6. Istriku yang tercinta dan tersayang!

1122 Words
"Menyenangkan melihat wajah seperti itu," gumam Vino yang entah kenapa menyukai wajah cemberut Lania. Ekspresi Lania selalu sama di mata Vino. Selalu memperlihatkan ekspresi senyuman merekah dengan giginya yang berjajar rapih. Senyuman yang bisa langsung menghilang begitu tak ada lagi orang yang melihat mereka dan langsung memasang wajah murka dengan bibirnya yang kerap cemberut. "Setelah ini dia pasti cemberut dan mendiamkan aku!" Benar saja apa yang Vino duga. Lania benar-benar hanya diam dengan bibirnya yang cemberut. Lalu, untuk menghentikan keheningan tersebut. Vino pun bertanya sesuatu pada Lania yang sebenarnya sering Vino tanya, entah karena alasan yang tidak bisa Lania mengerti. "Kamu melihatnya, kan?" tanya Vino memulai pembicaraan setelah mereka keluar dari ruang rapat tersebut. Pertanyaan ambigu dan bisa langsung Lania pahami saat mendengar hal tersebut tanpa perlu penjelasan lebih lagi. "Kamu menatapku seperti itu dari tadi!" timpal Vino lagi sembari menatap Lania yang masih cemberut dihadapannya, dan terlihat begitu menggemaskan saat Lania tak kunjung menjawab pertanyaan dari Vino. "Lania, kamu melihatnya atau tidak?" tanya Vino sekali lagi untuk memastikan tanggapan dari Lania. Padahal Lania pun sebenarnya sudah cukup bosan menjawab hal tersebut, jawaban yang seharusnya Vino ketahui dengan sangat jelas. "Iya.. aku melihatnya." Akhirnya, Lania pun mengatakan hal tersebut dengan ketus. Tanpa perlu menatap ke arah Vino sama sekali. Lalu, di saat Vino mulai mendengus kesal. Lania pun akhirnya melanjutkan kembali ucapannya. "..., dengan sangat jelas," sambung Lania lagi yang mulai sedikit mengalah atas Vino yang sudah sedikit cemberut. Mengalahkan Lania yang sebelumnya sudah lebih dahulu cemberut. Semua itu pun akhirnya membuat Vino tak salah menduga, jika hanya Lania lah yang bisa melihat segala kepalsuan yang ada pada dirinya, sesuatu yang hanya bisa dilihat oleh seorang Lania saja, dan hanya pada Lania pula ia bisa merasa menjadi diri sendiri. "Aku melihatmu dengan sangat jelas, Vino." " Kamu yang berpura-pura memuji, melihatmu yang sok lugu dan tidak mau dibantu. Aku melihat semuanya! Aku bahkan melihat kamu yang risih dengan kerumunan tadi. Kamu hanya memanipulasi mereka. Itu semuanya sangat jelas di mataku, Vin!" sambung Lania lagi. Sekali lagi Lania menjabarkan apa yang sebelumnya menjadi pertanyaan dari Vino. "Hhmmmm ...." Vino hanya berdehem dan tidak berkata apa-apa lagi. Tanggapan datar dari Vino itu malah membuat kekesalan Lania semakin menjadi-jadi. Tapi, itu bukan kali pertama Vino mempertanyakan hal tersebut. Vino memang sering bertanya tentang itu tanpa memberi tanggapan lanjutan. Membiarkannya menggantung begitu saja dan perasaan penasaran dari Lania yang tak pernah bisa terpuaskan. Sesuatu yang Lania sendiri merasa jika apa yang Vino tanyakan itu rasanya tak mampu ia mengerti. Alasan dari Vino yang bertanya hal tersebut tanpa menjelaskan apa yang sebenarnya ingin Vino ketahui. "Berhentilah terus-terusan menyeret aku dalam urusanmu," gerutu Lania yang sebenarnya sudah cukup mual dengan segala hal yang Vino lakukan. Sungguh, Lania sudah kesal dengan sikap Vino yang kerap memulai pembicaraan dan malah tidak menanggapi ungkapannya yang terkadang sudah sangat panjang lebar tersebut. Namun, hanya dibalas dengan keheningan yang membuat Lania semakin merasa kesal. Tidak hanya itu, ia juga sudah muak untuk terus diseret dalam tiap urusan Vino. Rasanya Lania selama ini menjadi sama sekali tidak bisa lepas dari sosok Vino yang terus ada di sekitarnya itu. Padahal, kantor adalah salah satu tempat dimana ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa harus terlibat dengan Vino. Akan tetapi, apa yang menjadi jawaban dari Vino lagi-lagi membuat Lania naik darah. "Bagaimana bisa aku tidak menyeret kamu?" "Kamu itu kan, istriku yang tercinta dan tersayang!!" Vino tersenyum lebar sambil mengusap dagu Lania dengan lembut. Vino mulai mencoba untuk kembali menggoda Lania setelah perseteruan panas yang terjadi di beberapa waktu yang lalu. "Aaaaaaaa!!!" Seketika, Lania pun berteriak dengan kedua bola matanya yang melotot dan secepat kilat langsung menutup mulut Vino. Ia memojokkan Vino hingga Vino tersudut ke tembok. Kelapa Vino sedikit terbentur dan terdengar bunyi aneh yang sedikit keras. Namun, bukan itu yang menjadi keresahan di hati Vino. Posisi Lania yang menekan tubuhnya dan memojokkannya ke tembok membuat Vino berdebar begitu kencang. Terlebih tangan mungil Lania yang kini menutup mulutnya dengan sangat erat dari depan dengan posisi tubuh keduanya yang sudah saling menempel. "Ya Tuhan, tolong jantungku sudah tidak kuat lagi!" gerutu Vino saat tubuhnya melekat erat pada Lania tanpa berjarak, menempel dengan begitu lekat. Di saat yang sama dua pupil mata Lania bergetar, kepalanya sibuk menatap ke sekitar. Memastikan jika tidak ada siapa pun yang mendengar ucapan dari Vino barusan. "Sssssttt... apa yang kamu katakan Vin!" "Bagaimana jika ada orang di sini?" Mereka memang sepasang suami istri. Tapi, Lania sangat tidak ingin pernikahan mereka diketahui banyak orang. Selain karena ia tak yakin Vino akan terus berada di sisinya. Ia juga tidak yakin jika Vino menyetujui pernikahan mereka karena ia mencintai Lania dan karena ketidak pastian itu. Lania pun sangat ingin merahasiakan pernikahan mereka. Sejak awal Lania sendiri lah yang meminta untuk menggelarnya secara sederhana. Cukup dengan keluarga inti saja yang hadir. Lania beralasan ingin menikmati waktu bahagia itu hanya dengan keluarganya saja. Ia mengatakan tidak suka dengan hiruk pikuk pesta yang mungkin akan membuat dirinya lelah. Entah bagaimana, permintaan konyol Lania itu pun dipenuhi oleh Vino dan kakeknya. Sehingga, rahasia pernikahan mereka menjadi benar-benar sempurna tanpa kebocoran sedikit pun. Meski begitu, Lania kerap kesal dengan tingkah Vino yang kerap bertindak diluar batas padahal ia sudah menyetujui untuk merahasiakan pernikahan mereka. "Kamu gila, Vin? Kamu mengatakan tentang itu di sini?" Lania kembali melirik ke sekitar. Cemas bukan main kalau-kalau ada yang mendengarnya. "Huftt... Bisa saja ada orang yang mendengarnya," keluh Lania lagi dengan geram. Lania melotot dan terus menutup mulut Vino sambil melihat-lihat ke sekelilingnya. Ia benar-benar cemas jikalau ada orang yang mendengar ucapan Vino tadi. Bisa-bisa rahasia pernikahan mereka akan terbongkar hanya karena ucapan iseng dari Vino yang menyebalkan itu. Vino yang sudah terdesak dan terpojok di tembok dengan mulut yang ditutup itu pun terlihat semakin bingung. Bukan karena apa yang baru Lania cecarkan padanya. Namun, karena tindakan berani yang Lania lakukan saat ini. Ia sedikit tidak menyangka dengan tindakan Lania yang berani untuk semakin menekan tubuhnya hingga tubuh mereka sudah tak berjarak, menempel dengan tangan Vino yang bahkan singgah pada pinggang mungil Lania. Tak lama, Vino pun memicingkan matanya. Seolah mendapatkan ide yang cukup cemerlang untuk mengatasi situasi menegangkan tersebut. "Aaaakkkkz!!" Lania berteriak dengan wajahnya yang sudah merah padam. Kemudian dia berjalan cepat sambil terus menggerutu. Meninggalkan Vino di lorong tersebut sendirian. "Hahahaha.. dasar gadis itu!" "Benar-benar manis!!!" Vino tertawa puas melihat reaksi dari Lania tersebut. Vino pun mengusap bibirnya perlahan dengan ibu jarinya sambil menatap ke arah Lania yang sudah nyaris tak lagi terlihat. Tak heran jika Lania berteriak saat itu, Pasalnya ketika mulut Vino ditutup dengan tangannya. Vino menjilat telapak tangan Lania dengan lembut dan perlahan. Sensasi aneh dengan lidah Vino yang basah dan lembut yang membuat Lania bergidik dan langsung kabur secepat mungkin. Merasa ngeri dengan lidah yang terasa di telapak tangannya tersebut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD