Aneila Maharani

2236 Words
“May, ke ruangan gue sebentar…” Mayang baru saja membaca pesan w******p yang dikirimkan Shinta, ketika ia kembali dari ruang fotokopi. Begitu selesai menaruh beberapa kertas yang di perbanyak tadi, ia segera melangkah menuju pintu ruangan Shinta. “Iya bu?” Anggukan Shinta membuat Mayang mendekat. “Duduk May, santai aja… kita juga cuma berdua ini.” Ujar Shinta. Dan seperti biasa Mayang akan membantahnya. “Masih jam kerja bu.” Shinta hanya berdecak malas mendengarnya kemudian melanjutkan, “Gue baru dapet info dari pak Beni kalo Nina sekretaris direktur utama bakal resign lebih cepat dari pengajuannya kemarin. Dan pak Beni ngasih nama lo ke direktur buat gantiin posisinya Nina, gimana?” Mayang terdiam sesaat begitu mendengar ucapan Shinta. “Kenapa saya bu?” tanya Mayang sedikit khawatir. Ia sudah begitu nyaman bekerja bersama Shinta. Meskipun mungkin sebenarnya pekerjaan sebagai sekretaris direktur utama tidak akan terlalu jauh berbeda dengan apa yang dikerjakannya sekarang, tetap saja Mayang merasa cemas. “Ya karena lo di nilai mampu May. Sebenernya gue juga nggak mau ngelepas lo, gue udah kebantu banget dengan adanya lo disini. Tapi mau gimana lagi…” Shinta mengedik pasrah. “Tenang aja, naik jabatan udah pasti naik gaji juga kok...” Shinta menyengir lucu menghibur Mayang yang terlihat tegang. Mayang memejamkan mata bingung. “Saya nggak punya pilihan kan?” tanyanya pasrah. Shinta meringis sambil menggeleng pelan. “Sayangnya nggak ada…” **** Setelah menyelesaikan makannya, Mayang dan juga Shinta bergegas beranjak dari meja yang mereka tempati. Suasana kantin sudah mulai sepi hanya tinggal satu dua orang saja yang sepertinya masih duduk mengobrol. Ketika memasuki lift yang berhenti di lantai 7 tempat kantin berada, Mayang merasa napasnya sesak karena orang yang baru saja mereka bicarakan berada disana menatapnya tajam. Mau tidak mau akhirnya Mayang ikut masuk setelah Shinta menarik tangannya kuat. Mayang berdiri tegang sembari merapalkan banyak doa dalam hatinya agar lift ini segera tiba di tujuan. “Mari pak…” ucap Shinta begitu lift sampai di lantai tempat divisinya berada. Erlangga hanya mengangguk singkat menanggapinya. Suasana sunyi menyelimuti lift yang hanya berisi Mayang dan Erlangga membuat Mayang bertanya-tanya kemana perginya semua karyawan kantor ini. Biasanya lift akan penuh di jam-jam menjelang istirahat berakhir. Dan sialnya ia harus terjebak di situasi awkward seperti ini berdua saja. Mayang merutuk dalam hatinya mengapa Erlangga lebih sering menaiki lift karyawan dibandingkan dengan lift khusus yang disiapkan untuknya? Bukankah lebih nyaman? “Mau sampai kapan kamu disitu?” Pertanyaan itu membuat Mayang mengedipkan matanya cepat, melihat situasi di depannya. Ternyata mereka sudah sampai di lantai 18. Erlangga keluar begitu saja meninggalkan Mayang yang masih termenung. “Apa saya perlu menarik kamu juga sekarang seperti yang dilakukan Shinta tadi?” Suara datar itu membuat Mayang tersentak, diremasnya kedua tangan yang saling bertaut seraya meringis kecil. “Maaf pak..” “Kembali bekerja, jangan buang-buang waktu.” Mayang hanya mengangguk singkat lalu melangkah cepat menuju mejanya yang ada di samping kanan pintu ruangan Erlangga. Ya Tuhan dua minggu disini rasanya jantung Mayang tidak akan kuat bila terus-terusan berdetak cepat karena ketakutan. **** Pukul tiga sore ketika Mayang baru saja menyelesaikan laporan hasil rapat bersama semua divisi tadi, Mayang dikejutkan oleh suara kecil yang memanggilnya. “Tante…” Sosok gadis kecil yang sempat ia temui memakan lollipop di mejanya beberapa waktu lalu membuat Mayang tersenyum. “Oh, halo anak manis… ketemu lagi…” Mayang menyapa ramah gadis kecil yang kalau tidak salah bernama Ane itu. Disampingnya berdiri perempuan muda dengan seragam berwarna biru membawa sebuah tas beruang. Sepertinya dia adalah pengasuh gadis kecil ini. “Kok tante ada disini? Bukannya kemarin sama tante Shinta ya? Biasanya yang duduk di meja ini tante Nina.” Mayang tertawa kecil mendengar pertanyaan beruntun  itu. “Tante sekarang gantiin tante Nina, kalau Ane sendiri lagi apa disini?” “Ketemu papa.” Ucapnya sembari menunjuk pintu ruangan direktur utama. “Eh?” Mayang sedikit terkejut mendengarnya. “Papa?” pantas saja waktu itu Shinta tampak sangat mengenal gadis kecil ini. Ternyata Ane adalah keponakannya. Mayang pikir Shinta mengenalnya karena gadis ini adalah anak salah satu petinggi Lazuardy Property, ia tidak menyangka Ane adalah anak sang direktur utama. Setelah selesai dengan keterkejutannya Mayang kemudian berdiri menghampiri Ane, “Ayuk tante antar..” Di genggamnya tangan Ane kemudian mengajaknya untuk mendekati pintu, setelah mengetuk beberapa kali Mayang membukanya, masuk selangkah, lalu Ane segera menyerbu ke arah ayahnya tidak sabar.  “Papa…” Erlangga yang sepertinya sudah tahu mengenai kedatangan putrinya beranjak dari kursi kebesarannya untuk menyambut Ane. “Hai sayang.. Ane sudah makan?” Mendengar suara lembut keluar dari bibir Erlangga membuat Mayang tercengang. Ternyata bosnya ini juga bisa mengeluarkan suara halus dan ramah. Mayang pikir Erlangga akan menggunakan nada dan intonasi yang sama ketika lelaki itu berada di kantor saat bersama putrinya. Mayang meninggalkan ruangan itu kemudian kembali ke meja kerjanya. Melihat bagaimana hubungan antara Erlangga dan putrinya Ane, membuat Mayang merenung, alangkah bahagianya memiliki seorang ayah. Mayang tidak tahu apakah ia memiliki memori indah mengenai hubungannya dengan sang ayah. Karena sejak Mayang mampu mengingat dengan baik, ia hanya tinggal berdua dengan ibunya, tidak ada sosok laki-laki yang bisa dipanggilnya papa. Mayang pernah bertanya pada ibunya apakah ia memiliki seorang ayah dan ibunya hanya mengangguk dan tersenyum, namun ketika Mayang kembali bertanya keberadaan ayahnya sang ibu hanya terdiam tidak menjawab. Hal yang baru Mayang ketahui kemudian jika orangtuanya sudah bercerai sejak ia berusia 6 tahun. Ayahnya memilih meninggalkan dia dan ibunya untuk kembali pada kekasih hatinya. Mayang baru mengetahui itu semua dari Tiana, sahabat ibunya yang memiliki panti asuhan tempat biasa Mayang menghabiskan minggu paginya. Pintu ruangan di depannya terbuka menampilkan Erlangga yang sedang menggendong Ane dengan sebelah tangannya. “Saya keluar sebentar, kalau ada yang mencari suruh tunggu aja, saya nggak lama.” Mayang hanya mengangguk mengiyakan kemudian mengalihkan tatapannya pada Ane yang tampak senang dan melambaikan tangannya pada Mayang membuat gadis berkacamata itu entah mengapa merasa sedikit iri. Kehidupan bocah itu pastilah begitu menyenangkan. Dilahirkan dari keluarga pengusaha ternama membuat Mayang yakin jika Ane mungkin bahkan tidak pernah menangis menginginkan sesuatu. Ah, apa-apaan itu tadi, sekarang bahkan dia mencemburui seorang gadis kecil? Mayang menggelengkan kepalanya tidak percaya. Sepertinya ia butuh menyiram wajahnya dengan air dingin. Begitu kembali ke mejanya dari kamar kecil, Mayang mendapati Ane sedang duduk di sofa tunggu yang memang disediakan di luar ruangan direktur utama sedang menangis. Pengasuh yang sejak tadi mengikuti kemanapun gerak langkah nona mudanya terlihat sibuk menenangkan Ane yang menangis sesenggukan. Mayang melangkah mendekat, mendudukkan dirinya sendiri di samping gadis kecil itu. “Ane kenapa?” Mayang bertanya lembut seraya mengusap pelan rambut ekor kudanya. Ane semakin terisak kemudian menyurukkan kepalanya kearah Mayang, memeluknya erat. “Tadi non Ane minta ditemani bapak buat main di arena permainan gedung sebelah mbak. Tapi tadi bapak nggak sengaja ketemu temannya, terus non Ane disuruh tunggu sebentar karena bapak jadinya ngobrol sama temannya itu. Non Ane nggak mau terus malah jadi nangis, akhirnya bapak suruh saya bawa lagi non Ane balik kesini.” Pengasuh bernama Tuti itupun akhirnya menjelaskan kepada Mayang yang terdiam. “Uhm… nanti kan di rumah Ane juga bisa main sama papa. Jangan nangis ya sayang, sekarang main sama tante aja gimana?” usul Mayang mencoba membujuk Ane yang wajahnya sudah dipenuhi air mata. “Bapak nggak pernah main sama non Ane kalo di rumah mbak…” ucap si pengasuh hati-hati. “Oh…” Mayang membulatkan bibirnya sedikit terkejut. Penjelasan si pengasuh membuatnya terdiam, bingung harus melakukan apa. Baru saja ia berpikir jika kehidupan gadis kecil ini begitu sempurna dan ia merasa iri. Sekarang bahkan untuk bermain bersama ayahnya saja Ane tidak bisa, membuatnya seketika iba. Suara tangis Ane perlahan menghilang digantikan isakan kecil yang teredam karena wajahnya yang masih berada di d**a Mayang. “Ane bisa main sama tante kalo mau… kita bisa mewarnai gambar sama-sama, gimana?” Ane mengangkat wajahnya menatap Mayang, “Mau…” ucapnya dengan suara serak. Mayang meringis melihatnya, wajah gadis kecil ini memerah dan basah terlihat begitu sedih. “Oke… sekarang hapus air matanya dulu.” Mayang mengusapkan jari-jarinya ke pipi gembil Ane, “ikut tante duduk disana mau?” Mayang menunjuk ke arah meja kerjanya seraya menatap Ane. Gadis manis itu mengangguk, kemudian turun dari sofa yang didudukinya menuju ke arah meja Mayang. Mendekati pukul 5 sore Ane sudah mewarnai 2 kertas yang berisi berbagai gambar yang Mayang unduh dari internet. Gadis kecil itu sedang mewarnai kertas bergambar ketiganya persis di sebelah kursi kerja Mayang. Sesekali Mayang ikut membantu mewarnai gambar yang ada dengan pensil warna lain dan begitu Ane kembali fokus dengan gambarnya, Mayang akan kembali mengerjakan tugasnya. “Tante kalo bunganya dikasih warna merah boleh?” Mayang yang sedang menyimpan beberapa berkas untuk diberikan pada Erlangga besok menolehkan kepalanya pada Ane. “Bunga? Tentu. Ane boleh kasih warna merah. Kuning juga boleh. Kalau daunnya lebih bagus di kasih warna hijau.” Ane menganggukkan kepalanya seolah memahami benar apa yang Mayang ucapkan membuatnya terlihat begitu menggemaskan. “Selesai..” Ane bersorak gembira begitu dia selesai memberikan warna pada kupu-kupu yang hinggap di bunga. Mayang yang melihatnya begitu bersemangat turut senang. Diraihnya ketiga gambar yang tadi diwarnai oleh Ane dan diberikannya nilai. Mayang menuliskan angka 9 pada ketiga kertas itu, penilaian yang mendekati sempurna. “Wah… tante kasih Ane nilai 9? Hore…” sahutnya seraya bertepuk tangan riang. “Iya.. karena Ane mewarnainya pinter dan nggak banyak keluar garis. Terus warna yang dipilih juga sesuai. Jadi bikin gambarnya tambah cantik deh.” Ane menatapnya dengan senyum lebar, membuat Mayang ikut tersenyum. “Besok Ane boleh main lagi sama tante?” “Boleh dong, nanti Ane boleh duduk disini lagi. Kita bisa mewarnai lagi atau main yang lain yang Ane mau. Tapi Ane janji nggak boleh nangis lagi ya…” “Habisnya papa nyebelin,  nggak pernah ajak Ane main lagi. Ane sering sendirian dirumah.” Bibirnya mengerucut sebal menatap Mayang. Mayang hanya tersenyum kecil melihatnya. Gadis manis ini kesepian.   **** Keesokan harinya selain disibukkan dengan setumpuk pekerjaan Mayang juga mendapat tugas baru, yaitu menemani Ane bermain. Gadis cilik itu datang selepas pulang sekolah masih menggunakan seragamnya. Dia menyapa  ramah, kemudian langsung menghampiri Mayang dengan kedua tangan terangkat, minta digendong untuk duduk di samping Mayang. Begitu Ane sudah duduk rapi bersama Mayang, pintu ruangan Erlangga terbuka. Sang direktur utama mengerutkan keningnya melihat Ane duduk manis di samping kursi kerja Mayang, alih-alih menghampirinya ke ruangan. “Ane… kok disini… kenapa nggak ke ruangan papa?” tanya Erlangga. “Ane mau disini aja sama tante Mayang.” Tatapan tajam Erlangga beralih ke arah Mayang. Ia memandangi sekretarisnya itu dengan raut tanya. “Ane kalo duduk disana bisa ganggu tantenya kerja nak, ayo di ruangan papa aja…” “Nggak mau…” “Ane…” bujuk Erlangga lagi. “Ane nggak ganggu tante kok, nanti kalo tante Mayang lagi sibuk Ane mewarnai sendiri. Paling cuma tanya sedikit-sedikit aja. Iya kan tante…?” Mayang yang tidak siap di tanya seperti itu mendadak gelagapan. “Oh, itu…uhm… iya nggak apa-apa pak.” ia berusaha tersenyum menatap Erlangga walaupun mungkin hanya tampak seperti ringisan.  “Tantenya banyak kerjaan Ane, ayo di ruangan papa.” Erlangga melihat ke arah putrinya mencoba membujuk sekali lagi. “No… Ane maunya disini aja.” Balas Ane dengan bibir mengerucut. Gadis cilik itu tampak kesal dengan ayahnya. Merasa percuma membujuk Ane yang terlihat akan tetap bertahan dengan keinginannya, Erlangga hanya bisa menghela napas pasrah. “Oke, Ane boleh disini. Tapi nggak boleh ganggu ya…” diusapnya pelan rambut halus Ane yang hari ini di kepang satu, terus menatap pada Mayang, “Saya titip Ane disini…” “Baik pak…” sahut Mayang. Baru akan menghembukan napas lega, Mayang kembali dibuat terkejut ketika Erlangga yang sudah membuka pintu ruang kerjanya berbalik menatap Mayang, “Laporan bulanan semua divisi saya tunggu sepuluh menit dari sekarang.” Selesai mengucapkan itu Erlangga kembali ke ruangannya, Mayang pun segera membuka file yang diminta, untungnya ia sudah menyelesaikannya kemarin. Setelah mengecek ulang laporan yang dibutuhkan Erlangga Mayang segera mengirimkannya melalui email. Setelah hari itu Aneila Maharani, si gadis cilik dengan senyum menawan selalu datang ke gedung kantor Lazuardy Property bukan untuk bertemu ayahnya melainkan menemui sekretaris sang ayah. Mayang yang ditempeli Ane selama satu bulan terakhir merasa senang-senang saja, Ane sama sekali tidak mengganggu pekerjaannya. Berinteraksi dan menemaninya bermain membuat Mayang ikut bahagia. Di sela kesibukannya mengurus semua keperluan kerja direktur utama, ditambah lagi dengan sikap sang atasan yang ketus dan begitu perfeksionis kehadiran Ane merupakan angin segar bagi hari-hari Mayang yang menegangkan. “Kenapa besok tante nggak kerja aja sih?” Ane bertanya di sela-sela mengerjakan tugas yang diberikan gurunya, menyalin ulang huruf dan angka yang ada di buku. “Kan besok itu hari sabtu sayang, kantornya libur, jadi tante juga libur.” Mayang melepaskan kaca mata, memijat sedikit pelipisnya yang terasa sakit. “Kenapa nggak dibuka aja, jadi tante bisa masuk kerja, terus Ane juga bisa kesini main sama tante lagi. Iya kan?” Dengan jari yang masih menggenggam pensil, Ane mengalihkan perhatian sepenuhnya pada Mayang. Mayang yang mendengar itu hanya mampu mengulum senyum. Sebenarnya ini bukan kali pertama Ane bertanya mengapa Mayang tidak bekerja setiap hari saja. Dan Mayang pun sudah berulang kali menjelaskan, namun gadis kecil ini masih ngotot dengan pemikirannya, sepertinya sifat keras kepala dan tidak suka dibantah ini diturunkan dengan sempurna oleh sang ayah.        
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD