“Mas…” lirih Mayang seraya mendorong pelan d**a sang suami menjauh. Ia tidak kuat lagi. Napasnya terasa berat dan sesak. Mayang menghirup udara dengan rakus untuk kembali mengisi paru-parunya sebelum ia benar-benar kehabisan napas. Kecupan lembut yang terasa begitu menghanyutkan tadi, hanyalah awal dari pagutan dan lumatan kuat yang dilakukan Erlangga pada bibirnya. Mayang masih memejamkan matanya dengan napas terengah-engah saat merasakan usapan lembut pada bibirnya yang terasa membengkak. Netranya langsung bertemu dengan telaga hitam milik Erlangga yang menatap dalam, membuatnya gemetar seketika. “Kamu belum jawab, May,” bisik Erlangga. Tangannya yang sejak tadi berada di tengkuk dan pipi sang istri beralih ke kepala kemudian merapikan helaian rambut yang tampak berantakan karena ulahn

