Tepat saat atmosfer di antara mereka semakin menipis, telepon di atas meja berdering tajam. Nada darurat yang tidak bisa diabaikan.
Keheningan kembali menyelimuti ruangan itu, hanya menyisakan deru napas mereka yang beradu. Julian tidak melepaskan pelukannya, juga tidak meraih telepon. Ia justru mematikan dering telepon itu dengan satu tangan tanpa mengalihkan pandangan dari wajah Elena, seolah dunia di luar sana bisa menunggu hingga ia selesai dengan urusannya di sini.
"Abaikan itu," bisik Julian serak. "Fokusmu masih belum sempurna, Elena. Kau terlalu mudah terdistraksi oleh hal-hal di luar kendalimu."
Jemari Julian kembali bergerak, kali ini menekan lembut titik saraf di pinggang Elena di balik kain blazer putih gadingnya, memaksanya untuk kembali menatap barisan angka di layar monitor yang menampilkan struktur korporasi yang sangat kompleks.
"Sekarang, lihat lebih dalam pada lampiran B," instruksi Julian, suaranya kembali berubah menjadi nada guru yang dominan namun memikat. "Ini adalah strategi pengambilalihan aset untuk sektor energi. Aku ingin kau mencari celah efisiensi yang dilewatkan oleh tim analisku."
Elena mencoba menstabilkan detak jantungnya. Ia menarik napas panjang, aroma sandalwood dari tubuh Julian seolah memenuhi paru-parunya. Ia membalik halaman dengan tangan yang sedikit gemetar, mencoba masuk kembali ke dalam labirin logika bisnis Julian yang sangat bersih namun kejam secara finansial.
"Semua angka ini... terlihat sempurna," Elena menggumam, matanya menyisir kolom pengeluaran dan proyeksi laba. "Tapi tunggu. Biaya riset dan pengembangan di sini dipotong secara drastis tepat setelah akuisisi. Mengapa kau memotong jantung dari perusahaan teknologi, Julian? Itu akan membunuh nilai jangka panjangnya."
Julian tersenyum tipis, sebuah ekspresi kepuasan yang dingin terpancar dari wajahnya. Ia mengeratkan dekapannya, membawa tubuh Elena bersandar sepenuhnya pada dadanya yang bidang. "Teruskan. Lihat lebih dekat pada kolom investasi modal."
Elena menelusuri barisan angka itu lagi. Matanya membelalak kecil. "Kau tidak memotong biayanya... kau memindahkannya ke pusat inovasi rahasia milik Armand Internasional. Kau tidak ingin teknologi ini berkembang di bawah nama lama mereka. Kau ingin memilikinya sepenuhnya secara eksklusif, sebelum mereka sempat mematenkan fase berikutnya."
"Tepat," gumam Julian. Wajahnya kini tersembunyi di ceruk leher Elena, menghirup aroma tubuh istrinya. "Bisnis ini bersih, Elena. Tidak ada satu pun hukum yang kulanggar. Namun, ini tentang kekuasaan dan kecepatan. Aku tidak butuh permainan kotor untuk menang; aku hanya butuh menjadi lebih cerdas dan lebih tak terduga daripada siapa pun."
Elena memutar tubuhnya sedikit dalam pangkuan Julian, membuat wajah mereka kini hanya berjarak beberapa inci. Mata obsidian Julian menatapnya dengan intensitas yang seolah ingin menelan jiwanya.
"Lalu sampai kapan kau akan menjadikanku bagian dari 'pembelajaran' ini, Julian?" tanya Elena parau. "Apakah kau melatihku untuk menjadi sekutumu, atau kau hanya ingin menunjukkan bahwa di duniamu yang sempurna ini, aku tetap tidak punya celah untuk melarikan diri?"
Julian meraih helai rambut Elena, melilitkannya di jarinya dengan perlahan. "Keduanya. Pengetahuan adalah rantai yang paling kuat, Elena. Semakin kau mengerti betapa besarnya struktur yang kubangun secara legal dan kokoh, semakin kau menyadari bahwa tidak ada tempat bagimu untuk bersembunyi di luar jangkauanku."
Julian mencondongkan wajahnya, bibirnya nyaris menyentuh bibir Elena yang masih merona karena rona liptint yang samar. "Lanjutkan ke halaman terakhir. Ada satu dokumen di sana yang menunjukkan alasan sebenarnya mengapa aku membutuhkanmu di sini, di sampingku, setiap hari."
Elena merasakan jemarinya sedikit dingin. Ia tahu, setiap lembar yang ia balik membawanya lebih dalam ke dalam pemahaman tentang betapa absolutnya rencana Julian bagi hidupnya.
Keheningan kembali menyelimuti ruangan luas di lantai lima puluh itu. Elena bisa merasakan hawa panas dari tubuh Julian yang merambat melalui blazer putihnya, kontras dengan dinginnya marmer hitam di bawah mereka. Peringatan Julian baru saja menegaskan satu hal: di gedung ini, dia adalah hukum, dan Elena hanyalah salah satu subjek di bawah kekuasaannya.
"Sekarang, buka halaman terakhir dari map itu," perintah Julian, suaranya kembali ke nada profesional yang dingin seolah momen intim tadi hanyalah ilusi. Namun, tangannya tetap melingkar erat di pinggang Elena, jemarinya mengetuk pelan irama yang monoton di atas kain pakaian istrinya.
Elena membalik halaman terakhir dengan tangan yang sedikit gemetar. Di sana, ia tidak menemukan barisan angka atau grafik yang rumit. Hanya ada satu lembar surat perjanjian yang masih bersih, tanpa tanda tangan, namun sudah mencantumkan namanya secara resmi.
"Ini..." Elena menggantung kalimatnya, matanya menyisir poin-poin dalam dokumen itu. "Ini adalah dokumen pengalihan saham untuk yayasan pendidikan dan pusat inovasi teknologi."
"Sepuluh persen dari total kepemilikan saham pribadiku di sektor energi terbarukan," sela Julian datar. "Semuanya akan berada di bawah namamu. Secara hukum, kau bukan hanya istriku; kau akan menjadi pemegang otoritas yang memiliki suara dalam dewan direksi."
Elena memutar tubuhnya di pangkuan Julian, menatap pria itu dengan kening berkerut. "Kenapa? Kau baru saja bilang kau tidak ingin aku bebas. Memberiku saham sebesar ini justru memberiku kekuatan finansial."
Julian tertawa rendah, sebuah suara yang menggema di dadanya yang bidang. "Kau pikir aku memberimu kebebasan? Tidak, Elena. Aku memberimu tanggung jawab. Aku ingin kau terikat pada setiap keputusan yang kubuat. Jika aku jatuh, kau ikut jatuh. Jika dunia mengutuk keputusanku, namamu ada di sana sebagai pendukungnya."
Julian menarik sebuah pena perak dari wadahnya dan menyodorkannya pada Elena. "Tanda tangani. Masuklah lebih dalam ke duniaku, atau tetaplah menjadi pajangan yang tidak tahu apa-apa."
Elena menatap pena itu, lalu menatap kembali ke hamparan kota di balik kaca. Ia tahu ini adalah jebakan yang dilapisi emas. Dengan menandatangani dokumen ini, ia akan memiliki akses ke sistem internal perusahaan yang lebih dalam, termasuk informasi mengenai V.V. Maritime. Namun di saat yang sama, ia akan menjadi kaki tangan Julian sepenuhnya.
"Kau memberiku senjata untuk melawanmu, Julian," bisik Elena sembari menerima pena itu.
"Senjata hanya berguna jika kau tahu cara menarik pelatuknya tanpa melukai dirimu sendiri," balas Julian, matanya berkilat penuh tantangan. "Tanda tangani, Elena. Biarkan para staf di bawah sana melihat bahwa kau bukan sekadar wanita yang kubawa masuk, tapi wanita yang akan memerintah mereka."
Elena menekan ujung pena ke atas kertas. Goresan tintanya terasa seperti beban yang berat. Begitu tanda tangan itu selesai, Julian segera mengambil dokumen itu, seolah takut Elena akan berubah pikiran.
Pintu ganda mahoni itu terbuka tanpa ketukan, menginterupsi keheningan yang menyesakkan di antara Julian dan Elena. Langkah kaki yang berat dan berwibawa bergema di atas lantai marmer hitam, memutus aliran udara panas yang baru saja tercipta.
Julian tidak bergerak sedikit pun. Ia tetap duduk dengan tenang, lengannya masih melingkar kokoh di pinggang Elena, seolah sengaja ingin menunjukkan pada siapa pun yang datang bahwa wanita di pangkuannya adalah wilayah kekuasaan yang tak bisa diganggu gugat.
Seorang pria paruh baya dengan setelan jas navy yang dijahit sempurna melangkah masuk. Rambutnya yang mulai memutih di bagian pelipis memberikan kesan bijaksana namun tajam. Dia adalah Leon, suami dari Tante Julian.
Langkah Leon terhenti beberapa meter di depan meja kerja Julian. Matanya beralih dari Julian ke arah Elena, lalu kembali ke posisi mereka yang sangat intim. Ada kilatan keterkejutan yang segera berganti dengan tatapan kalkulatif yang dingin.
"Paman Leon," sapa Julian dengan nada yang sangat datar, hampir tidak ada rasa hormat di sana. "Aku tidak menyangka Paman akan datang tanpa janji temu, apalagi langsung masuk ke ruang pribadiku."
Leon mengerutkan kening, tangannya bertumpu pada tongkat kayu berujung perak miliknya. "Aku mendengar ada krisis di dermaga lima yang melibatkan aset keluarga, Julian. Tantemu sangat khawatir kau akan mengambil keputusan sepihak." Tatapannya kembali menghujam Elena dengan sorot mata yang sulit diartikan. "Tapi sepertinya kau sedang sibuk... memberikan 'pelajaran privat' kepada istrimu."
Kata 'istrimu' ditekankan dengan nada yang berat, seolah Paman Leon sedang mengingatkan Julian akan status formal yang kini mengikat Elena dalam jaring-jaring kekuasaan Armand.
Elena merasa wajahnya memanas. Ia mencoba bangkit dari pangkuan Julian, namun lengan pria itu justru semakin mengerat di pinggang rampingnya, menahannya tetap di sana seolah Elena adalah bagian dari aset kantor yang paling berharga.
"Elena sudah menjadi bagian dari team sekarang, Paman," Julian menyahut sembari mengusap pinggang Elena dengan gerakan posesif yang sengaja diperlihatkan di depan Leon. "Dia baru saja menandatangani dokumen otoritas untuk sektor energi dan logistik. Jadi, jika Paman ingin membahas dermaga lima, harus meyakinkannya terlebih dahulu."
Paman Leon menyipitkan mata, rahangnya mengeras. Ia maju satu langkah lagi, menatap Elena dengan tatapan yang tajam—antara keraguan dan peringatan.
"Meletakkan tanggung jawab sebesar itu di bahu Elena?" Leon terkekeh sinis. "Elena... apakah kau tahu apa yang sedang kau tandatangani? Julian tidak sedang memberimu hadiah. Dia sedang memberimu target di punggungmu agar kau menjadi tameng bagi keputusannya di depan dewan direksi."
Elena menguatkan hatinya, meski jantungnya berdegup kencang melawan d**a Julian. Ia menggenggam pena perak yang masih ada di tangannya, merasakan hawa panas dari tubuh Julian yang seolah memberinya kekuatan sekaligus jerat. "Aku tahu apa yang kulakukan, Paman. Dan jika ada masalah di dermaga lima, aku akan memeriksanya sendiri berdasarkan data yang ada."
Julian tersenyum puas, sebuah senyum predator yang jarang ia tunjukkan. Ia menunduk, mencium pelipis Elena di depan Leon—sebuah klaim mutlak yang tak terbantahkan.
"Kau dengar itu, Paman? Istriku ingin menanganinya sendiri," ucap Julian dingin. "Sekarang, tunggulah di ruang rapat. Kami akan menyusul setelah aku selesai merapikan... urusan di sini."
Leon menatap mereka berdua sekali lagi, lalu berbalik dengan langkah kaku tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Begitu pintu tertutup, Elena langsung berdiri, napasnya tersengal.
"Kenapa kau membiarkan dia melihat kita seperti itu? Dia pamanmu sendiri, Julian!" tanya Elena parau.
Julian ikut berdiri, merapikan jas gelapnya yang sedikit kusut. "Karena Paman Leon bukan datang untuk membantumu, Elena. Dia datang untuk melihat apakah kau adalah kelemahan yang bisa ia gunakan untuk menghancurkanku. Sekarang, dia tahu bahwa kau adalah bagian dari dindingku."
Julian berjalan mendekati Elena, kembali mengurung wanita itu di antara tubuhnya dan meja kerja yang dingin. "Ingat, di gedung ini, tidak ada paman atau keponakan. Yang ada hanyalah sekutu atau lawan. Dan hari ini, kau baru saja menyatakan diri sebagai sekutuku di depan mereka semua."
Elena terdiam. Namun alih-alih terlihat gentar, ia justru menatap Julian dengan sorot mata yang aneh—tenang, bahkan nyaris menantang.
Perlahan ia mendorong tubuh pria itu sedikit menjauh, cukup untuk memberi ruang bagi napasnya sendiri.
"Jadi begitu cara Tuan Armand mengikat sekutu?" gumamnya lirih.
Julian menyeringai tipis. "Kau masih berdiri di sini, bukan? Itu berarti kau sudah membuat pilihan."
Elena mengangkat dagunya. Tatapannya meluncur sebentar ke arah pintu kaca ruang kerja itu—ke arah ruang rapat tempat para direktur tadi duduk memandang mereka dengan penuh perhitungan.
"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanyanya.
Julian tidak langsung menjawab. Tangannya terangkat perlahan, jari-jarinya menyentuh dagu Elena dan memaksanya kembali menatapnya.
"Aku akan memastikan mereka semua mengerti satu hal," ucapnya rendah. "Bahwa mulai hari ini, siapa pun yang ingin menyentuhmu… harus melewati aku terlebih dahulu."