Pagi menyapa Mansion Armand dengan cahaya pucat yang menyelinap malu-malu di balik gorden. Elena tidak terbangun sendirian di atas ranjang yang luas itu. Di tengah keheningan yang dingin, ia justru menemukan dirinya berada dalam posisi yang paling kontradiktif: tubuhnya meringkuk di dalam dekapan Julian, dan tangannya melingkar kuat di pinggang pria itu.
Elena memeluk Julian dengan begitu posesif, seolah-olah pria itu adalah satu-satunya pelampung di tengah samudra yang sedang menenggelamkannya. Namun, di balik pelukan yang tampak intim itu, mata Elena terbuka lebar—dingin dan waspada. Ia merasakan detak jantung Julian yang stabil di bawah telinganya, sebuah irama yang mendominasi namun kini terasa seperti target yang sedang ia bidik.
Julian sudah terbangun. Ia hanya diam, membiarkan Elena memeluknya, sementara jemarinya menelusuri garis punggung Elena dengan gerakan yang nyaris tanpa emosi.
"Kau memelukku seolah-olah kau mencintaiku, Elena," suara Julian memecah kesunyian pagi, baritonnya yang berat terasa menggetarkan d**a Elena. "Atau ini adalah bagian dari labirin yang sedang kau bangun?"
Elena tidak melepaskan pelukannya. Ia justru semakin menekan tubuhnya pada Julian, mendongak hingga dagunya bersandar di d**a pria itu. Matanya yang sedikit sembab menatap lurus ke dalam iris gelap Julian yang tak terbaca.
"Bukankah kau yang memintanya? Hasrat, penyerahan, dan pengakuan," bisik Elena. Suaranya serak, namun ada nada provokasi yang tajam. "Aku hanya sedang membiasakan diri dengan pemilik baruku. Mengapa? Apa kau merasa terancam dengan pelukanku?"
Julian meraih tengkuk Elena, memberikan tekanan yang memaksa wanita itu semakin mendekat hingga hidung mereka bersentuhan. Napas mereka beradu dalam udara pagi yang beku oleh AC.
"Terancam?" Julian tertawa rendah, sebuah suara yang terdengar lebih seperti geraman predator. "Aku tidak merasa terancam oleh seekor singa yang taringnya sudah kupatahkan semalam. Aku hanya penasaran... berapa lama kau bisa bertahan memeluk musuhmu sebelum kau sendiri yang merasa mual?"
Elena tersenyum—senyum yang tidak mencapai matanya, namun terlihat begitu menggoda sekaligus mematikan. Jemarinya mulai mendaki d**a Julian, berhenti tepat di urat nadi leher pria itu, memberikan sedikit tekanan dengan kuku-kukunya yang runcing.
"Mual adalah harga kecil untuk sebuah kemenangan, Julian," desis Elena. "Kau menganggapku mangsa, tapi kau lupa satu hal. Mangsa yang paling berbahaya adalah yang membiarkan dirinya ditangkap agar bisa berada cukup dekat untuk merobek tenggorokan pemburunya."
Julian menatap bibir Elena yang masih sedikit membengkak, lalu beralih kembali ke matanya. Ia tidak melepaskan cengkeramannya di tengkuk Elena. Sebaliknya, ia membalikkan posisi mereka dalam satu gerakan cepat hingga Elena terhimpit di bawah tubuhnya.
"Kalau begitu, robeklah, Elena," tantang Julian, wajahnya hanya berjarak satu inci dari wajah Elena. "Tapi ingat janji semalam. Satu kesalahan, satu keraguan dalam 'aktingmu' di depan ayahmu nanti, dan sertifikat di samping bantalmu itu akan menjadi abu sebelum matahari terbenam."
Elena menahan napas, dadanya naik turun bersentuhan dengan d**a Julian. Konfrontasi itu bukan lagi tentang kontrak, melainkan tentang siapa yang akan hancur lebih dulu dalam permainan gila ini.
"Siapkan mobilmu, Tuan Armand," ucap Elena dengan nada menantang. "Mari kita lihat siapa yang akan memakai topeng paling sempurna hari ini."
Suasana di dalam Bentley hitam yang meluncur menuju rumah masa kecil Elena terasa seperti medan perang yang dibalut kemewahan. Julian duduk di sisi kanan, kembali mengenakan setelan jas tiga lapis yang kaku, sementara Elena duduk di sampingnya dengan gaun sutra sampanye yang elegan—dan lipstik merah menyala yang ia pulas sebagai "perisai" terakhirnya.
Di sepanjang jalan, Elena tidak lagi menjaga jarak. Ia dengan sengaja menyandarkan kepalanya di bahu Julian, membiarkan jemarinya bermain dengan kancing kemeja pria itu di depan sang sopir yang tetap diam membisu.
"Kau tampak tegang, Sayang," goda Elena, suaranya cukup keras untuk mengisi kabin mobil. "Apa kau tidak sabar melihat wajah bahagia ayahku saat melihat kita... serasi seperti ini?"
Julian tidak melepaskan pandangannya dari tablet di tangannya, namun otot rahangnya yang mengeras menunjukkan bahwa serangan Elena berhasil merusak ketenangannya.
"Simpan energimu, Elena," sahut Julian dingin. "Kau akan membutuhkannya untuk meyakinkan dunia bahwa kau tidak sedang menjual dirimu demi sebidang tanah."
Elena tertawa kecil, suara yang merdu namun penuh duri, saat mobil mulai memasuki gerbang rumah ayahnya. Ronde kedua baru saja dimulai.
Begitu kaki mereka berpijak di teras rumah Adiwangsa, Elena langsung mengganti topengnya. Ia tak lagi membiarkan celah bagi keraguan. Dengan gerakan yang tampak natural namun penuh perhitungan, ia mengeratkan kaitan lengannya pada lengan Julian, menyandarkan tubuhnya seolah Julian adalah poros dunianya.
Baskoro berdiri di sana, tampak rapuh dan menua, namun matanya berbinar saat melihat putrinya pulang dengan gaun indah dan tampak "terlindungi".
"Elena... Julian... kalian datang," suara Baskoro bergetar.
Elena melepaskan kaitan lengannya hanya untuk menghambur memeluk ayahnya, lalu dengan cepat ia kembali ke sisi Julian. Ia menatap Julian dengan binar mata yang sengaja dibuat memuja, sebuah akting yang begitu sempurna hingga membuat Julian sendiri sempat kehilangan napas sejenak.
"Ayah, lihatlah," Elena mengeluarkan amplop biru itu dari tasnya dan menyerahkannya pada Baskoro. "Julian menepati janjinya. Rumah ini milik kita lagi. Dia begitu baik padaku, Ayah. Dia memberikan semua yang aku inginkan."
Baskoro memegang sertifikat itu dengan tangan gemetar, air mata haru jatuh di pipinya yang keriput. "Terima kasih, Julian. Aku tidak tahu bagaimana harus membalas kebaikanmu karena telah mencintai dan menjaga putriku."
Julian berdiri tegak, wajahnya tetap datar namun matanya berkilat waspada. Ia merasakan jemari Elena yang lembut mulai merayap di dadanya, mempermainkan kerah jasnya di depan sang ayah.
"Tentu saja, Tuan Baskoro. Elena pantas mendapatkan yang terbaik," ujar Julian, suaranya berat dan penuh penekanan pada setiap kata.
Elena mendongak, menatap Julian dengan senyum yang tampak begitu tulus bagi orang luar, namun terasa seperti sayatan belati bagi pria itu. "Dia sangat memanjakanku semalam, Ayah. Aku benar-benar merasa menjadi wanita paling beruntung."
Lalu, tanpa aba-aba, Elena berjinjit. Ia melingkarkan lengannya di leher Julian dan menarik pria itu turun. Di depan ayahnya sendiri, Elena mendaratkan ciuman di bibir Julian—bukan ciuman singkat yang sopan, melainkan ciuman yang terasa dalam, panas, dan penuh klaim kepemilikan yang provokatif.
Julian mematung. Ia merasakan bibir Elena yang dingin mulai menghangat di atas bibirnya, menghisap sisa ketenangannya. Ia tahu ini adalah serangan balik. Elena sedang menyiksanya dengan cara yang paling halus: memberinya apa yang ia inginkan di hadapan publik, namun dengan hati yang penuh kebencian.
Baskoro memalingkan wajah dengan senyum lega, mengira itu adalah tanda cinta sejati. Namun, di balik tautan bibir itu, Elena membisikkan kata-kata yang hanya bisa didengar oleh Julian di sela napas mereka yang beradu.
"Nikmatilah, Sayang," bisik Elena sangat pelan, nyaris tak terdengar. "Bukankah ini dunia yang kau inginkan? Dunia di mana aku menciummu di depan semua orang, sementara di dalam hatiku, aku sedang membayangkan caramu hancur."
Julian membalas dengan merangkul pinggang Elena begitu kuat hingga wanita itu terkesiap. Ia memperdalam ciuman itu, tidak membiarkan Elena menarik diri terlebih dahulu. Jika Elena ingin bermain peran, maka Julian akan memastikan ia adalah sutradaranya.
"Kau aktris yang hebat, Elena," gumam Julian saat ia akhirnya melepaskan tautan bibir mereka, jemarinya mengusap sisa lipstik merah yang kini mengotori bibirnya sendiri. "Tapi ingat, penonton paling setia adalah orang yang tahu kapan kau sedang berbohong."
Baskoro yang tidak mendengar bisikan itu menyeka air matanya. "Ayo masuk, Nak. Ayah sudah menyiapkan teh di dalam."
Elena tersenyum manis, kembali merangkul lengan Julian dengan posesif saat mereka melangkah masuk. Namun, Julian bisa merasakan kuku-kuku Elena yang tajam sedikit menekan kulit lengannya melalui kain jas mahal yang ia kenakan.
Lantai kayu di ruang tamu kediaman Adiwangsa terasa begitu dingin, kontras dengan udara yang mendadak memanas akibat ketegangan yang disembunyikan di balik senyum. Baskoro duduk di sofa tunggalnya, menatap sertifikat rumah itu dengan tatapan kosong yang penuh syukur, sementara Elena dan Julian duduk berdampingan di sofa panjang di hadapannya.
Elena bergerak dengan keanggunan yang disengaja. Saat pelayan meletakkan nampan perak berisi teko porselen dan cangkir-cangkir teh, Elena mengulurkan tangan.
"Biar aku saja yang menuangkannya, Ayah," ucap Elena lembut.
Ia sengaja menyandarkan tubuhnya ke arah Julian, membiarkan bahu mereka bersentuhan. Saat ia mengangkat teko porselen yang berat itu, Elena melakukan gerakan yang telah ia rencanakan dengan presisi. Ia memiringkan kepalanya sedikit ke kanan, seolah sedang berkonsentrasi pada aliran teh ke dalam cangkir, namun tindakan itu sengaja menyingkap kerah gaun sutra yang sedikit rendah.
Di sana, di atas kulit pucat lehernya yang halus, terpampang jelas bercak kemerahan yang kontras—tanda posesif yang ditinggalkan Julian semalam. Tanda itu tampak seperti stempel kepemilikan yang mencolok di bawah cahaya lampu ruang tamu.
Baskoro, yang sedang menyesap tehnya, mendadak tersedak pelan. Matanya terpaku pada leher putrinya. Wajah pria tua itu berubah pucat, lalu memerah karena malu sekaligus remuk hati. Ia bukan orang bodoh; ia tahu persis apa arti tanda itu dan bagaimana "transaksi" semalam kemungkinan besar telah terjadi.
"Elena... lehermu..." bisik Baskoro dengan suara bergetar, tangannya yang memegang cangkir tampak goyah.
Elena tidak segera menutupi tanda itu. Ia justru menoleh ke arah Julian dengan tatapan yang sangat manis, seolah-olah ia baru saja menyadari tanda itu ada di sana.
"Oh, ini?" Elena menyentuh bercak merah itu dengan ujung jemarinya, lalu tertawa kecil, suara yang terdengar seperti lonceng perak yang mengejek. "Maafkan kami, Ayah. Julian terkadang... sedikit terlalu antusias menunjukkan rasa cintanya. Bukankah begitu, Sayang?"
Ia menatap Julian, menantang pria itu untuk bereaksi. Elena ingin melihat apakah Julian akan merasa bersalah di depan ayahnya, atau justru semakin angkuh.
Julian meletakkan cangkir tehnya dengan bunyi denting yang tajam di atas meja marmer. Matanya yang gelap mengunci pandangan Elena, lalu perlahan beralih ke arah Baskoro yang tertunduk lesu. Julian tidak terlihat malu sedikit pun. Sebaliknya, ia melingkarkan lengannya di bahu Elena, menarik wanita itu semakin rapat ke sisinya, seolah ingin mempertegas klaimnya.
"Aku tidak bisa menahan diri jika menyangkut istriku, Tuan Baskoro," ucap Julian dengan nada bariton yang mantap dan tanpa penyesalan. "Elena sangat... kooperatif semalam. Dia tahu persis bagaimana cara membuatku ingin menepati janji tentang rumah ini."
Kata-kata Julian seperti belati yang menghujam jantung Baskoro. Pria tua itu memejamkan mata, tangannya mengepal di atas lutut. Ia merasa seperti seorang ayah yang gagal, menyadari bahwa rumah yang kini ia tempati dibayar dengan keringat dan air mata martabat putrinya sendiri.
Elena merasakan kemenangan kecil saat melihat rahang Julian menegang di balik suaranya yang tenang. Ia tahu Julian sedang menahan amarah karena Elena berani memamerkan "luka perang" mereka di depan publik.
"Ayah tidak perlu khawatir," Elena kembali bicara, jemarinya kini mengusap punggung tangan Julian dengan gerakan sensual yang disengaja. "Selama sertifikat itu ada di tangan Ayah, aku bersedia melakukan peran ini selamanya. Julian adalah suami yang sangat... menuntut, tapi aku menyukai tantangan, bukan?"
Julian menunduk, bibirnya mendekat ke telinga Elena hingga napasnya yang panas menggelitik kulit leher Elena, tepat di atas bercak merah itu.
"Kau bermain terlalu jauh, Elena," bisik Julian, suaranya mengandung ancaman yang bisa membuat bulu kuduk berdiri. "Jangan terkejut jika di perjalanan pulang nanti, aku memutuskan untuk menambah tanda baru yang jauh lebih sulit kau sembunyikan."
Elena tersenyum menantang, meski jantungnya berdegup kencang. Ia telah berhasil merusak ketenangan Julian Armand, dan baginya, itu adalah awal dari keruntuhan sang predator.