Erlangga mengumpat dalam hati saat Mayang mendorong keras dadanya. Tubuh istrinya seketika berbalik mencari sumber suara yang berasal dari dalam tas yang berada di belakang. Bunyi nyaring ponsel Mayang membuat Erlangga memejamkan mata untuk menetralisir berbagai rasa yang berkecamuk di hatinya. “H-halo…” getar dalam suara Mayang yang terdengar jelas membuat Erlangga menoleh ke arahnya. “I-iya Ma? Oh… Ane? Hai sayang… lagi apa sama Oma?” Mayang menggigit bibir mencoba untuk meredakan debaran jantungnya yang menggila. Matanya terpejam membayangkan apa yang bisa saja terjadi tadi apabila ponselnya tidak berbunyi di saat yang tepat. Kepalanya menggeleng perlahan mencoba mengenyahkan bayangan wajah Erlangga tadi. Di saat Mayang sudah tidak terdengar gugup lagi, Erlangga mengalihkan perhatian

