Hanya Masa Lalu

2051 Words

Mayang meringis pelan saat matanya bertabrakan dengan bi Ima yang mengulum senyum sejak tadi. Ia menunduk, malu mendapati orang kepercayaan mertuanya itu tadi sempat memergokinya tengah menjemur sprei dan sarung bantal di tengah hari bolong seperti ini. Untungnya wanita paruh baya itu tidak mengucapkan apa-apa saat ia dan Erlangga berpamitan untuk pulang ke Jakarta pada pukul dua siang. “Terima kasih ya, Bi, sudah banyak saya repotin selama di sini.” Mayang menggenggam kedua tangan bi Ima, berpamitan sementara Erlangga sedang merapikan koper dan beberapa barang lainnya ke dalam bagasi mobil. “Sama-sama Neng. Bibi senang ada Neng Mayang di sini.” Wanita paruh baya itu tersenyum seraya mengusap pelan lengan Mayang. “Baik-baik sama Mas Erlangga, ya.” Selesai dengan semua barang bawaan ya

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD