Hancur Bersamaku

1715 Words
Pintu limusin terbuka, dan hawa dingin dari lobi Menara Armand yang berlapis marmer langsung menyambut kedatangan mereka. Julian turun lebih dulu, berdiri tegak dengan aura d******i yang seolah membekukan udara di sekitarnya. Ia mengulurkan tangan pada Elena, sebuah gestur formal yang tampak sopan di mata publik, namun bagi Elena, itu adalah instruksi untuk tidak menjauh. ​Elena menyambut tangan itu. Jemari Julian mencengkeram jemarinya dengan tekanan yang pas—tidak menyakitkan, namun cukup untuk memperingatkan bahwa ia tidak boleh melepaskan diri. ​Begitu mereka melangkah melewati pintu kaca otomatis yang masif, keheningan instan melanda lobi. Ratusan staf yang tadinya sibuk dengan urusan masing-masing mendadak mematung. Suara denting sepatu pantofel Julian yang beradu dengan lantai granit terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur. ​"Selamat pagi, Tuan Armand," sapa para staf dengan serentak, tubuh mereka sedikit membungkuk. ​Namun, perhatian mereka tidak sepenuhnya tertuju pada Julian. Mata mereka tertuju pada wanita di sampingnya. Elena, yang terbungkus trench coat hitam pekat, berjalan dengan dagu terangkat. Meskipun riasannya telah dihapus paksa, rona merah dari liptint yang meresap di bibirnya—ditambah dengan bibir yang sedikit bengkak dan plester kecil di dahinya—menciptakan visual yang dramatis sekaligus misterius. ​Bisikan-bisikan halus mulai merayap di sudut-sudut lobi. ​"Itu Nyonya Armand?" "Lihat bibirnya... apakah mereka baru saja bertengkar?" "Dia terlihat seperti tawanan yang mengenakan pakaian ratu." ​Julian tidak melambat. Ia terus berjalan dengan langkah lebar, memaksa Elena untuk mengimbangi kecepatannya. Ia sama sekali tidak memedulikan tatapan lapar akan gosip dari bawahannya. Baginya, mereka semua hanyalah dekorasi dari kekuasaannya. ​Saat mereka tiba di depan lift khusus CEO, seorang resepsionis muda dengan tangan gemetar menekan tombol akses. Matanya sempat bertemu dengan mata Elena selama satu detik, dan Elena bisa melihat campuran rasa takut dan belas kasihan di sana. ​"Tuan, jadwal rapat Anda dimulai sepuluh menit lagi di lantai empat puluh lima," lapor asisten pria yang sudah menunggu di depan lift. ​"Batalkan jadwal pagi ini. Aku ingin istriku merasa nyaman di kantor barunya sebelum aku memulai urusan lain," jawab Julian dingin, suaranya bergema di lobi yang kini sepi senyap. ​Julian menarik Elena masuk ke dalam lift yang berdinding cermin. Begitu pintu tertutup, memutus pandangan dunia luar, Julian melepaskan tangan Elena dan berbalik menghadap cermin, merapikan dasinya yang sebenarnya sudah sangat sempurna. ​"Kau lihat itu, Elena?" tanya Julian, menatap pantulan Elena di cermin lift. "Mereka semua menatapmu karena mereka tahu siapa pemilikmu. Di gedung ini, namamu tidak berarti apa-apa tanpa nama belakangku." ​Elena melangkah maju, berdiri tepat di samping Julian sehingga wajah mereka sejajar di pantulan cermin. Ia memperhatikan bibirnya yang berwarna merah samar, noda yang tidak bisa dihapus Julian. ​"Mereka tidak menatapku karena aku milikmu, Julian," bisik Elena tenang. "Mereka menatapku karena mereka melihat sesuatu yang berani berdiri di samping monster sepertimu tanpa gemetar. Mereka melihat celah yang selama ini mereka takuti untuk cari." Lift berdenting, menandakan mereka telah sampai di lantai teratas. Pintu terbuka, memperlihatkan lorong sunyi yang menuju ke kantor pribadi Julian. ​"Celah, katamu?" Julian melangkah keluar, diikuti oleh Elena. "Mari kita lihat seberapa jauh kau bisa bertahan di dalam celah itu sebelum dindingnya menghimpitmu." Pintu ganda berbahan kayu mahoni itu terbuka, dan Elena disambut oleh kemegahan yang terasa mencekam. Kantor pribadi Julian bukanlah sekadar ruang kerja; itu adalah sebuah benteng kaca di atas awan. Lantainya dilapisi marmer hitam mengkilap yang memantulkan bayangan mereka seperti cermin gelap, menciptakan ilusi seolah-olah siapa pun yang melangkah di sana sedang berjalan di atas air yang membeku. ​Suasana di dalam ruangan itu sangat steril dan tenang, hanya terdengar suara dengung halus dari sistem pengatur udara yang menjaga suhu tetap pada angka 20 derajat Celsius—dingin dan kaku. Dinding sisi luar sepenuhnya terbuat dari kaca setinggi plafon, menyuguhkan panorama cakrawala kota yang tampak tak berdaya di bawah ketinggian lantai lima puluh ini. Cahaya matahari pagi masuk dengan tajam, namun entah bagaimana, ruangan itu tetap terasa gelap karena d******i furnitur berwarna obsidian dan abu-abu arang. ​Di tengah ruangan, meja kerja Julian yang masif berdiri seperti altar kekuasaan. Tidak ada tumpukan kertas yang berantakan, tidak ada bingkai foto keluarga. Hanya ada seperangkat komputer dengan tiga monitor tipis, sebuah telepon statis berwarna perak, dan aroma sandalwood bercampur kayu tua yang sangat pekat—aroma yang kini Elena asosiasikan dengan keberadaan Julian yang menyesakkan. ​Julian melangkah menuju kursi kebesarannya yang terbuat dari kulit Italia berwarna hitam pekat. Ia duduk dengan keanggunan seorang raja di singgasana bajanya, namun bukannya membiarkan Elena duduk di meja asisten seperti yang ia katakan sebelumnya, ia justru menarik pergelangan tangan Elena. ​Dengan satu sentakan kuat yang terukur, Julian menarik Elena hingga wanita itu jatuh terduduk di atas pangkuannya. ​"Julian!" Elena tersentak, tangannya secara insting bertumpu pada bahu bidang suaminya untuk menjaga keseimbangan. ​Julian tidak segera membiarkan Elena tenggelam dalam dokumen itu. Dengan gerakan yang sangat lambat dan penuh perhitungan, jemarinya yang dingin mulai membuka kancing teratas trench coat hitam yang membungkus tubuh istrinya. ​"Ruangan ini cukup hangat, Elena. Tidak perlu bersembunyi di balik kain ini," bisik Julian. ​Satu per satu kancing terlepas, menyingkap setelan blazer putih gading di baliknya—warna yang tadi pagi ia coba hapus dari keberadaan Elena, namun kini ia nikmati kontrasnya di bawah cahaya lampu kantor yang redup. Julian menyisihkan mantel itu dari bahu Elena, membiarkannya jatuh tersampir di lengan kursi kebesarannya, memperlihatkan lekuk tubuh Elena yang terbalut sempurna oleh kain putih yang tajam. ​Tangan Julian tidak berhenti di sana. Telapak tangannya yang besar dan hangat mendarat di pinggang ramping Elena, mulai mengelusnya perlahan di atas kain blazer. Gerakan itu sangat ritmis, hampir seperti sebuah belaian namun dengan tekanan yang mengingatkan akan kepemilikan yang absolut. ​"Duduk di sini," perintah Julian, suaranya rendah dan mutlak. Satu lengannya melingkar di pinggang Elena, mengunci wanita itu agar tetap di sana, sementara tangan lainnya meraih sebuah map laporan audit yang tebal. "Jika kau ingin belajar tentang duniaku, belajarlah dari tempat yang paling dekat dengan pusatnya." ​Aroma parfum maskulin Julian dan hawa panas dari tubuh pria itu mengepung indra Elena. Posisi ini sangat mengintimidasi; Elena bisa merasakan detak jantung Julian yang konstan di punggungnya, sangat kontras dengan jantungnya sendiri yang berpacu liar. ​Julian membuka map itu di atas meja, menempatkannya tepat di depan Elena sehingga mereka berdua bisa melihat barisan angka dan grafik yang rumit. ​"Baca laporan ini," bisik Julian di telinga Elena, napasnya menggelitik kulit lehernya yang sensitif. "Ini adalah arus kas anak perusahaan logistik di pelabuhan utara. Ada kebocoran sebesar 15 persen dalam tiga bulan terakhir. Cari di mana letak ketidakkonsistenannya." ​Elena mencoba memfokuskan matanya pada dokumen itu, namun keberadaan Julian yang begitu intim membuatnya sulit bernapas. "Bagaimana aku bisa konsentrasi jika kau menahanku seperti ini?" ​"Ini adalah ujian pertamamu, Elena," Julian mengabaikan protesnya. Jemarinya yang panjang mulai menelusuri barisan angka, sesekali berhenti untuk menandai poin-poin tertentu. "Di luar sana, orang akan mencoba mengalihkan perhatianmu dengan berbagai cara—ancaman, rayuan, atau tekanan fisik. Jika kau tidak bisa berpikir jernih saat berada di pelukanku, kau tidak akan pernah bertahan di meja perundingan." ​Elena mengepalkan jarinya di pinggiran meja kayu ek yang dingin. Ia tahu Julian sedang memainkan permainan psikologis yang berbahaya. Pria ini ingin meruntuhkan pertahanannya dengan menggabungkan d******i intelektual dan intimasi fisik. Ia mulai mengabaikan intimidasi fisik Julian dan masuk ke dalam mode analitisnya. ​"Perusahaan logistik ini..." Elena menunjuk sebuah baris dengan jarinya yang lentur. "Mereka membayar biaya 'asuransi tambahan' kepada pihak ketiga bernama V.V. Maritime. Biayanya selalu naik tepat dua hari sebelum kapal bersandar. Ini bukan asuransi, Julian. Ini uang tutup mulut atau biaya keamanan ilegal." ​Julian terdiam sejenak. Ia tidak menyangka Elena akan menemukan pola itu secepat ini. Ia mencondongkan tubuh, bibirnya nyaris menyentuh pelipis Elena. ​"Teruskan," gumam Julian, nadanya kini mengandung rasa hormat yang tidak rela ia akui. Elusannya di pinggang Elena semakin intens, seolah ia sedang memetakan setiap inci tubuh wanita itu melalui jemarinya. ​Elena membalik halaman berikutnya, namun di balik ketajaman otaknya, ia merasakan sesuatu yang aneh. Nama V.V. Maritime mengingatkannya pada Victor Volkov. Ia tahu ia sedang menari di atas duri, dan Julian sedang memperhatikannya seperti predator yang menunggu mangsanya membuat kesalahan kecil. ​"Satu jawaban," bisik Elena lagi, suaranya lebih jernih sekarang, menembus deru pelan pendingin ruangan. "Sesuai janjimu. Kenapa kau menikahiku, Julian? Kau bisa memiliki siapa saja. Kau bisa membeli kesetiaan, kau bisa menyewa pendamping paling sempurna di dunia. Tapi kau memilihku—seorang wanita yang kau tahu akan selalu mencoba memberontak di depanmu." ​Julian menghentikan gerakan tangannya di pinggang Elena. Keheningan mendadak jatuh, lebih berat daripada tumpukan dokumen di atas meja. Elusan jemarinya yang tadi terasa intim kini berubah menjadi tekanan yang statis dan posesif. ​Julian memutar wajah Elena dengan ujung jarinya, memaksa istrinya menatap pantulan mereka di kaca jendela yang gelap. ​"Kau adalah ancaman yang indah, Elena. Menikahimu adalah caraku memastikan bahwa kecerdasanmu bekerja untukku, atau setidaknya, tidak akan pernah digunakan oleh orang lain untuk melawanku. Aku tidak butuh istri yang patuh; aku butuh lawan yang sepadan untuk membuat hidup di puncak ini tidak membosankan." ​Julian menunduk, mencium leher Elena dengan tarikan napas yang dalam. "Kau adalah satu-satunya barang rampasan yang tidak akan pernah membuatku merasa cukup. Memilikimu dalam ikatan pernikahan adalah jaminan bahwa jika kau mencoba menghancurkanku, kau harus ikut hancur bersamaku." Elena membeku di tempatnya. Ucapan itu bukan sekadar rayuan posesif—melainkan peringatan yang terasa seperti rantai tak kasatmata yang mengikatnya lebih erat. Napasnya tercekat ketika jari Julian perlahan mengangkat dagunya, memaksanya menatap langsung ke dalam mata pria itu yang gelap dan sulit ditebak. "Dan percayalah," lanjut Julian lirih, suaranya rendah dan mantap, "aku selalu memastikan milikku… tidak pernah lepas." Jantung Elena berdegup keras, seolah dadanya terlalu sempit untuk menampungnya. Julian menatapnya lama, seakan sedang menilai sesuatu yang tak bisa dibaca Elena. Kemudian, tanpa tergesa, ia menyapu lembut bibir Elena dengan ibu jarinya—gerakan yang tampak intim, namun terasa seperti penegasan kepemilikan. "Kau tidak punya rahasia dariku," ucapnya pelan. Elena mengerutkan kening, napasnya sedikit tercekat. "Apa maksudmu?" Senyum tipis terbit di bibir Julian—senyum yang tenang, namun entah mengapa membuat tengkuk Elena meremang. "Aku hanya ingin kau mengingat satu hal." Julian menunduk, bibirnya nyaris menyentuh telinga Elena ketika ia berbisik rendah, "Di dunia ini, kau boleh melawan siapa saja." Ia berhenti sejenak. Lalu menambahkan dengan suara yang lebih dalam— "Tapi bukan aku." ​
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD