Senyum Erlangga

2362 Words
Mingggu pagi adalah waktunya Mayang berada di Panti Asuhan Kasih Bunda. Biasanya Mayang akan berada di sana seharian menemani tante Tiana atau yang biasa di panggil bunda Tia oleh anak-anak yang tinggal. Kadang Mayang mengisi waktu dengan membantu anak-anak disana mengerjakan pr, membuat kue atau hanya sekedar bersantaidengan mereka. Panti asuhan ini didirikan oleh ibunya dan bunda Tia yang merupakan sahabat dekat. Di sela kesibukannya bekerja sang ibu selalu menyempatkan waktunya untuk mampir dan melihat keadaan anak asuh mereka di sana. Adakalanya juga mengajak Mayang ikut serta di hari sabtu dan minggu. Namun sudah sejak ibunya meninggal dunia 5 tahun yang lalu, Mayang datang sendiri. 2 tahun terakhir sahabatnya Shinta juga tertarik untuk bergabung dan membantu Mayang juga bunda Tia disana. Kadang Shinta mengajari anak-anak Bahasa Inggris atau menyanyi bersama.   Panti Asuhan Kasih Bunda saat ini menampung sekitar 20 anak-anak usia 7 sampai 15 tahun, 3 orang berusia di bawah 6 tahun dan 2 orang remaja yang baru saja lulus SMA. Mayang senang berada disini karena ia merasa memiliki keluarga. Semenjak ibunya meninggal 5 tahun lalu, Mayang tinggal sendiri di rumah peninggalan ibunya yang jaraknya tidak jauh dari panti. Seperti minggu-minggu sebelumnya, hari ini pun semua penghuni panti baik pengurus maupun semua anak-anak berkumpul bersama. Mereka bergotong royong membersihkan ruangan juga halaman panti asuhan yang cukup luas. Mayang sendiri saat ini berada di dapur bersama Jihan, salah satu penghuni panti berusia remaja. Mereka membuat cookies untuk camilan anak-anak lain. Jihan sendiri saat ini bekerja di sebuah bakery yang terletak di jalan utama tidak begitu jauh dari Panti Asuhan Kasih Bunda. “Kak, ini menteganya berapa banyak?” “Kayaknya 250 gram cukup deh.” Mayang menoleh ke arah Jihan yang sedang menakar mentega untuk cookies mereka. “Kita bikin nggak usah terlalu banyak Ji, nanti kak Shinta juga katanya mau bawain cake.” Gadis remaja itu hanya mengangguk lalu melanjutkan pekerjaannya membantu Mayang. Setelah selesai menimbang semua bahan yang dibutuhkan, Mayang mulai mencampurnya satu persatu ke dalam mangkuk besar yang ada di hadapannya, mengaduknya perlahan hingga sedikit demi sedikit adonan mulai memadat. Mayang dibantu Jihan kemudian mulai membentuk bulat adonan tadi lalu di pipihkan dan di letakkan ke dalam loyang yang sudah di lapisi mentega terlebih dahulu. Satu Loyang sudah terisi penuh, Mayang membawanya untuk dimasukkan ke dalam oven yang sudah lebih dulu disetel suhu dan waktunya. Selama menunggu itu mereka melanjutkan lagi membentuk adonan yang tersisa hingga semuanya habis. Mayang sedang mengecek cookies-nya ketika ia mendengar suara riang gadis kecil memanggil namanya. “Tante Mayang…!” Aneila Maharani yang berada dalam gendongan Shinta menggeliat cepat begitu melihat Mayang berada di balik meja yang ada di dapur. Sepertinya gadis itu tidak sabar untuk segera turun dan menerjang Mayang. Ia berlari dengan senyum lebar menghiasi wajahnya. Mayang berjongkok menunggu Ane datang ke pelukannya. “Halo sayang…” ucapnya begitu Ane sudah berada dalam pelukan eratnya. Mayang mengusap-usap rambut panjang gadis kecil itu yang hari ini hanya dihiasi bando berwarna merah jambu dan mengecupnya singkat. “Kok bisa kesini?” Mayang bertanya penasaran. Matanya menatap ke belakang Ane, ke arah Shinta Namira sahabatnya. “Dia tau hari ini gue bakal ketemu sama lo, yaudah minta ikut…” Mayang hanya tersenyum kecil melihatnya. “Tante lagi bikin cookies, Ane mau?” “Mau…!” jawabnya lantang. “Astaga ni bocah, semangat amat. Udah kayak bapaknya nggak pernah ngasih cookies aja” sahut Shinta geli. Jihan yang masih berada di dapur dan sedang menyusun cookies yang sudah matang ke dalam toples ikut tertawa geli mendengar ucapan Shinta. Mayang kemudian mengajak Ane untuk berkenalan dengan Jihan dan penghuni panti lainnya. Gadis kecil itu kelihatan sangat senang memiliki teman-teman baru. “Gue nggak nyangka si tuan puteri bakal kegirangan begini di ajak ke panti asuhan.” Shinta yang sedang memotong beberapa Roll Cake yang dibawanya menatap ke arah Ane yang terlihat senang di ajak bermain oleh anak-anak lain. “Yaudah kalo kamu kesini diajak aja Shin.” Sahut bunda Tia. Mereka saat ini sedang duduk bersama di teras samping, mengamati anak-anak yang sibuk bermain. “Iya bun,” balas Shinta. “Cuma kadang bapaknya suka over protektif. Padahal kasian Ane kalo di rumah lebih sering main sama pengasuhnya.” “Loh emang ibunya nggak ikut nemenin?” taya bunda Tia. Shinta terdiam sebentar sebelum menjawab, “Mama sama papanya udah cerai lama bun. Bahkan Ane nggak pernah tau wajah mamanya kayak apa.” Ucap Shinta yang raut mukanya seketika terlihat mendung. “Oh, ya ampun..” bunda Tia tampak iba saat beralih memandang Ane. Sementara Mayang yang baru mengetahui informasi ini setelah hampir 3 bulan gadis kecil itu rutin menemuinya di kantor sang ayah terdiam. Di pandanginya Ane dari kejauhan yang sedang tertawa lepas. Jika selama ini Ane tidak bersama ibunya lalu gadis kecil itu bersama siapa? Apalagi ayahnya begitu sibuk, dan lagi pengasuhnya pernah bercerita pada Mayang jika Erlangga bahkan tidak memiliki waktu untuk bermain bersama Ane di rumah. Tidak lama kemudian gadis kecil yang menjadi topik pembicaraan mereka pun datang. Ane berlarian menuju ke arah kursi mereka. Wajahnya terlihat bersemangat walaupun berkeringat dan sedikit memerah. “Tante, Ane haus.” Lapornya pada Shinta begitu sampai di sisi tantenya. “Haus? Ikut sama bunda yuk ke dalam ambil minum?” ajak bunda Tia. Ane mengangguk menyetujui kemudian digandeng oleh bunda Tia ke arah dapur untuk mengambil minum. “Jadi Ane kalo di rumah cuma sama mbak Tuti? Beneran dia nggak pernah ketemu mamanya Shin?” Mayang tidak bisa menahan rasa penasarannya saat Ane dan bunda Tia beranjak masuk ke dalam. “Hmm…” Shinta menganggukkan kepalanya sambil melipat bibir. Terlihat jelas kesedihan di wajah sahabatnya itu. “Mas Erlangga cerai sama mamanya Ane waktu dia umur 3 bulan. Habis itu kita nggak tau lagi mamanya ada dimana. Mas Erlangga nggak pernah mau ngebahas, sampe sekarang. Yang gue denger sih, mbak Eveline sekarang di Italia ikut salah satu agensi model disana.” “Model?” tanya Mayang lagi “Iya, model runway gitu. Orangnya cantik banget deh terus baik juga sih. Gue nggak tau apa masalahnya sampe mereka mutusin buat cerai. Yang pasti sampe detik ini pun mbak Eveline belum pernah sama sekali ketemu Ane.” Mayang mengangguk paham. Seketika ia merasa bersedih untuk Ane. Anak sekecil itu pastilah merasa sangat kesepian di rumah mewah ayahnya. Tidak merasakan kasih sayang ibu, juga ayah yang terlalu sibuk. Mayang menggeleng lemah tidak bisa membayangkan. Walau sepanjang hidup Mayang pun tidak mengenal baik ayah kandungnya, namun kasih sayang sang ibu untuknya lebih dari cukup bagi Mayang. Sesibuk apapun ibunya sebagai seorang pekerja ia tidak pernah mengabaikan Mayang dan membuatnya kekurangan kasih sayang. Ibunya memang luar biasa. “Bude Reva udah berulang kali minta mas Erlangga untuk balik tinggal sama mereka, seenggaknya biar Ane ada oma sama opanya yang jagain. Tapi dasar emang mas Elang keras kepala.” Dari dalam rumah suara nyaring Ane terdengar riang, gadis kecil itu menggenggam satu buah cookies  di tangannya kemudian menghampiri Mayang. “Tante kuenya enak, Ane suka…” ucapnya terus lanjut menggigit. Mayang yang mendengar itu hanya mengulum senyum. “Besok tante bawain kalo Ane mampir ke kantor papa ya…” “Asyikk…” pekiknya kegirangan. Shinta yang melihat bagaimana gembiranya sang keponakan hanya bisa menggelengkan kepala. Setelah menghabiskan cookies-nya Ane kemudian lanjut bermain bersama anak-anak yang lain di bawah pohon ceri yang tumbuh di halaman samping. Pukul 5 sore anak-anak yang sedang bermain, berlari masuk setelah di panggil untuk mandi dan beristirahat. Shinta pun berpamitan kepada semua penghuni untuk pulang lebih dulu, sementara Ane yang berada di gendongannya meronta-ronta ingin turun tidak mau pulang. Bahkan sekarang mata gadis kecil itu sudah berkaca-kaca menahan tangis. Sepertinya Ane begitu senang mendapatkan teman baru di sini. “Minggu depan kita dateng lagi ya, Ane boleh ikut tante kesini lagi kok.” Bujuk Shinta sementara Ane malah menggeleng-geleng sedih. Shinta bertemu pandang dengan Mayang, mengangkat alisnya, bertanya dalam diam bagaimana meredakan tangis si kecil ini. “Ane sayang, nanti boleh main lagi kok, tapi sekarang Ane pulang dulu istirahat ya. Kakak-kakak yang lain juga habis ini mau istirahat.” Mayang coba membujuk. “Nanti minggu depan ada yang ulang tahun loh. Kita bakal rayain disini, ada balon, ada kue yang banyak terus nanti kita nyanyi rame-rame.” Ane menatap Mayang, sesekali mengedipkan matanya yang mulai basah. “Ane boleh ikut nyanyi selamat ulang tahun?” pertanyaan polos itu mau tidak mau membuat Mayang juga Shinta berpandangan dan tertawa kecil.  “Boleh dong sayang...” Mayang tersenyum seraya mengelus pelan pipi gembil Ane yang basah. “Boleh bawa hadiah juga?” “Boleh…” Kali ini Shinta yang menyahut. “Kita cari hadiahnya sama-sama ya… tapi sekarang Ane pulang dulu istirahat. Kalo Ane kecapekan besok nggak bisa sekolah loh.” Setelah diam beberapa saat akhirnya Ane mengangguk patuh membuat Shinta dapat menghela napas lega. “Bapaknya udah nge-WA gue dari tadi,” bisik Shinta pada Mayang. “rusuh nanyain anaknya…” Setelah berpamitan pada bunda Tia dan beberapa pengurus akhirnya Shinta membawa Ane pulang. Wajah gadis kecil itu terlihat lelah dan gembira di saat bersamaan. Setelah membunyikan klakson satu kali mobil Shinta pun meluncur keluar dari pagar panti asuhan . “Bunda kasihan sama Ane.” Kata bunda Tia yang berdiri di samping Mayang, masih menatap ke arah perginya mobil Shinta. “Kalo denger ceritanya Shinta tadi, anak itu kayak nggak ada bedanya sama anak yang tinggal di panti asuhan ini, kayak yang nggak punya orang tua. Walaupun masih punya ayah tapi dia pasti kesepian banget cuma di tinggal sama pengasuh sementara papanya sibuk kerja.” Mayang mengamini apa yang dikatakan bunda Tia baru saja. Menjadi orang tua tunggal tentulah tidak mudah bagi Erlangga. Di tambah lagi lelaki itu dipercaya menduduki jabatan penting di perusahaan keluarganya sejak 2 tahun terakhir. Tapi bagaimanapun juga, sesibuk-sibuknya lelaki itu dengan urusan pekerjaan tidak adil rasanya bagi Ane untuk merasa terabaikan. Anak itu bahkan baru berusia 5 tahun, dia pasti sangat membutuhkan figur orang tua lengkap yang menyayanginya. “Apa papanya nggak ada niat nikah lagi ya?” pertanyaan bunda Tia membuat Mayang menoleh sesaat. “Ane masih sangat membutuhkan figur ibu.” Bunda Tia menghela napas pelan kemudian melanjutkan, “Anak-anak di panti asuhan ini, sekalipun mereka memang sudah nggak punya orang tua, nggak punya keluarga tapi mereka punya bunda, punya bu Imas, punya kamu, Shinta dan satu sama lain sebagai tempat pulang. Bunda selalu pastikan kalau mereka nggak akan kekurangan kasih sayang walaupun mereka hidup sendiri.” Mayang mengangguk setuju. Anak kecil semanis dan seceria Aneila Maharani yang hidup nyaman di rumah besar bak cerita dongeng dengan fasilitas kelas utama nyatanya memiliki kehidupan yang cukup menyedihkan. **** “Tolong kamu siapkan sekarang juga berkas penawaran kerja sama untuk investor dari Jepang. 30 menit lagi kita berangkat.” Erlangga sedang duduk memeriksa beberapa laporan dari departemen keuangan dengan Mayang di hadapannya. “Baik pak..” Mayang sudah akan bangkit dari duduknya ketika Erlangga kembali bersuara.  “Hari ini Ane nggak akan mampir, dia di bawa Omanya liburan.” Entah mengapa Erlangga menyampaikan informasi ini pada Mayang. Di lihatnya Mayang terdiam bingung dengan bibir sedikit terbuka. “Oh, baik pak..”  ucap Mayang setelah kembali dari keterkejutannya. “Saya pikir mungkin kamu akan bingung kenapa Ane tidak datang beberapa hari ini. Makanya saya kasih tau sekarang.” Mayang hanya mengangguk sekali. Sebenarnya Shinta sudah memberitahukannya tadi kalau Ane pergi berlibur bersama Omanya. Ia cukup terkejut saat Erlangga sendiri yang kemudian memberikannya informasi ini. “Iya pak, terima kasih. Saya permisi dulu.” Mayang kemudian bangkit dari kursi di hadapan Erlangga menuju meja kerjanya untuk menyiapkan apa yang di minta bosnya tadi. Sementara Erlangga sendiri malah menghentikan kegiatannya menekuri berkas laporan yang ada di hadapannya dan malah menatap langkah Mayang yang keluar dari ruangan. “Ngapain juga gue ngasih tau itu…?” bisiknya lirih. Tidak ada keharusan baginya untuk memberitahukan kegiatan putri semata wayangnya kepada sekretaris yang beberapa bulan terakhir terlihat sangat dekat dengan Ane itu.  Saat ini Mayang dan Erlangga sedang menuju ke salah satu Hotel di daerah Jakarta Pusat tempat dimana investor dari Jepang itu menginap untuk beberapa hari. Pertemuan kali ini Erlangga sengaja turun tangan sendiri karena ini adalah investor terbesar yang akan bergabung dan bekerja sama dengan Lazuardy Property. Perusahaan membutuhkan kerja sama ini karena sepanjang tahun akan ada banyak proyek pembangunan hunian dan resort baru di beberapa kota di timur Indonesia. Erlangga bertemu dan berkenalan secara langsung dengan Yasuhiro Sato, pengusaha asal negeri matahari terbit yang memang berminat berinvestasi di Indonesia itu di sebuah pertemuan bisnis yang diadakan oleh kedutaan besar Jepang di Indonesia beberapa waktu yang lalu. Merasa menemukan kecocokan dari perbincangan singkat mereka Yasuhiro Sato kemudian mengajak Erlangga untuk kembali bertemu menjajaki kemungkinanan kerjasama keduanya. Dan seperti orang Jepang pada umumnya Yasuhiro Sato ternyata orang yang sangat tepat waktu. Erlangga dan Mayang bahkan tiba 30 menit sebelum waktu yang ditentukan dan pria Jepang itu ternyata sudah berada disana bersama dengan asisten pribadinya. Setelah bersalaman dan memesan minum, mereka mulai terlibat perbincangan mengenai kerja sama yang akan terjalin. Erlangga mempresentasikan secara singkat proyek apa saja yang sudah dan akan di garap oleh perusahaannya. Menjelaskan bagaimana potensi pasar di tiap daerah, juga konsep yang akan diusung untuk proyek kerja sama mereka. Sementara Mayang memperhatikan dalam diam dan mencatat berbagai hal penting selama diskusi berlangsung. Pertemuan itu selesai dalam satu jam, Erlangga tampak puas dan optimis dengan kemungkinan bergabungnya pengusaha asal Jepang itu dalam banyak proyek yang di lakukan Lazuardy Property. Air mukanya terlihat cerah dan bersemangat. Lelaki itu tampak mengumbar senyum lebar sesaat setelah pertemuan itu selesai, membuat Mayang tercengang takjub. Ternyata Erlangga bisa tersenyum! Dan lelaki ini terlihat manis karenanya. “Setelah ini  buatkan presentasi yang lebih lengkap untuk pertemuan minggu depan bersama Mr.Sato dan timnya ya. Tolong di persiapkan dengan baik, juga siapkan proposal penawaran yang lebih rinci serta hubungi tim legal untuk menyiapkan perjanjian kerja samanya.” Erlangga berjalan santai dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celana bahan masih dengan senyum manis tersungging di bibirnya, “Baik pak, akan segera saya buat.” Mayang balas tersenyum, cukup senang dengan perubahan Erlangga ini, setidaknya selama beberapa jam ke depan ia dapat bekerja dengan tenang tanpa harus merasa was-was dengan mood jelek bosnya.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD