Ketakutan Mayang

2471 Words
Mayang baru saja selesai memasang sabuk pengamannya ketika pak Surya menjalankan mobil ke luar dari Hotel. Supir pribadi Erlangga itu tampak luwes mengarahkan kemudi menelusuri jalanan padat ibu kota. Sementara Erlangga yang duduk sendiri di belakang tidak terdengar suaranya. Entah lelaki itu tidur atau sedang memainkan ponsel pintarnya Mayang tidak tahu. Ia tidak mungkin berbalik untuk sekedar mengamati apa yang sedang di lakukan bosnya itu. Dering ponselnya terdengar, Mayang segera mengeluarkan benda pipih itu dari dalam tasnya. Terlihat panggilan dari nomor asing yang tidak ada di kontaknya. Mayang membiarkannya selama beberapa saat dan panggilan itu pun berhenti. Ketika ia akan menaruh kembali ponsel itu ke dalam tas deringnya kembali terdengar. Mayang hampir tidak pernah mengangkat panggilan dari nomor yang tidak terdaftar di kontak ponselnya, kecuali saat ia sedang menggunakan jasa transportasi online. Dan saat ini ia jelas sedang tidak memerlukan transportasi online manapun karena ia sedang duduk di dalam sebuah mobil mewah bersama sang atasan dan supirnya. “Kenapa nggak di jawab?” suara Erlangga menyadarkan Mayang kalau ia kembali mendiamkan panggilan itu. Bersamaan dengan ia membuka mulutnya untuk menyahuti pertanyaan Erlangga ponselnya kembali berdering untuk yang ketiga kalinya, membuat Mayang mengernyitkan kening heran. Siapakah gerangan orang yang meneleponnya ini? Bahkan ketika Mayang sengaja tidak mengangkat panggilan pertama dan kedua si penelepon tetap keras kepala kembali menghubunginya. “Halo…” Mayang akhirnya menggeser ikon warna hijau untuk menjawab panggilan itu. Ia tidak mau merusak mood baik Erlangga hari ini dengan membuat bosnya itu kesal. Harinya akan suram sampai dengan jam pulang nanti. “Halo, betul saya bicara sama Mayang?” Suara di seberang sana sama sekali asing baginya. “Perkenalkan saya Reva, Omanya Ane.” Omanya Ane? Aneila Maharani? Satu kemungkinan melintas di kepalanya. Membuat Mayang ragu-ragu menatap ke arah belakang tempat Erlangga duduk. “Iya… betul bu. Saya Mayang..” “Alhamdulillah… ibu pikir Shinta salah kasih nomor. Soalnya dari tadi ibu telepon nggak diangkat.” “Oh, maaf bu. Soalnya saya lagi di jalan pulang ke kantor dari bertemu investor.” Sekarang Mayang yakin jika si penelepon ini adalah Revalina Afida Jatmiko, istri dari bapak Hutama Lazuardy Jatmiko, pemilik dari perusahaan tempatnya bekerja saat ini dan ibu dari lelaki yang tengah mengawasinya di belakang sana Erlangga Lazuardy Jatmiko. “Sama Erlangga ya…?” “Iya bu…” jawab Mayang. Di seberang sana Mayang bisa mendengar suara ribut dan teriakan memanggil namanya. “Iya sayang sebentar dulu dong… nanti oma kasih Ane. Oma mau bicara sebentar sama tantenya ya.” Suara berbisik Revalina Afida Jatmiko masih terdengar di telinganya, sepertinya ibu dari atasannya itu sedang berbicara dengan cucu semata wayangnya, Ane. “Mayang, maaf ibu ganggu sebentar ya, ini Ane dari tadi ngerengek minta telponin kamu. Ibu udah bilang tunggu jam pulang kantor aja tapi anak ini nggak sabaran banget. Ibu kasih ke Ane ya…” Tidak lama kemudian suara gadis kecil itu pun terdengar membuat Mayang tanpa sadar menarik sudut bibirnya. “Tante Mayaang…” “Halo sayang…” sapa Mayang “Ane lagi liburan sama Oma ke Bali berangkatnya tadi pagi. Tadinya Ane nggak mau ikut  loh karena mau main sama tante, tapi oma jadi sedih. Yaudah akhirnya Ane ikut deh. Tante nggak sedih kan nggak main sama Ane hari ini?” Mayang tertawa kecil mendengarnya. Gadis kecil itu bilang tidak mau ikut karena ingin bermain bersama Mayang tapi suaranya terdengar riang dan sangat bersemangat sekarang. “Iya nggak apa-apa tante nggak sedih kok. Ane baik-baik disana ya…” Ane bercerita jika ia libur sekolah seminggu ini. Nanti malam ia akan menemani omanya bertemu teman dan besok mereka akan mengunjungi kebun binatang yang ada disana. Mayang hanya mendengarkan sambil sesekali menanggapi kegembiraan gadis kecil itu. “Mayang, makasih ya… maaf ibu sama Ane jadi ganggu waktu kerja kamu. Nanti kalo Erlangga ngomel kamu bilang ibu aja. Oke..?” “Iya, bu nggak apa-apa..” jawab Mayang tidak enak. “Ini nomer ibu jangan lupa di simpan ya…” “Baik bu..” Dan setelah mengucapkan salam panggilan itu pun terputus. Mayang segera mengembalikan ponselnya ke dalam tas dan memandang lurus ke arah jalan ketika suara Erlangga terdengar. “Kamu ngobrol sama Ane?” tanyanya terdengar tidak yakin. “Itu tadi mama saya yang barusan telepon kamu?” tanya Erlangga lagi. “Iya pak, itu tadi ibu Reva yang menelepon.” Sahut Mayang. “Ngapain ibu saya telepon kamu?” Kali ini suara Erlangga terdengar keheranan. Ya, ada urusan apa mamanya sampai menelepon Mayang, dan darimana beliau tahu nomor ponsel sekretarisnya ini? “Uhm… itu tadi katanya Ane mau bicara sama saya pak.” Ane dan Revalina pagi ini berangkat ke Bali untuk menghadiri acara amal yang diselenggarakan oleh salah satu Yayasan dimana mamanya terlibat dalam kepengurusan. Karena memang sekolah Ane libur 2 hari Reva berinisiatif mengajak cucu satu-satunya itu untuk berlibur bersama. Erlangga sempat terkejut saat mamanya sampai mengajukan izin langsung kepada guru Taman kanak-kanak tempat Ane bersekolah agar cucu kesayangannya bisa menambah libur 2 hari. “Mama udah lama banget nggak ngabisin waktu sama cucu ya Lang, kamu nggak usah protes deh. Mama kangen sama Ane.” Begitu yang diucapkan mamanya saat Erlangga sedikit keberatan karena akan berpisah selama seminggu dari anaknya itu. “Lagian kamu mama minta balik lagi ke rumah mama nggak pernah mau, padahal Ane juga nggak ada yang jaga di rumah kamu itu. Dasar keras kepala.” Begitulah, mamanya malah mengungkit lagi keinginannya agar Erlangga kembali tinggal di rumah orang tuanya saat ia protes karena harus berpisah dari Ane. “Kenapa Ane malah mau bicara sama kamu?” suara Erlangga kembali terdengar, nadanya sedikit protes. “Saya yang papanya aja belum di kabarin, gimana sih…” Kali ini Mayang hanya bisa diam dan melipat bibirnya kaku tidak tahu harus menjawab apa. Lagipula mana dia tahu kenapa Ane dan bu Reva malah memilih meneleponnya lebih dulu dibandingkan Erlangga. **** “Beneran bude Reva nelepon lo?” Shinta bertanya saat mereka sama-sama berada di dalam lift. Sudah lewat dari jam pulang kantor saat Shinta dan juga Mayang keluar dari gedung kantor Lazuardy. Mayang memutuskan untuk menerima ajakan sahabatnya itu makan malam bersama di sebuah warung makan langganan mereka saat masih kuliah dulu. “Beneran… sumpah gue kaget banget, itu ibu bos kok bisa nelepon gue ada angin apa, taunya Ane mau ngomong” sahut Mayang sedikit geli. Jujur saja jantungnya berdetak tak karuan tadi saat mengetahui siapa yang menghubungi nomor ponselnya sampai tiga kali. “Hahaha…. tu anak emang mirip banget sama bapaknya. Nggak akan berhenti dia sampe yang di mau di turutin.” Shinta hanya geleng-geleng kepala mengingat keponakan cantiknya. Sampai di parkiran basement Shinta langsung menyalakan mobilnya begitu mereka sudah berada di dalam sedan keluaran terbaru dari Jepang itu. Sahabat akrab Mayang sejak awal perkuliahan itu dengan gesit memutar kemudinya melewati beberapa mobil lain. Shinta bercerita bagaimana bude-nya yang merupakan ibu kandung atasan Mayang dibuat penasaran oleh cerita-cerita Ane mengenai sosok ‘tante Mayang’ yang sering menemaninya bermain. “Jangan kaget aja kalo nanti entah kapan bude nyamperin lo ke kantor…” ucap Shinta dengan santainya sementara Mayang yang mendengar terlihat terkejut. “Ngapain nyamperin gue? Lo jangan nakutin dong…” Mayang melepaskan kaca mata yang selalu di pakainya saat di kantor dan menyimpannya. Matanya terus memandangi Shinta yang hanya cengar-cengir sendiri melihat Mayang ketakutan. “Hahaha… nggak usah parno gitu deh, bude Reva orangnya baik kok. Paling dia cuma mau kenalan sama lo. Ngucapin terima kasih karena udah mau di repotin sama cucu kesayangannya…” Tetap saja, apa yang Shinta ucapkan barusan tidak membuat Mayang tenang sama sekali. Alih-alih jantungnya malah semakin berdebar kencang. Tempat makan langganan mereka hanya berupa warung angkringan kecil di pinggir jalan dengan menu utama nasi kucing dan berbagai pilihan lauk seperti ikan peda, kering tempe, tahu, sate telur puyuh, usus dan masih banyak yang lain. Setelah memesan keduanya memilih tempat duduk lesehan tidak jauh dari gerobak si penjual. Mereka makan dengan lahap karena memang sudah lama sekali sejak terakhir mereka makan bersama disini. Shinta bahkan menambah nasi kucingnya 2 kali, karena memang porsinya yang kecil. “Nginep tempat gue ya May…” ajak Shinta selagi mengaduk-aduk nasinya dengan kering tempe dan menambahkan sebutir telur puyuh yang di lepasnya dari tusuk sate. “Jangan sekarang lah,” tolak Mayang. “Besok masih kerja dan gue sama sekali nggak bawa baju ganti…” sahut Mayang. “Gue nggak pulang ke rumah malem ini, mau nginep di apartemen aja. Lagian dari sini lebih deket ke apartemen gue deh, ntar lo pake baju gue dulu. Disana ada beberapa baju yang emang belum pernah dipake. Ya…ya…” bujuk Shinta lagi. “Kenapa tumben maksa banget. Mau curhat lo?” tanya Mayang, matanya menyipit curiga. Shinta yang sedang menggigit potongan terakhir sate ususnya hanya berdecak pelan. “Tau aja lo. Nginep ya…?” Mayang akhirnya menganggukan kepala tanda setuju. Sepertinya tidak masalah, karena selain ia lelah dan apartemen Shinta lebih dekat jaraknya daripada harus pulang ke rumah, sudah cukup lama mereka tidak mengahabiskan waktu untuk bercerita mengenai diri masing-masing.   *** “Kenapa sih nggak lo urai aja nih rambut? Di sanggul terus kayak gitu nggak bosen apa?” Mayang memang tidak pernah mengurai rambut panjangnya selama di kantor. Ia akan menyanggulnya sedemikian rupa sehingga terlihat rapi. “Gue males mesti bolak-balik toilet cuma mau benerin rambut doang Shin. Kalo di sanggul gini kan ringkes.” balas Mayang. Ia baru saja melepaskan ikatan sanggulnya dan menyisir rambut panjang bergelombangnya dengan jari. “Sumpah rambut lo cantik banget May. Gue aja ngiri loh. Sekali-sekali di urai deh, yakin semua bakal pangling.” Shinta masih memandangi rambut indah Mayang sambil melepas pakaian kerjanya. Gadis itu melempar sebuah kaus ke arah Mayang untuk dipakai setelah mengganti pakaiannya sendiri dengan kaus berwarna hitam. Mayang pun kemudian mengganti pakaian kerjanya dan meletakkannya di sebuah sofa panjang. Ia mulai membersihkan wajahnya dan menambahkan pelembab saja berbeda dengan Shinta yang rangkaian perawatan rutinnya begitu banyak. “Gue yakin Arga bakalan nyesel banget ninggalin lo.” ujar Shinta. Ia kemudian menambahkan seraya tertawa kecil. “Gue pernah ketemu dia sama cewek di rumah sakit bulan kemarin. Tuh cewek cantik sih, tapi sumpah body-nya jauh banget di banding lo May, menang lo kemana-mana. Mayang hanya mendengus mendengarnya. “Ngapain masih ngebahas dia sih. Udah lama lewat kali…” “Ya nggak maksud apa-apa, cuma gue yakin dia bakal nyesel aja.” Shinta mengedikkan bahunya, menatap Mayang lewat cermin besar di hadapannya. “Padahal kalian udah lama banget pacarannya, gue pikir lo sama dia bakal berjodoh, eh… nggak taunya.”  “Lagian, sekalipun menurut lo body gue lebih oke dari ceweknya yang sekarang tetep aja dia mutusin gue Shin. Artinya gue nggak seberharga itu buat di pertahankan. Body gue ini nggak menolong apa-apa buat hubungan gue sama dia.” Lirih Mayang. Menyadari kesalahannya yang malah membawa nama mantan kekasih Mayang ke percakapan mereka Shinta hanya bisa meminta maaf. “Sorry…gue nggak maksud…” “It’s okay. Udah lama juga kok, gue udah baik-baik aja.” Shinta menghampiri sahabatnya itu yang duduk di pinggir ranjang lalu memeluknya erat. “Sorry…” Mayang hanya mengusap-usap pelan punggung Shinta dan meyakinkan gadis itu jika dia tidak apa-apa. Setelah bercerita panjang lebar mengenai betapa kesalnya gadis itu pada Albert yang semakin sering mengganggunya, lewat tengah malam Shinta akhirnya lelap juga. Sementara Mayang hanya bisa memandangi langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Di saat Mayang berusaha keras melupakan semua kenangan mereka selama 7 tahun ini dan mencoba move on ternyata Arga sudah lebih dulu mendapatkan penggantinya. ****   Saat itu tepat di hari jadi hubungan mereka yang ketujuh Arga meminta bertemu. Biasanya mereka tidak pernah merayakannya secara khusus dan hal itu membuat Mayang berpikir jika ada hal penting yang akan disampaikan Arga padanya, melamarnya lagi mungkin? Jujur saja pikiran itu sempat merasuki kepalanya belakangan ini. “Maaf kalo aku ganggu waktu istirahat kamu ya…” ucap Arga. Lelaki itu membawa Mayang ke sebuah restoran fine dining, bersikap amat manis dan selalu menggenggam tangannya saat mereka turun dari mobil sampai tiba di meja yang sudah di reservasi. “Nggak pa-pa kok. Kan jarang-jarang juga kita keluar kayak sekarang.” Mayang mengulum senyumnya, mencoba menahan luapan kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya yang malam itu di hias dengan make up tipis. Setelah itu mereka tidak banyak bicara, Arga segera memanggil pelayan untuk mulai memesan. Selama menunggu makanan datang tidak banyak percakapan dia antara keduanya, Arga sibuk dengan gawainya sementara Mayang sibuk memperhatikan wajah tampan Arga.  Dulu saat hubungan mereka memasuki tahun ketiga dan Arga baru saja menjadi dokter muda, lelaki itu melamarnya. Namun Mayang menolak dengan alasan terlalu cepat. Arga terlihat kecewa namun tidak memperpanjang lagi masalah lamaran itu. Di balik penolakan itu, sesungguhnya Mayang menyimpan sebuah ketakutan yang tidak seorang pun mengetahuinya. Mayang takut dengan komitmen yang di ikat dalam bentuk pernikahan. Ia merasa terintimidasi. Melihat bagaimana akibat dari akhir pernikahan kedua orang tuanya yang hancur bahkan saat dirinya belum bisa mengingat semuanya dengan jelas membuat Mayang merasa begitu tidak nyaman. Apalagi ia sering mendapati ibunya menatap sebuah foto yang disembunyikan di bawah lipatan baju dengan pandangan sedih, foto ayahnya. Tapi sekarang tahun telah berganti begitu juga perasaan. Menjalani hari-harinya bersama Arga  selama beberapa tahun terakhir membuat Mayang luluh. Arga lelaki baik yang bisa menjaganya, menghiburnya di kala sedih terutama saat awal kepergian ibunya 5 tahun yang lalu. Mereka makan dengan tenang begitu semua hidangan telah disajikan. Sesekali Mayang menatap pada Arga menebak-nebak apa yang sekiranya akan dikatakan lelaki itu padanya. Bila malam ini Arga kembali melamarnya maka tanpa ragu Mayang akan mengiyakan.  “Ada yang mau aku bicarakan,” Arga berkata saat pelayan sudah menyingkirkan piring bekas makan mereka. Mayang yang mendengarnya hanya melempar senyum. Dadanya sedikit berdebar menantikan kalimat lanjutan dari bibir lelaki yang terlihat begitu tampan dengan kaca matanya itu. “Aku minta maaf sebelumnya…” Mayang mengernyitkan keningnya bingung. Maaf? “Kita putus aja ya…” Putus? Mungkin ada yang salah dengan pendengaran Mayang malam ini.  Bukankah Arga ingin melamarnya sekarang makanya lelaki itu menyiapkan semua ini untuknya? Mayang terdiam dengan wajah memucat. “A-apa?” “Maaf. Tapi setelah sekian tahun bersama aku sadar hubungan kita nggak akan bisa di lanjutkan lagi…” “K-kenapa…? Suara Mayang mulai terdengar bergetar. “Kenapa kamu ngomong begitu” satu tetes air mata mulai mengalir di pipinya. “Kamu bukan wanita yang tepat untukku, untuk karirku.” Arga menatap tepat di kedua bola matanya. Membuat Mayang tidak mampu menahan isak. “Kamu pasti akan bertemu lelaki lain yang bisa memahami kamu jauh lebih baik dari aku.” Sesudah mengatakan permintaan maafnya sekali lagi, Arga bangkit berdiri meninggalkannya dengan wajah basah penuh air mata. Sejak itu Mayang berikrar dalam hati jika pernikahan tidak akan pernah terjadi dalam kehidupannya.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD