Iblis Berwajah Malaikat

1828 Words
Julian menyesap tehnya dengan gerakan yang sangat lambat, nyaris menghitung setiap detik yang berlalu. Ekspresinya tidak berubah; ia tetap tampak seperti pria yang memiliki kendali penuh atas dunia di sekitarnya. Namun, bagi Elena yang berada dalam jarak sedekat ini, ia bisa merasakan perubahan tekanan atmosfer di antara mereka. Julian tidak lagi hanya sekadar tenang; ia telah bertransformasi menjadi keheningan yang mematikan sebelum badai. ​Baskoro berdehem, mencoba mengusir rasa canggung yang mencekik. "Julian, aku harap kau menjaga Elena dengan baik. Dia adalah segalanya bagiku." ​Julian meletakkan cangkirnya tanpa suara di atas tatakan porselen. Ia menoleh perlahan ke arah Baskoro, memberikan tatapan yang begitu jernih namun hampa, jenis ketenangan yang membuat orang merasa telanjang di bawah pengamatannya. ​"Tuan Baskoro," suara Julian mengalun rendah, mantap, dan sangat terkontrol. "Anda sudah menyerahkan segalanya kepada saya melalui kontrak itu. Keamanan Elena, masa depannya, dan sekarang rumah ini. Tanggung jawab adalah kata yang sangat saya pahami. Anda tidak perlu khawatir tentang bagaimana saya... memperlakukannya." ​Julian kemudian beralih menatap Elena. Jemarinya yang panjang dan dingin kini membelai dagu Elena, memaksanya untuk terus menatap ke dalam iris matanya yang gelap tak berdasar. ​"Istriku sangat suka bermain dengan api," gumam Julian, nadanya hampir menyerupai kasih sayang jika saja matanya tidak menunjukkan kilat peringatan yang tajam. "Dan sebagai suaminya, tugas saya adalah memastikan dia terbakar dengan cara yang paling indah." ​Elena merasakan napasnya tertahan. Ketenangan Julian bukanlah tanda bahwa pria itu menyerah pada provokasinya, melainkan tanda bahwa Julian sedang mencatat setiap serangan Elena untuk dibalas dengan bunga bunga yang jauh lebih menyakitkan nanti. ​Baskoro hanya bisa mengangguk lemah, terjebak di antara rasa syukur atas kembalinya harta miliknya dan rasa ngeri melihat dinamika gelap yang terpancar dari pasangan di hadapannya. ​"Kami harus segera kembali, Tuan Baskoro," Julian berdiri dengan keanggunan seorang predator yang telah selesai dengan mangsanya untuk hari itu. Ia merapikan jasnya tanpa noda, kembali menjadi sosok pengusaha sukses yang tak tercela. "Masih banyak hal yang perlu saya 'ajarkan' pada Elena tentang tata krama sebagai seorang istri Armand." Pintu mobil Bentley tertutup dengan dentuman yang berat, mengunci Elena dan Julian dalam ruang kedap suara yang mewah. Begitu mobil mulai bergerak meninggalkan kediaman Adiwangsa, ketenangan Julian yang tadi tampak sopan di depan Baskoro berubah menjadi keheningan yang menekan, seolah oksigen di dalam kabin itu perlahan-lahan dihisap habis. ​Elena bersandar pada pintu mobil, mencoba menjaga jarak, namun Julian tetap duduk tegak, menatap lurus ke depan seolah Elena hanyalah hiasan yang tidak menarik. ​"Kau pikir kau menang?" suara Julian memecah kesunyian. Tidak ada nada tinggi, hanya bariton yang dingin dan tajam seperti mata pisau yang baru diasah. ​"Aku hanya menunjukkan kebenaran pada ayahku," tantang Elena, meski hatinya bergetar melihat Julian yang begitu tenang. "Agar dia tahu pria macam apa yang sedang berurusan dengannya." ​Julian menoleh perlahan. Sudut bibirnya sedikit terangkat—sebuah senyuman yang lebih menakutkan daripada kemarahan mana pun. ​"Kau baru saja memberikan alasan bagiku untuk benar-benar menjadi pria yang kau gambarkan itu, Elena," bisik Julian. Ia mendekat, aroma parfum yang maskulin mengepung indra penciuman Elena. "Jika kau ingin dunia tahu bahwa aku memiliki mu secara brutal, maka aku tidak akan mengecewakan penontonmu." ​Julian meraih tabletnya, kembali bekerja seolah percakapan itu sudah selesai, membiarkan Elena tenggelam dalam ketakutan akan apa yang akan terjadi begitu mereka sampai di Mansion Armand. Ketenangannya adalah hukuman yang paling menyiksa bagi Elena, karena ia tahu, di balik ketenangan itu, Julian sedang merencanakan ronde berikutnya. Mansion Armand menyambut mereka dengan kemegahan yang terasa mencekam. Begitu kaki mereka melewati ambang pintu aula utama, Julian melepaskan jasnya dan menyerahkannya kepada pelayan tanpa menoleh sedikit pun pada Elena. ​"Ke ruang kerjaku. Sekarang," perintah Julian. Nadanya datar, tanpa emosi, namun memiliki otoritas yang tak terbantahkan. ​Elena mengepalkan tangannya, mencoba meredam getaran di jemarinya. Ia mengikuti langkah tegap Julian menuju ruangan yang didominasi kayu ek gelap dan aroma cerutu mahal itu. Begitu pintu tertutup, Julian tidak membuang waktu. Ia duduk di balik meja besarnya, mengeluarkan sebuah map hitam yang sudah disiapkan. ​"Duduk, Elena," ucap Julian tenang, matanya yang tajam menatapnya tanpa kedip. ​Elena tetap berdiri, dagunya terangkat tinggi. "Aku tidak butuh duduk untuk mendengarkan ancamanmu." ​Julian menyandarkan punggungnya, menyatukan ujung-ujung jemarinya. "Ini bukan ancaman. Ini adalah struktur baru untuk hidupmu. Karena kau begitu antusias menunjukkan pada ayahmu—dan dunia—betapa 'intensnya' hubungan kita, maka aku akan memastikan kau tidak punya waktu untuk melakukan kesalahan lagi." ​Julian menggeser map itu ke arah Elena. Di dalamnya, terdapat daftar aturan yang ditulis dengan presisi yang mengerikan. Elena membaca poin-poin di dalam map itu dengan napas yang mulai memburu. Isinya bukan sekadar aturan, melainkan upaya penghapusan eksistensinya: ​Protokol Komunikasi: Elena dilarang menggunakan ponsel pribadi. Semua akses komunikasi akan dipantau melalui enkripsi Mansion Armand. ​Pembatasan Teritorial: Elena tidak diizinkan meninggalkan area mansion tanpa izin tertulis dan pendampingan dari tim keamanan Julian. ​Peran Publik: Elena wajib hadir di setiap acara sosial sebagai "Istri Armand", mengikuti naskah perilaku yang telah ditentukan tanpa penyimpangan. Elena terperanjat, matanya membelalak menatap lembaran kertas di depannya. Ia baru saja menyadari bahwa Julian tidak hanya ingin menguasai fisiknya, tetapi juga setiap inci ruang geraknya. ​"Ini bukan pernikahan! Ini penjara!" seru Elena, membanting map itu ke meja. "Kau tidak bisa melarangku bernapas tanpa izinmu!" ​Julian berdiri perlahan. Ia berjalan mengitari meja hingga ia berada tepat di depan Elena. Ia tidak meledak marah, namun kehadirannya terasa seperti tembok besar yang perlahan runtuh menimpa Elena. ​"Aku tidak melarangmu bernapas, Elena. Aku hanya mengatur udaranya," ucap Julian pelan. ​"Kau benar-benar iblis yang tidak punya hati," bisik Elena lirih, suaranya bergetar di antara amarah dan keputusasaan. ​Julian hanya menatap bibir Elena sejenak, lalu menarik diri dengan ketenangan yang mengerikan. Ia kembali ke kursinya, seolah-olah keberadaan Elena sudah tidak lagi penting. ​"Mungkin. Tapi setidaknya aku iblis yang konsisten," sahut Julian tanpa menoleh lagi. "Setiap kali kau melanggar aturan, aku akan membatalkan satu klausul dalam sertifikat rumah ayahmu. Jika kau keluar tanpa izin, aku akan mengirim orang untuk mengosongkan rumah itu dalam satu jam. Jika kau bicara tanpa izin kepada media, aku akan memastikan ayahmu menghabiskan sisa hidupnya di jalanan tanpa satu sen pun." ​Elena memutar tubuhnya dan keluar dari ruangan itu dengan langkah seribu. Ia tahu, ke mana pun ia pergi di dalam mansion ini, bayang-bayang Julian yang tenang namun mematikan akan selalu menjeratnya. Malam di Mansion Armand tidak pernah terasa sesunyi ini. Elena mengunci diri di kamar utama yang luas, namun kemewahan di sekelilingnya terasa seperti jeruji emas yang makin menyempit. Ia berdiri di balkon, menatap gerbang besi jauh di ujung halaman yang dijaga ketat oleh pria-pria berseragam hitam. ​Julian tidak main-main. Setiap sudut mansion kini terasa seperti mata yang mengawasinya. ​Ketukan pelan di pintu mengejutkannya. Seorang pelayan wanita masuk dengan kepala tertunduk, membawa sebuah kotak beludru hitam dan secarik kertas kecil. ​"Tuan Julian meminta Anda mengenakan ini untuk jamuan makan malam besok malam, Nyonya," ucap pelayan itu lirih sebelum meletakkan kotak itu di atas tempat tidur dan bergegas pergi. ​Elena membuka kotak itu. Di dalamnya melingkar sebuah kalung berlian choker yang begitu indah namun terasa berat—sebuah simbol kepemilikan yang nyata. Di sampingnya, terdapat catatan dengan tulisan tangan Julian yang tajam dan rapi: ​"Jadilah hiasan yang sempurna besok malam. Ingat, satu kesalahan kecil darimu adalah satu langkah menuju kehancuran Adiwangsa." Lampu kristal di aula utama meredup sejenak sebelum dentum piano klasik bergema, menandakan dimulainya pengumuman yang paling dinantikan malam itu. Julian berdiri di podium kecil yang diletakkan di tengah aula, segelas wiski di tangannya tampak berkilau tertimpa cahaya. Di sisi kiri podium, duduk Paman dan Bibi Julian yang menatap panggung dengan tatapan tajam dan penuh penilaian. ​Bagi keluarga Armand, pernikahan bukan sekadar penyatuan dua hati; itu adalah penggabungan aset. Dan malam ini, mereka datang untuk melihat "aset" terbaru keponakan mereka. ​"Para tamu yang terhormat," suara bariton Julian mengalun, membelah kebisingan ruangan. "Malam ini bukan hanya tentang perayaan kesuksesan bisnis kita. Malam ini adalah tentang menyambut bagian terpenting dari hidup saya, seseorang yang akan mendampingi saya menjaga warisan keluarga ini." Julian menoleh ke arah tangga melingkar, di mana Elena berdiri mematung. Tatapan Julian terkunci pada istrinya, sebuah tatapan yang tampak penuh kasih bagi orang asing, namun terasa seperti jeratan tali bagi Elena. ​"Perkenalkan, istri saya... Elena Armand." Elena mulai menuruni tangga. Setiap anak tangga yang ia pijak terasa seperti langkah menuju pengadilan. Ia bisa merasakan tatapan Bibi Julian, sepasang mata elang yang seolah bisa menembus gaun sutranya untuk mencari cacat pada dirinya. 'Dia memanggilku 'Elena Armand', batin Elena pahit. Dia baru saja menghapus namaku, identitasku, dan menggantinya dengan label miliknya di depan semua orang ini. Aku bukan lagi putri Baskoro; aku adalah properti Armand.' ​Begitu Elena sampai di lantai dasar, Julian turun dari podium dan menghampirinya. Ia menyambut tangan Elena, mengecup punggung tangannya dengan formalitas yang begitu sempurna hingga membuat Elena ingin berteriak. ​"Kau tampak... patuh malam ini, Sayang," bisik Julian tepat di telinganya saat ia menarik Elena mendekat ke arah Paman dan Bibinya. Suaranya halus, namun mengandung ancaman yang tak terlihat oleh tamu lain. ​"Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan oleh seorang tahanan," balas Elena dengan senyum palsu yang dipaksakan untuk para fotografer yang mulai mengambil foto. Bibi Sofia meletakkan gelas kristalnya ke atas meja dengan dentingan yang sengaja dibuat nyaring. Ia melangkah mendekat, mengamati Elena dari ujung rambut hingga ujung sepatu dengan tatapan yang seolah sedang membedah spesimen laboratorium. ​"Elena," suara Sofia terdengar halus, namun tajam. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap kilau berlian di leher Elena yang tampak mencekik. "Kau terlihat sangat berbeda dengan pertemuan kita pertama kemarin. Kau terlihat lebih... pantas." Bibi ​Sofia menyunggingkan senyum tipis yang penuh ejekan. "Apa ini menunjukkan bahwa kau sudah menyerah dengan keadaan? Apakah kemewahan Mansion Armand secepat itu menjinakkan harga dirimu, Sayang?" Mendengar itu, memori Elena justru terlempar ke meja makan kemarin pagi yang berujung moment intim mereka di dalam kamar. Namun, di sini, di bawah sorot lampu aula yang megah, keberanian itu mendadak terasa jauh. Julian tidak membalas provokasi bibinya dengan kata-kata tajam. Ia tidak membela Elena, tidak juga merendahkannya lebih jauh. Sebaliknya, Julian hanya menarik sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman tipis yang sangat tenang—jenis senyuman yang biasanya ia tunjukkan saat ia sudah memenangkan sebuah negosiasi bahkan sebelum dimulai. ​Tanpa peringatan, Julian memutar tubuh Elena sedikit ke arahnya. Tangan yang tadinya berada di pinggang kini berpindah ke tengkuk Elena, menariknya dengan gerakan yang halus namun memiliki kekuatan yang tak terbantahkan. ​Julian menunduk dan mengecup singkat bibir Elena. ​Sentuhan itu dingin, otoriter, dan penuh dengan penekanan kepemilikan. Kecupan itu bukan tentang kasih sayang; itu adalah sebuah segel. Sebuah cara Julian untuk membungkam mulut Elena sekaligus menunjukkan kepada Bibinya—dan seluruh dunia—bahwa apa pun pemberontakan yang dilakukan Elena di balik pintu tertutup, di sini, wanita ini tetap berada di bawah kendalinya. Setelah melepaskan tautan bibir mereka, Julian mengusap sudut bibir Elena dengan ibu jarinya, menatapnya dengan kilat mata yang seolah berkata, 'Permainanmu selesai di sini.'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD