Erlangga menatap laporan mingguan yang diberikan asistennya dengan kening berkerut, berusaha memahami setiap kata dan angka yang menjelaskan progress dua proyek terbaru yang perusahaannya jalankan. Namun setiap kali ia mencoba serius mencerna semua kalimat yang ada di dalam laporan itu, otaknya mendadak buntu. Ia tidak bisa berpikir mengenai apa pun saat ini. Dengan kesal Erlangga menutup dan melempar laporan yang dibuat Dimas itu ke sudut meja kerjanya. Membiarkannya bergabung bersama beberapa berkas lain yang juga sudah ada di sana sejak tadi pagi. Hari ini ia benar-benar buntu karena diliputi berbagai macam emosi. Mayang pergi dari rumah. Kabur lebih tepatnya. Sebagai seseorang yang masih berstatus sebagai suami gadis itu, Erlangga merasa marah, cemas juga takut. Marah karena Mayang p

