Lampu-lampu jalanan kota besar yang melintas di jendela mobil menciptakan siluet cahaya yang jatuh bangun di wajah Julian. Pria itu duduk di sudut kursi kulit, kakinya bersilang, menatap lurus ke depan dengan rahang yang terkatup begitu rapat hingga otot-otot di wajahnya menonjol.
Elena duduk di sisi lain, merapat ke pintu seolah-olah kursi di samping Julian dilapisi duri.
Udara di dalam Rolls-Royce Phantom itu terasa lebih tipis dibandingkan di luar. Meskipun parfum sandalwood Julian yang maskulin memenuhi kabin, aroma itu kini terasa seperti jerat yang memabukkan sekaligus menyesakkan. Elena duduk tegak, jemarinya meremas tas tangan kecilnya hingga buku-bukunya memutih.
Brengsek, umpat Elena dalam hati. Amarahnya mendidih di balik riasan wajah yang sempurna.
Bagaimana bisa manusia ini berubah secepat cuaca? batin Elena perih. Baru semalam dia memelukku seolah aku adalah satu-satunya oksigen yang ia miliki. Napasnya di leherku, jemarinya yang gemetar saat menyentuhku... itu tidak mungkin palsu. Tapi lihat dia sekarang. Dingin. Jauh. Seolah-olah ciuman tadi pagi hanyalah sebuah transaksi yang sudah selesai didebit.
Elena melirik suaminya. Julian sama sekali tidak menoleh. Kedinginan pria itu terasa lebih menyakitkan daripada bentakan mana pun.
"Kau ingin aku tampil tanpa cela?" suara Elena memecah kesunyian, tajam dan penuh sindiran. "Lihat aku sekarang, Julian. Aku sudah dipoles sesuai pesananmu. Apakah aku sudah cukup layak untuk kau pamerkan sebagai perisaimu malam ini?"
Julian masih tidak bergerak.
Namun, Elena melihat jemari pria itu yang bertumpu di lutut mulai mengetuk pelan—sebuah tanda bahwa ketenangan Julian sedang diuji.
"Kau berisik, Elena," sahut Julian datar.
Berisik? Darah Elena mendidih.
Dia yang menyeret aku ke dalam kegelapannya, dia yang mengklaim aku sebagai miliknya, dan sekarang aku hanya dianggap gangguan suara? Elena tertawa getir dalam hati. Aku membencimu, Julian. Aku membenci bagaimana kau membuatku merasa diinginkan semalam, hanya untuk dibuang ke dalam keheningan hari ini.
"Kalau aku memang mengganggumu, turunkan aku di sini!" tantang Elena. Ia bergerak meraih tuas pintu, sebuah tindakan impulsif yang murni karena rasa sakit hati yang meluap.
Sret!
Dalam satu gerakan secepat kilat, Julian menyambar pergelangan tangan Elena dan menyentaknya. Tubuh Elena terlempar ke arah Julian, mendarat tepat di atas pangkuan pria itu. Elena terkesiap, dadanya naik-turun karena kaget, namun Julian tidak melepaskannya.
Kedua tangan Julian melingkar di pinggang Elena, mengunci wanita itu dalam posisi yang sangat intim sekaligus mendominasi.
"Jangan pernah mencoba keluar dari mobil ini, atau dari hidupku," desis Julian. Suaranya kini bukan lagi sedingin es, melainkan sehangat api yang membakar.
Julian mencondongkan wajahnya, menghirup aroma leher Elena dengan rakus—sebuah gestur posesif yang membuat bulu kuduk Elena meremang. "Kau pikir karena aku diam, aku tidak memperhatikanmu? Aku bisa merasakan matamu menatapku dengan benci sejak kita meninggalkan mansion."
"Lepaskan aku, Julian!" Elena berontak, namun cengkeraman Julian di pinggangnya justru mengencang, menekan kulit polos di balik gaun backless-nya.
"Kau adalah titik lemahku, ingat?" bisik Julian di telinga Elena, napasnya terasa panas dan memabukkan. "Dan seorang pria tidak akan membiarkan titik lemahnya berkeliaran tanpa pengawasan. Malam ini, kau tidak akan sedetik pun lepas dari pandanganku. Setiap pria yang menatapmu lebih dari tiga detik... mereka akan berurusan denganku."
Elena terdiam, batinnya berperang hebat. Dia posesif sampai ke tahap gila. Dia mengurungku, dia merahasiakan dunianya dariku, tapi cara dia memelukku... seolah-olah dia akan mati jika aku menjauh.
Julian menarik dagu Elena, memaksanya menatap mata kelam yang kini dipenuhi kilat obsesi. "Kau milikku, Elena Armand. Semalam, sekarang, dan selamanya. Jangan pernah menguji batas kesabaranku dengan mencoba melarikan diri."
Tepat saat itu, mobil berhenti di depan gedung megah yang dijaga ketat. Julian tidak langsung melepaskan Elena. Ia mencium sudut bibir Elena dengan kasar—sebuah tanda kepemilikan yang mutlak—sebelum akhirnya merapikan rambut Elena yang sedikit berantakan.
"Pasang wajah angkuhmu," perintah Julian, suaranya kembali berat dan otoriter. "Kita masuk sekarang."
Pintu mobil terbuka, menyambut mereka dengan hawa dingin malam yang kontras dengan keintiman menyesakkan di dalam kabin. Julian turun lebih dulu, menyesuaikan kancing tuksedonya dengan gerakan yang presisi dan angkuh. Saat ia mengulurkan tangan pada Elena, tatapannya sudah kembali datar, namun cengkeraman jemarinya saat menyambut tangan Elena tetap sekeras baja—seolah takut jika ia melonggarkannya sedikit saja, Elena akan menghilang ditelan kegelapan malam.
Kau baru saja menciumku seolah ingin menelanku hidup-hidup, dan sekarang kau kembali memakai topeng itu? Elena membatin, langkahnya terasa berat saat ia harus berjalan bersisian, menempel pada tubuh kokoh Julian.
Begitu mereka melangkah masuk ke aula besar bergaya Barok itu, denting piano yang elegan mendadak terasa seperti latar musik sebuah eksekusi. Ratusan pasang mata yang tadinya sibuk dengan gelas champagne kini beralih serentak. Bisikan-bisikan halus menjalar seperti api di atas jerami.
Julian tidak melambat. Lengannya yang melingkar di pinggang Elena terasa seperti jerat yang panas di balik kain sutra gaunnya. Elena bisa merasakan otot lengan Julian yang tegang setiap kali ada pria yang menatapnya terlalu lama.
Aku merasa seperti domba yang digiring menuju altar, pikir Elena. Atau lebih buruk, seperti pemicu bom yang siap diledakkan Julian kapan saja.
"Julian Armand," sebuah suara berat dan serak memecah ketegangan.
Di tengah aula, berdiri seorang pria paruh baya dengan bekas luka tipis yang membelah alis kirinya—Victor Volkov. Ia adalah pria yang namanya sering Elena dengar, sosok yang kabarnya menguasai jalur perdagangan gelap di Eropa Timur.
Victor melangkah maju, memutar gelas kristal berisi cairan amber di tangannya. Matanya yang haus menatap Elena dengan terang-terangan, memindai bahu polosnya yang terekspos hingga lekuk pinggangnya.
"Aku selalu bertanya-tanya, apa yang bisa membuat 'Serigala dari West Coast' ini absen dari rapat rapat dewan direksi," ujar Viktor dengan tawa kering. "Ternyata kau menyembunyikan mawar secantik ini di sarangmu."
Julian menarik Elena lebih dekat, hingga bahu wanita itu tertelan oleh bayangan tubuh Julian. Aura di sekitar mereka mendadak turun beberapa derajat.
"Kau bernapas terlalu dekat dengan udaranya, Victor," ucap Julian rendah, sebuah ancaman yang nyata di balik nada datarnya. "Mundurlah jika kau masih ingin menggunakan kedua matamu besok pagi."
Elena merasakan jantungnya berdegup hingga ke kerongkongan. Ia bisa merasakan kegelapan yang terpancar dari kedua pria ini—kekuasaan dan rahasia yang tidak seharusnya ia ketahui.
"Julian, Julian... kau masih saja tempramental," ejek Victor. Matanya beralih ke Elena, memindai gaun backless yang membalut tubuhnya dengan tatapan yang seolah bisa menelanjangi rahasia terdalamnya.
Ternyata benar, batin Elena, matanya beralih antara rahang Julian yang mengeras dan tatapan lapar Victor. Aku bukan dibawa ke sini untuk makan malam. Aku adalah pernyataan perang. Julian membawaku untuk menunjukkan pada musuh-musuhnya bahwa dia memiliki sesuatu yang sangat berharga, sesuatu yang ia jaga dengan nyawanya sendiri.
Namun, ada rasa getir yang menyelinap di antara ketakutannya.
Kenapa aku merasa seperti aset yang sedang dipamerkan? pikir Elena perih. Apakah semua posesifitas ini murni karena cinta, atau hanya karena ego Julian yang tidak bisa melihat miliknya disentuh orang lain? Baru kemarin dia tidur mendekapku, memberikan kehangatan yang kupikir nyata... tapi di sini, aku merasa lebih kesepian daripada saat sendirian di mansion.
"Nyonya Armand," Viktor kembali bersuara, suaranya kini merendah menjadi bisikan yang lebih tajam dari mata pisau. "Apa kau pernah bertanya-tanya kenapa Julian begitu terobsesi memolesmu hingga sedetail ini? Dia tidak sedang mencari seorang istri. Dia hanya butuh sebuah boneka hidup yang sempurna—seseorang yang cukup cantik untuk dipamerkan, namun cukup patuh untuk bisa ia kendalikan sepenuhnya demi menjalankan setiap perintahnya."
Elena tersentak. Seluruh aliran darahnya seolah membeku. Perasaan mual mendadak merayap naik ke kerongkongannya.
"Tanyakan padanya, Elena," lanjut Victor, menyeringai tipis saat menangkap kilat keraguan yang mulai merayap di sepasang mata wanita itu. Suaranya merendah, berubah menjadi bisikan berbisa yang merayap di sela deru napas mereka. "Apa dia benar-benar mencintaimu, atau dia hanya ingin menjadikanmu boneka hidup untuk melampiaskan hasratnya?"
Elena merasakan seluruh aliran darahnya seolah membeku seketika. Pertanyaan itu menghantamnya lebih keras daripada tamparan fisik mana pun, membuat dunia di sekelilingnya mendadak berputar.
Boneka hidup? batin Elena merintih.
Ingatannya melesat kembali pada jam-jam menyiksa di salon tadi siang—bagaimana ia dibentuk, dipoles, dan dibalut gaun ini seolah ia tidak memiliki kehendak atas tubuhnya sendiri. Segala kemewahan ini, instruksi mutlak untuk diam, dan tatapan lapar Julian... semuanya kini terasa seperti potongan puzzle yang mulai menyatu dalam bentuk yang mengerikan.
"Jangan dengarkan dia, Elena," desis Julian tepat di telinganya.
Namun, Elena bisa merasakan telapak tangan Julian yang berada di pinggangnya mendadak mengeras, mencengkeram kulit punggungnya dengan intensitas yang lebih menyerupai klaim kepemilikan daripada pelukan protektif. Cengkeraman itu terasa panas, namun di saat yang sama, mengirimkan sensasi dingin yang menyiksa ke tulang belakang Elena.
"Lihatlah dirimu sekarang, Manis," Victor terkekeh, suaranya penuh ejekan yang mematikan. "Kau dipajang di sini hanya untuk menunjukkan pada dunia betapa indahnya 'barang' milik Julian Armand. Dia tidak butuh seorang istri; dia butuh wadah cantik untuk hasratnya yang tak terpuaskan dan boneka yang bisa ia kendalikan dengan satu tarikan benang."
Julian tidak lagi menahan diri. Dengan satu sentakan posesif, ia menarik Elena hingga d**a mereka bertabrakan, memaksa Elena merasakan detak jantungnya yang kaku dan penuh amarah.
"Kau bernapas terlalu banyak di hadapan milikku, Victor," geram Julian. Suaranya terdengar seperti raungan binatang buas yang sedang menjaga mangsanya. "Apa pun yang kulakukan padanya di balik pintu tertutup, itu bukan konsumsi untuk lidah busukmu."
Julian menatap Elena dengan sorot mata yang menggelap—bukan karena cinta yang tulus, melainkan karena obsesi seorang pemilik yang tidak sudi kedaulatannya diusik.
"Kita pergi," perintah Julian datar, suaranya mutlak tanpa ruang untuk bantahan.
Elena mengikuti langkah lebar Julian, namun kakinya terasa seberat timah. Ia menyadari satu kenyataan pahit yang kini menghuni batinnya.
Aku bukan pendampingnya.
Pikiran itu bergema pahit di dalam kepala Elena.
Aku hanyalah boneka hidup yang ia pakaikan sutra dan berlian, agar saat malam tiba, ia bisa menghancurkanku berkali-kali dalam hasratnya yang egois.
Julian terus menyeretnya menuju meja jamuan utama, tangannya tetap mengunci pinggang Elena begitu erat, seolah-olah jika ia melepaskannya sedikit saja, boneka indahnya akan menyadari bahwa ia punya kaki untuk lari sejauh mungkin.
Langkah mereka menyusuri aula megah itu terasa seperti perjalanan menuju altar pengorbanan.
Elena merasakan puluhan pasang mata menatapnya—mengagumi gaunnya, rambutnya, perhiasannya.
Tidak satu pun dari mereka melihat apa yang sebenarnya ia rasakan.
Tidak ada yang tahu bagaimana rasanya berjalan di samping pria seperti Julian Armand.
Pria yang bisa memeluknya dengan begitu hangat di malam hari…
namun memperlakukannya seperti benda yang dipajang di siang hari.
Lucu sekali, pikir Elena pahit.
Dia membuatku merasa seperti wanita paling diinginkan di dunia…
dan di saat yang sama, seperti barang yang tidak punya pilihan.
Tangannya yang mengunci pinggang Elena terasa seperti rantai yang dibalut beludru.
Hangat.
Namun tetap saja… rantai.
Apakah ini cinta? Elena bertanya dalam hati.
Atau hanya obsesi seorang pria yang tidak pernah belajar membedakan antara memiliki… dan mencintai?
Ia menatap ke depan, pada meja utama yang semakin dekat. Segala sesuatu di ruangan ini terasa terlalu mewah. Terlalu sempurna.
Namun anehnya—
Justru di tengah semua kemewahan itu, Elena merasa paling sendirian.
Mungkin memang begini akhirnya, pikirnya getir.
Menjadi istri Julian Armand berarti hidup di dalam sangkar emas.
Dipeluk dengan posesif.
Dijaga seperti harta paling berharga.
Namun tidak pernah benar-benar dicintai sebagai manusia.
Jika suatu hari aku benar-benar menghilang…
Apakah dia akan mencariku karena mencintaiku?
Atau hanya karena dia kehilangan sesuatu yang ia anggap miliknya?
Pertanyaan itu menggantung berat di dalam d**a Elena.
Dan untuk pertama kalinya sejak menikah dengan Julian—
Ia mulai takut pada satu kemungkinan yang selama ini tidak pernah berani ia akui.
Bagaimana jika Victor benar?
Bagaimana jika semua ini…
bukan cinta?
Melainkan hanya cara Julian memastikan bahwa bonekanya yang paling indah…
tidak pernah berani pergi.