan Tuhan memberikan balasan pada Kamila? Arun mengenyahkan pemikiran negatif itu. Ilona orang baik. Dia tidak akan meminta hal buruk untuk Kamila mengingat dulu saat mereka masih bersahabat karib, Ilona begitu menyayangi Kamila. Dia selalu meminta Arun membantu Kamila kala wanita itu kesusahan. Menyuruh Arun menjemput Kamila. Menemani Kamila hingga tanpa sadar Ilona memberikan jalan kepada Arun dan Kamila untuk saling jatuh hati.
“Sekarang kamu makan ya,” Arun melepaskan pelukannya dan kembali menyuapi Kamila.
Kamila mengunyah buburnya pelan. “Aku harap Ilona datang sini. Aku ingin minta ma’af.”
“Ya, kamu tenang saja, Mila. Aku akan mencari Ilona. Aku akan ke rumah Ilona. Hari ini aku berencana mencari Ilona. Demi kamu.” Arun merasa bersalah karena mengatakan ‘demi kamu’. Dia mencari Ilona dan berniat menemukan Ilona karena dia ingin mendengar penjelasan Ilona tentang pria yang mengaku sebagai suaminya. Lebih kepada untuk dirinya sendiri bukan untuk Kamila. Arun berharap itu hanya kebohongan belaka. Dia ingin bertemu Ilona untuk memastikan kebohongan bahwa Ilona telah memiliki suami. Dan lagi, dia merindukan Ilona. Merindukan mantan kekasihnya itu. Rambut lurus hitamnya, mata cerahnya, kebaikan dan ketulusannya. Masihkah Ilona memiliki kebaikan dan ketulusan yang sama setelah dia dan Kamila mengkhianatinya?
***