Epilog

662 Words

“Kamu tahu, May… dulu waktu Mas pertama kali ajak kamu menikah terus kamu nolak, rasanya tuh kayak di tampar bolak-balik.” Erlangga terkekeh saat kembali mengingat apa yang dilakukannya dulu. “Malu banget rasanya.” Mayang yang berbaring di sampingnya hanya bisa menatap geli sang suami dengan napas terengah. “Maaf, ya, Mas. Waktu itu aku emang nggak ada pikiran sama sekali untuk nikah. Aku nggak berniat untuk menjalin komitmen seperti itu karena… ya… aku takut akan seperti Mama.” “Waktu itu rasanya Mas pengin maki-maki kamu.” Erlangga tertawa mengingat bagaimana ia ditolak. “Ini perempuan siapa sih, sok jual mahal banget. Ini yang ngelamar yang punya perusahaan loh. Apa nggak harusnya dia bersyukur gitu?” Mayang hanya menutupi wajahnya malu. “Dulu… Mas ngelamar kamu, niatnya benar-benar h

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD