7. Oh, My Secret Wedding!!!

1159 Words
Vino memang suka menggoda Lania. Tapi sejak mereka resmi menikah sikap Vino padanya malah semakin berani dan menjadi-jadi untuk menggoda Lania secara terus menerus. Tanpa aba-aba dan bahkan terkadang tidak kenal tempat. "Huuh ... Bagaimana bisa aku hidup dengan orang seperti dia!" gerutu Lania dengan kekesalan yang sudah memenuhi hatinya. "Bisa-bisanya dia melakukan hal seperti itu, hanya untuk bersenang-senang!" Lania masih saja mengomel sambil berjalan cepat. Dia tidak habis pikir dengan tingkah Vino yang menyebalkan itu. Pasalnya, Lania sangat mengerti jika apa yang saat ini Vino lakukan, semata-mata hanya untuk membuat Lania kesal dan Vino baru akan merasa sangat puas jika sudah berhasil membuat Lania kesal. "Lalu, dengan bodohnya. Aku malah terus terpancing atas segala yang ia lakukan!" Begitulah yang tersirat di dalam hati Lania dengan rasa putus asa yang ia rasakan atas perlakukan suaminya yang benar-benar menyebalkan. "Lania.. tunggu!" Vino menyusul Lania dengan setengah berlari. "Hei, Lan.. tunggu!" Lania melirik kebelakang begitu mendengar namanya dipanggil. Meski begitu, ia kemudian tak menghiraukan Vino karena masih merasa sangat kesal, ia pun mempercepat langkahnya dan mengabaikan Vino yang terus berteriak memanggil namanya. "Lania.. tunggu dong!" Kini Lania benar-benar berlari meninggalkan Vino. Ia masih bergidik ngeri dengan tindakan Vino barusan dan tak bisa membayangkan tindakan apa lagi yang mungkin akan berani Vino lakukan. Seperti yang dibayangkan. Vino yang melihat segala reaksi kesal dari Lania pun merasa puas. Ia merasa berhasil menggoda Lania kali ini dengan sangat sukses saat melihat wajah cemberut Lania yang menyegarkan itu. "Ayoo, dong, Lan.. tunggu!" bujuk Vino pada Lania dengan senyuman lebarnya yang terlihat begitu riang. Senyuman Vino merekah melihat Lania yang masih setengah berlari sembari terus menggerutu berusaha membuat jarak sejauh mungkin di antara mereka. Bahkan sekali lihat saja dari apa yang menjadi reaksi Lania, Vino yakin jika Lania saat itu sedang mengutuknya dari jauh. "Lan, Lan, Lania.. tunggu, dong!!" teriak Vino lagi dengan suaranya yang sedikit genit. Terdengar dibuat-buat agar Lania mau menoleh ke arahnya. Tentu saja, itu semua malah membuat Lania semakin merasa tidak nyaman dengan apa yang Vino lakukan. Membuat Lania yang mendengar suara tersebut dari jauh semakin risih. "Apaan, sih, dia? Berisik.." Lania semakin kesal karena Vino yang meneriaki namanya itu terdengar sangat memalukan. "Bikin malu saja!" Lania menutup wajahnya dengan jaket yang dikenakannya. Ia semakin mempercepat langkah kakinya. Lania benar-benar malu dengan tingkah Vino yang memanggil namanya saat itu. Kaki kecil Lania terus mempercepat langkahnya. Lania setengah berlari kecil. Suara Vino yang terus meneriakinya, memanggil namanya, ia abaikan begitu saja seolah tidak mendengar apapun. Ia bertingkah seolah Vino bukan memanggil namanya dan sedikit pun Lania tidak bergeming untuk menoleh ke arah Vino. "Yups... Sampai!!" Lania jelas tiba terlebih dahulu di kantin. Disusul Vino yang terengah-engah mengejar langkah kaki Lania sedari tadi. "Kamu ini, ya.. Lania! Kakimu begitu mungil, bagaimana bisa berlari secepat itu?" Vino mulai menggerutu kesal. Membandingkan tinggi Lania yang tidak sebanding dengan dirinya. Padahal itu adalah hal yang wajar, perbedaan tinggi badan antara wanita dan pria. "Ah.. apa kamu juga tidak dengar teriakan aku sedari tadi? Aku memintamu menungguku Lania." Tampaknya Vino masih tidak rela dengan apa yang Lania lakukan dan sambil terengah-engah atas nafasnya, Vino pun terus mengomel pada Rania. "Itu sih, kamunya saja yang lambat, Vin," cibir Lania pada Vino. Vino cukup tercengang atas jawaban yang Lania sebutkan itu. Lania benar-benar tidak peduli seperti apapun reaksi dari Vino selanjutnya dan Lania kemudian menatapnya sambil mengerutkan keningnya. Setengahnya Lania merasa puas mendengar omelan Vino barusan. Seakan ia telah berhasil untuk membalaskan dendam yang sebelumnya ia rasakan akibat ulah iseng dari Vino. Sementara itu, kekesalan di hati Vino malah semakin menjadi-jadi, akibat dari cibiran Lania tersebut. Sesuatu di dalam hatinya bergetar seakan memacu Vino untuk kembali ingin membuat Lania kesal. Vino pun memutar otaknya, berpikir keras atas apa yang mungkin bisa ia lakukan untuk dendamnya itu. Lalu, seulas senyuman terlihat dari wajah Vino. Senyuman penuh arti seolah merencanakan sesuatu. Vino sudah mendapatkan sebuah ide yang cemerlang demi membuat Lania kembali kesal dan kemenangan pun menjadi miliknya. "Lania, kamu akan menjadi durhaka? Kamu pura-pura tidak mendengar ucapan dari ...." "Maaf!!" tiba-tiba Lania langsung meminta maaf tepat sebelum Vino menyelesaikan perkataannya. Sambungan perkataan yang sebenarnya sudah langsung dapat Lania pahami. "Maaf kan, aku!" ucapnya sekali lagi agar Vino sama sekali berhenti untuk meneruskan ucapannya dan itu berhasil. Vino terlihat puas dengan ucapan maaf yang Lania lontarkan. Bisa gawat jika Vino meneruskan ucapannya. Lania tahu benar seperti apa sikap Vino. Ia mungkin tidak akan segan-segan mengatakan dirinya adalah suami Lania sekali lagi. Apa lagi sebenarnya yang Vino katakan juga ada benarnya. Lania tak seharusnya bersikap seperti itu pada Vino. Meski ia sangat kesal, bagaimana pun Vino adalah suaminya dan jujur, Lania bukanlah tipe wanita yang akan mengabaikan hal tersebut. Sebesar apa pun rasa benci Lania akan sikap dari Vino, ia masih menghargai Vino sebagai suaminya. Terlepas Vino menikah karena terpaksa atau mungkin memang sedikit ada rasa. Setidaknya Lania tidak ingin dianggap menjadi istri yang durhaka. Pada akhirnya kini Vino kembali menang. Saat ia mendengar ucapan maaf dari Lania. Meski tadinya ia sudah kesal setengah hati. Namun, saat ini ia melihat sedikit kesedihan dari pancaran mendung tatapan Lania saat ia meminta maaf pada Vino mengalahkan harga dirinya yang biasanya tetap Lania pertahankan. "Apa aku terlalu kasar padanya ya?" gumam Vino seraya menatap ke arah Lania. Kala itu, Lania masih terdiam. Hanyut dalam pikirannya dan Vino juga akhirnya hanya diam. Tidak enak karena sudah menyinggung durhaka pada Lania. Istri yang sebenarnya dialah yang mulai menggoda Lania. Padahal bukan itu yang membuat Lania terdiam ia hanya diam karena memikirkan hal lain. Tentang cara menyelamatkan kerahasiaan dari pernikahannya di kantor. Bukan sekadar harga dirinya yang meminta maaf terlebih dahulu pada Vino, yang terpenting saat ini adalah hubungan mereka yang masih terjaga dan akan terus menjadi sebuah pernikahan rahasia. "Oh, My Secret Wedding!" gumam Lania menelan harga dirinya yang meminta maaf pada Vino. Ia harus kembali bersabar dengan wajah puas penuh kemenangan dari VIno yang sempat sekilas ia lihat. Meski saat ini Vino juga memperlihatkan sedikit wajahnya yang tertekuk. Bukan hanya sekadar mencegah Vino untuk mengatakan hal sesuka hatinya. Tapi, bagi Lania yang sudah kenal lama dengan Vino sangat mengerti kebiasaan lain yang harus ia hadapi jika Vino sudah benar-benar kesal. Setidaknya Lania tidak kalah telak meski harus meminta maaf kala itu. Senyuman Lania cukup terulas dengan ekspresi hening yang Vino tunjukkan. "Benar, aku melakukannya karena tahu sikap buruknya itu. Bukan sekadar meminta maaf semata dan kini ia juga terlihat menyesal," gumam Lania yang sedikit menikmati ekspresi penyesalan dari Vino. "Benar, bisa bahaya kalau Vino sampai ngamuk nih!" Meski begitu rasa cemas yang Lania miliki masih tidak bisa luput, ia takut jika Vino akan kembali berulah karena sudah membuat suasana hatinya yang semakin kacau. Lania terus bergumam dalam hatinya. Lania tahu persis kebiasaan buruk Vino tersebut. Jika Vino sampai kesal saat ini. Seharian Vino akan mengerjainya dan itu pasti akan sangat melelahkan. Lania tidak ingin meladeni tingkah konyol Vino seharian. "Aku bisa mati kelelahan jika dia melakukan hal aneh lainnya!" "Huft... kenapa jadi aku terus yang mengalah padanya!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD