Pada akhirnya Erlangga memilih kamar tamu yang ditempatinya selama dua minggu terakhir untuk beristirahat. Memikirkan suasana kamarnya yang terasa sepi karena tidak ada Mayang di sana membuatnya urung untuk melabuhkan mimpi. Selama lebih dari setengah jam, Erlangga hanya berbaring di atas tempat tidur dengan pandangan mengarah pada langit-langit kamar. Tubuhnya lelah, tapi matanya sama sekali tidak bisa terpejam. Otaknya terus berputar memikirkan keberadaan Mayang saat ini. Apa gadis itu baik-baik saja? Apa dia tidur di tempat yang nyaman? Mendengkus kesal, Erlangga bangkit dari tempat tidur seraya mengacak rambutnya. Ia meraih jaket yang tergantung di balik pintu, mengenakannya dengan cepat dan menuruni tangga dengan langkah-langkah lebar. Erlangga mengambil kunci mobilnya yang berada

