Ditemani televisi yang menayangkan siaran berita malam, Mayang duduk termenung dengan kedua tangan memeluk perutnya. Ia tidak tahan ingin memberitahu Erlangga mengenai pertemuan dengan Eveline tadi siang. Namun hingga waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam suaminya belum juga menampakkan diri. Menghela napas pelan, Mayang beranjak menuju dapur untuk mengambil segelas air. Kerongkongannya terasa kering, apalagi membayangkan bagaimana reaksi Erlangga saat ia menceritakan semuanya. “May… belum tidur?” Suara panggilan itu membuat Mayang mendongakkan wajah. Erlangga berdiri tidak jauh darinya dengan wajah kusut. Penampilannya pun sudah jauh berbeda dengan yang Mayang lihat pagi tadi. Jas dan dasi berada di genggaman tangan kanannya, sementara tangan kiri memegang tas kerja. Kemeja panjan

