Nyonya Gund1k

1089 Words
Ayara tahu jika ia memang menikmatinya, akan tetapi bukan berarti ia harus terjerumus ke dalam kesalahan yang telah diperbuat dengan Adam. Ia harus berhenti sebelum hubungan ini terjatuh semakin dalam. Ayara mencoba mendorong tubuh Adam, dan menghentikannya agar berhenti menciumnya, “Om …” lirih Ayara, ia menatap Adam dengan tatapan nanar. Matanya berkaca seolah sedang memperlihatkan kesedihan yang begitu dalam. “Jangan begini …” ucapnya dengan memohon, “Aku tahu aku salah, tapi jangan perlakukan aku seperti wanita murah.” Mendengar pernyataan Ayara, Adam pun melonggarkan pelukannya. Perlahan ia mulai melepaskan Ayara, sungguh Adam tak bermaksud menganggap Ayara adalah w************n. Ia hanya terobsesi untuk menyentuhnya, dan tidak sedikit pun ia menganggap jika Ayara adalah wanita yang mudah ia permainkan. “Hidupku hancur karena suamiku menikah dengan sahabatku sendiri, apa sebegitu hina dan tak berharganya aku di mata kalian?” Ayara mulai meneteskan air matanya, merasa tak ada satu orang pun yang menghargai perasaannya, “ Mas Beni meninggalkan aku demi Sabrina, ibu mertuaku dan bahkan adik iparku juga ikut mendukung apa yang suamiku lakukan. Apa mereka tidak tahu betapa sakitnya hatiku karena mereka? Hanya karena aku belum memiliki anak, mereka dengan mudahnya membuangku. Bukankah itu sangat kejam?” tangis Ayara pecah mengingat betapa menyedihkannya hidup yang harus ia jalani. Kedua tangannya menutupi wajahnya, sambil menangis sesegukan dan nafas yang tersengal, Ayara berkata, “Dan sekarang, Om … sekarang Om melakukan hal ini padaku. Apa aku sangat tidak berharga, kalian ini menganggapku apa?” Melihat Ayara menangis seperti ini, hati Adam ikut sakit. Entah mengapa ia harus berada dalam jajaran orang yang menyakitinya. Padahal ia menaruh banyak simpati pada Ayara. Namun, entah mengapa rasa simpati itu malah berubah menjadi obsesi, dan Adam sendiri tak mampu menghentikannya. “Maaf …” hanya kata itu yang Adam ucapkan, mulutnya seolah terkunci. Padahal banyak sekali hal yang ingin ia katakan. Tapi entah mengapa, ia tak mampu membuka mulutnya dan hanya kata maaf yang terucap darinya. Ayara tak berkata apa-apa lagi, ia hanya menangis tersedu di depan Adam. Meluapkan rasa sakit yang sekarang dirasakannya. — Setelah Ayara mulai tenang, Adam pun mengajak Ayara untuk bicara, “Setelah ini apa yang akan kau lakukan?” Ayara menatap Adam, kali ini tatapan pria ini berubah. Tak seperti yang menatapnya dengan penuh hasrat, kali ini tatapannya terlihat tenang seperti biasa. “Aku hanya ingin bercerai dengannya, aku tidak mau memiliki adik madu.” jawab Ayara. “Kau akan melakukan gugatan?” Ayara mengangguk, “Aku sudah melakukannya, tapi Mas Beni selalu menolak dan bersikukuh tidak mau bercerai denganku. Ia ingin aku menjadi pelayan istri kesayangannya.” Adam berdecih mendengar pernyataan Ayara, “Sejak kapan dia pandai menjadi pecundang?” ucapnya, “Sebagai laki-laki Beni sama sekali tidak memiliki malu.” Ayara tak menjawab, sebab apa yang Adam katakan tentang Beni memang benar, jika ia tak lebih dari seorang pecundang di mata Ayara. Pecundang egois yang ingin memiliki dirinya dan Sabrina bersamaan. “Bukankah rumah itu atas namamu?” tanya Adam. “Iya, rumah itu adalah hadiah atas pernikahan kami dulu.” “Apa kau akan membiarkan mereka hidup bahagia di rumahmu?” “Aku …” “Jangan bodoh, Ayara. Jika memang kau ingin bercerai dengannya, ambil semua hak-mu. Jangan kau biarkan mereka bahagia diatas penderitaanmu.” Awalnya Ayara memang tidak peduli, dengan rumah itu. Karena dalam pikirannya hanya ingin segera berpisah dengan Beni. Dan tak mau tahu tentang rumah itu, karena ia menganggap jika rumah itu telah kotor karena perbuatan Beni dan Sabrina. Namun, setelah mendengar apa yang Adam katakan barusan padanya, Ayara pun kemudian berpikir jika apa yang ia lakukan sama saja dengan memuluskan kehidupan mereka. Apa yang Ayara lakukan sama dengan mempermudah keinginan Sabrina untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. “Apa aku harus kembali?” gumam Ayara. “Kalau aku jadi kau, akan aku buat rumit hidup mereka berdua.” ucap Adam. Ayara pun diam dan memikirkan semua perkataan Adam, apa yang Adam katakan benar jangan pernah memberikan kehidupan yang terlalu mudah bagi mereka. Jika Sabrina mengganggu hidupnya, kenapa Ayara tidak melakukan hal yang sama yaitu dengan mengganggu hidupnya. Dan tidak membiarkan mereka hidup dengan damai. — Akhirnya Ayara pun melakukan apa yang Adam katakan, jika ia akan membuat kehidupan mereka menjadi rumit. Ayara kembali ke rumah itu, tapi saat ia kembali Beni dan Sabrina rupanya sedang melakukan perjalanan bulan madu. Tapi tak apa, justru ketiadaan mereka di rumah itu mempermudah Ayara untuk mencari sura-surat rumahnya, dan akan ia simpan di tempat yang aman. Ia juga dengan sengaja mengatur kamar mereka, dan menggunakan kamar utama untuk ia gunakan. Tidak akan Ayara biarkan Sabrina menjadi ratu di rumah itu, Ayara adalah pemiliknya. Ialah yang berkuasa dan juga orang yang memiliki hak penuh atasnya. — Setelah lebih dari sepuluh hari, akhirnya Beni dan Sabrina sampai di rumah. Sepertinya mereka sangat menikmati perjalanan indah mereka, terbukti raut wajah yang penuh dengan senyuman terus terpampang di wajah keduanya. “Kau pasti sangat lelah, kau harus beristirahat.” ucap Beni dengan lembut pada istri barunya. “Iya, Mas … aku memang sangat lelah.” jawab Sabrina, suaranya yang lembut terdengar mendayu-dayu di telinga orang-orang yang mendengarnya. Suara khasnya yang begitu lembut, adalah salah satu alasan Beni tertarik padanya. “Jika ingin beristirahat, kau bisa tidur di kamar tamu.” Ayara yang sejak tadi duduk memperhatikan mereka berdua, kini membuka suaranya. Beni dan Sabrina pun dibuat terkejut oleh kehadiran Ayara yang tiba-tiba berada di rumah itu, bukankah ia telah pergi. Lalu kenapa Ayara tiba-tiba kembali. “Ayara …” panggil Beni lalu menghampiri istri pertamanya, diikuti oleh Sabrina. “Sepertinya kalian sangat bersenang-senang, dan pastinya kalian lelah.” ucap Ayara sembari tersenyum pada mereka. “Ayara, kau kembali?” ucap Sabrina. Tatapan Ayara kini ia arahkan pada mantan sahabatnya itu, “Iya … kenapa? Kau tidak suka? Ini rumahku, sudah seharusnya aku berada di sini. Bukankah begitu, Mas Beni?” Ayara mengalihkan pandangannya pada Beni. “I-iya, tapi …” “Tapi apa? Aku masih sah menjadi istrimu, dan rumah ini juga adalah rumahku. Tidak ada yang salah aku tinggal di sini, yang salah itu adalah jika gundikmu yang tinggal dan menikmati nyamannya rumah ini.” jawab Ayara dengan nada sinis. “Ayara … kau tidak boleh bersikap seperti itu pada Sabrina. Sabrina itu istriku dan sedang mengandung anakku. Jangan kau bersikap buruk seperti ini, jangan buat dia banyak pikiran. Itu tidak baik untuk pertumbuhan janin.” tegur Beni. Ayara pun bangkit dari duduknya lalu kemudian berkata, “Baiklah, maafkan aku Nyonya Gundik. Jika perkataanku menyinggung perasaanmu.” ucap Ayara lalu ia pergi meninggalkan pasangan pengkhianat itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD